Rabu, 18 Juli 2012
Baubau Autopilot
"Revolusi Senyum kita angkat dalam jargong Bersama Lebih Baik, tentu kita ingin menanamkan bahwa inti bersama lebih baik itu, kalau kita punya satu kesatuan hati," Amirul Tamim, Walikota Baubau
TIDAK terasa, Festival Perairan Pulau Makasar (FPPM) ke-5, besok, berada pada penghujung masa pemerintahan Walikota Amirul Tamim. Apa saja pengaruhnya selama ini? Bagaimana pula harapan walikota? Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Radar Buton, Irwansyah Amunu di Rujabnya, belum lama ini.
--Festival Perairan Pulau Makasar, diakhir periode bapak kira-kira muatannya apa?
Jadi ini Festival Perairan Pulau Makasar sudah jadi agenda nasional, tentu dengan berbagai kekurangan, kelemahan, masih tetap kita jumpai. Tapi terus kita mengangkat iven yang bisa menjual daerah kita dalam arti positif.
Baubau ini punya potensi besar di bidang pariwisata, bukan karena sejarah dengan berbagai peninggalan yang bisa bercerita di berbagai tempat, tapi dengan alamnya juga dengan potensi yang dimilikinya, daerah ini sebanarnya kaya. Ingin saya katakan dan berani saya katakan, daerah ini punya potensi paripurna kalau kita ingin kemas sebagai daerah tujuan wisata dan berinvestaasi. Cuma daerah ini harus kita jual terus dalam berbagai momen, termasuk membuat iven seperti Festival Perairan Puma.
Diakhir jabatan saya di tahun ke-10, bertepatan dengan tahun 2012 beberapa iven yang akan diselenggarakan di Baubau. Iven budaya, 1 September tuan rumah Festival Keraton Nusantara. November iven politik, pemilihan walikota maupun gubernur, tapi kita yakin masyarakat kita sudah cukup dewasa menyikapi berbagai iven ini, sehingga saya yakin Kota Baubau bisa memerankan itu semua.
Terkait Festival Perairan Pulau Makasar, terus kita gelorakan iven ini, dan saya kira nama festival ini akan jadi catatan-catatan, dan mungkin jadi inspirasi bagi pihak-pihak dan generasi mendatang untuk tetap menggali kenapa namanya Pulau Makasar? Apa peran Pulau Makasar? Bagimana peran Baubau? Bagaimana peran kawasan ini? Bagaimana cerita masa lalu tentang kesultanan? Bagaimana daerah ini dan kemasan yang bagaimana pada masa-masa akan datang dengan berbagai potensi yang dimilikinya?
Olehnya itu, dengan konsep ini akan kembali pada masyarakat sebagai pemilik sah semua yang terjadi di Baubau. Tapi saya punya optimisme, jualan ini akan punya nilai besar di masa akan datang kalau terus kita gelorakan.
Karena satu, dunia ini semakin terbuka artinya dalam globalisasi, orang dalam usia-usia ke atas dengan kemapanan ekonomi, mereka akan berkeliling dunia, menikmati semua kawasan-kawasan dunia.
kedua, ada fenomena baru, tren masyarakat Indonesia domestik untuk selalu pada momen tertentu berlibur menikmati daerah-daerah lain, pesona-pesona Nusantara yang lain. Itu bisa kita lihat setiap liburan orang bergerak untuk mengunjungi tempat-tempat objek wisata, besar sekali.
Ketiga, ekonomi masyarakat semakin membaik, sehingga kebutuhannya bertambah. tadinya kebutuhan papan, pangan, sandang, ada kebutuhan tambahan yaitu rekreasi, sudah jadi kebutuhan pokok.
Kebutuan pokok itulah, kita harus menyiasati kota kita sehingga bisa menjadi salah satu pilihan ketika masyarakat domestik ingin memenuhi kebutuhan rekreasinya. Kalau tahun lalu dia ke Bali, ke Jogja, kemungkinan tahun berikutnya ke Baubau, dan itu akan terjadi. Orang Bali kemungkinan mengatakan saya pengen lihat Baubau, orang Jakarta demikian juga.
Dan ini sudah bukan hal yang susah karena fasilitas lapangan terbang kita dengan angkutan pesawat sudah bisa memberikan peluang untuk ini. Jadi orang yang karena irit waktu bisa naik pesawat, irit uang bisa naik kapal. Berarti ada peluang-peluang menjadikan daerah kita akan jadi pilihan. Tapi kalau ini tidak kita kelola dengan berbagai iven seperti Festival Perairan Pulau Makasar, mungkin daerah kita tidak jadi pilihan.
Dan ingat, salah satu sektor yang bisa mmemberikan kontribusi nilai tambah masyarakat, sektor pariwisata, bukan pemandangan alam, budaya, ini hanya magnitnya. Tapi sebenarnya yang bisa memanfaatkan, sisi ekonomi, industrinya, katakanlah industri kulinernya, kerajinanya, perhotelannya, angkutannya, kemudian berbagai instrumen-instrumen seperti disisi lain kreativiitas budaya akan menjadi bagian-bagaian yang akan timbul, muncul tapi nanti akan bernuansa ekonomi semua, itulah jadi peluang.
Karena tidak mungkin semua warga kita jadi PNS semua, tidak mungkin jadi kontraktor semua, tentu ada yang bisa terlibat dalam usaha apa saja, tapi bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kemasan-kemasan begitulah
kenapa Festival Perairan Pulau Makasar kita patenkan.
-Sudah berapa jauh iven yang kita selenggarakan menggerakan nilai tembah berbagai sektor tadi?
Kalau kita lihat dari sisi PDRB kita, beberapa sektor itu, disektor hotel, jasa perdagangan naik, memberikan kontribusi dari posisi yang tadinya didominasi pertanian. Pertanian semakin menurun, kemudian sektor-sektor ini perdadagangan naik, ini artinya kontribusi dari hal-hal ini memberikan peluang-peluang besar. Dari tahun ke tahun memberikan nilai ekonomi yang semakin membaik.
Mungkin kalau ilustrasinya, semakin banyaknya pedagang kuliner di hampir setiap pojok Baubau dibandingkan beberapa tahun lalu. Kemudian restoran mulai tumbuh, tadinya boleh dikata tidak ada. Hotel, lihat itu hotel orang mulai berpikir rumahnya jadi penginapan, bagaimana Ruko direkayasa mejadi penginapan, mejadi hotek dan sebagainya. Kemudian sewa-sewa angkutan mobil semakin meningkat, mobil-mobil rental meningkat semua, kemudian angkutan-angkutan lain, dan berbagai ruang lain semakin meningkat, itu indikasi bahwa ini semua punya manfaat.
--Soal nama, kenapa dipilih nama Festival Perairan Pulau Makasar? Bagi beberapa kalangan terkesan mengangkat citra daerah lain?
Kita memilih Festival Perairan Pulau Makasar, itu tidak bisa dipungkiri laut yang ada di depan Kota Baubau ada namanya pulau yakni Pulau Makasar. Pulau Makasar ini ada sama dengan salah satu kota di Sulawesi yaitu Kota Makassar. Tentu kita ingin memanfaatkan nama trennya Makassar yang memang nama itu juga ada di Baubau, Pulau Makasar. Tapi dibalik itu ingin kita menanamkan memori kolektif bagi masyarakat kita, sekaligus ingin memberikan peluang, dan mungkin pertanyaan yang akan timbul generasi akan datang kenapa namanya Pulau Makasar.
Nama Pulau Makasar di Baubau, tidak akan terlepas sejarah peran Baubau di masa lalu, di dalam konteks bagimana melahirkan Indonesia yang sebenarnya seperti hari ini. Andil kesejarahan negeri Buton yang ada di Baubau pasti punya kaitan-kaitan dalam perkembangan sejarah masa lalu menuju Indonesia hari ini.
Tapi untuk menggali itu, itulah ruangnya bagi para peneliti, pemerhati generasi mendatang untuk menggali terus. Tapi dari sejarah itu yang ingin kami tangkap bahwa Baubau ini punya posisi stategis di kawasan ini.
Oleh karena itu, posisi strategis ini harus dimanfatkn sebagai posisi daya saing tinggi, bukan daya saing dalam konflik, tapi daya saing untuk mengangkat daerah ini, bukan berdaya saing yang negatif.
Karena ketika daya saingnya yang besar akan memberikan ruang ekonomi. Kita tidak bisa pungkiri kita di kaki depan Pulau Sulawesi untuk memberikan layanan-layanan yang lebih luas terhadap daerah-daerah Timur Indonesia yang begitu kaya. Dan itu akan didukung nantinya oleh sebaran masyarakat Buton yang ada di Indonesia Timur ini. Jadi sisa kecerdasan kita memafaatkan jejaring ini
apakah kita mampu memanfaatkan jejaring ini atau tidak. Kkembali pada generasi kita ke depan. Tapi skenario ke arah sana itulah yang kita pondasikan dalam kerangka membangun Baubau ini.
--Bagimana dengan masyarakat Baubau apakah mereka sudah cerdas menangkap potensi dan posisi stargis ini?
Jujur kita katakan masih sebagian kecil yang bisa menangkap, tapi kita yakin
efek-efek dominonya sudah mulai terasa untuk ini akan merangsang yang lain dalam memanfaatkan ini.
--Dulu bapak mencangkan Revolusi Senyum, terkesan sepele tapi mulai bila dilihat muatan lokal kita memang mulai luntur dengan hantaman globalisasi. Padahal kita punya muatan lokal, roh kebutonan, apakah lewat acara ini bisa dikaitkan?
Sebenarnya tidak juga, tapi mungkin karena ketagangan-ketegangan dalam bersaing semakin kuat, sehingga mungkin fenomenanya seperti itu.
Saya terimakasih dingatkan terhadap Revolusi Senyum ini, memang kembali saya ingin ingatkan kepada kita semua mari dalam hal menjalin selaturahim interaksi yang betul-betul kominikatif dengan keramahan kita. Sebagai salah satu jargon kita dalam anatomi Semerbak. Karena disitu ada Ramah, dalam aplikasinya bagaimana kita bisa senyum, bagaimana kita bisa tunjukkan keramahan dengan senyuman dan itu kita sudah tunjukkan. Mudah-mudahan keramahan ini tercermin lagi dalam Festival Perairan Pulaua Makasar yang akan datang, oleh karena itu mari ramah, senyum.
Kemudian, karena Revolusi Senyum kita angkat dalam jargong Bersama Lebih Baik, tentu kita ingin menanamkan bahwa inti bersama lebih baik itu, kalau kita punya satu kesatuan hati. Jadi yang harus kita kembangkan, kita teruskan agar daerah ini mempunyai roh yang berkembang sesuai dengan roh sebenarnya.
--Dengan visi bapak pada periode kedua ingin menjadikan budaya yang produktif kalau dikaitkan dengan Festival Perairan Pulau Makasar, bagimana pengaruhnya?
Visi kita jangka panjang menjadikan Kota Baubau sebagai kota jasa dan dagang yang nyaman, melalui tahapan-tahapan visi, menjadikan pintu gerbang ekonomi dan pariwisata, kemudian ingin menjadikan budaya yang produktif. Ending kota budaya yang produktif ini tercermin bagaimana kita memanfaatkan Festival Keraton Nusantara sebagai salah satu momentum yang nantinya akan memperkuat posisi budaya. Tapi posisi budaya ini sesuatu yang punya nilai ekonomi yang bisa mengangkat hak dan martabat warga kawasan ini dengan produktifitas yang lebih tinggi lagi.
Itulah dalam endingnya sebagai kota budaya yang produktif kita lihat, dinamika Kota Baubau dalam tahun terakhir sebagai tahun pemantapan ini, dinamika tumbuh begitu cepatnya mengalahkan
dinamika kesiapan semua komponen dalam menata kota ini. Oleh sebab itu, penataan kota ini tidak hanya diserahkan pada pemerintah tapi semua komponen masyarakat untuk ikut bertsama-sama menatanya. Karena kalau tidak, pada masa akan datang dia akan mematikan dirinya sendiri dalam arti tidak akan punya kekuatan daya saing, lemah dalam berbagai aspek.
---Bagaimana menyiasati dinamika yang tinggi, dengan kesiapan yang
tidak sejalan dengan dinamika?
Oleh sebab itu kita berharap keserdasan masyarakar menentukan, dalam era demokrasi ini dikembalikan kepada rakyat yang akan menentukan. Ketika dia bisa mengeksekusi keputusan dengan tepat, maka daerah ini punya kesinambungan dalam perjalanan. Tapi Ketika dia mengeksekusi haknya kepada hal yang salah, berbahaya bagi kota kita ini
.
Olehnya itu, saran saya kepada semua komponen, cerdaslah menyiasati hak itu dalam pengambilan keputusan untuk menentukan jalur dari program pembangunan kota ini untuk bisa berkelanjutan.
--Artinya harus ideologis, tidak pragmatis?
Harus punya idealis yang kokoh, dan saya yakin masyarakat KOta Baubau bisa menentukan.
--Bapak yakin?
Yakin.
--Yakin mereka rasional?
Kalau yang belum rasioanl saya ajak untuk rasional menyikapi ini. Karena daerah ini sudah terkonsep, kalau konsep ini menurut keyakinan saya berubah ini bisa menimbulkan persoalan. Kerena perjalanan selama 10 tahun mencerminkan kekuatan baru di Sultra dan di kawasan ini. Tapi konsep ini belum selesai, 10 tahun tidak mungkin bisa menyelesaikan, dia butuhkan lima tahun ke depan, lima tahun ke depan. Tapi lima tahun ke depan, lima tahun ke depan bukan saya yang menentukan, tapi rakyat Baubau-lah yang menentukan dan eksekusinya dalam demokrasi
.
---Harapan bapak di akhir jabatan dalam Festival Perairan Pulaua Makasar?
Harapan saya janganlah jadikan kebiasaan, ganti pemimpin ganti program. Karena ada biasa, penggati itu, dan ini mungkin sudah jadi budaya melekat malu meneruskan apa yang baik.
Oleh sebab itu untuk mengantisipasi yang malu merubah atau meneruskan yang sudah ada, itulah bagaimana agar yang meneruskan ini bisa tetap satu hati dalam menyikapi dinamika ini. Karena kalau tidak, beban dan resiko akan
dialami. Sehingga kelanjutan berbagai iven bisa berjalan.
---Artinya tidak salah kalau dikatakan Baubau Autopilot? Siapapun orangnya sudah ada sistem yang bisa berjalan otomatis?
Justru itu, kita kehendaki, ketika ada nakhoda yang sudah dapat dipercaya, dan nakhoda itu ketiaka mempercayakan melepas ini, sudah bisa berjalan sendirinya dalam bahasa orang bisa berjalan sendirinya, atau autopilot. Tapi kita harapkan masih ada yang harus bisa mempunyai jejaring yang bisa meneruskan ini.
Saya yakin Baubau kalau diteruskan
konsepnya, karena konsep ini sudah ada tinggal bagimana meletakkan sesuai dengan potensi dan karakternya.(one.radarbuton@gmail.com)
Senin, 16 Juli 2012
Harapan Ganjil
Catatan: Irwansyah Amunu
FANTASTIS. Mungkin inilah kata yang tepat untuk menggambarkan kemenangan Joko Widodo-Ahok (Jokowi) dalam Pilkada DKI Jakarta, Rabu (11/7) lalu yang mengalahkan pasangan incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara).
Hebatnya lagi, pasangan yang diusung PDIP-Gerindra tersebut mampu menjungkir balikkan semua hasil survei yang memprediksi perolehan suara Foke paling banyak, menyusul Jokowi. Sebab fakta yang terjadi sebaliknya, berdasarkan hasil hitung cepat perolehan suara Jokowi, 43 persen, sementara Foke hanya 34 persen. Bahkan suara Foke masih dikalahkan warga DKI yang memilih Golput, sekitar 36 persen atau kurang lebih 2,9 juta pemilih.
Walikota Solo dua periode tersebut "mencukur" Foke. Tak hanya itu, Gubernur Sumsel, Alex Nurdin yang diusung Golkar-PPP pun tumbang. Termasuk kandidat yang dijagokan PKS, Hidayat Nur Wahid, mantan Ketua MPR, kalah.
Dua gubernur yang sedang menjabat, dan mantan Ketua MPR dikandaskan Sang Walikota.
Kendati masih merupakan hasil sementara, namun kini dua kandidat yang sama-sama bernomor urut ganjil, Foke, nomor urut satu, dan Jokowi, nomor urut tiga, mulai ancang-ancang untuk bertarung di putaran kedua nanti. Pasalnya, keduanya tidak ada satu pun yang memperoleh suara 50 persen plus satu. Ya, harapan ganjil. Tersisa dua kandidat, nomor urur satu atau tiga yang bakal memimpin ibukota negara.
***
Menduplikasi fakta DKI, Buton pun kini sementara menunggu pemimpinnya yang baru. Menariknya, yang bertikai di Mahkamah Konstitusi (MK) pun hanya antara sesama nomor urut ganjil, nomor tiga, pasangan Agus Feisal-Yaudu Salam Ajo (AYO) dan nomor sembilan, Samsu Umar Abdul Samiun-La Bakri (OEMAR-BAKRIE).
Ya, sama-sama, nomor ganjil.
Terkait hasil Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang kini sedang menunggu putusan oleh hakim MK, kedua kubu sama-sama mengklaim bakal menang. Bahkan Sekretaris Golkar Buton, La Hijira sudah melontarkan pernyataan bernada yakin,"Saya optimis, hakim MK bakal memberikan putusan kepada kubu AYO untuk menjadi pemenang dalam PSU Buton yang digelar beberapa waktu lalu. Karena, jika kita mendengar keterangan saksi dalam persidangan, AYO akan menang.”
Bukan hanya itu, bahkan ada salah seorang rekan di Blackberry Massanger (BBM)-nya tertulis status: Semoga hasil DKI sama dengan Buton, nomor tiga menang. Dengan kata lain AYO menang.
Namun ada juga yang menulis dalam BBM, 3x3=3 (salah), 3x3=6 (salah), 3x3=9 (benar). Nomor tiga butuh tiga kali baru sama dengan sembilan.
Demikianlah antara lain peran urat syaraf yang terjadi via BBM. Harapan ganjil, harapan bernomor ganjil.
Siapa yang bakal memang? Siapa yang bakal dilantik menjadi Bupati Buton definitif? Hasilnya kemungkinan kita akan dapatkan dalam waktu dekat. Sebab berdasarkan sumber di Jakarta, sengketa PSU Buton bakal diputus awal pekan ini.(one.radarbuton@gmail.com)
Senin, 09 Juli 2012
Rintihan Wakinamboro
Catatan: Irwansyah Amunu
"LEENA WAKINAMBORO." (Kencingnya Wakinamboro). Demikian salah satu kalimat yang sering digunakan orang tua saya dulu ketika saya masih kanak-kanak untuk menggambarkan hujan lebat. Ungkapan tersebut digunakan untuk mangagitasi agar kita tidak mandi hujan. Kenapa? Soalnya Wakinamboro merupakan nama raksasa. Jadi, kalau hujan lebat, berarti Raksasa Wakinamboro sedang kencing.
Rupanya bukan saya saja yang pernah mendengar dongeng tersebut. Sejumlah rekan di kantor yang orang Buton saat kecil juga pernah mendengar dongeng itu. Dan saya yakin, orang Buton umumnya saat kecil pernah mendengar cerita tersebut dari orang tuanya.
Saya mengingat kembali cerita masa kecil ini karena, Kamis (5/7) lalu, saya ke Desa Ngula-Ngula, berbatasan langsung dengan Desa Wakinamboro, Kecamatan Siompu Induk, Kabupaten Buton.
Ingatan tentang Wakinamboro semakin menebal karena dari rumah, menuju Dermaga Sulaa, kita dihantam hujan. Begitupun dari Dermaga Sulaa menuju Pulau Siompu, satu jam melawan ombak, kita juga diterpa hujan.
Dalam hati saya, kalau bukan karena undangan teman dekat yang menikah, mungkin saya belum menginjakkan kaki di sana. Apalagi Kamis pekan lalu, cuaca tidak bersahabat. Dari pagi sampai malam, langit Baubau dan Buton dipayungi awan hitam, dan terus diguyur hujan.
Tiba di dermaga Desa Tongali, Siompu, juga masih hujan.
Karena acara segera dimulai, menggunakan sepeda motor, kita menerjang hujan. Kesan pertama begitu menggoda, sebab sekitar 3 KM aspalnya mulus. Namun setelah itu, mulai kelihatan aslinya, rekan yang mengendarai "kuda besi" harus mengeluarkan banyak jurus untuk menghindari lubang.
***
Usai mengikuti prosesi pernikahan. Saya banyak mendapatkan informasi pedih seputar daratan Siompu yang saya datangi. Rupanya sejak Indonesia merdeka, belum ada aliran listrik dari PLN yang masuk di Kecamatan Siompu Induk. Begitupun air dari PDAM.
Betapa tidak, dari 10 desa di Siompu Induk, hanya dua yang mendapatkan sentuhan listrik, Desa Biwinapada, dan Tongali. Itu pun bukan dari PLN, tapi dari PNPM Pedesaan. Baru dua tahun mereka menikmatinya.
Lantas, listrik dari mana yang digunakan selama prosesi pernikahan. Rupanya dari genset.
Memang selain listrik dari PNPM, dan genset, beberapa warga juga memiliki fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun kalau hujannya seperti Kamis pekan lalu, hampir seharian tidak terlihat Matahari, dipastikan PLTS-nya tak menyimpan energi. Alhasil, malam hari warga harus menggunakan lampu templok.
Fakta itu begitu mengiris hati. Apalagi ketika meminta pendapat salah seorang warga soal kondisi yang manimpa mereka, hanya dijawab,"Kita berharap bupati yang baru ini bisa merubah keadaan desa kita." Mendengar jawaban tersebut saya hanya bisa tertegun.
Dalam hati saya, banyak "PR" yang harus diselesaikan segera oleh pemimpin di negeri ini, ketimbang ribut dengan urusan politik. Salah satunya kondisi yang dialami warga yang mendiami Pulau Siompu.
Itulah Rintihan Wakinamboro: Butuh air, listrik, dan perbaikan jalan. Semoga pemimpin Buton yang baru bisa menyentuh mereka dengan pembangunan, sehingga kondisinya lebih baik. Semoga.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 17 Juni 2012
"Salah Makan"
Catatan: Irwansyah Amunu
APAKAH benar sistem Islam mampu mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan? Demikian tanda tanya besar yang selalu muncul ketika berdialog dengan sejumlah pihak di tengah banyaknya persoalan yang mendera negeri ini.
Pertanyaan tersebut jika diturunkan dengan kondisi negeri kita akan melahirkan banyak jawaban. Bagi yang belum paham dengan Islam sebagai suatu idiologi, tentu jawabannya bernada mencibir. Sebab, Islam selama ini hanya dipandang sebagai suatu agama suci, tidak bisa diterapkan dalam kehidupan manusia moderen seperti sekarang. Apalagi, persoalan kini semakin kompleks, berbeda dengan kehidupan manusia tempo dulu.
Namun bagi yang paham, optimis menjawab: pasti.
Optimisme itu semakin menjadi kenyataan ketika saya menghadiri acara Konferensi Tokoh Umat (KTU) bertajuk Khilafah, Model Terbaik Negara yang Mensejahterakan digelar DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sultra di Kendari, Sabtu (16/6) lalu. Acara yang dihadiri 2000 lebih tokoh di Sultra tersebut memberikan gambaran bagaimana kita mengelola negara secara Islam.
Tidak tanggung-tanggung, penjelasannya langsung diberikan Prof Dr Ing. Fahmi Amhar. Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial di Bakosurtanal yang juga salah seorang anggota DPP HTI tersebut memberikan penjelasan panjang lebar bagaimana Islam mengelola negara.
Ada hal yang menarik dikatakan Fahmi, Indonesia berpotensi untuk menjadi negara kuat dan berdaulat. Namun, mengapa kita belum bisa mewujudkannya? Karena kita menggunakan cara lain mengelola Indonesia.
Potensi minyak misalnya, produksi minyak Indonesia 950.000 barrel per hari, nilai nett profitnya di atas Rp 280 triliun per tahun. Saat ini kebutuhan minyak 1,2 juta barrel per hari, akibat politik energi selama ini tertumpu pada minyak, seperti PLTGU yang “salah makan”, tata kota yang tak efisien, hingga tak terbangunnya transportasi massal. Akibatnya minyak lebih banyak “diminum” sendiri, tidak banyak yang untuk mensejahterakan rakyat.
Kemudian, gas dan batubara, produksi gas (LNG) setara 5,6 juta barrel minyak per hari, nilai nett profitnya sekitar Rp 268 triliun per tahun. Produksi batubara setara 2 juta barrel minyak per hari, nilai nett profitnya sekitar Rp 191 triliun per tahun. Kedua sumber energi besar ini lebih banyak diekspor murah ke Cina. Indonesia mensubsidi energi Cina lebih besar daripada mensubsidi rakyatnya sendiri.
Kelautan, karena sektor kelautan terutama dilakukan secara bebas oleh nelayan baik kecil maupun besar, agak sulit memasukkannya sebagai penerimaan negara. Menurut KKP, nilai potensi lestari laut Indonesia-hayati, non hayati, wisata sekitar Rp 738 triliun. Bila ada BUMN kelautan memiliki ceruk 10 persen, pendapatan kita sekitar Rp 73 triliun.
Hutan, luas hutan kita 100 juta hektar, 60 juta ha hutan produksi. Agar lestari-siklus 20 tahun, setiap tahun hanya 5 persen tanamannya yang diambil. Bila dalam 1 hektar hutan, minimalisnya 400 pohon, hanya 20 pohon per hektar yang ditebang. Kalau kayu pohon berusia 20 tahun nilai pasarnya Rp 2 juta (nett profitnya Rp 1 juta), nilai ekonomis dari hutan kita adalah 60 juta ha x 20 pohon per ha x Rp 1 juta, setara Rp 1.200 triliun per tahun.
Kita belum menghitung potensi penerimaan dari sumber daya manusia, infrastruktur, informasi, kapital, dan produksi. Potensi penerimaan dari sumber daya alam (SDA), pertambangan Rp 789 triliun, kelautan Rp 73 triliun, kehutanan Rp 1.200 triliun. Total jenderal Rp 2.062 triliun. Sementara, APBN-P kita tahun ini hanya Rp 1.500 triliun, masih lebih besar potensi penerimaan dari SDA.
Sayangnya, sumber daya alam kita realitas penerimaan sangat kecil, disebabkan pencurian, konsesi, transfer-pricing, korupsi. Sumber daya manusia, mayoritas berkemampuan rendah. Infrastruktur, tidak dibangun atau dirawat serius. Informasi, didominasi paten atau copyright asing. Kapital, didominasi utang LN ribawi. Produksi, didominasi investor asing. Ternyata semua belum jadi sumber kekayaan.
Realitasnya, berkah sumber daya alam itu belum mampu menghapus kemiskinan di negeri ini. Penduduk miskin di Indonesia setiap tahun meningkat. Negeri ini perlu cara-cara baru. Cara baru dalam mendidik orang. Cara baru dalam membentuk budaya. Cara baru dalam merancang peraturan. Cara baru dalam memandang kehidupan. Cara baru dalam mewujudkan kesejahteraan. Kita wajib berpikir diluar konteks atau out of the box.
Kita rupanya selama ini "salah makan". Kita hidup menggunakan cara hidup asing yang dianggap normal. Memisahkan agama dari kehidupan publik (sekulerisme). Menjadikan kebebasan sebagai doktrin kehidupan (liberalisme). Menjadikan materi sebagai alat ukur kemajuan (materialisme). Menganggap distribusi barang dan jasa akan optimal cukup dengan mekanisme pasar (kapitalisme). Semua ini harus kita ubah.
Contoh out of the box, luas laut Indonesia 5,8 juta Km persegi. Panjang perbatasan laut kita 15.000 Km. Jumlah kapal perang yang dibutuhkan sekitar 600. Jumlah KRI hanya ada 152. Harga kapal yang ocean-going sekitar Rp 15 miliar. Bagaimana bila bailout Century yang Rp 6,7 trilun dibelikan kapal? Dapat 446 kapal! Kapal ini dapat untuk memberdayakan dan mensejahterakan nelayan. Lengkapi kapal ini dengan marinir dan senjata, maka pencurian ikan (illegal fishing) akan jauh berkurang.
Kalimat akhir yang dinyatakan Prof Fahmi Amhar: Tak ada perbaikan tanpa perubahan. Tak ada perubahan ke arah kebaikan tanpa mengacu kepada syariah.Tak akan sempurna penerapan syariah tanpa dalam kerangka sistem khilafah.Tak akan tuntas upaya penegakan syari’ah kecuali dilakukan secara berjamaah.
Setelah itu pemaparan dilanjutkan DPP HTI lainnya, ustaz Abu Zaid yang membahas politik ekonomi Islam Untuk pertumbuhan ekonomi yang stabil dan menyejahterakan. Praktis acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut memberikan kepuasan berpikir dan pemahaman para hadirin. Tidak rugi mereka datang dari Pasarwajo, Sampolawa, Wakatobi, Buton Utara, Baubau, Muna, Kolut, Kolaka, Bombana, Konawe menghabiskan waktu dan dana untuk menghadiri acara tersebut. Acara tesebut bisa menjadi obat dari "salah makan" otak kita dari masuknya pemahaman asing yang sekularistik dan sosialistik.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 27 Mei 2012
Residu PSU
Catatan: Irwansyah Amunu
Pemungutan Suara Ulang (PSU) Buton sudah berlalu sejak sepekan lalu, namun pesta demokrasi ulangan tersebut masih menyisakan noktah. Dua hal yang bakal menyita perhatian, gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) dan pecah kongsi pasangan Djaliman Mady-Muh Saleh Ganiru (IMAM-SALEH).
Dua hal tersebut saya sebut sebagai sisa-sisa PSU atau Residu PSU.
Terkait gugatan di MK, setidaknya dua kandidat sudah mendaftar, pihak Agus Feisal-Yaudu Salam Adjo (AYO) dan Muhammad Ali La Opa-La Diri (MANDIRI).
Ada yang berujar,"Hasil PSU hanya digugat mantan Bupati dan Wabup Buton." Mengapa? Kata dia, AYO diusung Golkar. Ketua Golkar Buton sekarang dijabat mantan Bupati Sjafei Kahar. Sedangkan MANDIRI didalamnya ada mantan Wabup Ali La Opa. Mendengar ini saya hanya geleng-geleng kepala seraya terkekeh. Entah benar atau keliru tergantung dari sudut apa kita memandang.
Namun begitu, di kubu AYO, gugatan ini, merupakan kali kedua. Gugatan pertama karena pasangan nomor urut tiga ini merasa ada indikasi KPUD mengulur pelaksanaan PSU, makanya mereka membawa persoalan tersebut ke MK. Kedua, pasca-PSU, sebagai pihak yang kalah AYO menggugat lagi. Kini yang diadukan terkait tengara kecurangan penyelenggaraan Pilkada ulang.
Dua gugatan tersebut dengan dua kondisi yang berbeda. Pertama, sebagai pemenang, namun dibatalkan MK, kedua, berada pada posisi kalah.
Sementara MANDIRI konsisten dengan sikapnya. Mereka menggugat karena diduga terjadi pelanggaran verifikasi faktual yang dilakukan KPU Buton.
Bagi MANDIRI, ini merupakan gugatan pertama kali. Kendati demikian dalam Pilkada episode satu, dan dua, kondisinya sama, kalah.
Dari dua gugatan tersebut, kita akan mulai dipertontonkan adu argumentasi yang alot di MK dalam pekan ini. Domain hukum inilah yang akan memutuskan siapa yang bakal dilantik sebagai bupati-Wabup Buton, bulan depan.
Yang jelas, satu kaki pasangan Samsu Umar Abdul Samiun-La Bakri (OEMAR-BAKRIE) sudah berada di kursi pelantikan. Mereka sudah ditetapkan KPU Buton. Satu kaki lagi menunggu putusan MK.
Teranyar, pecah kongsi pasangan nomor urut empat, IMAM-SALEH.
Sekadar mengingatkan, beberapa waktu lalu saya sempat membuat catatan berjudul, PSU: Ajal Demokrasi? Dalam catatan tersebut saya menulis, terlalu sentimentil kalau diprediksi perolehan suara IMAM-SALEH dan MANDIRI dalam PSU, lebih banyak perolehan suara tidak sah dibandingkan dengan suara mereka.
Hasilnya benar. Perolehan suara IMAM-SALEH, 305 suara, sedangkan MANDIRI, 423 suara. Bila ditotal jumlahnya hanya 728 suara. Bandingkan dengan jumlah surat suara yang tidak sah, 1.047, unggul 319 suara.
Melorotnya perolehan suara keduanya memang sudah diperkirakan sebelumnya. IMAM-SALEH karena indikasi perpecahan Djaliman dan Saleh, sementara MANDIRI menyoal tahapan verifikasi. Itulah yang membuat mereka tidak mengerahkan kekuatan penuh dalam PSU.
Hanya yang menarik, perpecahan IMAM-SALEH semakin terbuka setelah Djaliman melayangkan surat pernyataan ke KPU Buton. Mantan Sekab Buton di era Bupati Saidoe, dan Sjafei Kahar ini memprotes tandatangan keberatan yang dibubuhkan Hasan Adia mengatasnamakan IMAM-SALEH dalam pleno rekapitulasi perolehan suara PSU, Selasa (22/5) lalu.
Zaynal Ryha, kerabat dekat Djaliman ini merasa pihaknya sudah dipermainkan. Dia bahkan sudah melempar statemen keras bakal menggugat Saleh Ganiru.
Alhasil, kendati rakyat Buton sedang berada pada episode Residu PSU, namun hasilnya akan menjadi tonggak perjalanan daerah penghasil aspal ini selama lima tahun mendatang.(one.radarbuton@gmail.com)
Pemungutan Suara Ulang (PSU) Buton sudah berlalu sejak sepekan lalu, namun pesta demokrasi ulangan tersebut masih menyisakan noktah. Dua hal yang bakal menyita perhatian, gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK) dan pecah kongsi pasangan Djaliman Mady-Muh Saleh Ganiru (IMAM-SALEH).
Dua hal tersebut saya sebut sebagai sisa-sisa PSU atau Residu PSU.
Terkait gugatan di MK, setidaknya dua kandidat sudah mendaftar, pihak Agus Feisal-Yaudu Salam Adjo (AYO) dan Muhammad Ali La Opa-La Diri (MANDIRI).
Ada yang berujar,"Hasil PSU hanya digugat mantan Bupati dan Wabup Buton." Mengapa? Kata dia, AYO diusung Golkar. Ketua Golkar Buton sekarang dijabat mantan Bupati Sjafei Kahar. Sedangkan MANDIRI didalamnya ada mantan Wabup Ali La Opa. Mendengar ini saya hanya geleng-geleng kepala seraya terkekeh. Entah benar atau keliru tergantung dari sudut apa kita memandang.
Namun begitu, di kubu AYO, gugatan ini, merupakan kali kedua. Gugatan pertama karena pasangan nomor urut tiga ini merasa ada indikasi KPUD mengulur pelaksanaan PSU, makanya mereka membawa persoalan tersebut ke MK. Kedua, pasca-PSU, sebagai pihak yang kalah AYO menggugat lagi. Kini yang diadukan terkait tengara kecurangan penyelenggaraan Pilkada ulang.
Dua gugatan tersebut dengan dua kondisi yang berbeda. Pertama, sebagai pemenang, namun dibatalkan MK, kedua, berada pada posisi kalah.
Sementara MANDIRI konsisten dengan sikapnya. Mereka menggugat karena diduga terjadi pelanggaran verifikasi faktual yang dilakukan KPU Buton.
Bagi MANDIRI, ini merupakan gugatan pertama kali. Kendati demikian dalam Pilkada episode satu, dan dua, kondisinya sama, kalah.
Dari dua gugatan tersebut, kita akan mulai dipertontonkan adu argumentasi yang alot di MK dalam pekan ini. Domain hukum inilah yang akan memutuskan siapa yang bakal dilantik sebagai bupati-Wabup Buton, bulan depan.
Yang jelas, satu kaki pasangan Samsu Umar Abdul Samiun-La Bakri (OEMAR-BAKRIE) sudah berada di kursi pelantikan. Mereka sudah ditetapkan KPU Buton. Satu kaki lagi menunggu putusan MK.
Teranyar, pecah kongsi pasangan nomor urut empat, IMAM-SALEH.
Sekadar mengingatkan, beberapa waktu lalu saya sempat membuat catatan berjudul, PSU: Ajal Demokrasi? Dalam catatan tersebut saya menulis, terlalu sentimentil kalau diprediksi perolehan suara IMAM-SALEH dan MANDIRI dalam PSU, lebih banyak perolehan suara tidak sah dibandingkan dengan suara mereka.
Hasilnya benar. Perolehan suara IMAM-SALEH, 305 suara, sedangkan MANDIRI, 423 suara. Bila ditotal jumlahnya hanya 728 suara. Bandingkan dengan jumlah surat suara yang tidak sah, 1.047, unggul 319 suara.
Melorotnya perolehan suara keduanya memang sudah diperkirakan sebelumnya. IMAM-SALEH karena indikasi perpecahan Djaliman dan Saleh, sementara MANDIRI menyoal tahapan verifikasi. Itulah yang membuat mereka tidak mengerahkan kekuatan penuh dalam PSU.
Hanya yang menarik, perpecahan IMAM-SALEH semakin terbuka setelah Djaliman melayangkan surat pernyataan ke KPU Buton. Mantan Sekab Buton di era Bupati Saidoe, dan Sjafei Kahar ini memprotes tandatangan keberatan yang dibubuhkan Hasan Adia mengatasnamakan IMAM-SALEH dalam pleno rekapitulasi perolehan suara PSU, Selasa (22/5) lalu.
Zaynal Ryha, kerabat dekat Djaliman ini merasa pihaknya sudah dipermainkan. Dia bahkan sudah melempar statemen keras bakal menggugat Saleh Ganiru.
Alhasil, kendati rakyat Buton sedang berada pada episode Residu PSU, namun hasilnya akan menjadi tonggak perjalanan daerah penghasil aspal ini selama lima tahun mendatang.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 20 Mei 2012
"MK Yang Maha Kuasa"
Catatan: Irwansyah Amunu
SABTU (19/5) rakyat Buton sudah memutuskan pasangan Samsu Umar Abdul Samiun-La Bakri (OEMAR-BAKRIE) sebagai pemimpinnya lima tahun mendatang. Memang kemenangan pasangan yang diusung PAN-PPRN-PDK ini belum disyahkan KPUD sebagai penyelenggara Pilkada, namun baru dianalisis sejumlah lembaga survei.
Hasil quick count (hitung cepat) LJI, JSI, dan Indo Barometer, Pemungutan Suara Ulang (PSU) menempatkan Oemar-Bakrie di tempat teratas. Menyusul Agus Feisal-Yaudu Salam Adjo (AYO), dan DR Azhari-La Naba Kasim (GEMA AZAN).
OEMAR-BAKRIE berhasil menggeser AYO yang dalam Pilkada 4 Agustus 2011 lalu sebagai kampium. Kini pasangan yang diusung koalisi Golkar dan PKS tersebut hanya menjadi runner up atau urutan ke dua. Sementara DR Azhari-La Naba Kasim (GEMA AZAN) tetap berada di urutan ketiga.
Berdasarkan perolehan suara yang dilansir tiga lembaga survei tersebut, terlihat pasangan OEMAR-BAKRIE agak sulit menggeser posisi AYO dari posisi puncak. Ini dengan melihat selisih suara antara pasangan pemilik nomor urut sembilan dan tiga tersebut hanya 2-3 persen.
Hasil quick count LJI misalnya, OEMAR-BAKRIE, 35,86 persen, sedangkan AYO, 32,17 persen. Selisih 3,69 persen.
Berikut, JSI, OEMAR-BAKRIE, 36,22 persen, sementara AYO, 34,01 persen. Beda 2,21 persen.
Terakhir, data Indobarometer, PSU Buton dengan partisipasi pemilih 64,38 persen, OEMAR-BAKRIE 36,87 persen, menyusul AYO 34,52 persen. Terpaut 2,35 persen.
Hasil tersebut tentu membuat kubu OEMAR-BAKRIE girang. Terbukti, dari malam Minggu langit Baubau sudah diterangi dengan kerlap kerlip dan dentuman kembang api yang diluncurkan mereka untuk merayakan kemenangan.
Kendati demikian, mereka tentu masih menunggu hasil pleno KPU Buton yang akan menentukan siapa pasangan calon Bupati-Wabup terpilih. Yang jelas, proses rekapitulasi suara kini sementara berproses dari TPS, PPS, PPK, dan berakhir di KPUD. Sesuai jadwal, La Rusuli Cs bakal menggelar pleno, besok.
Apakah La Rusuli Cs sebagai penentu? Ya. Tapi kepastiannya ada di ketuk palu Mahkamah Konstitusi (MK). Jadi, kini sang pemenang boleh senang, tapi belum tenang.
Soalnya sejumlah pihak sudah menyiapkan gugatan ke MK. Bahkan hal tersebut sudah diniatkan sebelum PSU digelar.
Dan menurut saya, disitulah pertempuran terakhir yang sangat menentukan. Makanya ketika ditanya rekan-rekan soal PSU Buton, dengan nada guyon saya berujar,"Kejamnya politik, lebih kejam MK." Atau kalau ada pertanyaan siapa kemungkinan yang akan dilantik? Saya berucap,"PSU kuburannya ada di MK, bukan KPUD."
Akhirnya soal hasil PSU Buton ini, siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan Sjafei Kahar-Ali La Opa? Saya hanya bisa mengutip salah satu kicauan di akun twitter saya: "MK Yang Maha Kuasa".(one.radarbuton@gmail.com)
Senin, 14 Mei 2012
PSU: Ajal Demokrasi?
Catatan: Irwansyah Amunu
MINGGU ini, kita memasuki hari-hari paling menentukan bagi rakyat Buton. Sebab lima hari lagi atau Sabtu (19/5) nanti pemilih di Buton akan menyalurkan hak politiknya untuk memilih siapa yang akan memimpin Buton lima tahun mendatang.
Hajatan Pemungutan Suara Ulang (PSU) Buton ini boleh dikatakan paling banyak menyerap energi. Bila dibandingkan dengan Konsel pun yang mengalami nasib sama menggelar Pilkada ulang, Buton masih lebih banyak.
Indikatornya, pertama, Konsel tidak sampai mengganti komisioner KPUD-nya, Buton semua penyelenggara Pilkadanya diganti. La Biru Cs "out" diganti La Rusuli Cs. Kedua, Konsel tak berbuntut ditunjuknya carateker bupati, Buton harus melahirkan carateker, Nasruan.
Ketiga, dana yang digelontor di Konsel lebih sedikit dibanding Buton. Pasalnya, jumlah pemilih di Buton lebih banyak, dan dari aspek geografis lebih luas. Ini mempengaruhi pundi-pundi dana yang digunakan lebih besar.
Keempat, kontestan Pilkada Buton lebih banyak dibandingkan Konsel. Dengan begitu, dana yang keluar dari kantung kandidat lebih banyak mengalir di Buton. Informasi tidak resmi yang saya peroleh dari setiap kandidat, atau orang dekat mereka, bila ditotal dananya mendekati Rp 100 miliar.
Kelima, jelang Pilkada Buton 4 Agustus 2011 silam, menelan "korban" dengan kecelakaan yang dialami helikopter milik Polda Sultra di Lakudo. Capung besi milik korps Bhayangkara tersebut jatuh ketika Polisi melakukan pemantauan lebih dekat jalannya Pilkada. Kerugiannya tentu tidak kecil.
Keenam, PSU Buton menyita perhatian Jakarta. Bukan hanya Mahkamah Konstitusi (MK) yang harus dua kali menggelar sidang gugatan dan Kementerian Dalam Negeri juga dua kali melayangkan surat ke Bupati Nasruan. Tapi termasuk media nasional sekaliber MetroTv dua kali menayangkan acara Genta Demokrasi, dua pekan berturut-turut pula, berjudul Konspirasi dari Kendari dan Skenario Politik ala Buton.
Karena itu, jangan heran bila jelang hari H PSU, dari tujuh pasang kandidat peserta Pilkada beberapa diantaranya sudah "lempar handuk" dengan berbagai macam alibi. Umumnya soal KPUD yang belum bekerja secara profesional dalam melakukan verifikasi bakal calon.
Alhasil, ada yang tanpa malu-malu menampakkan "aurat politiknya" merger dengan kandidat lain. Ada yang malu-malu kucing. Ada pula yang memilih pasif.
Mereka sadar tidak bisa menang dalam PSU. Bahkan terlalu sentimentil kalau saya menganalisis dalam PSU nanti, lebih banyak perolehan suara tidak sah dibandingkan dengan suara mereka.
Inilah yang saya sebut dengan ajal demokrasi. Setahu saya, kontestan maju di panggung Pilkada sebagai aktor, bukan penonton. Kalau naik panggung hanya untuk jadi penonton, lebih baik dari awal mundur teratur. Toh antara kontestan dan penonton sama terhormatnya yang penting bisa menempatkan diri secara elegan.
Kini hari-hari penantian semakin dekat. Menurut saya, tidak banyak kejutan dalam PSU, yang bersaing hanya tiga pasang, OEMAR BAKRIE, AYO, atau GEMA AZAN? Siapa yang menjadi kampium? Rakyat Buton yang memutuskan.(one.radarbuton@gmail.com)
Langganan:
Postingan (Atom)