Kamis, 11 Oktober 2012

Pilwali: 22 Hari, Finish 30%


Catatan: Irwansyah Amunu


AKHIRNYA, KPU Baubau menetapkan enam pasang calon walikota-wakil walikota yang bakal bersaing dalam Pilwali, Minggu (4/11) nanti.

Semua punya peluang. AS Tamrin-Wa Ode Maasra Manarfa (TAMPIL MESRA), Faimuddin-Arifuddin (FAIR), Ibrahim Marsela-Muirun Awi (IMAM), La Ode Mustari-Ikhsan Ismail (MUSTIKA), Mz Amril Tamim-Agus Feisal Hidayat, dan Sairu Eba-La Ode Hadia (SAHABAT). 

Kebetulan, saat pengambilan nomor urut kemarin, saya sempat melihat dari dekat euforia para pendukung masing-masing kandidat. Banyak hal yang sempat terlontar di antara mereka. Massanya pun saling berbaur, namun begitu kondisinya kondusif.

Saya mengamati, hal yang berbeda Pilwali kali ini dengan lima tahun lalu, adalah tensinya lebih terjaga. Tahun lalu, panas tingkat tinggi.

Padahal, jika dibandingkan lima tahun lalu, kali ini jumlah kandidat naik dua kali lipat, enam pasang. Dulu, hanya tiga pasang. Idealnya, karena jumlahnya lebih banyak maka suhunya lebih tinggi. Tapi yang terjadi sekarang tidak demikian.

Mengapa? Bisa jadi masyarakat kita sudah lebih cerdas. Itu yang pertama, faktor kedua, ada juga yang mengatakan karena kali ini, Umar Samiun bukan lagi kontestan. Sebab Bupati Buton itulah yang menjadikan persaingan Pilwali lima tahun lalu memanas. 

Hal lain, Pilwali kali ini, topik menarik yang menjadi perbincangan adalah apakah pesta demokrasinya digelar dalam satu atau dua putaran. Melihat peta konfigurasi suara para kandidat di lapangan, memang sulit ditebak. 

Namun dalam kacamata saya, tampaknya Pilwali kali ini bakal berlangsung satu putaran. Dasarnya dengan membandingkan antara Pilwali Baubau dengan Pilbup Buton. Di Buton, dengan tujuh pasang, bisa ditempuh dalam satu putaran. Bahkan dua kandidat, Oemar-Bakrie, dan Agus Feisal Hidayat-Yaudu Salam Adjo (AYO) yang meraih perolehan suara 30 persen lebih. Sementara di Baubau, hanya enam pasang, minus satu dari Buton. 

Sekadar mengingatkan, seperti diatur dalam UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, jika tak ada pasangan calon yang memperoleh 30 persen, maka diadakan Pemilukada putaran kedua yang diikuti pemenang pertama dan kedua di putaran pertama. Inilah payung hukumnya.

Saya menganalisis, dengan kekuatan ke-6 pasang kandidat, bukan hal yang mustahil salah satu diantaranya atau beberapa diantaranya meraih 30 persen. Bahkan, beberapa kandidat diantaranya sudah ada yang secara terang-terangan menyatakan Pilwali satu putaran. Ya, beberapa. Bukan hanya satu kandidat.

Intinya, sekarang untuk meraih kemenangan dalam Pilwali, minimal meraih suara aman 30 persen dalam 22 hari ini. Dalam bahasa saya, Pilwali: 22 hari, finish 30 persen. Enam pasang akan memperebutkan suara dari 107.662 pemilih, yang berada di 235 TPS pada Minggu (4/11) nanti.

Siapakah yang akan menjadi pelanjut takhta Amirul Tamim? Kita tunggu.(one.radarbuton@gmail.com)

Minggu, 23 September 2012

Pemimpin bukan Pemimpi(n)


Catatan: Irwansyah Amunu



SELASA (18/9) lalu, Walikota Baubau Amirul Tamim berulang tahun ke-58. Untuk mengucapkan selamat ulang tahun, saya sengaja menghadiri acara pemberian 1000 kacamata gratis kepada seluruh pelajar se-Kota Baubau dari SD sampai SMA di Maedani Betoambari.

Terbukti setelah acara, bukan hanya saya, tapi seluruh jurnalis yang hadir mengulurkan tangan kepada suami Ny Yusni tersebut seraya menyampaikan selamat ulang tahun.

Milad Amirul kali ini momentumnya bertepatan dengan nyaris satu dekade dia memegang amanah "01" Baubau, dan HUT Kota Semerbak ke-471.

Soal Dirgahayu ke-471, Baubau menunjukkan diri sebagai daerah memiliki identitas sejarah yang jelas. Apalagi, dari 12 daerah di Bumi Anoa, termasuk Sultra sendiri, hanya Baubau yang usianya 471 tahun. Sementara daerah lainnya, pun Sultra, usianya belum ada yang setua Baubau. Mereka baru puluhan tahun. Bandingkan dengan Baubau, sudah ratusan tahun.

Mengapa demikian? Karena Baubau sebagai pusat Kesultanan Buton, secara historis lahir sejak masa pemerintahan Sultan Murhum. Dan hal itu telah dilegitimasi dewan melalui Perda tiga tahun lalu.

Menilik perkembangan Baubau sekarang, tidak berlebihan dikatakan usianya beranjak tahun ke-471. Indikatornya dengan melihat sejumlah fasilitas dan infrastuktur terbangun. Kota Semerbak semakin maju.

Sebut saja Bandara Betoambari, sehari sampai enam kali penerbangan. Kota Mara dengan aneka kelengkapan diantaranya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), empat blok Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa), Pasar Sehat, dan sedang dibangun Islamic Centre.

Fasilitas publik, Wantiro di Bukit Kolema, dan Pantai Kamali. Daerah mati dirubah menjadi sarana sosial plus ekonomi.

Kemudian, pasar yang tadinya hanya satu berfungsi optimal di dalam kota, kini menjadi terbilang. Perbankan, dulu hitung jari, sekarang bertumbuh.

Lalu, pendidikan. Tidak salah bila Baubau disebut sebagai Kota Pendidikan. Ini dengan melihat banyaknya sekolah, dan perguruan tinggi. Bahkan pelajar dan mahasiswanya bukan hanya dari daerah hinter land (daerah belakang) seperti Buton, Butur, Muna, Bombana, dan Wakatobi, tapi juga provinsi lainnya di Indonesia Timur (Intim).

Paling fenomenal, pembangunan Terminal Suplai BBM. Fasilitas milik Pertamina ini dibangun menghabiskan APBN hampir Rp 1 triliun. Kini telah beroperasi dengan daerah layanan luas, meliputi Intim. Tak hanya itu, bangunan kepunyaan perusahaan pelat merah di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari ini memiliki fasilitas tercanggih di Indonesia.

Masih banyak karya Amirul yang kalau disebutkan seluruhnya tak termuat dalam satu catatan ini. Namun, demikianlah antara lain fasilitas dan infrastuktur di Baubau dibangun dibawah kendalinya.

Bisa dikatakan, ragam fasilitas dan infrastruktur di Baubau, calon ibu kota Provinsi Buton Raya, hanya kalah dari Kendari, ibu kota Sultra.

Walau begitu, harus disadari, selain sisi positif, tentu ada pula masyarakat yang memandang minor beberapa hal. Soal ini saya teringat kalimat Amirul,"Soeharto saja yang jadi presiden 32 tahun, setelah turun banyak yang mencela, apalagi kita yang hanya sepuluh tahun."

Namun, pencapaian 10 tahun ini, bukti nyata karya pemimpin, bukan pemimpi(n).

Akhirnya, Baubau kini sedang mengalami masa transisi. Tujuh pasangan bakal calon (Balon) walikota telah mendaftar di KPU. Empat dari Parpol, Amril Tamim-Agus Feisal Hidayat (AMANAH), Ibahim Marsela-Muirun Awi (IMAM), AS Tamrin-Maasra Manarfa (TAMPIL MESRA), dan Mustari-Ikhsan Ismail (MUSTIKA). Tiga independen, Saeru Eba-Hadia (ABADI), Faimudin-Arifuddin, dan La Ode Daniel-Abdul Salam (DENSUS).

Mereka pun telah menyusun program untuk dijalankan bila diberikan kepercayaan memimpin. Alhasil, semoga yang terpilih nanti pemimpin, bukan pemimpi(n).(one.radarbuton@gmail.com)

Kamis, 13 September 2012

Kontraksi Politik


Catatan: Irwansyah Amunu



PENDAFTARAN bakal calon (Balon) walikota-Wawali Baubau periode 2013-2018 berakhir sudah. Tujuh pasang resmi mendaftar di KPU, empat dari Parpol, tiga independen.

Diusung Parpol, Ibrahim Marsela-Muirun Awi (IMAM), La Ode Mustari-Ikhsan Ismail (MUSTIKA), AS Tamrin-Wa Ode Maasra Manarfa (TAMPIL MESRA), dan Amril Tamim-Agus Feisal Hidayat (AMANAH). Dari independen, Faimuddin-Arifuddin, Sairu Eba-La Ode Hadia (ABADI), dan La Ode Daniel-Abdul Salam (DENSUS).

Pemandangan yang tidak biasa bila membandingkan dengan Pilkada lainnya di Sultra, jauh hari sebelum hari H pendaftaran  pasangan kandidat sudah bisa ditebak. Namun Pilwali Baubau tidak demikian. Banyak kejutan yang terjadi.

Sebagai contoh, Ibrahim Marsela-Muirun Awi nanti jelang pendaftaran baru berpasangan. Padahal, banyak baliho Muirun yang tertulis calon walikota. Namun kemudian mundur satu langkah menjadi wakil Ibrahim.

Tak hanya itu, Parpol yang digunakan pasangan pengusung slogan IMAM ini tergolong luar biasa. Mampu menghimpun tiga Parpol besar yang seluruhnya memiliki kursi di parlemen. PKS, Golkar, PDIP masing-masing memiliki dua kursi. Dengan demikian total kursi yang dimiliki enam.

Masuknya PDIP dalam IMAM termasuk kejutan. Padahal, sebelumnya Parpol moncong putih ini diberitakan memajukan pasangan Ansir-Monianse (AMIN).

Selanjutnya Amril Tamim-Agus Feisal Hidayat (AMANAH). Berpasangannya dua figur muda ini dinilai sebagai kejutan besar. Betapa tidak, dua figur sentral yang berada di belakang pasangan kandidat yang mempropagandakan slogan Satu Hati untuk Baubau ini, Amirul-Sjafei sebelumnya rival, dalam Pilwali bersatu.

Bukan hanya itu, Agus yang sebelumnya tercatat sebagai Calon Bupati Buton, juga mundur satu langkah menjadi wakil Amril. Tidak tanggung-tanggung, Parpol yang dipakai pun Parpol besar, PPP dan Demokrat. Plus, PPPI, PPIB, PNI Marhaen, PPDI, PDK, Republikan, PPNUI, dan Barnas. PPP dan Demokrat sebetulnya mampu melahirkan masing-masing pasangan kandidat. Sebab, PPP, 5 kursi, dan Demokrat, 4 kursi, total 9 kursi. Namun beraliansi menjadi satu kekuatan.

Kemudian MUSTIKA, diusung 18 Parpol. Hanura, Kedaulatan, PNBKI, Gerindra, PPD, PPPI, Buruh, PPDI, PPIB, PPRN, PKB, Pemuda Indonesia, PDP, PMB, Republikan, Pelopor, PKNU, dan PPNUI. Kekuatannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dasarnya, Mustari dan Lawa -sapaan Ikhsan Ismail- memiliki elektabilitas bagus.

Walaupun nama Lawa baru mencuat belakangan, tapi dia dikenal luas masyarakat. Apalagi jabatannya kini Ketua Gerindra Baubau, dan sebelumnya tercatat sebagai Caleg pada 2009 silam. Mustari jangan tanya lagi. Sekwan Buton ini sudah cukup lama melakukan sosialisasi. Makanya sejumlah lembaga survei menempatkan namanya sebagai figur yang memiliki tingkat keterpilihan papan atas.

Lantas AS Tamrin-Maasra. Berpasangannya dua kandidat ini pun penuh dengan kejutan. Apalagi sebelumnya Tamrin disebut-sebut berduet dengan Ikhsan Ismail, namun kemudian berubah menjadi Maasra. Tak hanya itu, baliho yang mengkampanyekan Maasra juga tertulis calon walikota, namun kemudian mundur juga satu langkah menjadi wakil Tamrin.

Koalisi Parpol yang mengusung mereka tidak bisa dipandang sepele. Sebab, pasangan yang menggunakan akronim TAMPIL MESRA ini menghimpun tujuh kursi di parlemen, PAN, dan PPN (sebelumnya PPD) masing-masing dua kursi, dan PBB, tiga kursi.

Selain empat pasang itu, tiga pasang figur yang menggunakan jalur independen tidak bisa disepelekan, Sairu Eba-La Ode Hadia (ABADI), Fahimuddin-Arifuddin, dan La Ode Daniel-Abdul Salam (DENSUS). Walaupun sebelumnya KPU melakukan verifikasi, tidak ada satu pun yang memenuhi syarat dukungan, 11 ribu suara lebih. Para kandidat independen hanya mampu sampai dikisaran 7000 KTP. Namun upaya mereka untuk mendaftarkan kembali sebagai pasangan kandidat, tidak bisa diremehkan.

Dari tujuh pasang kandidat, tiga independen, dan empat jalur Parpol, kejutan paling menyolok di jalur Parpol. Bila membaca pergerakan masing-masing figur termasuk Parpol yang digunakan, kontraksi politik terjadi pada saat detik-detik penutupan pendaftaran.

DR Ansir-Baharuddin misalnya. Kendati harus ditolak KPU saat penutupan pendaftaran, Rabu (12/9) dini hari, namun upayanya untuk tetap mengikuti Pilwali termasuk gigih. Bahkan Ansir mengaku menemukan wakilnya sekitar pukul 23.15 Wita atau minus 45 menit jelang penutupan pendaftaran.

 Kontraksi politik ini dipengaruhi dua faktor, Pilbup Buton yang baru saja usai dan Pilgub Sultra bakal dihelat bersamaan dengan Pilwali, 4 November nanti. Apalagi dalam Pilgub, Nur Alam dan Amirul Tamim tidak berpasangan. Inilah yang membuat pergerakan politik dalam Pilwali layaknya bola biliar berputar tak beraturan. Nanti pada injury time baru kelihatan wajah aslinya.

Memang, kontraksi politik ini bergerak begitu cepat. Maka itu, pelaku politiknya pun harus berpikir cepat pula dalam menentukan putusan. Bila tidak, ketinggalan kereta.

Akibatnya gambar para figur hanya meramaikan jalan dengan aneka balihonya. Ya, berhenti disitu. Tidak bisa tercetak dalam surat suara, karena gagal menjadi calon.

Terakhir, kontraksi politik ini pasti akan mengganggu pikiran pemilih dalam menentukan sikap. Yang jelas, pemilih kini hanya punya waktu 52 hari untuk memikirkan sebelum hari H coblosan di TPS.
(one.radarbuton@gmail.com)

Minggu, 02 September 2012

Berdakwah, Aktivis HTI Baubau Dianiaya Kasek


BAUBAU - Aktivis HTI Kota Baubau, Nyonyong Latif dianiaya oknum Kepala SDN Kecil Kolagana, Rasmin SPd di Lingkungan Lestari, Kelurahan Kantalai, Kecamatan Lea-lea, Minggu malam (26/8) sekitar pukul 19.00 Wita.

Kepada koran ini, kemarin (30/8) di depan Kantor Polsek Bungi ketika melaporkan tindakan tak terpuji ini, Nyong sapaan akrab Nyonyong Latif menceritakan kronologis kejadian ini bermula ketika dia hendak mengantarkan undangan kepada Kepala SD Kalagana, Rasmin SPd selaku penganiaya dan anak Kasek tersebut.

"Saya masuk di rumahnya, duduk di samping kanannya, kemudian saya kasi undangan acara liqo syawal. Selanjutnya saya tanya apakah acara joget di depan rumahnya itu satu rangkaian dengan acara lomba menghafal surat pendek, tartil, dan azan dekat Masjid Al Baraqah, Lingkungan Lestari, Kelurahan Kantalai. Pak guru (Rasmin, red) menjawab tidak tau. Kemudian saya tunjuk laser, sambil berkata itu mungkar. Spontan dia tidak terima dan langsung menampar satu kali dan ada bekas goresan, kemudian dia pegang kerak baju saya sampai terlepas satu kancingnya, dan dia suruh saya pulang disertai dengan dorongan. Kemudian saya lari keluar ternyata dia ikuti saya, tapi dia sempat ditahan satu orang warga. Setelah saya ambil sendal dia tendang saya satu kali di pinggul," jelas Nyong.

Selanjutnya korban malam itu juga sekitar pukul 13.00 Wita langsung melapor ke Polsek Bungi. Namun pihak kepolisian mengarahkan untuk melakukan visum ke Puskesmas Liabuku, tapi tidak diterima karena ada Perda baru bahwa Puskesmas tidak melayani visum. "Jadi langsung ke RSUD Palagimata untuk divisum dan dikasi kartu berobat, kemudian saya disuruh pulang nanti polisi yang datang ambil hasil visumnya," terang korban.

Lanjut Nyong, Senin pagi (27/8) kembali menyambangi Polsek Bungi rencana untuk melapor kembali. Namun satu dan lain hal, sehingga laporan resmi dilakukan Kamis (30/8) sekira pukul 10 Wita, dengan nomor surat tanda penerimaan laporan, Nomor : STPL/11/VIII/2012 tentang tindak pidana penganiayaan.

Kapolsek Bungi, IPTU Ruben MH Sihombing ketika dikonfirmasi membenarkan laporan tersebut. Namun karena laporan baru diterima, maka pihaknya akan memproses sesuai aturan yang berlaku. "Kita akan proses sesuai hukum yang berlaku. Intinya kita tetap laksanakan penegakkan hukum," kata Kapolsek yang masih perjaka dan berusia 25 tahun ini saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin. (m2/rin)

Kamis, 30 Agustus 2012

SEJARAH BICARA


(FKN VIII, Baubau Menuju Masa Depan)



KESULTANAN Buton pada masa lalu pernah menorehkan tinta emas sejarah peradaban di Nusantara. Kini di era yang berbeda, Kota Baubau, sebagai bekas pusat Kesultanan Buton, di bawah kendali Walikota Amirul Tamim memoles diri menjadi kota masa depan. Bagaimana kiat walikota dua periode ini menata kota  pemilik benteng terluas di dunia ini? Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Radar Buton, Irwansyah Amunu.


--Festival Keraton Nusantara (FKN) yang dihelat tanggal 1-4 September nanti, sejauh mana persiapannya?

Pada prinsipnya sudah siap, sesuai dengan posisi kota kita, secara optimal kita sudah siapkan. Prinsipnya sudah siap.


--Monetum apa yang bisa dipetik dari FKN ini?

Pertama, untuk memperlihatkan kita ini bagian dari sejarah masa lalu, dimana negeri kita adalah bagian dari peradaban yang sudah jauh berkembang di  negeri kita. Kedua, daerah kita dalam konteks yang ada dalam sejarah perkembangan bangsa kita, harus kita akui juga punya peran-peran tersendiri dalam perjalanan kesejarahan.
Ketiga, untuk kita melihat negeri kita ini juga adalah negeri yang punya sejarah ekonomi yang punya potensi. Karena tidak ada satu kerajaan yang tumbuh tanpa ada potensi dan andalan ekonomi yang diandalkan. Itu hikmahnya. Kempat, momentum ini menjadi bahan evaluasi bagaimana kita mendesain kedepan masalah-masalah yang banyak, agar kita bisa sejajar dengan daerah-daerah lain.
Terakhir, bisa kita petik, suatu ikatan persaudaraan sebagai satu kesatuan bangsa yang multi etnis, mudah-mudahan pilar keragaman itu masih kokoh setelah FKN ini, itu yang ingin kita tanamkan.


--Adalagi poin yang lain?

Poin-poin yang lain dalam kegiatan ini ada beberapa kegiatan diskusi-diskusi seminar yang mengkaji bagaimana pendekatan budaya dalam mengelola kehidupan berbangsa bernegara khususnya dalam membangun daerah. Kemudian kita ingin melihat juga bagaimana konteks ketahanan nasional dilihat dari sisi potensi-potensi kebudayaan.
Dan mungkin satu hal yang perlu dikaji, ditemukan, negeri Buton dalam sejarahnya  dia dalah suatu negeri yang keragaman cukup heterogen, tapi catatan-catatan  yang ada, jarang, tidak pernah ada konflik-konflik horisontal yang melibatkan kelompok antar etnis dan lain sebagainya. Sehingga kita bisa menguak kembali kerusuhan dimana-mana , ketika lari ke negeri Buton dia bisa aman. Ini yang bisa kita lihat sebagai momentum dari Festival Keraton Nusantara ini.


--FKN, iven nasional, diselenggarakan di Baubau, bukan ibukota provisni, poin strategis apa yang bisa dipetik?

Itu untuk membuktikan sejarah tidak bisa kita dihilangkan begitu saja, bahwa sejarah negeri Buton, Baubau pusat Kesultanan Buton, pernah menjadi ibukota Kabupaten Sulawesi Tenggara. Ini menjadi motivasi tersendiri, Baubau harus dipersiapkan untuk menjadi ibukota Buton Raya di masa yang akan datang. Momentum yang memperkuat kita dalam posisi seperti ini.


--Selama Buton ini lahir sebagai daerah otonom, dan sekarang sudah mekar menjadi beberapa daerah otonom, nanti sekarang ketika bapak jadi walikota Baubau baru bisa jadi tuan rumah FKN. Apa hikmah dari semua ini?

Ini tidak jadi begitu saja,  tapi bagian dari konsep kita dalam mengembangkan  daerah.  Seperti yang saya katakan tadi negeri ini punya sejarah panjang, dalam sejarah panjangnya dia mempunya peran-peran strategis, oleh sebab itu ketika kita jadi daerah otonom tahun 2003 kita mulai mengangkat potensi ini dengan mulai melakukan revitalisasi semua peninggalan-peninggalan sejarah kita.
Kemudian seperti yang sering saya katakana, jangan menunggu orang lain yang mengungkap kita, tapi kita yang harus mengungkapnya. Dari cerita-cerita masyarakat dan itu sudah kita laukukan,  dan endingnya kita harus harus bisa menjadi pusat kegitan nasional dalam konteks kebudayaan.


--Artinya posisioning Baubau sudah di level nasional?

Kita sudah pernah menyelenggarakan iven nasional maupun internasional. (Sebelumnya Kota Baubau menjadi tuan rumah Simposium Internasional Pernaskahan yang dihadiri sejumlah Negara di dunia)


--Bagaiman hajatan ini dikaitkan dengan visi bapak di periode kedua, yang ingin  menjadikan budaya produktif?

Itulah yang saya katakan, ini tidak terjadi begitu saja tapi bagian dari konsep untuk  menjadikan daerah ini sesuai dengan sejarahnya dengan kekuatannya, disana ada budaya dan itulah yang kita wujudkan dalam visi kita. Menjadikan Baubau Budaya yang produktif, tentu pagelaran Festival Keraton ini memberikan nuansa ekonomi masyarakat, tidak sedikit nantinya uang yang berputar,  miliaran.

--Infrastruktur kita sudah memadai untuk menggelar iven ini?

Memadai. Memadai.


--Dengan festival ini, sejarah bicara.  Posisi negeri Buton masa lalu dikembalikan?

Memperkokoh keberadaannya dalam konteks yang berbeda. Dulu pusat peradaban, sekarang dalam konteks sebagai pusat perdagangan, pusat pemerintahan bagi Buton Raya, atau pusat percontohan Kawasan Timur Indonesia yang pernah kita dengungkan.


--Bukankah ini bisa dilihat dari sejumlah infrastrukltur yang dibangun di Baubau seperti Terminal Suplai BBM bagi Kawasan Timur Indonesia, dan pembangunan PLTU. Apakah ada hal lain?

Pelabuhan. Kalau kita lihat sebagain pedagang Maluku membeli barang di Baubau. Maluku, Papua, barang-barangnya diangkut kapal Pelni, dan aneka kapal lainnya.


--Sejarah bicara tidak hanya masa lalu, tapi di tangan bapak dua periode sejarah dikembalikan, kejayaan bukan hanya pada masa lalu tapi juga masa kini?

Ya,  ya. Sudah berapa buku yang coba kita fasilitasi untuk terbit, termasuk terakhir kliping Giant Buton Raya.


--Kira-kira rumus apa yang bapak gunakan membuat episode-episode pembangunan yang berkesinambungan selama dua periode?

Yang pertama, pembangunan itu harus satu kesatuan sistem, jadi kita sebenarnya tidak boleh keluar  dari pembangunan yang dirumuskan, semua sektor harus dapat tersentuh. Seperti dalam visi misi saya yang lalu, tiga pilar: pemerintah, masyarakat, dan anugerah ilahi.  Anugerah ilahi itu,  sumber daya alam, termasuk geografis. Kemudian yang punya peran, pemerintah, masyarakat, dan anugerah ilahi, ketiganya akan jadi kekuatan besar kalau diikat dengan budaya dan agama.
Oleh sebab itu pembangunan daerah harus sebagai satu kesatuan sistem, masyarakat, pemerintah, dan anugerah ilahi, perekatnya, pengikatnya utuhnya adalah budaya dan agama.  Maka itu, setiap langkah pembangunan, kita harus bisa memberikan perekatnya budaya dan agama.
Itulah kita bangun islamic centre, memelihara ritual-ritual yang sesuai, seperti Gorana Oputa,  Qunua. Bagaimana pembangunan majelis taklim, Ponpes, rumah-rumah ibadah. Rumah-rumah ibadah di Baubau, semua rumah ibadah, apakah masjid,  gereja, pura,  dan lain sebagaianya.


--Apa yang bapak lakukan sehingga sejarah tidak hanya bicara pada masa lampau, tapi juga masa kini?

Kita melangkah menuju ke masa depan, masa depan itu tidak bisa dipisahkan dengan masa kini. Masa kini adalah sasaran antara dalam menyongsong masa depan, tapi sasaran antara ini kan harus melewati masa lalu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, satu kesatuan tidak boleh punya gap (jarak) yang jauh, harus bagian dari rantai jalur yang harus berjalan. Jalannya itu ada yang berjalan sebagai Sunatullah, dan ada yang berjalan sesuai dengan rekayasa-rekayasa dari kajian-kajian akademis dan lain-lain.

--Bicara masa depan, bagaimana posisi Baubau untuk masa depan?

Harus dalam konsep. Tidak bisa tiba masa tiba akal. Konsep, perencanaan yang matang.(one.radarbuton@gmail.com)

HTI BAUBAU GELAR LIQO SYAWAL


- Puluhan Tokoh Dukung Perjuangan Hizbut Tahrir

BAUBAU - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Baubau menggelar Liqo Syawal (halal bilhalal), di Aula Panti Asuhan Muslimi, Rabu malam (29/8). Kegiatan yang bertajuk "Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah dan Khilafah" itu diisi oleh pemateri dari DPP HTI, KH Muhammad Sidiq Al-Jawi.

Liqo Syawal yang dikemas dalam bentuk diskusi tersebut diahadiri oleh puluhan tokoh intelektual, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Dalam materinya Muhammad Shiddik Al Jawi menjelaskan, tiga alasan wajibanya menegakan syariat, yakni konsekuensi keimanan kepada Allah SWT. Kemudian syariat Islam sebagai solusi terhadap berbagai persoalan manusia yang terjadi saat ini. Alasan ketiga, syariat Islam ketika diterapkan dapat mendatangkan maslahat/kebaikan yang bukan hanya untuk Kaum Muslim, tapi juga buat seluruh umat manusia.

"Sebaliknya, jika syariat Islam tidak diterapkan, maka keimanan kita sebagai umat Islam perlu dipertanyakan, kemudian, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran pada surat Almaidah ayat 44,45, dan 47. Kemudian persoalan manusia tidak akan terselesaikan dengan benar, misalanya masalah ekonomi, riba saat ini dijadikan sebagai alat ekonomi yang digunakan masyarakat, dimana riba tersebut tidak membawa kemaslahatan, namun akan membawa kerusakan atau malapetaka kepada manusia," jelas Sidiq Al-Jawi di hadapan puluhan peserta.

Ia juga menyampaikan hasil survei yang telah dilakukan dan dilansir di salah satu media nasional, terkait pekerja seks komersial (PSK). Jumlah PSK di Indonesia saat ini mencapai 214 ribu orang, dimana dalam satu hari satu orang PSK bisa melayani 15 orang lelaki hidung belang. "Jika dikalikan, maka satu hari sebanyak tiga juta lelaki hidung belang yang melakukan hubungan seks di luar nikah," ungkapnya.

Kemudian akibat tidak diterapkannya syariat islam setiap tahun problematika umat terus meningkat, antaralian, kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, korupsi, serta yang lainnya. Namun begitu, kata dia, syariat Islam secara menyeluruh tidak bisa diterapkan melaui kelompok atau individu, tapi bisa ditegakan melalui institusi negara, yakni Daulah Khilafah Islamiyah.

Memang, lanjutnya, syariat Islam bisa dilaksanakan secara indifidu, namun tidak semua syariah bisa dilakukan secara indifidu, namun harus dilakukan oleh masyarakat, dan negara. Pasalnya, syariat Islam itu memiliki cakupan hubungan manusia dengan Allah SWT, kemudian hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusian dengan manusia yang lain.

Hubungan manuisa dengan dirinya sendiri antara lain, shalat, puasa, zakat. Sementara hubungan manusia dengan dirinya sendiri, terkiat dengan manakanan, minuman, pakaian, dan ahlak. Sedangkan hubungana manusia dengna manusia yang lain yakni, terkait dengan muamalah, sanksi pidana, dan yang lainnya. "Untuk hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri bisa dilakukan secara indifidu, tapi mengenai hubungan manusia dengan sesamanya itu harus dilakukan oleh negara," jelasnya.

Penjalasan dari KH Muhammad Sidiq Al-Jawi ini mendapat respon dari tokoh masyarakat. Diantaranya LM Marzuki dan Drs Ancong La Wusu. Kedua tokoh tersebut memberikan dukungannya pada HTI dalam melakukan perubahan.

Para tokoh menilai, ada yang ganjil di negeri ini. Menurut Ancong La Wusu, negeri ini memiliki kekayaan yang melimpah, namun tidak memberikan kesejahteraan pada masyarakat, tetapi hanya dirasakan segelintir orang. (m1)

1000 Pulau, 9 Nyawa

Catatan: Irwansyah Amunu

MINGGU (12/8) lalu, saya bersama keluarga menjadi bagian dari sekian juta rakyat Indonesia yang melakukan tradisi mudik. Ini saya lakukan karena kebetulan istri saya dari Tanah Pasundan, jadi lebaran kali ini di kampungnya di Sukabumi, Jabar.

Mudik kali ini saya menggunakan moda transportasi laut, KM Ciremai, karena anak saya yang bungsu baru berusia empat bulan lebih. Sebelumnya saya pernah berkonsultasi dengan tiga orang dokter, mereka melarang saya menggunakan pesawat. Soalnya berbahaya bagi alat pendengaran untuk anak berusia di bawah satu tahun. Gendang telinganya bisa pecah, karena tuba eustachia-nya, saluran penghubung dari telinga ke organ dalamnya masih sangat rawan.

Berbekal dari itulah, maka saya harus menempuh perjalanan tiga hari, tiga malam dari Baubau ke Tanjung Priok, Jakarta. Suasana arus mudik memang mulai terasa di kapal milik PT Pelni ini. Penumpang yang naik di Pelabuhan Baubau cukup banyak, sehingga membludak sampai ke anjungan kapal hingga ke dek tujuh.

Paling parah, penumpang yang naik dari Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Membludak hingga sekitar 2000 orang. Akibatnya ABK kapal tak kuasa melarang penumpang untuk menempati ruangan kapal, hingga ke lorong-lorong kamar kelas I dan II pun disesaki penumpang. Bukan hanya manusia, barang yang dibawa pun jumlahnya banyak.

Jadi, lalu lalang kita di atas kapal harus hati-hati, bila tidak salah satu anggota badan mereka yang terinjak. Ditambah lagi dengan hantaman ombak perjalanan dari Makassar ke Surabaya cukup besar, maka lengkaplah sudah penderitaan.

Sedikit menggambarkan, besarnya ombak yang menghantam kapal pelat merah ini, sehingga saat salat kita harus duduk. Bila berdiri, dan tak kuasa menahan ombak, pasti kita akan terjungkal.

Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, KM Ciremai seperti disulap. Tadinya penumpang berjubel, menjadi lengang. Memang penumpang yang turun di Surabaya sangat banyak. Ini tergambar saat perjalanan dari Makassar-Surabaya, percakapan penumpang didominasi bahasa Jawa.

Tadinya penumpang memenuhi setiap areal kapal yang lowong, kini  menjadi kosong. Penumpang  ekonomi diarahkan kembali ke ruangan kelas ekonomi, tidak lagi berhamburan di lorong kelas I dan II.

Bertolak ke Jakarta, pikiran saya kita akan tempuh lebih tenang. Rupanya tidak, ombak lebih kencang. Hebatnya guncangan kapal membuat kepala saya pening. Karena tetap menjaga puasa agar tidak batal, saya memutuskan cepat-cepat tidur untuk mengalahkan rasa mabuk.

Alhamdulillah jurus ini ampuh, untuk mengusir mabuk laut. Benak saya membantin, kapal Pelni yang lumayan besar saja rasanya begini, bagaimana dengan perasaan saudara kita yang menggunakan kapal kayu berukuran kecil?

Soalnya sebelum tiba di Jakarta, saya sempat menghubungi rekan yang mudik ke Tomia dan Kaledupa. Mereka mengatakan, ombaknya besar. Hingga membuat kapal nyaris tenggelam.  Itu terjadi ketika ombak menghantam kapal, penumpangnya panik dan serentak bergeser ke satu arah. Air laut pun sudah masuk ke lambung kapal. Membuat kapal nyaris kehilangan keseimbangan.

Syukurnya, mereka masih dalam lindungan Allah. Kendati tiba di Tomia dan Kaledupa telat, namun tiba dengan selamat.

Bedanya dengan saya yang bisa tetap puasa, rekan yang ke Kepulauan Tukang Besi itu karena kuatnya hantaman ombak, tak bisa menahan mabuk laut, hingga harus muntah-muntah. Terpaksa, dua hari tidak shaum.

Dengan nada bergurau, saya mengirim pesan pendek (SMS) ke rekan di Kaledupa: Inilah Nasib Anak 1000 Pulau, Harus Miliki 9 Nyawa. Hehehe.

Ya, untuk mudik lebaran. Apa pun harus kita lakukan, kendati harus mengorbankan nyawa. Modalnya: keberanian bahkan cenderung nekat, bercampur perhitungan plus peruntungan. Seolah-olah kita punya lebih dari satu nyawa, alias nyawa cadangan.

Singkat cerita, saya tiba di Jakarta, sekitar pukul 14.00 WIB, Rabu (15/8). Disini kita sudah disambut anggota Komisi VI DPR RI dan Direksi PT Pelni. Mereka hendak memantau arus mudik lebaran. Saya tidak lagi mengamati kunjungan wakil rakyat dari Senayan ini karena menurut saya ini hanyalah kosmetik politik. Berkunjung atau tidak berkunjung, tidak ada pengaruhnya. Toh pemandangan seperti ini sudah merupakan tradisi tahunan. Tidak bisa berubah dengan hanya melakukan kunjungan yang bersifat seremoni.
Apalagi setelah tiba di Jakarta bukan berarti perjuangan selesai. Karena selanjutnya harus menempuh perjalanan darat sekitar lima jam ke Sukabumi.

Tiba di Sukabumi, penderitaan masih bersambung. Entah karena pengaruh ombak, yang jelas selama tiga hari, kepala masih terasa oleng. Saya kembali teringat kiriman SMS saya: Inilah Nasib Anak 1000 Pulau, Harus Miliki 9 Nyawa. Hhhhh. (one.radarbuton@gmail.com)