Senin, 14 Januari 2013

"Kutu Loncat" tak Punya Ideologi

--Monianse: Ada Mekanisme jika Ingin Bergabung




BAUBAU--

Menciutnya Parpol tinggal 10 merupakan momen untuk melihat politisi yang memiliki ideologi dalam berpoltik. Bila pindah partai alias menjadi "kutu loncat", mereka dinilai tidak memiliki ideologi.

Demikian penilaian salah seorang pengajar di FISIP Unhas Makassar, DR Tasrifin Tahara melalui pesan BlackBerry Messenger (BBM) yang dikirimkan pada koran ini, kemarin.        

"Ini dilematis bagi plolitisi di daerah, putusan ini menurut saya momen meihat politisi yang memiliki ideologi dalam berpoltik. Kalau dia memiliki ideologi mereka tidak akan menjadi kutu loncat," bebernya.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena kesepuluh partai yang lolos memberi ruang kepada figur-figur politik untuk menjadi kutu loncat di partai yang lolos. Baginya, ini kesempatan masyarakat untuk menilai mana politisi yang memang berideologi dalam berpolitik dengan konsisten berjuan untuk rakyat, meski tanpa jalur parlemen atau menjadi politisi yang "kutu loncat" karena ideologi pragmatis.

Iping --sapaan Tasrifin Tahara-- memandang kondisi 10 partai ini terjadi kembali seperti Pemilu tahun 1971. "Rakyat juga tidak terlalu bingung dengan banyaknya partai, padahal ideologi partai politik kan hanya dua, nasionalis dan agamais.

Dia memprediksi dalam konteks Sultra dan kota/kabupaten, akan banyak politisi yang akan melirik PAN sebagai "rumah" favorit yang dijadikan batu loncatan politisi pragmatis. Ini tidak bisa dipungkiri karena PAN memiliki kapital kuasa yang memberi harapan bagi para politisi pragmatis tersebut.


Memang keputusan hasil verifikasi KPU Pusat yang menetapkan 10 partai politik yang dinyatakan lolos untuk mengikuti pemilu legislatif 2014/2019 sudah pasti membuat sejumlah kader partai yang dinyatakan tidak lolos verifikasi kewalahan. Jika ingin maju kembali dalam pertarungan kursi legislatif mau tidak mau, kader partai yang dinyatakan tidak lolos harus bergabung atau masuk diantara 10 partai yang ditetapkan lolos verifikasi.

Secara terpisah, dikonfirmasi koran ini, Ketua DPC PDIP Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse mengaku saat ini sejumlah kader partai lain yang dinyatakan tidak lolos verifikasi sudah melakukan komunikasi kecil dan pendekatan untuk masuk ke PDIP. Namun secara paten untuk bergabung belum bisa dipastikan karena ada mekanisme yang harus dilalui.

"Kalau mau menyatakan diri bergabung secara paten belum ada tetapi untuk komunikasi kecil sudah ada yang melakukan itu ke PDIP," jelasnya.

Dia menambahkan mekanisme bergabung dengan PDIP diatur dalam skep DPP PDIP. Kalau ada anggota Parpol lain yang ingin bergabung tentu akan diperhatikan penerimaannya ditingkat masyarakat. Jika yang bersangkutan memungkinkan dan memiliki komitmen membesarkan partai maka diberi peluang untuk diakomodir. Tapi jika dalam kehidupan sehari-hari selalu bertentangan dengan kepentingan orang banyak, tidak ada tolelir.

"Calon-calonnya pun kami akan pilih dengan selektif untuk memilih orang yang benar-benar resistensinya itu kecil atau daya tolaknya di masyarakat itu kecil. Kita cari yang sempurna memang tidak mungkin tapi kita cari yang resistensinya itu kecil," tuturnya.

Kata dia, saat ini tahapan penjaringan yang dilakukan PDIP sudah hampir rampung 100 persen. Setelah itu akan dilakukan seleksi. Dalam tahap seleksi nanti PDIP secara khusus menerapkan sistem psikotes, sehingga tidak serta merta semua calon yang mendaftarkan diterima dan lolos.

Menurut Monianse sebagai partai terbuka, PDIP juga akan seleksi ideologi karena pihaknya tidak mau masukan orang baru di dalam partai yang kemungkinannya bisa melakukan pengrusakan. "Makanya itu harus ada seleksi ideologi. Setelah itu langsung terima KTA. Jangankan dari partai lain, orang dari PDIP pun yang pernah calon di partai lain tahun 2009 maka tidak kami ikutkan karena ideologinya sudah tidak utuh," tutupnya.(p12/iwn)

Minggu, 13 Januari 2013

"KUTU LONCAT" ATAU TERGUSUR

-Fenomena Caleg dalam Pemilu 2014


BAUBAU--
    Pemilu 2014 di depan mata. Sayangnya yang diakomodir KPU Pusat hanya 10 Parpol. Hal ini akan membuat politisi yang Parpolnya gugur akan menjadi "kutu loncat" bila tidak, bakal tergusur. 

Hal tersebut ditegaskan dua konsultan Politik yang pernah terlibat dalam Pilkada Buton dan Pilwali Baubau, belum lama ini.

Direktur Eksekuti PT Duta Politika Indonesia (DPI), Dedi Alamsyah Mannaroi melalui pesan BlackBerry Messenger (BBM) yang dikirimkan pada koran ini semalam menyatakan, pastinya dengan adanya 10 partai yang ditetapkan KPU Pusat, sangat menguntungkan bagi partai tapi tidak bagi masyarakat. Alasannya sebagian masyarakt jadi terbatas untuk dapat memilih.

Menurutnya, ideologi partai salah satu pertimbangan masyarakat dalam memilih partai. Adapun dari 10 partai hanya satu partai yang baru ideologinya, yaitu Nasdem. Namun track recordnya masih belum teruji, alias masih bau kencur. Meskipun figur didalamnya adalah orang-orang atau eks tokoh partai yang gagal di Pemilu 2009.

Konsultan Politik pasangan Oemar-Bakrie ini menyatakan 10 partai yang lolos, ada jaminan semakin banyak "kutu loncat". Untuk partai yang pada Pemilu 2009 berhasil meloloskan banyak calegnya, namun tidak lolos tahun ini, maka bisa saja kadernya diterima di partai yang berhasil lolos.

Alasannya, lanjut dia, para politisi tersebut bisa menjadi “setrum” bertambahnya pundi-pundi suara pada Pemilu mendatang. Sebaliknya, bagi partai korban peloncatan, hal ini merupakan peristiwa tak menggembirakan, yang dapat berdampak pada pelemahan infrastruktur partai pada Pemilu selanjutnya.

"Sebut saja seperti Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf dari PAN, Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarun dajang dari PDI-P, Gubernur NTT Zainul Majdi yang adalah kader PBB, dan Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, mereka semua kini telah meninggalkan partai yang telah membesarkan namanya untuk bergabung dengan Demokrat," bebernya.

Kata Dedi Almsyah, fenomena politisi "kutu loncat" ini, setidaknya memberi sedikit gambaran bagi masyarakat bahwa slogan-slogan untuk kepentingan rakyat adalah cuma sebuah trik politik belaka. "Realitanya hanyalah untuk kepentingan pribadi mereka. Karena semua yang berbicara adalah tahta dan harta," tukasnya.


Sementara itu, Karyono Wibowo, pengamat politik dari Public Institute menyatakan keputusan KPU mrupakan seleksi alam. Jumlah 10 partai cukup ideal saat ini. Fakta berbicara, selama reformasi multi partai ternyata tidak membawa pencerahan demkrasi. Dan kabarnya KPU siap mengadu data atas keputusannya mengeleminasi banyak Parpol, Itu perlu diapresiasi. "Bahwa ada kutu loncat, itu sebuah keniscayaan ya pasti terjadi," ujar konsultan politik pasangan Ibrahim Marsela-Muirun Awi (IMAM) ini, melalui BBM-nya, semalam.

Sementara itu, Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Batupoaro, Zulkifli Jumadi membenarkan dominan legislator yang partainya tidak lolos akan bergabung ke partai yang dinyatakan lolos. "Untuk tetap berjuang biar tetap eksis di kancah politik," pungkasnya.(iwn) 



Solusi ala Bupati

Catatan: Irwansyah Amunu



SETELAH melalui polemik di dewan, akhirnya persoalan ibukota Buton Tengah (Buteng) berhenti di bupati.

Ya, ibarat bola panas, kalau tidak cepat diambil alih masalah tersebut tidak akan selesai. Salah satu indikasinya, ketika konsorsium masyarakat tiga kecamatan di Mawasangka plus Talaga Raya yang menghendaki ibukota Buteng di Mawasangka, membawa aspirasi tersebut di dewan, mengalami jalan buntu alias deadlock.

Terbukti ketika DPRD dan eksekutif menggelar rapat kerja (Raker) untuk menemukan jalan keluar persoalan, terhenti. Yang terjadi timbul konflik baru antara sesama anggota dewan. Plus pihak komponen masyarakat yang mengatasnamakan konsorsium empat kecamatan, marah karena merasa tidak dilibatkan dalam rapat yang digelar secara tertutup.

Inilah yang membuat persoalan semakin bertambah. Puncaknya, konsorsium murka, mereka menggelar unjuk rasa minta agar dewan menggelar paripurna untuk memutuskan Mawasangka sebagai ibukota.

Nah, momen inilah yang dijadikan pintu masuk Bupati Samsu Umar Abdul Samiun untuk turun tangan. Dan sebagai pemimpin, diambil alihnya persoalan tersebut oleh bupati merupakan keputusan tepat. Apalagi  persoalan yang memunculkan dua kutub, Wamengkoli atau Mawasangka tersebut memang masuk dalam domain eksekutif sebagai eksekutor.

Komitmen pun sudah dilontarkan Bupati Umar Samiun untuk menyelesaikan masalah dengan cara mulai hari ini berkunjung ke tiga kecamatan lain di luar konsorsium, yakni Gu, Lakudo, dan Sangia Wambulu.

Mawasangka atau Wamengkoli? Entahlah, yang jelas Umar Samiun bersikap netral, ogah masuk pada salah satu kutub, Mawasangka atau Wamengkoli.

Namun demikian, sebagai figur yang sudah mengawali karir di dewan, bahkan pernah menduduki kursi Ketua DPRD Buton, Umar Samiun tentu sudah bisa membaca bagaimana membuka benang kusut pemekaran tersebut. Mulai dari mana dan berakhir di mana. Sehingga akan melahirkan solusi yang elok bagi segenap masyarakat Buteng. Bukan saja bagi kelompok tertentu, tapi untuk semua.

Maka itu, solusi yang digunakan untuk memecahkan problem tersebut harus berdasarkan aturan. Salah satu rujukannya: PP No. 78/2007
tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah. Dalam pasal 12 ayat (1) disebutkan, lokasi calon ibukota sebagaimana dimaksud dalam  pasal 7 ditetapkan dengan keputusan gubernur dan
keputusan DPRD provinsi untuk ibukota provinsi, dengan keputusan bupati dan keputusan DPRD kabupaten untuk ibukota kabupaten. Ayat (2), penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan hanya untuk satu lokasi ibukota. Ayat (3), penetapan lokasi ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah adanya kajian daerah terhadap aspek tata ruang, ketersediaan fasilitas, aksesibilitas, kondisi dan letak geografis, kependudukan, sosial
ekonomi, sosial politik, dan sosial budaya.

Jangan sampai polemik ibukota ini menjadi persoalan yang tak berujung layaknya Buton Utara (Butur) hari ini, Buranga atau Kulisusu? Habis energi hanya untuk membahas masalah yang harusnya sudah tuntas sejak awal.

Perlu diingat, pembahasan pemekaran di Pusat bakal dimulai awal Februari nanti. Tinggal sekitar dua minggu lagi.

Kita berharap waktu dua minggu ini solusi ala bupati bisa melahirkan win win solution. Sehingga ketika dibahas di Pusat tidak ada lagi sandungan bagi lahirnya dua bayi kembar daerah otonom baru (DOB) di Buton, Buton Tengah (Buteng), dan Buton Selatan (Busel).

Ya, Busel. Bisa jadi karena energi kita habis membahas Buteng, akhirnya melupakan Busel. Sebab keduanya ini merupakan embrio bagi harapan akan lahirnya Provinsi Buton Raya.

Alhasil, solusi ala bupati ini diharapkan menjadi buah tangan Umar Samiun yang mampu melahirkan bayi kembar. Layaknya Bupati Sjafei Kahar yang melahirkan tiga DOB sekaligus, Kota Baubau, Kabupaten Wakatobi, dan Bombana.

Walaupun yang dilakukan Sjafei Kahar meneruskan pemekaran yang dirintis Bupati Saidoe. Hal serupa juga akan dilakukan Umar Samiun sekarang.(one.radarbuton@gmail.com)

Bara di Muna

BEBERAPA waktu lalu, publik prihatin dengan terganggunya Kamtibmas di Kabupaten Muna.

Berawal dari perkelahian antar lorong yang berujung jatuhnya korban jiwa, dampaknya berimbas ke mana-mana. Akhirnya, langkah masyarakat Muna menjadi pendek. Mereka tidak berani beraktifitas malam hari, karena khawatir menjadi korban.

Apalagi, konflik yang dibakar emosi tersebut tidak lagi menggunakan nalar sehat. Tidak lagi pilih merek, kalau dipandang ada orang yang mencurigakan gerak-geriknya, maka siap-siap menjadi korban.

Semakin kehilangan nalar sehat, bila tindakannya dilakukan ketika akal tak berfungsi. Karena bisa jadi, saat tindakan diambil, pelakunya dalam penguasaan Miras. Inilah yang semakin memperkeruh suasana.

Bila menilik akar masalahnya, memang salah satu penyebabnya Miras. Inilah yang memantik api masalah semakin berkobar.

Maka itu, kita perlu mengapresiasi tindakan tegas Kapolres Muna, AKBP Sempana Sitepu. Aparatnya terus melakukan operasi hingga malam hari, dan membubarkan kumpulan pemuda yang duduk-duduk sambil mereguk Miras.

Memang Miras nenek moyang kejahatan. Cara untuk memadamkan bara di Muna dengan menindak tegas pelaku Miras ini patut diacungi jempol. Hal tersebut merupakan upaya prefentif untuk mencegah timbulnya kejahatan.

Dengan kata lain, Polisi jangan terlalu mengandalkan upaya kuratif. Karena bila hal tersebut dilakukan, biasanya sudah memakan korban.

Hanya saja, kita berharap tindakan Polsi ini tidak bersifat layaknya "Pemadam Kebakaran", sifatnya "panas-panas tahi ayam". Dilakukan ketika timbul masalah, namun ketika masalah selesai, hal tersebut tidak lagi dilakukan.

Harapan publik, Kamtibmas yang sudah mulai terawat bisa terus terjaga. Karena kalau terganggu, yang rugi masyarakat sendiri.

Selain dari pihak Polisi, Pemkab Muna juga harus turun tangan. Misalnya dengan menumbuhkan iklim investasi dan menggiatkan aneka iven untuk menyibukkan masyarakat kepada hal-hal yang positif.

Kemudian, tidak kalah pentingnya, masyarakat tidak mudah terpancing. Apalagi sampai mengambil tindakan sendiri untuk menyelesaikan masalah. Jangan sampai terjadi.

Alhasil, bila formula ini yang diambil, kita yakin bara di Muna akan padam total.(***)        





Senin, 07 Januari 2013

"Tumbal Pergantian Tahun"

MENUTUP lembaran tahun 2012, banyak kisah tragis yang menghiasi perjalanan insan di jazirah Buton Raya.

Betapa tidak, pada saat kita membuka lembaran baru hari pertama Januari 2013, tiga tragedi yang dicatat Radar Buton berujung maut. Korbannya pun tidak sedikit, lima orang.

Pertama, dua Balita yang tenggelam di Sungai Baubau, Fahmy (4) dan Farel (4) warga Kelurahan Tomba, Kecamatan Wolio ditemukan dalam kondisi terapung. Sempat dilarikan ke rumah sakit, namun terakhir nyawa keduanya tak bisa diselamatkan.  

Kedua, La Adi warga Desa Kanapanapa, Kecamatan Mawasangka. Pria 23 tahun ini korban pembunuhan malam tahun baru 2013. Dia dikeroyok sejumlah orang hingga kepalanya robek akibat benda tumpul, luka di jidat dan luka tusuk di dada.

Peristiwa naas terjadi Selasa (1/1) sekitar pukul 01.00 wita. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit namun karena lukanya sangat serius membuatnya tak bisa tertolong.

Ketiga, dua Lakalantas di tempat terpisah juga pada awal tahun. Korbannya, satu mahasiswa perguruan tinggi di Baubau bernama Ramli (29), warga Kelurahan Bonebone. Belakangan diketahui meninggal Kamis (3/1) sekitar pukul 10.30 Wita di RSUD Baubau setelah dua hari mendapat perawatan medis. Sementara, empat korban lainnya mengalami luka robek dan ringan.


Ya, ketiga peristiwa tersebut, tenggelam, pengeroyokan, dan Lakalantas, tentu menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kita mencatat, hal ini nyaris serupa dengan pergantian tahun 2011 lalu. Namun bedanya, kali ini lebih menyolok karena dalam satu hari menelan korban hingga lima orang. 

Semua berharap, semoga hal tersebut tidak lagi terulang pada tahun berikutnya. Jangan sampai ada kesan, setiap pergantian tahun butuh tumbal. Tentu hal ini tidak benar.

Toh, ajal berada dalam kuasa Illahi. Manusia tak bisa menentukan kapan nyawanya dicabut.

Namun demikian, untuk menghindari korban agar tidak jatuh lagi pada tahun mendatang, kewaspadaan harus ditingkatkan. Jangan jadikan malam tahun baru dengan euforia yang berlebihan karena dampaknya berpotensi membahayakan diri sendiri. Apalagi resikonya sampai nyawa taruhannya.(***)

Mungkinkah (Presiden) Menunda Pelantikan?

Catatan: Irwansyah Amunu


PERTANDINGAN belum selesai. Mungkin inilah kalimat tepat untuk menggambarkan polemik dalam Pilgub Sultra yang kian pelik.

Meski sesuai agenda, pelantikan pasangan Gubernur-Wagub Sultra terpilih, Nur Alam-Saleh La Sata (Nusa) dijadwalkan bulan depan, namun kini mulai muncul sandungan. Salah seorang Komisioner Panwaslukada Sultra, Darmono melaporkan kasus pemalsuan dokumen kesaksian tertulis yang telah disidangkan di MK terkait sengketa Plgub beberapa waktu lalu, hingga kini terus berjalan.

La Ode Songko, kuasa hukumnya mengatakan kasus pemalsuan dokumen yang dilakukan oknum tertentu seperti diatur pasal 266 KUHP telah diproses di Bareskrim Mabes Polri. Ibarat bola biliar, kasus tersebur tidak hanya dibidikan ke Polri, tapi ke mana-mana.

Soalnya, pelaporannya pun diteruskan ke Mendagri, Presiden, DPR RI dan DPRD Sultra. Termasuk kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) bila Polisi tidak serius menangani kasus tersebut.

Pertanyannya, mungkinkah presiden menunda pelantikan? Dari sudut pandang hukum tata negara, sulit menemukan simpul yang bisa menghubungkan laporan Darmono tersebut dengan putusan MK. Sebab, keputusan MK terkait gugatan Pilkada, bersifat incraht atau berkekuatan hukum tetap.

Domainnya berbeda dengan gugatan yang dilayangkan Darmono tentang pasal 266 KUHP. Pasal ini pembuktiannya dalam ranah pidana umum. Polisi yang memproses.

Jika memang benar pemalsuannya soal kesaksian tertulis dalam sidang MK, sehingga mempengaruhi keputusan majelis hakim MK dalam memutus gugatan sengketa Pilgub Sultra, boleh jadi inilah yang dijadikan dasar keterkaitannya oleh pihak Darmono. Dengan alibi, bahwa surat itulah yang membuat majalis hakim menolak gugatan ARBAE (Ridwan BAE-Haerul Saleh), dan BM-AMIRUL (Buhari Matta-Amirul Tamim). Plus pihak Ali Mazi dan La Ode Azis.

Lantas dengan argumen, menunggu selesainya kasus hukum pemalsuan dokumen tersebut diproses hingga berkekuatan hukum tetap, lalu proses politik pelantikan Nusa dilakukan. Bila proses hukumnya molor melewati tanggal pelantikan Nusa, Februari nanti, mungkinkah presiden menunda pelantikan?

Secara nalar rasanya sulit menemukan celahnya. Namun demikian hukum tidak bisa dikalkulasi secara matematika. Apalagi dalam adagium hukum: bila dua sarjana hukum bertemu, maka akan lahir tiga pendapat. Dengan demikian, semua kemungkinan masih bisa terjadi, apalagi waktu yang tersedia masih tersisa sebulan lebih.

Terakhir, mungkinkah presiden menunda pelantikan? Kita tunggu.(one.radarbuton@gmail.com)

Minggu, 30 Desember 2012

-Risalah Walikota Amirul pada Tahun ke-10

Baubau Pasar Besar, Jangan Kedepankan Politik



TIDAK lama lagi, Amirul Tamim akan melepaskan jabatan Walikota Baubau. Selama 10 tahun menjadi "01" banyak keberhasilan yang ditorehkannya. Terkait capaiannya selama satu dekade, suami Ny Yusni ini membaginya kepada Radar Buton. Inilah kesan dan pesannya yang dibagi secara eksklusif kepada wartawan koran ini, Irwansyah Amunu.


--Selama 10 tahun terakhir bapak memimpin, sejauh mana pencapaian Baubau selama ini?

Jadi, Baubau dalam 10 tahun terakhir ini, dalam kapasitas Baubau dalam tahun ke-12 sebagai daerah otonom, memang harus kita akui Baubau akan memikul beban yang sangat berat di masa yang akan datang dengan melihat dinamika Baubau 10 tahun terakhir. Posisi beratnya yang pertama, ada beberapa infrastuktur yang belum dapat kita rampungkan dalam 10 tahun terakhir yang seharusnya Baubau beberapa infrastuktur itu selesai dalam tahun ke-9.

Yang pertama, pelabuhan kita diakhir tahun ini belum bisa berfungsi optimal, karena ruang terbatas, bandara belum bisa terlalu optimal, dan ketiga listrik belum juga jalan sesuai skenario yang telah ditetapkan.

Kemudian ruang Baubau sendiri sangat terbataas, lalu daerah-daerah sekitarnya belum siap, sehingga semua aktivitas yang harusnya sudah tumbuh di daerah sekitar kita, belum tumbuh. Sehingga beban ini akan dipikul Baubau. Oleh sebab itu, strategi kita melihat ini, bagaimana mengkondisikan Baubau diakhir tahun ke-10 dengan konsepsi strategi sebagai tahun pemantapan.

Sebagai tahun pemantapan untuk menghindari beban-bebanan kota, kita memperkuat infrasktur jalan, agar dinamika ini bisa cepat dan tidak terlalu mahal dipukul oleh beban. Kemudian bagaimana jalur-jalur keluar kota kita lengkapi dengan lampu-lampu jalan agar orang selesai berurusan di Kota Baubau, bisa pulang sehingga kota ini tidak memikul beban yang berat.

Selanjutnya seluruh bibir kota diperkuat, dengan katakanlah Dermaga Sulaa diperkuat, Terminal Lakologou diperkuat agar semua tidak dipukul daerah-daerah pusat kota. Kemudian, kita menjadikan Baubau sebagai pasar besar. Yang kita maksudkan agar jual beli beberapa kebutuhan pokok masyarakat bisa ditanggulangi kawasan masing-masing, sehingga disemua kawasan ada tumbuh Ruko, kios. Aktivitas jual beli lain, daerah pinggiran tumbuh dari daerah-daerah pinggiran mulai tumbuh Ruko, kios-kios. Daerah Bungi, Wanajati sudah mulai ada, kemudian sampai masuk Waruruma, di daerah Sulaa sana mulai tumbuh sehinggga Batauga tidak perlu masuk ke kota. 

Beberapa pusat-pusat Ruko tumbuh. Toko-toko sudah mulai buka sampai malam hari, kemudian kebutuhan-kebutuhan masyakat bisa dibeli, menunda beli siang hari, bisa belanja pada malam hari
, sehingga beban kota tidak terlalu berat. Dan beberapa hal lagi, hal-hal mungkin karena harus kita menghitung daya dukung Kota Baubau dengan beban yang saya gambarkan tadi.



--Bagaimana dengan daya dukung infsarktur yang ada? Apakah sudah memadai? Penciptaan infrasktur ini sampai berapa lama melihat kondisi daerah sekitar Baubau yang belum siap?

Jadi, memang segera sekarang, kita agak terlambat, dalam satu tahun, malah dua tahun kita terlambat, karena adanya gangguang di tahun-tahun awal kita memulai Kota Baubau. Seperti anda lihat, bagaimana kita menyiapkan kawasan Palagimata, simpang lima, kawasan Sulaa dengan konsep daerah-daerah terbangun. Kemudian kita membuka kawasan-kawasan baru di Palatiga, Wolio Indah, Bukit Wolio, BWI. Kemudian bagaimana kita membuka Kota Satelit Lealea untuk mengarahkan agar beberapa kawasan-kawasan itu tumbuh, dengan membuka jalan-jalan baru
.


Nah, usia konstruksi jalan-jalan ini belum bisa kita aspal karena baru satu tahun, dua tahun. Idealnya jalan-jalan yang kita buka itu, tiga tahun usia konstruksinya baru diaspal kalau kitu mau mendapatkan kualitas yang baik. Tapi kita agak terlambak karena ada gangguan-gangguan di tahun-tahun pertama terhadap kebijakan-kebjikan yang kita bangun, tapi itulah pengalaman yang ada untuk Kota Baubau dalam 10 tahun terakhir.

Untuk itu kita berharap, masyarakat tidak usah ragu, untuk membangun rumah tidak berhimpit di daerah pusat-pusat kota. Berani membangun rumah di daerah yang kita baru buka. Begitu juga untuk membuka pusat-pusat ekonomi, pertokoan, tidak usah ragu memulai investasi di daerah luar. Karena kota ini akan bergerak secara seimbang, dengan kita memperkuat infrastruktur-infstruktur yang ada, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat akan melawati semua jalur-jalur yang ada.

Penyebaran pusat-pusat kegiatan sosial juga, ini kita perkuat dengan membangun Puskesmas, fasilitas-fasilitas kesehatan di Puskesmas. Sehingga layanan-layanan itu tidak perlu harus ke Rumah Sakit, tapi bisa ditanggulangi tingkatan-tingkatan tertentu di Puskesmas.



---Tahun pemantapan dengan kondisi Baubau yang diganggu pada awal-awal, kira-kira pemantapan dicapai Baubau sudah berapa persen?


Ya, kita berharap di tahun 2013, ini kita bisa rampungkan semua, sehingga kita sudah berada pada posisi 80 sampai 90 persen lebih dari pada infrastruktur di kawasan-kawasan pusat kota ini, sudah relatif baik. Sehingga kita berharap, bahwa tahun-tahun berikutnya sesuai dengan usia konstruksi dari kawasan-kawasan kita buka itu, sudah bisa dilakukan untuk pembenahan peningkatan kualitas kawasan-kawasan itu.


---Ada yang bertanya soal jalan, jalan di Baubau ini sudah bagus, mengapa jalannya yang bagus diaspal lagi?

Karena memang kota yang penuh beban begitu, bila tidak didukung infrastruktur memadai, itu akan dipikul mahal masyarakat Baubau sendiri. Karena aktivitasnya terlambat, fasilitas yang digunakan bisa cepat rusak, kemudian akan memilih pada jalur-jalur tertentu yang baik. Akibatnya pada jalur-jalur yang baik terjadi kepadatan
-kepadatan
 tertentu. Sehingga jalur-jalur jalan yang tidak baik itu bukan jadi pilihan. Oleh sebab itu kita berharap Kota Baubau ini jangan sampai jalur tertentu saja yang baik, harus menyebar.

Dengan kondisi begitu berarti ada tingkat kelancaran dan efisiensi yang akan didapatkan masyarakat dan kemudian distribusi pusat-pusat kegiatan terbagi dengan seimbang. Sehingga tidak ada kawasan yang padat dengan kegiatan, dan tidak ada kawasan yang sepi. Maka itu, fenomenanya anda bisa lihat, hampir semua sudut-sudut Kota Baubau sudah mulai terbuka kios-kios, pedagang-pedagang sudah bisa tumbuh di kawasan-kawasan itu.



--Terus, sudah berapa besar masyarakat yang menilai Baubau ini Pasar Besar? Kan ini bicara investasi, berapa derajat kesadarana masyarakat melihat Baubau ini sebagai Pasar Besar kemudian mereka melakukan kegiatan ekonomi dan kepastian berusaha?


Sebenarnya kalau kita melihat, sudah sekitar 60 persen dari pelaku ekonomi sudah melihat Baubau mengarah pada kondisi Pasar Besar. Tapi ini masih di luar kesadaranya. Dia masih berada pada investasi-investasi sementara, atau investasi masa depan.

Karena kita sempat terganggu dengan kampanye-kampanye Pilkada, dimana ada satu dua kandidat ingin lagi membangun pasar, pusat-pusat perbelanjaan baru. Padahal menurut hemat saya, jangan masyarakat kita diracuni dengan membangun kawasan-kawasan baru, karena berapa pun kita membangun pusat-pusat perdagangan baru itu tidak akan mamppu menampung pelaku-pelaku ekonomi kita.

Oleh sebab itu kita jadikan Baubau sebagai Pasar Besar, karena kita ingin arahkan pelaku ekonomi di Baubau yang tadinya skala usahnya melayani Baubau dan daerah disekitar Baubau, tapi dengan konnsep kita mereka diharapkan menjadi pelaku-pelaku dengan skala layanan tidak hanya di Baubau. Tapi sampai di Pulau Buruh, dan ini sudah terjadi. Skenario ini sudah jalan, sudah sebagian dari pelaku-pelaku ekonomi sudah melayani Maluku, Papua, Sulawesi Tengah.

Dan kita harapkan lagi, jangkauannya ke depan, lebih luas, lebih besar, lebih beragam. Sehingga Baubau bukan hanya melayani Baubau atau sekitar Buton Raya saja, tapi kita berharap skala usahanya bisa lebih besar. Skenarion ini beberapa tahun sudah kita fasilitasi dan sudah jalan. Oleh sebab itu kita perkuat perbankan, bagaimana perbankan-perbankan besar bisa masuk di sini, seperti itu.



--Berarti dengan kata lain, bapak ingin menjadikan maskyarakat berjiwa enterpreneur?

Ya, harus begitu.


--Bagaimana kesadaran masyarakat menjadi enterpreneur dengan segala potensi yang dimiliki Baubau?

Inilah yang ingin kita mendorong agar masyarakat-masyarakat pelaku ekonomi membangun kesadaran. Kemudian memperkuat dirinya sendiri, dan menghindari konflik. Menghindari untuk diskusi-diskusi politik saja, tapi bagaimana mereka melihat peluang-peluag yang lebih besar. Bahwa pasar kita ada di daerah Maluku, ada di daerah Sulawesi Tengah, ada di daerah Papua.

Perkuat bagaimana armada-armada Semut ini bisa kembali berperan. Dari Maluku datang membawa rumput laut, membawa kopra, membawa hasil-hasil laut. Kemudian menjualnya di Baubau, setelah itu mereka berbelanja di Baubau, dan beli barang-barang apa saja di Baubau untuk dibawa kembali ke sana. Fenomena ini sudah terjadi. Oleh sebab itu fenomena ini harus ditangkap pelaku-pelaku ekonomi Baubau untuk bagaimana memberikan layanan terhadap daerah sekitar.

Yang sering saya katakan, daerah-daerah kepualauan di Maluku, Maluku Utara, Papua, adalah orang kaya-orang kaya baru. Yang tentu kebutuhannya terhadap bahan-bahan campuran, rumah tangga, mobiler, bahan bangunan, elektronik, dan lain sebagainya. Itu permintannya akan meningikat, termasuk Sulawesi Tengah.




--Artinya kita punya potensi bakat alam seperi itu sejak lampau, disisi lain pemerintah sudah menciptakan iklim, tinggal masyarakat menangkap  peluang? Kalau tidak mereka menjadi penonton dan pelakunya dari luar?

Itu bisa terjadi kalau kita terjebak dalam diskusi-diskusi sempit. Kemudian orientasi, jangan orientasi kita hanya di politik, semua mau menjadi angggota DPR, semua mau jadi tim sukses. Lebih baik menjadi tim sukses dari jenis usaha, karena kita punya posisi strategis.

Sebentar lagi pelabuhan kita akan kuat, pelabuhan kita, satu dua tahun depan akan kuat. Satu dua tahun ke depan bandara sudah kuat. Satu, dua, tiga tahun akan datang daerah belakang kita ke Buton Utara kemungkinan infrastrukturnya sudah semakin membaik, ke Pasarwajo daerah lingkar Pasarwajo, lintas Kamaru-Baubau juga sudah meningkat.

Bisa umpamanya bagaimana ke Muna infsraturkturnya sudah semakin membaik, itu yang harus kita jemput. Tapi jangan kita terlena menunggu itu, ada peluang kita, ada Sulawesi Tengah yang bisa diikat dengan kapal-kapal Baubau-Banggai. Ada Maluku, bisa mengikat bagaimana komuditas-komuditas yang sering masuk ke Baubau.

Untuk itu kita bikin bagaimana daerah kita punya daya saing, bagaimana kita membuat imej, harga barang di Baubau jauh lebih murah dibanding dengan daerah-daerah lain. Atau setidak-tidaknya dari hitungan-hitungan ekonomis Baubau masih memiliki daya saing yang kuat untuk itu.



--Soal enterpreneur, tips-tips apa dijadikan pegangan masyarakat untuk jadi enterpreneur?

Pertama, mari kita semua orang Baubau dan disekitar Baubau, melihat posisi Pulau Buton ini berada di kaki depan Pulau Sulawesi.

Kedua, orang Buton berada di daerah-daerah yang akan menjadi target pasar kita. Orang Buton ada disebagian besar di Maluku, Papua, Sulawesi Tengah, disekitar Luwu, Banggai. Ada di daerah NTT, Maumere dan sekitarnya. Itulah target-target pasar yang bisa dilayani yang mempunyai daya saing ketimbang daerah lain. Sehinggga ini adalah peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan masyarakat Baubau sebagai pelaku  eknonomi.

Ketiga, daerah yang kita sebutkan juga penghasil komuditas, baik hasil bumi maupun hasil laut. Mereka ini tentu hasil lautnya bisa menjadikan Baubau sebagai titik kumpul dari hasil-hasil laut itu. Dikumpul disini, dikemas disini. Kemudian bagaimana setelah disini baru dibawa ke daerah-daerah industri lebih lanjutnya, katakanlan Surabaya, Makassar, dan sebagainya.



--Berikut, birokrat, kira-kira bagaimana bapak melihat birokrat kita selama 10 tahun? Bagimana kualitasnya? Bagaimana tingkatan mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat?

Jadi, tantangan birokrat ke depan sangat besar sekali. Kalau birokrat hanya terjebak di dalam bagaimana dia mau mendapat jabatan karena kedekatan, maka ini menjadi tantangan besar bagi birokrasi kita ke depan. Karena tuntutan birokrasi ke depan adalah profesionalitas, kemampuan, daya saing, penguasaan teknologi.

Ke depan layanan-layanan birokrasi, kemungkinan kita tidak lagi tatap muka. Layanan-layanan birokrasi, masyarakat ingin mendapatkan layanan tidak perlu datang ke kantor walikota. Kemungkinan dari rumahnya meminta untuk dapat dilayani, dan dia bisa berkomunikasi dari rumahnya.

Melalui fasilitas-fasilitas teknologi yang ada, dan ituah yang kita siapkan sebenarnya Baubau. Bahwa layanan-layanan ke depan adalah layanan-layanan sesuai dengan kemajuan teknologi. Sementara disebagaian kecil bagian birokrasi kita masih mengandalkan untuk peningkatan dan kapasitasnya dengan kedekatan-kdekatan personaliti. Dan itu tidak akan laku dua tiga tahun ke depan, sangat berbahaya.

Oleh sebab itu kita juga tidak perlu pesimis, karena birokrasi Baubau, kader-kader muda birokrasi cukup banyak yang kita siapkan untuk itu. Dan infrastruktur secara bertahap sudah kita siapkan. Ingin yang saya pesankan, pelayanan birokrasi ke depan tidak menutup kemungkinan dan itu akan terjadi, masyarakat mendapatkann layanan-layanan kalau perlu dari kamar tidurnya dia mendapatkan layanan pemerintahan melalui teknologi informasi. 



--Persoalannya
 kader muda kita banyak, kader tua banyak? Bagaimana melakukan normalisasi?

Menurut hemat saya, itu tantangan birokrasi kedepan. Kalau tidak bisa menyiapkan diri dari sekarang, maka dia akan tergeser dari tuntutan suasana. Kalau ingin kita sesuaikan, tapi masih terjebak dengan itu, maka akan jadi kendala sendiri.




--Bahayanya jangan sampai masyarakat lebih cerdas dari birokrat?

Dan itu bisa terjadi, kalau semua elemen birokrasi tidak sadari itu
.




--Bagaimana bapak membaca suasana kebatinan ini, apakah ini bisa menjadi bahaya?



Oleh sebab itu, ini menjadi ancaman di tahun-tahun mendatang kalau kita tidak siapkan. olehnya itu Baubau mulai beberapa tahun lalu kita menerobos untuk menjadi ciber city. Kemudian bagimana kita terapkan e-goverment di Pemkot Baubau, semua SKPD sudah terkoneksi.

Kemudian kita bentuk UPTD untuk IT, lantas kita masuk ke jaringan nasional, malah kita melompat pada jaringan internasional. Ini semua adalah langkah-langkah strategis untuk menjemput suasana masa depan yang memang suka atau tidak suka, itu yang akan terjadi. Itulah obsesi yang selama ini kita bangun. Sementara memang, masih ada satu dua yang tidak sadar, tidak mempersiapkan diri untuk itu.




---Infrastruktur dibangun, birokrat disiapkan, masyarakat disadarkan. Apakah masih ada sisi lain yang perlu dibenahi?

Kota ini akan berkembang menuju kondisi-kondisi, suka atau tidak suka tapi dinamikanya akan tinggi. Baubau ini, dengan ruang yang sangat terbatas, kalau tidak dapat dikendalikan dengan baik, akan menjadi ruang konflik yang besar.

Untuk itu, beberapa instrumen kita sudah membangunnya lebih. Bagaimana kita membangun rumah-rumah ibadah, katakanlah bagaimana kita dukung, Masjid Raya insya Allah sudah rampung. Insya Allah Islamic Center mudah-mudahan tahun depan sudah rampung.

Kemudian kita cerminkan rumah ibadah lain tampilamn-tampilan rumah ibadah lain, gereja, semua mencerminkan suasana keharmonisan. Lalu revitalisasi fasilitas budaya kita, bagaimana tahun 2006, 2005 kita revitalisasi malige, 2008 Kamali Baadia, bagaimana tahun 2011 revitalisasi Kamali Batulo, situs-situs yang lain diperkuat.

Menyimbangkan kemajuan Baubau dalam era modernisasinya
, tetapi diimbangi dengan pembangunan mental sipiritual dengan simbol-simbol fisik masjid,
Islamic Center, gereja, dan pura yang ada di Ngakring-ngakring, mecerminkan suasan keharmonisan hidup beragama.

Kemudian kampus tumbuh, Unidayan tumbuh, UMB tumbuh, perguruan-pergurun tinggi lain tumbuh. Sehinggga generasi Baubau berlomba-lomba menciptakan kualitas intelektualnya.

Dunia perbankan tumbuh untuk mendukung dinamika ekonomi Baubau. Pemerintah mempunyai kewajiban memperkuat infrastruktur
. Itulah bagimana kita memperkuat pelabuhan, bandara, listrik, jalanan semua dan sebagainya
. Dan ini harus seiring seimbang, sehingga
sehingga tumbuh dalam keseimbangan, kesetaraan, dan menciptakan suasana kondusif.

Ruang Baubau harus menjadi ruang ekonomi, sehingga orang yang berusaha rajin bisa memilih tempat di mana saja bisa mendapatkan peluang-peluang ekonomi. apakah sebentar dia jual es di Palagimata, juga laku karena ada orang lewat. Bagaimana orang pergi umpamanya di arah Batauga, di sana orang aktivitas sudah sama. Jual-jual cendol, kasoami di pinggir jalan dengan ikan bakar sudah hidup. Beberapa jual-jual pulsa, buka kios, buka toko, kios-kios ada yang berjualan sampai 24 jam sehingga kebutuhan orang terpenuhi.

Dan ini semua harus menjadi jiwa dan roh Baubau, enterpreneur. Tapi syaratnya itu saja tadi. Insya allah dalam 10 tahun itu, kami sadar, ini harus terwujud.

Insya allah Islamid Center akan selesai, mudah-mudahan puasa akan datang bisa dipakai tarwih, kemudian aktivitas-aktivitas untuk syiar Islam melalui gedung Islamic Center bisa dimanfaatkan untuk tempat-tempat kegiatan, dan ruang-ruang Baubau.



--Terkait kemajuan Kota Baubau, Sultra dipetakan dua. Sultra Kepulauan salah satu kiblatnya di Baubau. Dengan kemajuannya, apa harapan bapak kepada Baubau ke depan?

Tentu harapan saya, yang pertama, menjaga Baubau sebagai daerah yang kondusif, karena itu adalah syarat mutlak untuk adanya aktivitas yang positif.

Yang kedua, pelihara yang sudah ada. Kemudian bagaimana menciptakan hal-hal baru sesuai dengan rencana-rencana pemerintah yang akan datang. Dan masyarakat tentu diharapkan memberikan dukungan yang positif memainkan dinamika-dinamika yang akan datang.

Ketiga, mari kita bercermin dengan daerah lain yang sering terjadi konflik, maka Baubau hindari kondisi-kondisi itu.

Dan ke keempat, harus tetap Baubau mencerminkan daerah yang mempunyai kehidupan beragama, dan kehidupan keragaman sebagai suasana yang betul-betul menjadi modal besar bagi Baubau.



---Dalam pembangunan, terdapat dua aspek penting, masyarakat dan pemerintah. Masyarakay cenderung berbuat secara alami, sedangkan Pemerintah pasti melakukan rekayasa. Bagaimana rumusan yang bapak terapkan selama ini sehingga tidak mematikan, tapi saling mendinamisasi?

Itulah rekayasasa yang dilakukan pemerintah harus berlandaskan kajian akademis,
lantas harus dilihat apakah secara teknis bisa dilaksanakan, lalu apakah didukung aturan-aturan yang ada, baik aturan nasional maupun aturan-aturan yang ada di lokal. Kemudian rekayasa itu tidak bertentangan dengan norma-norma maupun adat istiadat di Baubau.

Kalau keempat kriteria itu sudah terpenuhi,
 insya Allah rekayasa itu lakukan terus, pada saatnya juga masyarakat akan bisa memberikan repson postif terhadap rekayasa itu. Tetapi bilamana rekayasa itu tidak didasarkan pada kajian-kajian yang saya sebutkan tadi maka susah akan ketemunya rekayasa. Tidak bisa kawin. Malah mungkin akan menjadi konflik baru, dan akan dibayar mahal oleh masyarakat.

--Jadi untuk mengawinkan empat maharnya?

Jangan politik dikedepankan, kajian politiknya terakhir. Karena kalau segala sesuatu dilihat dulu bagaimana asapek politisnya, maka disitulah awal persoalan yang kemungkinan tidak akan sinergi. Yang kemungkinan tidak akan sinergi dengan sifat alam.(one.radarbuton@gmail.com)