Catatan: Irwansyah Amunu
SEPEKAN terakhir, masyarakat Baubau diharu biru dengan tragedi meninggalnya almarhum Aslin Zalim. Yang memantik emosi warga, almarhum ditangkap Polisi sehat wal afiat, tapi kembali sudah jadi mayat.
Itulah yang menjadi alasan kemarahan warga. Sebelumnya sentimen terhadap oknum Korps Bhayangkari hanya segelintir, kini menjalar ke mana-mana. Tak heran bila sejak almarhum meninggal Rabu (30/10) lalu, demonstrasi langsung meletus.
Terhitung empat hari berturut-turut, unjuk rasa berlangsung dialamatkan kepada Polisi. Aksi solidaritas juga dilakukan hingga melebar kesejumlah titik. Lihat saja, 20 titik lebih pembakaran ban di badan jalan diantaranya di Kelurahan Wajo, Lamangga, Wangkanapi, dan Bataraguru dilakukan sampai dini hari.
Dan kali ini, protes dilakukan dengan mencantumkan spanduk bertulis: Masyarakat Wajo Bukan Preman, dan Pengusutan Usut Tuntas Kasus Secara Transparan. Memang "episentrum" emosi ada di Wajo karena almarhum yang tercatat sebagai PNS di Dinas Tata Kota dan Bangunan itu punya banyak sanak keluarga disana.
Bicara soal almarhum, sebetulnya saya secara almamater punya hubungan, karena berasal dari satu sekolah yang sama, baik di SMP 2 (angkatan 1995) maupun SMA 1 Baubau, (angkatan 1998). Kendati bukan satu kelas, setahu saya pribadinya tergolong supel dan mudah bergaul. Kalau berbicara, senyum dan tawa selalu menghias di wajahnya.
Makanya ketika mendengar Lin -sapaan almarhum- meninggal setelah sebelumnya ditangkap Polisi, saya terkejut. Apalagi dia diamankan atas perintah langsung Kapolres.
Terkait Kapolres AKBP Joko Krisdiyanto sendiri, setahu saya, suksesor AKBP Sunarto ini baru sebulan lebih menjabat. Sebab, sekitar sepekan menjabat, tepatnya pada Kamis (26/9), dia dan Kasat Intel, AKP Suriadi sempat sowan ke Kantor Buton Pos. Ketika itu, saya dan Direktur Buton Pos, Ramli Akhmad menerima mereka seraya mengulik beberapa hal terkait penanganan Kamtibmas di Kota Baubau.
Kesan kami saat itu, positif. Sebagai salah satu anggota Muspida, Kapolres langsung menjalin mitra dengan media. Padahal baru beberapa hari menjabat kursi "01" di Polres.
Namun kini muncul tragedi Aslin Zalim. Kasus yang sudah terangkat hingga ke level nasional. Ditengah suasana Kapolri baru, Jenderal Sutarman yang berjanji memperbaiki kinerja internal.
Jangan heran jika Wakapolda Kombes Pol Alfons, dan beberapa perwira Polda Sultra lainnya turun tangan untuk menyelesaikan masalah. Hasilnya, 16 anggota Polres diperiksa di Propam Polda Sultra. Seolah ingin menunjukkan keseriusan, kemarin jasad korban digali untuk dilakukan autopsi.
Apakah babak baru pengusutan kasus kematian Aslin Zalim ini akan memberikan kepuasan publik atau sebaliknya? Semua tergantung kesimpulan pengusutan Polisi. Hukum harus ditegakkan, apalagi hal ini menimpa institusi penegak hukum. Yang salah harus dihukum setimpal sesuai dengan perbuatannya.
Alhasil, jadikan kasus ini sebagai sarana instrospeksi khususnya Polisi. Ibarat pepatah: gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, jangan sampai karena kesalahan oknum, korps yang dihakimi jelek.
Seraya berharap, tragedi yang menimpa almarhum merupakan kasus terakhir. Tidak ada lagi tragedi-tragedi selanjutnya.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Selasa, 05 November 2013
Minggu, 03 November 2013
Hijrah dan Muhasabah
TAK terasa, kita kembali akan segera menyambut kedatangan tahun baru hijrah. Kita akan segera meninggalkan tahun 1434 H dan menyongsong tahun baru 1435 H. Setahun sudah waktu berlalu. Setahun sudah usia kita berkurang dibandingkan dengan setahun yang lalu.
Karena itu, tentu penting bagi kita untuk melakukan semacam ‘muhasabah tahunan’, selain melakukan muhasabah bulanan, mingguan, atau harian. Bahkan idealnya setiap saat kita perlu melakukan muhasabah, yakni melakukan semacam penenungan dan mengoreksi diri sendiri; sejauh mana kita telah melakukan ketaatan kepada Allah SWT dengan melakukan banyak amal shalih sekaligus meninggalkan dosa-dosa dan maksiat; atau sejauh mana kita telah mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Terkait dengan itu, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa memperhatikan dirinya dan beramal untuk kepentingan
setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (berjumpa) dengan Allah.” (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).
Menurut At-Tirmidzi, memperhatikan dirinya maknanya adalah menghisab dirinya (muhasabah) di dunia sebelum dihisab pada Hari Akhir nanti. Terkait dengan itu, Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat nanti) dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat nanti)…Sesungguhnya penghisaban yang ringan pada Hari Kiamat nanti hanya bagi orang-orang yang biasa menghisab dirinya di dunia. Menghisab diri adalah dengan selalu berikap wara’…” (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, I/104).
Menurut ‘Amir bin Abdillah bin ‘Abd Qays, sebagaimana dituturkan oleh Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya manusia yang tampak paling cemerlang keimanannya pada Hari Kiamat nanti adalah yang paling keras melakukan muhasabahnya saat di dunia.” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’, I/245).
Senada dengan itu, Maymun bin Mahran pernah berkata, “Seseorang tidak tergolong sebagai orang yang bertakwa hingga dia menghisab (mengoreksi) dirinya lebih kuat daripada menghisab (mengoreksi) kawannya hingga ia tahu darimana asal makanannya, dari mana asal pakaiannya dan dari mana asal minumannya; apakah berasal dari yang halal atau yang haram?” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/458).
Harits bin Asad al-Muhasibi juga pernah menyatakan, “Pangkal ketaatan adalah sikap wara’. Pangkal sikap
wara’ adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhasabah diri.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, IV/282).
Hasan al-Bshri juga pernah menyatakan, “Sesungguhnya seorang Mukmin yang menjaga dirinya sendiri akan selalu melakukan muhasabah karena Allah SWT. Sungguh akan terasa ringan penghisaban Allah SWT atas suatu kaum yang biasa menghisab diri mereka saat di dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah I/356).
Dengan sering melakukan muhasabah diri seorang Muslim tentu akan mengetahui sejauh mana kadar ketataannya kepada Allah SWT. Saat dirinya merasa kurang taat atau masih jauh dari ketaatan kepada Allah SWT, sejatinya ia akan terdorong untuk terus berusaha keras meningkatkan ketaatannya itu. Ia akan selalu berusaha menjalankan setiap kewajibannya, baik yang terkait dengan fardhu ‘ain (seperti shalat, shaum, zakat dan haji, menutup aurat, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, mencari rezeki yang halal, melakukan dakwah fardiyah dan amar makruf nahi mungkar, dll) maupun fardhu kifayah (seperti berdakwah secara berjamaah); juga melakukan banyak amalan sunnah (seperti banyak melakukan shalat malam/tahajud, shalat dhuha dan shalat-shalat nafilah; banyak membaca Alquran dan berzikir; banyak bersedekah dan berinfak di jalan Allah SWT, dll).
Dengan muhasabah diri seorang Muslim tentu juga akan menyadari dosa-dosanya. Saat ia menyadari betapa banyak dosa-dosanya yang telah dia perbuat kepada Allah SWT, ia akan terdorong untuk segera bertobat kepada Allah SWT dengan cara banyak ber-istighfar (memohon ampunan-Nya), menyesal sedalam-dalamnya atas dosa-dosanya yang telah lalu sekaligus bertekad sekuat tenaga untuk meninggalkan dosa-dosa yang pernah ia lakukan itu.
Demikianlah, seorang Muslim sejatinya lebih banyak mengoreksi kesalahan diri sendiri daripada mengoreksi
kesalahan-kesalahan orang lain. Mengoreksi kesalahan orang lain—termasuk penguasa sekalipun—tentu penting karena termasuk ke dalam bagian amar makruf nahi mungkar yang memang telah Allah SWT wajibkan. Namun, mengoreksi kesalahan diri sendiri juga penting karena dengan itulah kita akan selalu berusaha meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT sekaligus berusaha menjauhi dosa dan maksiat kepada-Nya. Itulah takwa dan itulah satu-satunya bekal saat kita menghadap Allah SWT pada Hari Kiamat nanti.
Wama tawfiqi illa bilLah. [follow twitter: @irwansyahamunu]
Karena itu, tentu penting bagi kita untuk melakukan semacam ‘muhasabah tahunan’, selain melakukan muhasabah bulanan, mingguan, atau harian. Bahkan idealnya setiap saat kita perlu melakukan muhasabah, yakni melakukan semacam penenungan dan mengoreksi diri sendiri; sejauh mana kita telah melakukan ketaatan kepada Allah SWT dengan melakukan banyak amal shalih sekaligus meninggalkan dosa-dosa dan maksiat; atau sejauh mana kita telah mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Terkait dengan itu, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa memperhatikan dirinya dan beramal untuk kepentingan
setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (berjumpa) dengan Allah.” (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).
Menurut At-Tirmidzi, memperhatikan dirinya maknanya adalah menghisab dirinya (muhasabah) di dunia sebelum dihisab pada Hari Akhir nanti. Terkait dengan itu, Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat nanti) dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat nanti)…Sesungguhnya penghisaban yang ringan pada Hari Kiamat nanti hanya bagi orang-orang yang biasa menghisab dirinya di dunia. Menghisab diri adalah dengan selalu berikap wara’…” (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, I/104).
Menurut ‘Amir bin Abdillah bin ‘Abd Qays, sebagaimana dituturkan oleh Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya manusia yang tampak paling cemerlang keimanannya pada Hari Kiamat nanti adalah yang paling keras melakukan muhasabahnya saat di dunia.” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’, I/245).
Senada dengan itu, Maymun bin Mahran pernah berkata, “Seseorang tidak tergolong sebagai orang yang bertakwa hingga dia menghisab (mengoreksi) dirinya lebih kuat daripada menghisab (mengoreksi) kawannya hingga ia tahu darimana asal makanannya, dari mana asal pakaiannya dan dari mana asal minumannya; apakah berasal dari yang halal atau yang haram?” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/458).
Harits bin Asad al-Muhasibi juga pernah menyatakan, “Pangkal ketaatan adalah sikap wara’. Pangkal sikap
wara’ adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhasabah diri.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, IV/282).
Hasan al-Bshri juga pernah menyatakan, “Sesungguhnya seorang Mukmin yang menjaga dirinya sendiri akan selalu melakukan muhasabah karena Allah SWT. Sungguh akan terasa ringan penghisaban Allah SWT atas suatu kaum yang biasa menghisab diri mereka saat di dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah I/356).
Dengan sering melakukan muhasabah diri seorang Muslim tentu akan mengetahui sejauh mana kadar ketataannya kepada Allah SWT. Saat dirinya merasa kurang taat atau masih jauh dari ketaatan kepada Allah SWT, sejatinya ia akan terdorong untuk terus berusaha keras meningkatkan ketaatannya itu. Ia akan selalu berusaha menjalankan setiap kewajibannya, baik yang terkait dengan fardhu ‘ain (seperti shalat, shaum, zakat dan haji, menutup aurat, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, mencari rezeki yang halal, melakukan dakwah fardiyah dan amar makruf nahi mungkar, dll) maupun fardhu kifayah (seperti berdakwah secara berjamaah); juga melakukan banyak amalan sunnah (seperti banyak melakukan shalat malam/tahajud, shalat dhuha dan shalat-shalat nafilah; banyak membaca Alquran dan berzikir; banyak bersedekah dan berinfak di jalan Allah SWT, dll).
Dengan muhasabah diri seorang Muslim tentu juga akan menyadari dosa-dosanya. Saat ia menyadari betapa banyak dosa-dosanya yang telah dia perbuat kepada Allah SWT, ia akan terdorong untuk segera bertobat kepada Allah SWT dengan cara banyak ber-istighfar (memohon ampunan-Nya), menyesal sedalam-dalamnya atas dosa-dosanya yang telah lalu sekaligus bertekad sekuat tenaga untuk meninggalkan dosa-dosa yang pernah ia lakukan itu.
Demikianlah, seorang Muslim sejatinya lebih banyak mengoreksi kesalahan diri sendiri daripada mengoreksi
kesalahan-kesalahan orang lain. Mengoreksi kesalahan orang lain—termasuk penguasa sekalipun—tentu penting karena termasuk ke dalam bagian amar makruf nahi mungkar yang memang telah Allah SWT wajibkan. Namun, mengoreksi kesalahan diri sendiri juga penting karena dengan itulah kita akan selalu berusaha meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT sekaligus berusaha menjauhi dosa dan maksiat kepada-Nya. Itulah takwa dan itulah satu-satunya bekal saat kita menghadap Allah SWT pada Hari Kiamat nanti.
Wama tawfiqi illa bilLah. [follow twitter: @irwansyahamunu]
Minggu, 27 Oktober 2013
KASTA EMAS HITAM
BUPATI Buton Umar Samiun kembali membuat gebrakan. Kali ini suksesor Sjafei Kahar ini melakukan launching dan uji gelar aspal Buton. Targetnya, supaya aspal atau emas hitam Buton bisa lebih dikenal di nasional bahkan mancanegara.
Bukan hanya dikenal, tapi juga dibeli. Sebab dalam uji gelar yang dilakukan di Pasarwajo, akhir pekan lalu, hendak dibuktikan aspal Buton kualitasnya tidak jauh bahkan lebih baik dari aspal hotmix.
Dengan demikian, kasta emas hitam akan naik. Pada akhirnya, akan mengatrol pula kesejahteraan rakyat. Apalagi, sejak awal menjabat Umar Samiun sudak memproklamirkan untuk menaikkan PAD Buton yang hanya puluhan miliar menjadi Rp 200 miliar. Suatu cita-cita selangit, yang pencapaiannya secara matematis menurut Umar bisa diraih.
Nah, salah satu jalannya melalui jualan aspal. Konsumennya sampai ke luar negeri, karena dalam uji gelar hadir pula sejumlah investor China, dan Malaysia.
Memang, bicara soal aspal, seolah langsung menyentuh alam bawah sadar kita. Betapa tidak, aspal selama ini dikenal sebagai sumber daya alam kebangaan yang depositnya langka dan hanya terdapat di Buton, belum bisa secara signifikan mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan rakyat. Padahal cadangannya di perut bumi Buton sampai 677 juta ton.
Bukan hanya itu, ironi lainnya, Buton pemilik aspal, tapi jalannya masih banyak yang belum teraspal. Maka itu, ironi yang selama ini sudah menjadi mimpi buruk tersebut hendak dirubah. Caranya, dengan terobosan yang dilakukan Umar Samiun kali ini.
Apakah target tersebut bisa dicapai? Semuanya tergantung dari hasil uji gelar tersebut. Yang jelas, dalam dunia bisnis, berlaku hukum ekonomi, konsumen akan membeli produk murah namun kualitas tinggi.
Dua hal itu sudah mampu dibuktikan, mutunya setara bahkan lebih baik dari hotmix. Dari segi harga, Aspal Buton seharga Rp 800 juta per kilometer sedangkan aspal hotmix Rp 1,4 miliar, berarti bisa menghemat anggaran.
Harapan kita, launching dan uji gelar aspal tersebut bisa berbuah manis. Indikatornya, bisa dilihat dari peningkatan penjualan aspal Buton. Ukuran praktisnya tentu diukur dari peningkatan PAD, yang muaranya pada kesejahteraan rakyat.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Bukan hanya dikenal, tapi juga dibeli. Sebab dalam uji gelar yang dilakukan di Pasarwajo, akhir pekan lalu, hendak dibuktikan aspal Buton kualitasnya tidak jauh bahkan lebih baik dari aspal hotmix.
Dengan demikian, kasta emas hitam akan naik. Pada akhirnya, akan mengatrol pula kesejahteraan rakyat. Apalagi, sejak awal menjabat Umar Samiun sudak memproklamirkan untuk menaikkan PAD Buton yang hanya puluhan miliar menjadi Rp 200 miliar. Suatu cita-cita selangit, yang pencapaiannya secara matematis menurut Umar bisa diraih.
Nah, salah satu jalannya melalui jualan aspal. Konsumennya sampai ke luar negeri, karena dalam uji gelar hadir pula sejumlah investor China, dan Malaysia.
Memang, bicara soal aspal, seolah langsung menyentuh alam bawah sadar kita. Betapa tidak, aspal selama ini dikenal sebagai sumber daya alam kebangaan yang depositnya langka dan hanya terdapat di Buton, belum bisa secara signifikan mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan rakyat. Padahal cadangannya di perut bumi Buton sampai 677 juta ton.
Bukan hanya itu, ironi lainnya, Buton pemilik aspal, tapi jalannya masih banyak yang belum teraspal. Maka itu, ironi yang selama ini sudah menjadi mimpi buruk tersebut hendak dirubah. Caranya, dengan terobosan yang dilakukan Umar Samiun kali ini.
Apakah target tersebut bisa dicapai? Semuanya tergantung dari hasil uji gelar tersebut. Yang jelas, dalam dunia bisnis, berlaku hukum ekonomi, konsumen akan membeli produk murah namun kualitas tinggi.
Dua hal itu sudah mampu dibuktikan, mutunya setara bahkan lebih baik dari hotmix. Dari segi harga, Aspal Buton seharga Rp 800 juta per kilometer sedangkan aspal hotmix Rp 1,4 miliar, berarti bisa menghemat anggaran.
Harapan kita, launching dan uji gelar aspal tersebut bisa berbuah manis. Indikatornya, bisa dilihat dari peningkatan penjualan aspal Buton. Ukuran praktisnya tentu diukur dari peningkatan PAD, yang muaranya pada kesejahteraan rakyat.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Jumat, 25 Oktober 2013
KOREA DI BAUBAU (2)
Berita terkait kerjasama Baubau-Korea masih dimuat di Jawa Pos dan JPNN, lihat disitus ini:
http://www.jpnn.com/read/2013/10/24/197260/Bentuk-Huruf-Lucu,-Siswa-pun-Senang-Mempelajari-
http://www.jpnn.com/read/2013/10/24/197260/Bentuk-Huruf-Lucu,-Siswa-pun-Senang-Mempelajari-
Rabu, 23 Oktober 2013
KOREA DI BAUBAU (1)
Dimuat di JPNN, dan Jawa Pos, lengkapnya baca disitus ini:
http://www.jpnn.com/read/2013/10/23/197069/Bahasa-Ibu-Mulai-Punah,-Aksara-Hangeul-Jadi-Pengganti-
http://www.jpnn.com/read/2013/10/23/197069/Bahasa-Ibu-Mulai-Punah,-Aksara-Hangeul-Jadi-Pengganti-
Senin, 21 Oktober 2013
Alarm Alam
Catatan: Irwansyah Amunu
AKHIR pekan ini, setidaknya terjadi dua musibah yang memilukan menimpa warga Buton. Pertama, gempa yang terjadi selama dua hari berturut-turut di Kecamatan Batauga. Kedua, tenggelamnya KM Lulu Jaya, diperairan dekat Batauga.
Dua musibah tersebut antaranya, tiga hari. Gempa berkekuatan 4,7 Skala Richter (SR) terjadi, pada 14-15 Oktober, sedangkan musibah kapal tenggelam rute Batuatas-Baubau tersebut pada 17 Oktober.
Dampaknya pun memilukan. Gempa yang menimpa warga Batauga kendati tak menimbulkan korban jiwa namun merusak sekitar 300 rumah, kerugian yang ditimbulkan ratusan juta rupiah. Sementara, kapal tenggelam yang memuat 84 penumpang, menyisakan dua korban yang hingga kini belum ditemukan.
Dua cerita memilukan ini harus menjadi alarm. Ya, alarm, alam alam berbunyi untuk mengingatkan kita semua agar meningkatkan kewaspadaan. Sikap itu harus tetap dimiliki warga apalagi bila bertepatan dengan momentum lebaran.
Terkait gempa yang menimpa warga Batauga, kita patut mengacungkan jempol kepada warga setempat. Meski rumah yang hancur ratusan, namun tidak ada korban jiwa. Bisa dikatakan masyarakat sudah mampu menyelamatkan diri bila gempa mengguncang. Apalagi guncangan gempa terbilang banyak kali, sampai 20 kali.
Namun kini yang tersisa adalah masa tanggap darurat. Warga korban, khususnya yang rumahnya rusak harus mendapatkan perhatian serius dari Pemkab.
Soal kapal tenggelam, terhadap korban mesti jadi perhatian. Sesuai standar SAR, sebelum kesimpulan ditetapkan, waktu tujuh hari plus kejadian, pencarian tetap dilakukan. Bila SAR angkat tangan, dan hasilnya tetap nihil, santunan selayaknya diberikan kepada keluarga korban.
Kepada nakhoda kapal, hukum harus ditegakkan. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi oknum yang tidak bertanggungjawab untuk tidak main-main dengan nyawa manusia. Kepada masyarakat penumpang agar jangan memaksakan diri menumpangi kapal yang melebihi muatan. Lebih baik menunda keberangkatan dari pada berspekulasi mengundang musibah. Ingat, setiap pengabaian terhadap keselamatan pelayaran efeknya pasti negatif.
Apalagi cerita tragis dibalik tenggelamnya KM Lulu Jaya mirip dengan kisah pilu tenggelamnya KM Acita (rute Tomia-Baubau) yang tenggelam beberapa tahun silam. Kelebihan muatan, plus petaka cari signal HP yang berujung maut.
Terakhir, mengenai kapal tenggelam, Pemkab sudah harus memikirkan untuk menyiapkan moda transportasi laut yang memadai bagi masyarakat Batuatas. Misalnya, menyiapkan kapal penumpang andal atau feri rute Batuatas-Baubau. Dengan demikian keselamatan penumpang lebih terjamin.
Alhasil, kisah tragis ini semoga menjadi episode terakhir. Tidak terulang lagi pada masa mendatang. Semoga. (Follow twitter: @irwansyahamunu)
AKHIR pekan ini, setidaknya terjadi dua musibah yang memilukan menimpa warga Buton. Pertama, gempa yang terjadi selama dua hari berturut-turut di Kecamatan Batauga. Kedua, tenggelamnya KM Lulu Jaya, diperairan dekat Batauga.
Dua musibah tersebut antaranya, tiga hari. Gempa berkekuatan 4,7 Skala Richter (SR) terjadi, pada 14-15 Oktober, sedangkan musibah kapal tenggelam rute Batuatas-Baubau tersebut pada 17 Oktober.
Dampaknya pun memilukan. Gempa yang menimpa warga Batauga kendati tak menimbulkan korban jiwa namun merusak sekitar 300 rumah, kerugian yang ditimbulkan ratusan juta rupiah. Sementara, kapal tenggelam yang memuat 84 penumpang, menyisakan dua korban yang hingga kini belum ditemukan.
Dua cerita memilukan ini harus menjadi alarm. Ya, alarm, alam alam berbunyi untuk mengingatkan kita semua agar meningkatkan kewaspadaan. Sikap itu harus tetap dimiliki warga apalagi bila bertepatan dengan momentum lebaran.
Terkait gempa yang menimpa warga Batauga, kita patut mengacungkan jempol kepada warga setempat. Meski rumah yang hancur ratusan, namun tidak ada korban jiwa. Bisa dikatakan masyarakat sudah mampu menyelamatkan diri bila gempa mengguncang. Apalagi guncangan gempa terbilang banyak kali, sampai 20 kali.
Namun kini yang tersisa adalah masa tanggap darurat. Warga korban, khususnya yang rumahnya rusak harus mendapatkan perhatian serius dari Pemkab.
Soal kapal tenggelam, terhadap korban mesti jadi perhatian. Sesuai standar SAR, sebelum kesimpulan ditetapkan, waktu tujuh hari plus kejadian, pencarian tetap dilakukan. Bila SAR angkat tangan, dan hasilnya tetap nihil, santunan selayaknya diberikan kepada keluarga korban.
Kepada nakhoda kapal, hukum harus ditegakkan. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi oknum yang tidak bertanggungjawab untuk tidak main-main dengan nyawa manusia. Kepada masyarakat penumpang agar jangan memaksakan diri menumpangi kapal yang melebihi muatan. Lebih baik menunda keberangkatan dari pada berspekulasi mengundang musibah. Ingat, setiap pengabaian terhadap keselamatan pelayaran efeknya pasti negatif.
Apalagi cerita tragis dibalik tenggelamnya KM Lulu Jaya mirip dengan kisah pilu tenggelamnya KM Acita (rute Tomia-Baubau) yang tenggelam beberapa tahun silam. Kelebihan muatan, plus petaka cari signal HP yang berujung maut.
Terakhir, mengenai kapal tenggelam, Pemkab sudah harus memikirkan untuk menyiapkan moda transportasi laut yang memadai bagi masyarakat Batuatas. Misalnya, menyiapkan kapal penumpang andal atau feri rute Batuatas-Baubau. Dengan demikian keselamatan penumpang lebih terjamin.
Alhasil, kisah tragis ini semoga menjadi episode terakhir. Tidak terulang lagi pada masa mendatang. Semoga. (Follow twitter: @irwansyahamunu)
Minggu, 20 Oktober 2013
Trias Corruptica
MENGENAI tertangkapnya Ketua MK oleh KPK, ada beberapa catatan menarik diseputar ditangkapnya Ketua MK dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK dalam tindak penyuapan.
Menggambarkan korupsi di negeri ini sudah masuk dalam seluruh sendi bernegara. Kalau dimasa lampau Plato dan Aristoteles membagi kekuasaan menjadi tiga, legislatif, eksekutif, dan yudikatif, agar terjadi keseimbangan kekuasaan. Dikenal dengan teori trias politika.Namun kini yang terjadi sebaliknya, korupsi sudah menimpa semua oknum yang berada di lembaga tersebut. Jadi korupsi merata di tiga lembaga itu. Tidak heran, kalau ada yang memplesetkan, bukan lagi trias politika, tapi trias corruptica.
Mengapa demikian? Karena yang ditangkap KPK oknum dari tiga lembaga tersebut. Akil Muchtar dari yudikatif, Charunnisa (legislatif), dan Bupati Gunung Mas (eksekutif).
Perlu diketahui, MK adalah lembaga tinggi negara. Jadi, dari segi level, Ketua MK selevel dengan Presiden. Artinya, ini penangkapan pelaku korupsi kakap. Dalam penyuapan itu, terlibat pejabat publik dari tiga lini sekaligus, yudikatif (Ketua MK), legislatif (CHN) dan eksekutif (HB, bupati).
HB adalah bupati dari PDIP yang notabene berbeda partai dari Chairun Nisa, juga Akil Muchtar dari dari Golkar (dulunya). Artinya, ini bukti pragmatisme kejahatan. Malam itu CHN diantar suaminya ketika bertandang ke rumah AM. Apakah suaminya tidak tahu? Sama seperti kejahatan lain, pelaku dari keluarga.
MK adalah lembaga yang mengadili sengketa antar lembaga, juga mengadili UU. Bayangkan, apa hasil putusannya bila ternyata hakimnya doyan suap? Luar biasa, Akil Muchtar, Ketua MK, ditangkap dua kasus suap sekaligus. Sengketa Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, dan Kabupaten Lebak, Banten.
Dari sana, semakin nyata bahwa kebenaran milik pemodal. Bukan Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi keuangan yang berkuasa. Astaghfirullah... Nyata sekali korupsi sudah merambah semua lini. Korupsi telah jadi budaya dari para punggawa di negeri ini. Bedanya cuma ketahuan atau tidak.
Korupsi tumbuh karena lemahnya integritas, ada peluang atau tawaran, dan didorong sistem yang cenderung membuat orang korup. Sistem demokrasi liberal seperti saat ini telah melahirkan pejabat publik yang cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan dan kekayaan. Didorong lingkungan yang makin permisif terhadap korupsi. Lahirlah budaya korup. Berbahaya sekali, karena orang korupsi tak lagi sungkan.
Tiadanya teladan pemimpin. Yang ada adalah contoh bagaimana pemimpin lakukan korupsi, walhasil bawahannya juga ikut korup. Jadilah korupsi rame-rame. Yang pasti, lemahnya tauhid. Materialisme telah singkirkan tauhid dari derap kehidupan berbangsa bernegara. Allah hanya diingat ketika salat.
Kehidupan yang serba profan membuat kontrol tauhid makin tipis. Ditambah faktor lingkungan, jadilah apa yang terjadi. Jelas sekali, diperlukan perubahan besar bila diinginkan sebuah baldah Thayyibah wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan penuh ampunan Allah).
Kesanalah semestinya perjuangan kita menuju. Bagi lahirnya baldah thayyibah wa rabbun ghafur tadi. Negeri
seperti ini tidak mungkin lahir dari rahim sekularisme karena justru sekularisme itulah yang telah timbulkan kemelut persoalan yang tak berkesudahan.
Negeri saperti ini hanya mungkin lahir dari dasar yang memungkinkan tauhid hidup secara nyata dalam kehidupan masyarakat dan negara. Yang memungkin tercipta sebuah budaya taat, menjauhi maksiat, dimana integritas pribadi akan terpupuk subur oleh lingkungan yang tauhidi.
Sungguh sangat banyak pelajaran dari sekitar kita. Masih kurangkah bukti untuk kita dengan tegas ambil
kesimpulan la izzata illa bil Islam?(follow twitter: @irwansyahamunu)
Menggambarkan korupsi di negeri ini sudah masuk dalam seluruh sendi bernegara. Kalau dimasa lampau Plato dan Aristoteles membagi kekuasaan menjadi tiga, legislatif, eksekutif, dan yudikatif, agar terjadi keseimbangan kekuasaan. Dikenal dengan teori trias politika.Namun kini yang terjadi sebaliknya, korupsi sudah menimpa semua oknum yang berada di lembaga tersebut. Jadi korupsi merata di tiga lembaga itu. Tidak heran, kalau ada yang memplesetkan, bukan lagi trias politika, tapi trias corruptica.
Mengapa demikian? Karena yang ditangkap KPK oknum dari tiga lembaga tersebut. Akil Muchtar dari yudikatif, Charunnisa (legislatif), dan Bupati Gunung Mas (eksekutif).
Perlu diketahui, MK adalah lembaga tinggi negara. Jadi, dari segi level, Ketua MK selevel dengan Presiden. Artinya, ini penangkapan pelaku korupsi kakap. Dalam penyuapan itu, terlibat pejabat publik dari tiga lini sekaligus, yudikatif (Ketua MK), legislatif (CHN) dan eksekutif (HB, bupati).
HB adalah bupati dari PDIP yang notabene berbeda partai dari Chairun Nisa, juga Akil Muchtar dari dari Golkar (dulunya). Artinya, ini bukti pragmatisme kejahatan. Malam itu CHN diantar suaminya ketika bertandang ke rumah AM. Apakah suaminya tidak tahu? Sama seperti kejahatan lain, pelaku dari keluarga.
MK adalah lembaga yang mengadili sengketa antar lembaga, juga mengadili UU. Bayangkan, apa hasil putusannya bila ternyata hakimnya doyan suap? Luar biasa, Akil Muchtar, Ketua MK, ditangkap dua kasus suap sekaligus. Sengketa Kabupaten Gunung Mas, Kalteng, dan Kabupaten Lebak, Banten.
Dari sana, semakin nyata bahwa kebenaran milik pemodal. Bukan Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi keuangan yang berkuasa. Astaghfirullah... Nyata sekali korupsi sudah merambah semua lini. Korupsi telah jadi budaya dari para punggawa di negeri ini. Bedanya cuma ketahuan atau tidak.
Korupsi tumbuh karena lemahnya integritas, ada peluang atau tawaran, dan didorong sistem yang cenderung membuat orang korup. Sistem demokrasi liberal seperti saat ini telah melahirkan pejabat publik yang cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan dan kekayaan. Didorong lingkungan yang makin permisif terhadap korupsi. Lahirlah budaya korup. Berbahaya sekali, karena orang korupsi tak lagi sungkan.
Tiadanya teladan pemimpin. Yang ada adalah contoh bagaimana pemimpin lakukan korupsi, walhasil bawahannya juga ikut korup. Jadilah korupsi rame-rame. Yang pasti, lemahnya tauhid. Materialisme telah singkirkan tauhid dari derap kehidupan berbangsa bernegara. Allah hanya diingat ketika salat.
Kehidupan yang serba profan membuat kontrol tauhid makin tipis. Ditambah faktor lingkungan, jadilah apa yang terjadi. Jelas sekali, diperlukan perubahan besar bila diinginkan sebuah baldah Thayyibah wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan penuh ampunan Allah).
Kesanalah semestinya perjuangan kita menuju. Bagi lahirnya baldah thayyibah wa rabbun ghafur tadi. Negeri
seperti ini tidak mungkin lahir dari rahim sekularisme karena justru sekularisme itulah yang telah timbulkan kemelut persoalan yang tak berkesudahan.
Negeri saperti ini hanya mungkin lahir dari dasar yang memungkinkan tauhid hidup secara nyata dalam kehidupan masyarakat dan negara. Yang memungkin tercipta sebuah budaya taat, menjauhi maksiat, dimana integritas pribadi akan terpupuk subur oleh lingkungan yang tauhidi.
Sungguh sangat banyak pelajaran dari sekitar kita. Masih kurangkah bukti untuk kita dengan tegas ambil
kesimpulan la izzata illa bil Islam?(follow twitter: @irwansyahamunu)
Langganan:
Postingan (Atom)