SESUAI jadwal, pekan depan jamaah haji asal Baubau akan tiba di Kota Semerbak. Kehadirah ratusan tamu Allah tersebut otomatis bakal mengundang antusiasme pihak sanak keluarga mereka. Dalam hati kita tentu menggantung harapan: semoga mereka menjadi haji yang mabrur.
Haji sebagai rukun Islam yang kelima merupakan bagian dari ibadah mahdhah. Sebagaimana ibadah mahdhah yang lain, Allah memang tidak pernah menjelaskan alasan disyariatkannya ibadah ini. Yang pasti banyak manfaat ibadah haji (QS al-Hajj [22]: 27-28). Ada yang bersifat individual dan komunal; ada yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan makhluk. Di luar itu, ternyata haji memiliki makna politik.
Selain itu, mereka juga solid, terbukti bahwa mereka bisa melakukan manasik yang sama, pada waktu dan tempat yang sama, bukan digerakkan oleh kekuatan fisik pemimpin mereka, tetapi kekuatan akidah dan pemahaman agama mereka. Mereka bisa menyatu dan mengalir begitu kuatnya seperti air menuju tiap titik manasik, dan tidak ada siapapun kekuatan yang bisa membendung aliran mereka. Semuanya ini membuktikan bahwa umat ini adalah umat yang satu; umat yang kuat dan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun, karena persatuan mereka.
Selain itu, masyhad a’dham ini juga membuktikan, bahwa umat Islam ini bisa bersatu dalam satu tujuan dan nusuk, sekalipun negeri, bangsa, warna kulit, mazhab, bahkan bahasa mereka berbeda. Namun, masyhad a’dham ini tidak akan tampak lagi, ketika mereka sudah kembali ke negeri asal mereka. Jika saja, realitas masyhad a’dham itu juga mereka transformasikan dalam kehidupan politik mereka, maka umat ini tidak akan lagi tersekat dengan nation state, yang selama ini menghalangi persatuan mereka. Sebaliknya, mereka hanya hidup dalam satu negara, di bawah satu bendera, La ilaha ill-Llah Muhammad Rasulullah, satu imam, satu sistem (syariah) dan satu tujuan. Itulah Khilafah.
Haji juga menampakkan fenomena lain. Sejak niat pertama melaksanakan ibadah, mereka harus mengenakan pakaian ihram yang putih dan tidak berjahit, mulai dari tarwiyah hingga tahallul shughra, tanggal 8-10 Dzulhijjah. Saat itu, semua orang sama. Tidak ada lagi budak, majikan, kepala negara, rakyat, kaya, miskin, kulit putih, hitam dan sebagainya. Semuanya dibalut dengan pakaian yang sama, putih-putih, tidak berjahit, dengan muka dan kepala terbuka, berpanas-panas, berdesak-desakkan dan melakukan nusuk yang sama.
Darah, harta dan tanah mereka, seluruh umat Islam di seluruh dunia, sama kedudukannya. Sama-sama dimuliakan. Maka, tidak boleh ditumpahkan dan dinodai oleh siapapun, sebagaimana kemuliaan dan kesucian tanah, bulan dan hari haram ini. Itulah proklamasi yang dikumandangkan oleh Nabi pada saat Haji Wada’, di padang Arafah (Hr. Bukhari-Muslim dari Ibn ‘Umar). Tidak hanya itu, baginda SAW pun menegaskan, bahwa satu nyawa orang Islam lebih mulia bagi Allah, ketimbang Ka’bah. Karena hancurnya Ka’bah lebih ringan bagi-Nya, ketimbang hilangnya satu nyawa orang Islam (as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, juz I/381). Padahal, siapa pun yang berdiri di hadapan Ka’bah, pasti akan merasa kecil. Tentu mereka akan lebih tidak sanggup lagi ketika menyaksikan darah dan nyawa orang Islam ditumpahkan.
Jika kesadaran itu ditransformasikan dalam kehidupan nyata, maka di hadapan sesama Muslim mereka merasa sama, sebaliknya mereka akan merasa superior di hadapan orang-orang kafir. Mereka tidak rela, jika tanah dan harta mereka dirampok oleh negara-negara kafir penjajah. Mereka juga tidak akan rela, saudara mereka dibantai atau ditangkap dan dipenjarakan atas pesanan negara-negara Kafir penjajah, sekalipun dilakukan dengan menggunakan tangan saudara mereka, sesama Muslim. Jika kesadaran itu ada, mereka pasti bangkit, dan merdeka. Semua kekuatan yang menghalangi kebangkitan mereka pun akan mereka libas, termasuk para penguasa antek penjajah.
Semua memori kita itu akan melecutkan semangat dan kesadaran yang membuncah dalam diri kita. Dengan begitu, ketika kita berhaji tidak saja mendapatkan haji mabrur, tetapi juga menjadi pribadi yang berbeda. Di dalam dirinya telah tertanam semangat, kesadaran dan tekad yang kuat untuk mengembalikan kejayaan Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh baginda SAW dan para sahabat. Itulah makna politik ibadah haji yang seharusnya kita petik.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Senin, 11 November 2013
Efek Baubau Tampil
MESKI sempat beberapa kali diundur, Sabtu (9/11) lalu, akhirnya Baubau Tampil 2013 dibuka secara resmi oleh Walikota Baubau Drs H AS Tamrin MH. Sejak sore ribuan warga Kota Baubau menghadiri iven tahunan yang terselenggara atas kerjasama antara Pemkot dengan Buton Pos tersebut.
Puncaknya, pada malam hari, aliran masyarakat yang berdatangan menuju Kotamara, lokasi Baubau Tampil membludak. Masyarakat menyemut menghadiri hajatan yang mempromosikan hasil pembangunan Baubau setahun terakhir.
Efek Baubau Tampil kali ini memang begitu terasa. Sebab menjadi penghapus dahaga hiburan bagi warga Metro Baubau. Apalagi, dalam setahun ini bisa dikatakan iven ini merupakakan satu-satunya agenda yang mengandung unsur hiburan plus edukasi bagi warga untuk mengukur kinerja kabinet Tamrin-Maasra.
Maka itu, setiap SKPD lingkup Kota Baubau tampil habis-habisan untuk mempromosikan instansinya masing-masing. Mulai dari BUMD, kecamatan, badan, dinas, dan jawatan lainnya. Termasuk instansi vertikal seperti KPP Pratama Baubau juga mengisi stand yang disediakan.
Bukan hanya itu, dunia usaha juga berlomba-lomba ambil bagian. Mulai dari catering, oprator seluler, hingga elektronik ikut. Pratis, 60 stand yang disediakan panitia nyaris terisi semua.
Selain peserta, efek Baubau Tampil bisa dirasakan dari antusiasme penonton. Parkir kendaraan yang berjejer nyaris memenuhi setiap ruas tepi jalan di Kotamara. Berlapisnya kendaraan yang menepi tersebut membuat alur lalulintas disana macet.
Tak hanya itu, pedagang kaki lima juga berduyun-duyun ke Kotamara. Omzet yang mereka raih tentu meningkat pesat. Secara totalitas, dari seluruh dunia usaha dan pelaku ekonomi lainnya yang terlibat di Baubau Tampil, sektor riil yang berputar dalam semalam nilainya miliaran rupiah.
Tak salah bila Baubau Tampil memang merupakan hajatan yang dirindukan masyarakat. Iven itu sejalan dengan karakter kota yang mengandalkan sektor perdagangan dan jasa. Jangan heran bila acara ini telah teragenda empat tahun berturut-turut, tiga kali sebelumnya pada masa Walikota Amirul, dan kali ini Tamrin-Maasra.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Puncaknya, pada malam hari, aliran masyarakat yang berdatangan menuju Kotamara, lokasi Baubau Tampil membludak. Masyarakat menyemut menghadiri hajatan yang mempromosikan hasil pembangunan Baubau setahun terakhir.
Efek Baubau Tampil kali ini memang begitu terasa. Sebab menjadi penghapus dahaga hiburan bagi warga Metro Baubau. Apalagi, dalam setahun ini bisa dikatakan iven ini merupakakan satu-satunya agenda yang mengandung unsur hiburan plus edukasi bagi warga untuk mengukur kinerja kabinet Tamrin-Maasra.
Maka itu, setiap SKPD lingkup Kota Baubau tampil habis-habisan untuk mempromosikan instansinya masing-masing. Mulai dari BUMD, kecamatan, badan, dinas, dan jawatan lainnya. Termasuk instansi vertikal seperti KPP Pratama Baubau juga mengisi stand yang disediakan.
Bukan hanya itu, dunia usaha juga berlomba-lomba ambil bagian. Mulai dari catering, oprator seluler, hingga elektronik ikut. Pratis, 60 stand yang disediakan panitia nyaris terisi semua.
Selain peserta, efek Baubau Tampil bisa dirasakan dari antusiasme penonton. Parkir kendaraan yang berjejer nyaris memenuhi setiap ruas tepi jalan di Kotamara. Berlapisnya kendaraan yang menepi tersebut membuat alur lalulintas disana macet.
Tak hanya itu, pedagang kaki lima juga berduyun-duyun ke Kotamara. Omzet yang mereka raih tentu meningkat pesat. Secara totalitas, dari seluruh dunia usaha dan pelaku ekonomi lainnya yang terlibat di Baubau Tampil, sektor riil yang berputar dalam semalam nilainya miliaran rupiah.
Tak salah bila Baubau Tampil memang merupakan hajatan yang dirindukan masyarakat. Iven itu sejalan dengan karakter kota yang mengandalkan sektor perdagangan dan jasa. Jangan heran bila acara ini telah teragenda empat tahun berturut-turut, tiga kali sebelumnya pada masa Walikota Amirul, dan kali ini Tamrin-Maasra.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Kamis, 07 November 2013
Mengguncang Dunia dari Negeri Khalifatul Khamis
- Tema Tabligh Akbar HTI Baubau
BAUBAU - Menyambut tahun baru Islam, 1435 Hijriyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Baubau menggelar Tabligh Akbar, Senin (5/11) lalu. Dari tabligh akbar itu terungkap solusi problematika umat saat ini hanya Syariat Islam yang diterapkan melalui Negara Khilafah.
Acara yang bertema "Mengguncang Dunia Dari Negeri Khalifatul Khamis, Arah Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah", berhasil mengguncang ratusan peserta yang hadir, di Masjid Baitul Hikmah, Panti Asuhan Muslimin Baubau.
Dalam kegiatan tersebut menghadirkan delapan pembicara yang mengupas tuntas berbagai problematika yang terjadi saat ini. Tidak hanya itu kedelapan pemateri itu juga memberikan solusi tuntas problematika yang terjadi dengan kembali kepada aturan Allah SWT dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah.
Delapan pembicara tersebut yakni, Ld Dikarama membahas Sistem Sosial, Mukhsin (Iptek), Nusma (Sistem Politik), Herwin Haris (Sistem Ekonomi), Izan Ihwan (Sistem Pemerintahan), Radlus (Sistem Pendidikan), Alisman (Sistem Hukum), dan Irwansyah Amunu (Hankam).
Dalam pemaparan materinya, kedelapan pembicara masing-masing mengupas tuntas kerusakan terjadi saat ini. Mulai dari masalah sosial, Iptek, ekonomi, pemerintahan, pendidikan, politik, hukum, serta Hankam.
Mereka mengatakan, Sistem Kapitalismelah yang melahirkan seluruh problematika umat saat ini. Kapitalisme melahirkan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan sainsteknologi, kriminalitas, pornografi, pemurtadan, penindasan, kedzaliman, perpecahan, penjajahan, hukum yang tidak adil, intervesi asing, bahkan bumi pun tidak terima sehingga banyaknya bencana alam yang tejadi.
Di sisi lain, barat telah merasuki pemikiran Kaum Muslimin seolah-olah kebangkitan itu berawal dari Barat dan Eropa. Padahal kebangkitan itu bermula dari Umat Islam pada saat Islam dijadikan sebagai aturan hidupnya dalam bingkai Khilafah.
Irwansyah Amunu mengungkapkan, jauh sebalum kebangkitan Eropa, Islam suah lebih dulu bangkit. Atas kembangkita di bidang sains dan tekhnologinya Islam bisa menguasai dunia hampir 2/3. Tapi karena barat dan Eropa berhasil mengubah pemikiran Kaum Muslimin, sehingga saat ini Kaum Muslimin berkiblat pada Barat dan Eropa. Akibatnya muncul broblematika saat ini.
"Tentu banyaknya problematika yang terjadi ini tidak bisa kita hanya diamkan saja, melainkan kita mengambil peran untuk melakukan perubahan serta mampu memberikan solusi terbaik untuk menyelesaikan problematika tersebut, yaitu kembali kepada aturan Allah SWT bukan mengambil hukum buatan manusia," seru Irwansyah dihadapan ratusan peserta.
Menurutnya, seruan Mengguncang Dunia dari Negeri Khalifatul Khamis relefan dengan kondisi kekinian dan sejarah Kota Baubau sebagai bekas pusat Kesultanan Buton. Kesultanan Buton pada masa lalu berjuluk Negeri Khalifatul Khamis. Dinamakan demikian karena Raja Buton terakhir, Raja Lakilaponto dilantik menjadi Sultan Buton Pertama, berubah namanya menjadi Sultan Murhum. Lantas diberi gelar Sultan Kaimuddin (Qaim ad Din atau penegak agama). "Semoga acara hari ini mampu Mengguncang Dunia dari Negeri Khalifatul Khamis," seraya mengajak hadiri untuk memekikkan takbir.
Sementara itu, Alisman mengatakan, Allah juga telah menurunkan sestem hukum yang bisa menyelesaikan problem kriminalitas saat ini. Sejarah mencatat selama sekitar 1200 tahun Islam menguasi 2/3 belahan dunia hanya sekitar 200 kasus kriminal yang terjadi.
Kekuasaan Umat Islam saat itu melahirkan kesejahtraan di seluruh lini kehidupan masyarakat, baik masalah ekonomi, politik, Hankam, pendidikan hukum, dan lain sebagainya.
Setelah Khilafah berhasil diruntuhkan 89 tahun silam atau tepatnya 3 Maret 1924 M, kini menegakan Khilafah merupakan kewajiban bagi seluruh umat manusia.
"Olehnya itu marilah bersama-sama kita berjuang untuk menegakan Khilafah Islam agar kita terbebas dari kewajiban kita, serta untuk dapat menyelesaikan problematika yang ada saat ini," ajak Alisman menutup materinya. (***)
Selasa, 05 November 2013
TRAGEDI ASLIN ZALIM
Catatan: Irwansyah Amunu
SEPEKAN terakhir, masyarakat Baubau diharu biru dengan tragedi meninggalnya almarhum Aslin Zalim. Yang memantik emosi warga, almarhum ditangkap Polisi sehat wal afiat, tapi kembali sudah jadi mayat.
Itulah yang menjadi alasan kemarahan warga. Sebelumnya sentimen terhadap oknum Korps Bhayangkari hanya segelintir, kini menjalar ke mana-mana. Tak heran bila sejak almarhum meninggal Rabu (30/10) lalu, demonstrasi langsung meletus.
Terhitung empat hari berturut-turut, unjuk rasa berlangsung dialamatkan kepada Polisi. Aksi solidaritas juga dilakukan hingga melebar kesejumlah titik. Lihat saja, 20 titik lebih pembakaran ban di badan jalan diantaranya di Kelurahan Wajo, Lamangga, Wangkanapi, dan Bataraguru dilakukan sampai dini hari.
Dan kali ini, protes dilakukan dengan mencantumkan spanduk bertulis: Masyarakat Wajo Bukan Preman, dan Pengusutan Usut Tuntas Kasus Secara Transparan. Memang "episentrum" emosi ada di Wajo karena almarhum yang tercatat sebagai PNS di Dinas Tata Kota dan Bangunan itu punya banyak sanak keluarga disana.
Bicara soal almarhum, sebetulnya saya secara almamater punya hubungan, karena berasal dari satu sekolah yang sama, baik di SMP 2 (angkatan 1995) maupun SMA 1 Baubau, (angkatan 1998). Kendati bukan satu kelas, setahu saya pribadinya tergolong supel dan mudah bergaul. Kalau berbicara, senyum dan tawa selalu menghias di wajahnya.
Makanya ketika mendengar Lin -sapaan almarhum- meninggal setelah sebelumnya ditangkap Polisi, saya terkejut. Apalagi dia diamankan atas perintah langsung Kapolres.
Terkait Kapolres AKBP Joko Krisdiyanto sendiri, setahu saya, suksesor AKBP Sunarto ini baru sebulan lebih menjabat. Sebab, sekitar sepekan menjabat, tepatnya pada Kamis (26/9), dia dan Kasat Intel, AKP Suriadi sempat sowan ke Kantor Buton Pos. Ketika itu, saya dan Direktur Buton Pos, Ramli Akhmad menerima mereka seraya mengulik beberapa hal terkait penanganan Kamtibmas di Kota Baubau.
Kesan kami saat itu, positif. Sebagai salah satu anggota Muspida, Kapolres langsung menjalin mitra dengan media. Padahal baru beberapa hari menjabat kursi "01" di Polres.
Namun kini muncul tragedi Aslin Zalim. Kasus yang sudah terangkat hingga ke level nasional. Ditengah suasana Kapolri baru, Jenderal Sutarman yang berjanji memperbaiki kinerja internal.
Jangan heran jika Wakapolda Kombes Pol Alfons, dan beberapa perwira Polda Sultra lainnya turun tangan untuk menyelesaikan masalah. Hasilnya, 16 anggota Polres diperiksa di Propam Polda Sultra. Seolah ingin menunjukkan keseriusan, kemarin jasad korban digali untuk dilakukan autopsi.
Apakah babak baru pengusutan kasus kematian Aslin Zalim ini akan memberikan kepuasan publik atau sebaliknya? Semua tergantung kesimpulan pengusutan Polisi. Hukum harus ditegakkan, apalagi hal ini menimpa institusi penegak hukum. Yang salah harus dihukum setimpal sesuai dengan perbuatannya.
Alhasil, jadikan kasus ini sebagai sarana instrospeksi khususnya Polisi. Ibarat pepatah: gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, jangan sampai karena kesalahan oknum, korps yang dihakimi jelek.
Seraya berharap, tragedi yang menimpa almarhum merupakan kasus terakhir. Tidak ada lagi tragedi-tragedi selanjutnya.(follow twitter: @irwansyahamunu)
SEPEKAN terakhir, masyarakat Baubau diharu biru dengan tragedi meninggalnya almarhum Aslin Zalim. Yang memantik emosi warga, almarhum ditangkap Polisi sehat wal afiat, tapi kembali sudah jadi mayat.
Itulah yang menjadi alasan kemarahan warga. Sebelumnya sentimen terhadap oknum Korps Bhayangkari hanya segelintir, kini menjalar ke mana-mana. Tak heran bila sejak almarhum meninggal Rabu (30/10) lalu, demonstrasi langsung meletus.
Terhitung empat hari berturut-turut, unjuk rasa berlangsung dialamatkan kepada Polisi. Aksi solidaritas juga dilakukan hingga melebar kesejumlah titik. Lihat saja, 20 titik lebih pembakaran ban di badan jalan diantaranya di Kelurahan Wajo, Lamangga, Wangkanapi, dan Bataraguru dilakukan sampai dini hari.
Dan kali ini, protes dilakukan dengan mencantumkan spanduk bertulis: Masyarakat Wajo Bukan Preman, dan Pengusutan Usut Tuntas Kasus Secara Transparan. Memang "episentrum" emosi ada di Wajo karena almarhum yang tercatat sebagai PNS di Dinas Tata Kota dan Bangunan itu punya banyak sanak keluarga disana.
Bicara soal almarhum, sebetulnya saya secara almamater punya hubungan, karena berasal dari satu sekolah yang sama, baik di SMP 2 (angkatan 1995) maupun SMA 1 Baubau, (angkatan 1998). Kendati bukan satu kelas, setahu saya pribadinya tergolong supel dan mudah bergaul. Kalau berbicara, senyum dan tawa selalu menghias di wajahnya.
Makanya ketika mendengar Lin -sapaan almarhum- meninggal setelah sebelumnya ditangkap Polisi, saya terkejut. Apalagi dia diamankan atas perintah langsung Kapolres.
Terkait Kapolres AKBP Joko Krisdiyanto sendiri, setahu saya, suksesor AKBP Sunarto ini baru sebulan lebih menjabat. Sebab, sekitar sepekan menjabat, tepatnya pada Kamis (26/9), dia dan Kasat Intel, AKP Suriadi sempat sowan ke Kantor Buton Pos. Ketika itu, saya dan Direktur Buton Pos, Ramli Akhmad menerima mereka seraya mengulik beberapa hal terkait penanganan Kamtibmas di Kota Baubau.
Kesan kami saat itu, positif. Sebagai salah satu anggota Muspida, Kapolres langsung menjalin mitra dengan media. Padahal baru beberapa hari menjabat kursi "01" di Polres.
Namun kini muncul tragedi Aslin Zalim. Kasus yang sudah terangkat hingga ke level nasional. Ditengah suasana Kapolri baru, Jenderal Sutarman yang berjanji memperbaiki kinerja internal.
Jangan heran jika Wakapolda Kombes Pol Alfons, dan beberapa perwira Polda Sultra lainnya turun tangan untuk menyelesaikan masalah. Hasilnya, 16 anggota Polres diperiksa di Propam Polda Sultra. Seolah ingin menunjukkan keseriusan, kemarin jasad korban digali untuk dilakukan autopsi.
Apakah babak baru pengusutan kasus kematian Aslin Zalim ini akan memberikan kepuasan publik atau sebaliknya? Semua tergantung kesimpulan pengusutan Polisi. Hukum harus ditegakkan, apalagi hal ini menimpa institusi penegak hukum. Yang salah harus dihukum setimpal sesuai dengan perbuatannya.
Alhasil, jadikan kasus ini sebagai sarana instrospeksi khususnya Polisi. Ibarat pepatah: gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, jangan sampai karena kesalahan oknum, korps yang dihakimi jelek.
Seraya berharap, tragedi yang menimpa almarhum merupakan kasus terakhir. Tidak ada lagi tragedi-tragedi selanjutnya.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Minggu, 03 November 2013
Hijrah dan Muhasabah
TAK terasa, kita kembali akan segera menyambut kedatangan tahun baru hijrah. Kita akan segera meninggalkan tahun 1434 H dan menyongsong tahun baru 1435 H. Setahun sudah waktu berlalu. Setahun sudah usia kita berkurang dibandingkan dengan setahun yang lalu.
Karena itu, tentu penting bagi kita untuk melakukan semacam ‘muhasabah tahunan’, selain melakukan muhasabah bulanan, mingguan, atau harian. Bahkan idealnya setiap saat kita perlu melakukan muhasabah, yakni melakukan semacam penenungan dan mengoreksi diri sendiri; sejauh mana kita telah melakukan ketaatan kepada Allah SWT dengan melakukan banyak amal shalih sekaligus meninggalkan dosa-dosa dan maksiat; atau sejauh mana kita telah mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Terkait dengan itu, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa memperhatikan dirinya dan beramal untuk kepentingan
setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (berjumpa) dengan Allah.” (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).
Menurut At-Tirmidzi, memperhatikan dirinya maknanya adalah menghisab dirinya (muhasabah) di dunia sebelum dihisab pada Hari Akhir nanti. Terkait dengan itu, Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat nanti) dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat nanti)…Sesungguhnya penghisaban yang ringan pada Hari Kiamat nanti hanya bagi orang-orang yang biasa menghisab dirinya di dunia. Menghisab diri adalah dengan selalu berikap wara’…” (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, I/104).
Menurut ‘Amir bin Abdillah bin ‘Abd Qays, sebagaimana dituturkan oleh Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya manusia yang tampak paling cemerlang keimanannya pada Hari Kiamat nanti adalah yang paling keras melakukan muhasabahnya saat di dunia.” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’, I/245).
Senada dengan itu, Maymun bin Mahran pernah berkata, “Seseorang tidak tergolong sebagai orang yang bertakwa hingga dia menghisab (mengoreksi) dirinya lebih kuat daripada menghisab (mengoreksi) kawannya hingga ia tahu darimana asal makanannya, dari mana asal pakaiannya dan dari mana asal minumannya; apakah berasal dari yang halal atau yang haram?” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/458).
Harits bin Asad al-Muhasibi juga pernah menyatakan, “Pangkal ketaatan adalah sikap wara’. Pangkal sikap
wara’ adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhasabah diri.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, IV/282).
Hasan al-Bshri juga pernah menyatakan, “Sesungguhnya seorang Mukmin yang menjaga dirinya sendiri akan selalu melakukan muhasabah karena Allah SWT. Sungguh akan terasa ringan penghisaban Allah SWT atas suatu kaum yang biasa menghisab diri mereka saat di dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah I/356).
Dengan sering melakukan muhasabah diri seorang Muslim tentu akan mengetahui sejauh mana kadar ketataannya kepada Allah SWT. Saat dirinya merasa kurang taat atau masih jauh dari ketaatan kepada Allah SWT, sejatinya ia akan terdorong untuk terus berusaha keras meningkatkan ketaatannya itu. Ia akan selalu berusaha menjalankan setiap kewajibannya, baik yang terkait dengan fardhu ‘ain (seperti shalat, shaum, zakat dan haji, menutup aurat, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, mencari rezeki yang halal, melakukan dakwah fardiyah dan amar makruf nahi mungkar, dll) maupun fardhu kifayah (seperti berdakwah secara berjamaah); juga melakukan banyak amalan sunnah (seperti banyak melakukan shalat malam/tahajud, shalat dhuha dan shalat-shalat nafilah; banyak membaca Alquran dan berzikir; banyak bersedekah dan berinfak di jalan Allah SWT, dll).
Dengan muhasabah diri seorang Muslim tentu juga akan menyadari dosa-dosanya. Saat ia menyadari betapa banyak dosa-dosanya yang telah dia perbuat kepada Allah SWT, ia akan terdorong untuk segera bertobat kepada Allah SWT dengan cara banyak ber-istighfar (memohon ampunan-Nya), menyesal sedalam-dalamnya atas dosa-dosanya yang telah lalu sekaligus bertekad sekuat tenaga untuk meninggalkan dosa-dosa yang pernah ia lakukan itu.
Demikianlah, seorang Muslim sejatinya lebih banyak mengoreksi kesalahan diri sendiri daripada mengoreksi
kesalahan-kesalahan orang lain. Mengoreksi kesalahan orang lain—termasuk penguasa sekalipun—tentu penting karena termasuk ke dalam bagian amar makruf nahi mungkar yang memang telah Allah SWT wajibkan. Namun, mengoreksi kesalahan diri sendiri juga penting karena dengan itulah kita akan selalu berusaha meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT sekaligus berusaha menjauhi dosa dan maksiat kepada-Nya. Itulah takwa dan itulah satu-satunya bekal saat kita menghadap Allah SWT pada Hari Kiamat nanti.
Wama tawfiqi illa bilLah. [follow twitter: @irwansyahamunu]
Karena itu, tentu penting bagi kita untuk melakukan semacam ‘muhasabah tahunan’, selain melakukan muhasabah bulanan, mingguan, atau harian. Bahkan idealnya setiap saat kita perlu melakukan muhasabah, yakni melakukan semacam penenungan dan mengoreksi diri sendiri; sejauh mana kita telah melakukan ketaatan kepada Allah SWT dengan melakukan banyak amal shalih sekaligus meninggalkan dosa-dosa dan maksiat; atau sejauh mana kita telah mempersiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Terkait dengan itu, Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa memperhatikan dirinya dan beramal untuk kepentingan
setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (berjumpa) dengan Allah.” (HR at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah).
Menurut At-Tirmidzi, memperhatikan dirinya maknanya adalah menghisab dirinya (muhasabah) di dunia sebelum dihisab pada Hari Akhir nanti. Terkait dengan itu, Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat nanti) dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di akhirat nanti)…Sesungguhnya penghisaban yang ringan pada Hari Kiamat nanti hanya bagi orang-orang yang biasa menghisab dirinya di dunia. Menghisab diri adalah dengan selalu berikap wara’…” (Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub, I/104).
Menurut ‘Amir bin Abdillah bin ‘Abd Qays, sebagaimana dituturkan oleh Hasan al-Bashri, “Sesungguhnya manusia yang tampak paling cemerlang keimanannya pada Hari Kiamat nanti adalah yang paling keras melakukan muhasabahnya saat di dunia.” (Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’, I/245).
Senada dengan itu, Maymun bin Mahran pernah berkata, “Seseorang tidak tergolong sebagai orang yang bertakwa hingga dia menghisab (mengoreksi) dirinya lebih kuat daripada menghisab (mengoreksi) kawannya hingga ia tahu darimana asal makanannya, dari mana asal pakaiannya dan dari mana asal minumannya; apakah berasal dari yang halal atau yang haram?” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/458).
Harits bin Asad al-Muhasibi juga pernah menyatakan, “Pangkal ketaatan adalah sikap wara’. Pangkal sikap
wara’ adalah takwa. Pangkal takwa adalah muhasabah diri.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, IV/282).
Hasan al-Bshri juga pernah menyatakan, “Sesungguhnya seorang Mukmin yang menjaga dirinya sendiri akan selalu melakukan muhasabah karena Allah SWT. Sungguh akan terasa ringan penghisaban Allah SWT atas suatu kaum yang biasa menghisab diri mereka saat di dunia.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah I/356).
Dengan sering melakukan muhasabah diri seorang Muslim tentu akan mengetahui sejauh mana kadar ketataannya kepada Allah SWT. Saat dirinya merasa kurang taat atau masih jauh dari ketaatan kepada Allah SWT, sejatinya ia akan terdorong untuk terus berusaha keras meningkatkan ketaatannya itu. Ia akan selalu berusaha menjalankan setiap kewajibannya, baik yang terkait dengan fardhu ‘ain (seperti shalat, shaum, zakat dan haji, menutup aurat, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, mencari rezeki yang halal, melakukan dakwah fardiyah dan amar makruf nahi mungkar, dll) maupun fardhu kifayah (seperti berdakwah secara berjamaah); juga melakukan banyak amalan sunnah (seperti banyak melakukan shalat malam/tahajud, shalat dhuha dan shalat-shalat nafilah; banyak membaca Alquran dan berzikir; banyak bersedekah dan berinfak di jalan Allah SWT, dll).
Dengan muhasabah diri seorang Muslim tentu juga akan menyadari dosa-dosanya. Saat ia menyadari betapa banyak dosa-dosanya yang telah dia perbuat kepada Allah SWT, ia akan terdorong untuk segera bertobat kepada Allah SWT dengan cara banyak ber-istighfar (memohon ampunan-Nya), menyesal sedalam-dalamnya atas dosa-dosanya yang telah lalu sekaligus bertekad sekuat tenaga untuk meninggalkan dosa-dosa yang pernah ia lakukan itu.
Demikianlah, seorang Muslim sejatinya lebih banyak mengoreksi kesalahan diri sendiri daripada mengoreksi
kesalahan-kesalahan orang lain. Mengoreksi kesalahan orang lain—termasuk penguasa sekalipun—tentu penting karena termasuk ke dalam bagian amar makruf nahi mungkar yang memang telah Allah SWT wajibkan. Namun, mengoreksi kesalahan diri sendiri juga penting karena dengan itulah kita akan selalu berusaha meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT sekaligus berusaha menjauhi dosa dan maksiat kepada-Nya. Itulah takwa dan itulah satu-satunya bekal saat kita menghadap Allah SWT pada Hari Kiamat nanti.
Wama tawfiqi illa bilLah. [follow twitter: @irwansyahamunu]
Minggu, 27 Oktober 2013
KASTA EMAS HITAM
BUPATI Buton Umar Samiun kembali membuat gebrakan. Kali ini suksesor Sjafei Kahar ini melakukan launching dan uji gelar aspal Buton. Targetnya, supaya aspal atau emas hitam Buton bisa lebih dikenal di nasional bahkan mancanegara.
Bukan hanya dikenal, tapi juga dibeli. Sebab dalam uji gelar yang dilakukan di Pasarwajo, akhir pekan lalu, hendak dibuktikan aspal Buton kualitasnya tidak jauh bahkan lebih baik dari aspal hotmix.
Dengan demikian, kasta emas hitam akan naik. Pada akhirnya, akan mengatrol pula kesejahteraan rakyat. Apalagi, sejak awal menjabat Umar Samiun sudak memproklamirkan untuk menaikkan PAD Buton yang hanya puluhan miliar menjadi Rp 200 miliar. Suatu cita-cita selangit, yang pencapaiannya secara matematis menurut Umar bisa diraih.
Nah, salah satu jalannya melalui jualan aspal. Konsumennya sampai ke luar negeri, karena dalam uji gelar hadir pula sejumlah investor China, dan Malaysia.
Memang, bicara soal aspal, seolah langsung menyentuh alam bawah sadar kita. Betapa tidak, aspal selama ini dikenal sebagai sumber daya alam kebangaan yang depositnya langka dan hanya terdapat di Buton, belum bisa secara signifikan mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan rakyat. Padahal cadangannya di perut bumi Buton sampai 677 juta ton.
Bukan hanya itu, ironi lainnya, Buton pemilik aspal, tapi jalannya masih banyak yang belum teraspal. Maka itu, ironi yang selama ini sudah menjadi mimpi buruk tersebut hendak dirubah. Caranya, dengan terobosan yang dilakukan Umar Samiun kali ini.
Apakah target tersebut bisa dicapai? Semuanya tergantung dari hasil uji gelar tersebut. Yang jelas, dalam dunia bisnis, berlaku hukum ekonomi, konsumen akan membeli produk murah namun kualitas tinggi.
Dua hal itu sudah mampu dibuktikan, mutunya setara bahkan lebih baik dari hotmix. Dari segi harga, Aspal Buton seharga Rp 800 juta per kilometer sedangkan aspal hotmix Rp 1,4 miliar, berarti bisa menghemat anggaran.
Harapan kita, launching dan uji gelar aspal tersebut bisa berbuah manis. Indikatornya, bisa dilihat dari peningkatan penjualan aspal Buton. Ukuran praktisnya tentu diukur dari peningkatan PAD, yang muaranya pada kesejahteraan rakyat.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Bukan hanya dikenal, tapi juga dibeli. Sebab dalam uji gelar yang dilakukan di Pasarwajo, akhir pekan lalu, hendak dibuktikan aspal Buton kualitasnya tidak jauh bahkan lebih baik dari aspal hotmix.
Dengan demikian, kasta emas hitam akan naik. Pada akhirnya, akan mengatrol pula kesejahteraan rakyat. Apalagi, sejak awal menjabat Umar Samiun sudak memproklamirkan untuk menaikkan PAD Buton yang hanya puluhan miliar menjadi Rp 200 miliar. Suatu cita-cita selangit, yang pencapaiannya secara matematis menurut Umar bisa diraih.
Nah, salah satu jalannya melalui jualan aspal. Konsumennya sampai ke luar negeri, karena dalam uji gelar hadir pula sejumlah investor China, dan Malaysia.
Memang, bicara soal aspal, seolah langsung menyentuh alam bawah sadar kita. Betapa tidak, aspal selama ini dikenal sebagai sumber daya alam kebangaan yang depositnya langka dan hanya terdapat di Buton, belum bisa secara signifikan mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan rakyat. Padahal cadangannya di perut bumi Buton sampai 677 juta ton.
Bukan hanya itu, ironi lainnya, Buton pemilik aspal, tapi jalannya masih banyak yang belum teraspal. Maka itu, ironi yang selama ini sudah menjadi mimpi buruk tersebut hendak dirubah. Caranya, dengan terobosan yang dilakukan Umar Samiun kali ini.
Apakah target tersebut bisa dicapai? Semuanya tergantung dari hasil uji gelar tersebut. Yang jelas, dalam dunia bisnis, berlaku hukum ekonomi, konsumen akan membeli produk murah namun kualitas tinggi.
Dua hal itu sudah mampu dibuktikan, mutunya setara bahkan lebih baik dari hotmix. Dari segi harga, Aspal Buton seharga Rp 800 juta per kilometer sedangkan aspal hotmix Rp 1,4 miliar, berarti bisa menghemat anggaran.
Harapan kita, launching dan uji gelar aspal tersebut bisa berbuah manis. Indikatornya, bisa dilihat dari peningkatan penjualan aspal Buton. Ukuran praktisnya tentu diukur dari peningkatan PAD, yang muaranya pada kesejahteraan rakyat.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Jumat, 25 Oktober 2013
KOREA DI BAUBAU (2)
Berita terkait kerjasama Baubau-Korea masih dimuat di Jawa Pos dan JPNN, lihat disitus ini:
http://www.jpnn.com/read/2013/10/24/197260/Bentuk-Huruf-Lucu,-Siswa-pun-Senang-Mempelajari-
http://www.jpnn.com/read/2013/10/24/197260/Bentuk-Huruf-Lucu,-Siswa-pun-Senang-Mempelajari-
Langganan:
Postingan (Atom)