Catatan: Irwansyah Amunu
PENJELASAN Rizal Ramli saat pemaparan begitu cair. Apalagi pada sesi tanya jawab, uraiannya lebih detil lagi. Seolah waktu yang berlalu dua jam lebih terasa singkat.
Menjawab pertanyaan pertama, kenapa Indonesia mem-bailout Bank Century, Rizal menduga tujuan bailout Bank Century hanya untuk pendanaan kampanye pada Pemilu tahun 2009. Soalnya terdapat sejumlah kejanggalan, antara lain penggelontoran dana sebesar Rp 6,7 triliun tidak dilakukan sekaligus, tapi bertahap selama setahun.
Menurutnya, kalau memang ingin menyelamatkan bank, harusnya dicairkan sekaligus, tapi faktanya kebalikannya. Kemudian, bila mau menyehatkan Bank Century, mestinya yang dibayarkan dananya deposan (nasabah deposito) terbesar di Bank Century, yakni Boedi Sampoerna sebesar Rp 1,5 triliun, bukan Rp 6,7 triliun.
Digunakan dana sebesar Rp 6,7 triliun, kata Rizal karena setelah ditelusuri, rupanya Bank Century tidak memiliki aset. Ibaratnya franchise, buka cabang dimana-mana, tapi seluruh gedungnya disewa, bukan itu saja hingga komputer, meja, dan kursi yang digunakan, dirental. Makanya, ketika hendak diselamatkan, pemerintah harus menanggung seluruh biaya tersebut.
Yang membuat Rizal Ramli tidak habis pikir, mengapa pemerintah mempercayai pemilik Bank Century, Robert Tantular. Sementara bapak Robert Tantular bernama Hashim Tantular (Tan Tiong Sim) juga punya raport merah dalam mengelola bank yang dibuka di Makassar, karena banknya juga tutup.
Lantas mengapa harus Bank Century? Rizal menjelaskan karena saat itu yang dicari hanya "ember bocor" untuk menampung dana tersebut, dan Century siap. Sebab, sebelumnya yang dilirik Boediono adalah Bank Indover.
Dia lantas menceritakan kisah menarik soal percobaan perampokan Bank Indover oleh Wakil Presiden Boediono ketika menjabat Gubernur Bank Indonesia. Boediono pernah diancam Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat itu, Antasari Azhar. Kejadian ini terjadi sekitar dua pekan sebelum bailout Bank Century.
Menurut Rizal, saat menjabat sebagai Gubernur BI tahun 2008, Boediono pernah meminta izin kepada DPR dan KPK untuk mem-bailout Bank Indover. Bahkan Boediono juga telah mempresentasikan ke DPR soal dampak ekonomi yang bisa melanda Indonesia jika Bank Indover tidak disuntik dana Rp 5 triliun.
Nah, setelah melakukan presentasi di DPR, lanjut Rizal, Boediono menemui Ketua KPK saat itu, Antasari Azhar untuk menggolkan niatnya mem-bailout Bank Indover. Sayangnya, rencana itu ditolak mentah-mentah Antasari. Sebaliknya yang terjadi, Antasari mengancam akan menangkap Boediono jika BI benar-benar mem-bailout Indover.
Boediono lupa kalau Antasari mantan asisten Jaksa Agung Marzuki Darusman, waktu itu Indover bermasalah, dan Marzuki pergi ke Belanda untuk cek, aspek kriminal. Faktanya, lanjut Rizal, cerita Boediono soal bahaya seandainya Bank Indover kolaps tak sejalan dengan pernyataan gubernur bank Belanda, karena pemerintah Belanda sudah menangani permasalahan Bank Indover dan dipastikan kalaupun bank itu kolaps, tidak akan berdampak pada Indonesia. Gubernur Central Bank Belanda bilang tidak ada apa-apanya karena ini sudah dijamin.
Nah, di balik cerita ini, tegas Rizal Ramli, maka ide mem-bailout Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun hanya kebohongan saja, karena Boediono saat itu pernah gagal merampok Bank Indover.
Terkait ketergantungan Indonesia terhadap asing juga dikritik Rizal Ramli. Sebaliknya, pria berambut ikal ini mengaku pernah mempertemukan Presiden SBY dengan ahli ekonomi dunia, peraih Nobel, Stiglitz. Kebetulan saat itu sedang dilakukan pembahasan UU Investasi di DPR, Stiglitz menyarankan agar Indonesia jangan memasukkan pasal terkait sengketa dengan perusahaan asing dibawa ke arbitrasi internasional. Sebab berdasarkan fakta, selama ini bila negara miskin dan berkembang membawa masalah investasi dengan perusahaan asing ke arbitrasi internasional, sekitar 99,9 persen dimenangkan perusahaan asing.
Hasil pertemuan tersebut, kata Rizal, SBY sepakat dengan saran itu. Namun anehnya ketika UU Investasi disahkan dewan, pasal tersebut masih ada.
Salah satu cara penyelamatan ekonomi Indonesia, menurutnya aset sekitar 180 BUMN seluruhnya dievaluasi. Setelah direvaluasi, hal tersebut bisa menguntungkan nilai aset perusahaan pelat merah tersebut. Ini sangat membantu ekonomi Indonesia utamanya dalam mengerakkan sektor ril.
Hal lain, Rizal menunjuk APBN Indonesia senilai Rp 1800 triliun selama ini tidak begitu dirasakan rakyat. Pasalnya, setengahnya digunakan untuk bayar utang, sepertiganya untuk anggaran rutin, dan Rp 400 triliun untuk modal. Anggaran modal ini digunakan untuk bangun infrastruktur dan beli mobil. Padahal, biaya pemeliharaan satu mobil selama lima tahun sama dengan harga satu mobil.
Menurutnya, pemerintah lebih baik rental mobil dan sewa gedung dari pada beli, karena lebih efisien. Efisiensi dana tersebut selama lima tahun digunakan untuk membangun rel kereta api di Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan. Anggarannya bisa terkumpul sebanyak USD 20 miliar, tuntas menyelesaiakan pembangunan rel kereta api di Indonesia.
Transportasi massal tersebut juga digunakan untuk mengangkut komuditas pertanian dan pertambangan. Dengan demikian bisa memberikan nilai tambah langsung bagi seluruh rakyat. Bisa lihat contoh seluruh negara Eropa, bahkan China membangun rel kereta api untuk memperkuat ekonominya. Jadi, kalau ingin menjadi negara maju harus membangun sarana transportasi itu bukan hanya di Jakarta, taapi di seluruh Indonesia.
Dia menyebut fakta, dengan mengandalkan moda transportasi saat ini, biaya untuk mengangkut satu tandan kelapa sawit misalnya, sama dengan satu tandan kelapa sawit (rasio 1:1). Tapi bila menggunakan kereta api, rasionya 20 tandan kelapa sawit, harga angkutanya hanya satu tandan.
Maka itu, jangan heran, saat ini batu bara kita di Kalimantan masih diangkut menggunakan kapal, karena kita belum memiliki rel kereta api di sana. Menurutnya, hal itu adalah cara primitif.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Rabu, 08 Januari 2014
Selasa, 07 Januari 2014
Optimisme 2014 dari Batam (5): Beda Reaksi, Beda Dampak
Catatan: Irwansyah Amunu
BILA Indonesia hingga kini masih harus menanggung dampak krisis 1998, menurut mantan Menko Ekuin Rizal Ramli, hal itu disebabkan kita sepenuhnya menggunakan resep IMF untuk melakukan penyelamatan ekonomi. Padahal, lembaga donor internasional tersebut punya banyak pengalaman buruk dalam menangani kondisi ekonomi sejumlah negara lainnya di dunia. Bukannya mengeluarkan dari masalah, malah sebaliknya kondisi ekonominya semakin terpuruk.
Maka itu, dia mencontohkan tiga negara yang mengalami krisis, melakukan reaksi yang berbeda, maka dampaknya pun beda. Pertama, Korea, begitu menderita krisis, Gubernur Sentral Bank Korea melakukan restrukturisasi utang swasta. Inilah yang membuah negeri ginseng cepat keluar dari krisis.
Kedua, Malaysia, mantan Perdana Menteri (PM) Mahatir Muhammad saat itu membuat kebijakan ekonomi agar uang dari luar negeri yang sudah masuk tidak boleh keluar, kecuali setelah kondisi ekonomi stabil. Kebijakan tersebut awalnya menuai hujan kritik, di dalam dan luar negeri. Bahkan dia harus berhadapan dengan Wakil PM Anwar Ibrahim yang kala itu lebih tertarik dengan cara IMF.
Di tengah cacian luar negeri, plus kondisi dalam negeri yang bergejolak karena Anwar Ibrahim terkena kasus, namun setelah berjalan satu sampai dua tahun kondisi ekonomi negeri jiran tersebut kembali stabil. Ringgit normal kembali. Akhirnya yang tadinya Mahatir dicaci, berubah dipuji.
Ketiga, Indonesia, menggunakan cara IMF. Padahal Rizal Ramli sudah mengingatkan IMF bukan dewa penyelamat tapi dewa amputasi yang bikin kolaps. Terbukti, ketika resep IMF yang digunakan dengan menutup 16 bank, rakyat tidak percaya dengan bank. Nasabah rame-rame menarik dananya di bank, akhirnya terjadi rush.
Dampaknya, harga barang naik sampai 80 persen, banyak pengusaha bangkrut, dan pengangguran meningkat 40 juta orang. Setelah itu demo meletus di Makassar, menyusul Medan, dan menjalar hingga ke seluruh kota di Indonesia. Puncaknya, Presiden Soeharto tumbang.
Ironisnya, saat kondisi ekonomi Indonesia sakit, Surat Utang Negara (SUN) nilainya terjun bebas, dari Rp 10 juta menjadi 10 sen, IMF melakukan pembelian. Setelah keadaan mulai membaik, nailainya naik lagi, lantas dijual kembali ke pemerintah. Jadi, IMF untung lagi. Gambarannya penyelamatan yang dilakukan IMF uangnya tidak keluar, tapi ibaratnya hanya berpindah dari kantung kiri ke kantung kanan.
Rizal yang menjabat Menko Ekuin pada masa Presiden Gus Dur ini mengaku pernah didatangi pejabat IMF untuk menyetujui 160 poin kesepakatan antara RI dengan IMF. Dari sebanyak itu, yang disetujuinya hanya 60 poin, selebihnya dicoret. Ironisnya, ketika Boediono menggantikan posisinya, seluruh poin yang pernah dicoretnya, diterima. Akibatnya kondisi ekonomi Indonesia semakin terpuruk.
Mengakhiri pemaparannya, pria berkacamata tersebut menyatakan saat ini kondisi ekonomi Indonesia sedang berada pada "lampu kuning" karena menderita quatro-deficits, bila dikelola tidak tepat bisa jadi bakal berubah menjadi "lampu merah". Namun demikian dia mengingatkan, jangan anggap krisis sebagai ancaman, tapi gunakan sebagai peluang.
Ia juga berpesan, yang bisa menyelamatkan bangsa kita, hanya bangsa kita sendiri.(follow twitter: @irwansyahamunu)
BILA Indonesia hingga kini masih harus menanggung dampak krisis 1998, menurut mantan Menko Ekuin Rizal Ramli, hal itu disebabkan kita sepenuhnya menggunakan resep IMF untuk melakukan penyelamatan ekonomi. Padahal, lembaga donor internasional tersebut punya banyak pengalaman buruk dalam menangani kondisi ekonomi sejumlah negara lainnya di dunia. Bukannya mengeluarkan dari masalah, malah sebaliknya kondisi ekonominya semakin terpuruk.
Maka itu, dia mencontohkan tiga negara yang mengalami krisis, melakukan reaksi yang berbeda, maka dampaknya pun beda. Pertama, Korea, begitu menderita krisis, Gubernur Sentral Bank Korea melakukan restrukturisasi utang swasta. Inilah yang membuah negeri ginseng cepat keluar dari krisis.
Kedua, Malaysia, mantan Perdana Menteri (PM) Mahatir Muhammad saat itu membuat kebijakan ekonomi agar uang dari luar negeri yang sudah masuk tidak boleh keluar, kecuali setelah kondisi ekonomi stabil. Kebijakan tersebut awalnya menuai hujan kritik, di dalam dan luar negeri. Bahkan dia harus berhadapan dengan Wakil PM Anwar Ibrahim yang kala itu lebih tertarik dengan cara IMF.
Di tengah cacian luar negeri, plus kondisi dalam negeri yang bergejolak karena Anwar Ibrahim terkena kasus, namun setelah berjalan satu sampai dua tahun kondisi ekonomi negeri jiran tersebut kembali stabil. Ringgit normal kembali. Akhirnya yang tadinya Mahatir dicaci, berubah dipuji.
Ketiga, Indonesia, menggunakan cara IMF. Padahal Rizal Ramli sudah mengingatkan IMF bukan dewa penyelamat tapi dewa amputasi yang bikin kolaps. Terbukti, ketika resep IMF yang digunakan dengan menutup 16 bank, rakyat tidak percaya dengan bank. Nasabah rame-rame menarik dananya di bank, akhirnya terjadi rush.
Dampaknya, harga barang naik sampai 80 persen, banyak pengusaha bangkrut, dan pengangguran meningkat 40 juta orang. Setelah itu demo meletus di Makassar, menyusul Medan, dan menjalar hingga ke seluruh kota di Indonesia. Puncaknya, Presiden Soeharto tumbang.
Ironisnya, saat kondisi ekonomi Indonesia sakit, Surat Utang Negara (SUN) nilainya terjun bebas, dari Rp 10 juta menjadi 10 sen, IMF melakukan pembelian. Setelah keadaan mulai membaik, nailainya naik lagi, lantas dijual kembali ke pemerintah. Jadi, IMF untung lagi. Gambarannya penyelamatan yang dilakukan IMF uangnya tidak keluar, tapi ibaratnya hanya berpindah dari kantung kiri ke kantung kanan.
Rizal yang menjabat Menko Ekuin pada masa Presiden Gus Dur ini mengaku pernah didatangi pejabat IMF untuk menyetujui 160 poin kesepakatan antara RI dengan IMF. Dari sebanyak itu, yang disetujuinya hanya 60 poin, selebihnya dicoret. Ironisnya, ketika Boediono menggantikan posisinya, seluruh poin yang pernah dicoretnya, diterima. Akibatnya kondisi ekonomi Indonesia semakin terpuruk.
Mengakhiri pemaparannya, pria berkacamata tersebut menyatakan saat ini kondisi ekonomi Indonesia sedang berada pada "lampu kuning" karena menderita quatro-deficits, bila dikelola tidak tepat bisa jadi bakal berubah menjadi "lampu merah". Namun demikian dia mengingatkan, jangan anggap krisis sebagai ancaman, tapi gunakan sebagai peluang.
Ia juga berpesan, yang bisa menyelamatkan bangsa kita, hanya bangsa kita sendiri.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Senin, 06 Januari 2014
Optimisme 2014 dari Batam (4): Berpikir Out of the Box
Catatan: Irwansyah Amunu
MODAL berharga yang saya petik selama Raker di Batam adalah perubahan cara berpikir. Tidak tanggung-tanggung, untuk sampai ke tingkatan itu, Rizal Ramli, mantan Menko Ekuin di era Presiden Gus Dur yang langsung memberi makan otak kita dengan materi berjudul Prospek Indonesia di tahun 2014.
Rizal membuka percakapan dengan menyatakan dalam dunia media, suatu program acara, semakin berani, semakin beresiko, maka ratingnya semakin tinggi. Karena itu, kunci sukses media di tahun 2014 adalah berani mengambil resiko, berani bertindak, dan berani berpikir out of the box. Menurutnya, orang yang berpikir un-conventional adalah yang mampu merubah dunia.
Sebagai contoh, Thomas Alfa Edison, mulanya disebut sebagai orang gila karena mengumpulkan cahaya di dalam bola lampu. Namun setelah percobannya sukses, penemuan tersebut digunakan banyak orang. Begitu pula dengan Graham Bell, yang membuat orang bercakap-cakap dihubungkan dengan kawat sepanjang 30 meter. Awalnya dinilai gila, namun kini temuannya berkembang secara revolusioner hingga berevolusi menjadi handphone.
Dari pengalaman itu, hanya kerja keras yang bisa merubah dunia. Yang paling penting lagi, bila kita berpikir biasa-biasa saja, maka fakta disekitar kita dianggap sebagai hal yang normal sehingga kita berpangku tangan. Namun bila menggunakan cara berpikir out of konteks, maka kita menganggap di sekeliling kita harus dirubah, dengan demikian akan melahirkan sesuatu yang luar biasa.
Nah, bicara soal berpikir diluar konteks, Rizal bercerita tentang pengalamannya ketika krisis tahun 1997 silam. Diakui, sebelumnya pada November 1996 ia sudah meramal bakal terjadi bencana ekonomi. Dia menyebut ekonomi Indonesia sedang dipayungi mendung. Tulisannya itu dimuat disejumlah koran nasional terkemuka.
Padahal, saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang tinggi-tingginya. Karenanya, prediksinya tersebut dianggap mustahil. Salah satunya Ciputra, seorang konglomerat kakap. Ia tak menghiraukan prediksi Rizal, lantas mengambil kredit dalam jumlah besar dibidang perumahan. Taipan lainnya Mochtar Riady, pemilik Lippo ini mendengarkan saran Rizal Ramli.
Beberapa waktu berselang perkiraan Rizal menjadi kenyataan. Terjadi guncangan ekonomi Indonesia, akibatnya bisnis Ciputra dibidang real estate rontok. Syukurnya dia telah membeli tanah di Vietnam dengan harga murah, setelah rezim komunis tumbang harga tanahnya naik. Itulah yang digunakannya untuk membeli kembali asetnya pada masa krisis yang disita perbankan. Lain cerita dengan Mochtar Riady, karena dia menerima resep Rizal, bisnisnya relatif aman.
Hebatnya krisis tersebut, bukan hanya konglomerat yang rontok, tapi juga Presiden Soeharto yang berkuasa sekitar 32 tahun tumbang.
Demikian penjelasannya soal sejarah krisis ekonomi yang terjadi pada masa orde baru. Saat ini, Rizal menjelaskan, status ekonomi Indonesia berada pada kondisi "lampu kuning". Salah satu indikator yang jelas kelihatan, melemahnya rupiah terhadap dolar hingga Rp 12 ribu, bahkan bisa jadi menembus angka Rp 16 ribu per dolar.
Di matanya, pada akhir pemerintahannya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan meninggalkan warisan "bom waktu" berupa quatro-deficits. Jika tidak segera diatasi, tidak mustahil akan membawa Indonesia ke dalam jurang krisis seperti pada 1998 silam.
Quatro-deficits sekaligus, pertama, Defisit Neraca Perdagangan sebesar -U$6 miliar; kedua, defisit Neraca Pembayaran -U$9,8 miliar; ketiga, deficit Balance Of Payments -U$6,6 miliar pada Q1-2013; dan keempat, defisit APBN plus utang lebih dari Rp 2.100 triliun.
Dia membeberkan, akibat quatro defisit itu, 10 grup perusahaan sudah mulai rontok, sementara pada 1998, yang kolaps sampai 200 grup.
Yang menarik, tahun 1998 saat krisis, ketika dia berkunjung ke pedalaman Sulawesi dia menemukan salah satu daerah masyarakatnya belum tersentuh listrik. Mereka tiba-tiba kaya mendadak karena kenaikan beberharga komuditas pertanian, dan kelautan disebabkan kenaikan harga dolar. Mereka rame-rame beli kulkas, tapi sebel karena listrik tidak ada, akhirnya kulkasnya digunakan untuk menyimpan baju.
Jadi, apa pun situasinya, kalau kita berpikir terobosan, out of the box, maka krisis adalah opportunity (peluang).(follow twitter: @irwansyahamunu)
MODAL berharga yang saya petik selama Raker di Batam adalah perubahan cara berpikir. Tidak tanggung-tanggung, untuk sampai ke tingkatan itu, Rizal Ramli, mantan Menko Ekuin di era Presiden Gus Dur yang langsung memberi makan otak kita dengan materi berjudul Prospek Indonesia di tahun 2014.
Rizal membuka percakapan dengan menyatakan dalam dunia media, suatu program acara, semakin berani, semakin beresiko, maka ratingnya semakin tinggi. Karena itu, kunci sukses media di tahun 2014 adalah berani mengambil resiko, berani bertindak, dan berani berpikir out of the box. Menurutnya, orang yang berpikir un-conventional adalah yang mampu merubah dunia.
Sebagai contoh, Thomas Alfa Edison, mulanya disebut sebagai orang gila karena mengumpulkan cahaya di dalam bola lampu. Namun setelah percobannya sukses, penemuan tersebut digunakan banyak orang. Begitu pula dengan Graham Bell, yang membuat orang bercakap-cakap dihubungkan dengan kawat sepanjang 30 meter. Awalnya dinilai gila, namun kini temuannya berkembang secara revolusioner hingga berevolusi menjadi handphone.
Dari pengalaman itu, hanya kerja keras yang bisa merubah dunia. Yang paling penting lagi, bila kita berpikir biasa-biasa saja, maka fakta disekitar kita dianggap sebagai hal yang normal sehingga kita berpangku tangan. Namun bila menggunakan cara berpikir out of konteks, maka kita menganggap di sekeliling kita harus dirubah, dengan demikian akan melahirkan sesuatu yang luar biasa.
Nah, bicara soal berpikir diluar konteks, Rizal bercerita tentang pengalamannya ketika krisis tahun 1997 silam. Diakui, sebelumnya pada November 1996 ia sudah meramal bakal terjadi bencana ekonomi. Dia menyebut ekonomi Indonesia sedang dipayungi mendung. Tulisannya itu dimuat disejumlah koran nasional terkemuka.
Padahal, saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang tinggi-tingginya. Karenanya, prediksinya tersebut dianggap mustahil. Salah satunya Ciputra, seorang konglomerat kakap. Ia tak menghiraukan prediksi Rizal, lantas mengambil kredit dalam jumlah besar dibidang perumahan. Taipan lainnya Mochtar Riady, pemilik Lippo ini mendengarkan saran Rizal Ramli.
Beberapa waktu berselang perkiraan Rizal menjadi kenyataan. Terjadi guncangan ekonomi Indonesia, akibatnya bisnis Ciputra dibidang real estate rontok. Syukurnya dia telah membeli tanah di Vietnam dengan harga murah, setelah rezim komunis tumbang harga tanahnya naik. Itulah yang digunakannya untuk membeli kembali asetnya pada masa krisis yang disita perbankan. Lain cerita dengan Mochtar Riady, karena dia menerima resep Rizal, bisnisnya relatif aman.
Hebatnya krisis tersebut, bukan hanya konglomerat yang rontok, tapi juga Presiden Soeharto yang berkuasa sekitar 32 tahun tumbang.
Demikian penjelasannya soal sejarah krisis ekonomi yang terjadi pada masa orde baru. Saat ini, Rizal menjelaskan, status ekonomi Indonesia berada pada kondisi "lampu kuning". Salah satu indikator yang jelas kelihatan, melemahnya rupiah terhadap dolar hingga Rp 12 ribu, bahkan bisa jadi menembus angka Rp 16 ribu per dolar.
Di matanya, pada akhir pemerintahannya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan meninggalkan warisan "bom waktu" berupa quatro-deficits. Jika tidak segera diatasi, tidak mustahil akan membawa Indonesia ke dalam jurang krisis seperti pada 1998 silam.
Quatro-deficits sekaligus, pertama, Defisit Neraca Perdagangan sebesar -U$6 miliar; kedua, defisit Neraca Pembayaran -U$9,8 miliar; ketiga, deficit Balance Of Payments -U$6,6 miliar pada Q1-2013; dan keempat, defisit APBN plus utang lebih dari Rp 2.100 triliun.
Dia membeberkan, akibat quatro defisit itu, 10 grup perusahaan sudah mulai rontok, sementara pada 1998, yang kolaps sampai 200 grup.
Yang menarik, tahun 1998 saat krisis, ketika dia berkunjung ke pedalaman Sulawesi dia menemukan salah satu daerah masyarakatnya belum tersentuh listrik. Mereka tiba-tiba kaya mendadak karena kenaikan beberharga komuditas pertanian, dan kelautan disebabkan kenaikan harga dolar. Mereka rame-rame beli kulkas, tapi sebel karena listrik tidak ada, akhirnya kulkasnya digunakan untuk menyimpan baju.
Jadi, apa pun situasinya, kalau kita berpikir terobosan, out of the box, maka krisis adalah opportunity (peluang).(follow twitter: @irwansyahamunu)
Sindrom Jumat Keramat
JUMAT (3/1) lalu tampaknya merupakan hari keramat bagi sejumlah pejabat di Polda Sultra, Kota Baubau, dan Kabupaten Buton.
Betapa tidak, pada hari yang sama, tiga institusi tersebut melakukan mutasi sejumlah pejabatnya. Kalau di Buton mungkin tidak terlalu menjadi sorotan publik karena mutasi dilakukan sekadar perubahan nomenklatur instansi SKPD. Kemudian seperti biasa, sejumlah pejabatnya migrasi ke Baubau.
Namun, tidak demikian dengan pelantikan di Polda dan Pemkot Baubau. Entah terbawa dengan sindrom di Baubau, yang jelas Kapolresnya sejak Jumat telah berganti. AKBP Joko Krisdianto SIK, dicopot dari jabatannya digantikan AKBP Eko Wahyuniawan. Pencopotan Joko sejalan dengan keinginan sejumlah masyarakat, khususnya keluarga almarhum Aslin Zalim yang meninggal di tahanan Mapolres.
Paling seru, dan hingga kini menjadi buah bibir adalah mutasi dilingkup Pemkot Baubau. Pasalnya, rotasi jabatan yang dilakukan Walikota Tamrin merupakan perintah rekomendasi Irsus Kemendagri. Satu pejabat yang selama ini menjadi sorotan karena eks Napi korupsi, dr Zamri Amin SpOG lengser dari jabatannya sebagai Kepala RSUD Kota Baubau. Penggantinya dr Hasmudin SpPD yang notabene sebelumnya bertakhta di kursi eselon II sebagai Kadis Kesehatan.
Nah, fakta inilah yang terus menjadi perbincangan hangat. Memang benar, dr Zamri lengser, tapi efek dominonya dengan turunnya Hasmuddin ke level Direktur RSUD, mengundang segudang pertanyaan.
Jangan heran, kalau sehari setelah pelantikan, dewan langsung bereaksi. La Ode Abdul Munafi, legislator PBB menilai pelantikan itu kamuflase karena belum secara totalitas menindaklanjuti rekomendasi Irsus.
Apalagi, dalam pelantikan, Munafi mengatakan tiga kali Wawali Wa Ode Maasra Manarfa tidak ada. Inilah yang membuatnya meradang seraya menduga Baperjakat kembali tidak berfungsi. Walaupun kemudian hal itu dibantah Sekot Muhammad Djudul dengan mengatakan rekomendasi Irsus dilakukan secara bertahap.
Yang jelas, mutasi ke-5 kali ini melahirkan episode baru dalam duet Tamrin-Maasra karena Munafi menengarai keduanya sudah tidak "mesra" lagi. Penilaian ini bertolak belakang dengan akronim slogan mereka dalam menakhodai Baubau dengan sebutan: Tampil Mesra.
Bila diteruskan, kondisi ini tidak sehat bagi jalannya roda pemerintahan. Maka itu, kita berharap kedua pemimpin tersebut kembali "mesra" lagi. Sebab kekompakan keduanya merupakan kunci meraih kesejahteraan masyarakat. Semoga cita-cita ini bisa dicapai, jangan diganggu dengan pecah kongsi antara Tamrin-Maasra.
Akhirnya, jumat keramat cukuplah berlaku di KPK, jangan sampai sindromnya berpengaruh sampai di Baubau.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Betapa tidak, pada hari yang sama, tiga institusi tersebut melakukan mutasi sejumlah pejabatnya. Kalau di Buton mungkin tidak terlalu menjadi sorotan publik karena mutasi dilakukan sekadar perubahan nomenklatur instansi SKPD. Kemudian seperti biasa, sejumlah pejabatnya migrasi ke Baubau.
Namun, tidak demikian dengan pelantikan di Polda dan Pemkot Baubau. Entah terbawa dengan sindrom di Baubau, yang jelas Kapolresnya sejak Jumat telah berganti. AKBP Joko Krisdianto SIK, dicopot dari jabatannya digantikan AKBP Eko Wahyuniawan. Pencopotan Joko sejalan dengan keinginan sejumlah masyarakat, khususnya keluarga almarhum Aslin Zalim yang meninggal di tahanan Mapolres.
Paling seru, dan hingga kini menjadi buah bibir adalah mutasi dilingkup Pemkot Baubau. Pasalnya, rotasi jabatan yang dilakukan Walikota Tamrin merupakan perintah rekomendasi Irsus Kemendagri. Satu pejabat yang selama ini menjadi sorotan karena eks Napi korupsi, dr Zamri Amin SpOG lengser dari jabatannya sebagai Kepala RSUD Kota Baubau. Penggantinya dr Hasmudin SpPD yang notabene sebelumnya bertakhta di kursi eselon II sebagai Kadis Kesehatan.
Nah, fakta inilah yang terus menjadi perbincangan hangat. Memang benar, dr Zamri lengser, tapi efek dominonya dengan turunnya Hasmuddin ke level Direktur RSUD, mengundang segudang pertanyaan.
Jangan heran, kalau sehari setelah pelantikan, dewan langsung bereaksi. La Ode Abdul Munafi, legislator PBB menilai pelantikan itu kamuflase karena belum secara totalitas menindaklanjuti rekomendasi Irsus.
Apalagi, dalam pelantikan, Munafi mengatakan tiga kali Wawali Wa Ode Maasra Manarfa tidak ada. Inilah yang membuatnya meradang seraya menduga Baperjakat kembali tidak berfungsi. Walaupun kemudian hal itu dibantah Sekot Muhammad Djudul dengan mengatakan rekomendasi Irsus dilakukan secara bertahap.
Yang jelas, mutasi ke-5 kali ini melahirkan episode baru dalam duet Tamrin-Maasra karena Munafi menengarai keduanya sudah tidak "mesra" lagi. Penilaian ini bertolak belakang dengan akronim slogan mereka dalam menakhodai Baubau dengan sebutan: Tampil Mesra.
Bila diteruskan, kondisi ini tidak sehat bagi jalannya roda pemerintahan. Maka itu, kita berharap kedua pemimpin tersebut kembali "mesra" lagi. Sebab kekompakan keduanya merupakan kunci meraih kesejahteraan masyarakat. Semoga cita-cita ini bisa dicapai, jangan diganggu dengan pecah kongsi antara Tamrin-Maasra.
Akhirnya, jumat keramat cukuplah berlaku di KPK, jangan sampai sindromnya berpengaruh sampai di Baubau.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Minggu, 05 Januari 2014
Optimisme 2014 dari Batam (3): NAIK KELAS
Catatan: Irwansyah Amunu
SATU kesyukuran dari hasil rapat kerja (Raker) akhir tahun di Batam, Buton Pos naik kelas. Sebelumnya, posisinya berada pada papan bawah, kini naik kasta berada di papan tengah. Mengalahkan beberapa media yang lahir satu leting dengan Koran Terbesar di Buton Raya ini.
Hal tersebut tentu bukan pekerjaan mudah, butuh kerja keras dan ketekunan. Apalagi umur Buton Pos masih relatif muda, baru menjalani usianya ke-6. Namun seiring dengan perubahan waktu, semakin memperkuat posisi kami sebagai koran pertama, terbesar, dan terpercaya di Buton Raya.
Kabar baik lainnya, mulai tahun ini Buton Pos bakal kembali mengaktifkan media on line melalui website: www.butonpos.com (sebelumnya www.radarbuton.com). Bila tidak ada aral melintang website akan mulai diaktifkan bulan depan.
Konvergensi melalui dunia maya tersebut dilakukan untuk menyentuh pembaca kami di dunia maya. Sehingga yang menikmati Buton Pos bukan hanya pembaca di Buton Raya atau Sultra, tapi termasuk di seantero Indonesia bahkan dunia.
Bukan hanya di website, tapi termasuk memperkuat jejaring sosial di facebook melalui grup Buton Pos News, dan twitter di akun @butonpos01. Terbukti atensi masyarakat yang bergabung melalui dunia maya tersebut cukup tinggi ditandai dengan banyaknya akun facebook ingin bergabung di grup tersebut.
Selain itu, melalui Raker Buton Pos diminta untuk membuat tv dan radio tersendiri. Dengan demikian, maka selain koran, kami juga diminta untuk merambah dunia audio (Buton Radio), dan audio visual (Buton Tv). Hanya saja semuanya secara bertahap akan disentuh. Sebab saat ini, fokus Buton Pos masih dipengadaan percetakan.
Nah, berbicara mengenai mesin cetak, inilah kunci perusaan media. Bila percetakan hadir di Baubau, kami yakin tiras pembaca Buton Pos bisa naik sampai dua bahkan tiga kali lipat dari oplah sekarang. Kehadiran mesin cetak di Baubau tentu memberikan efek domino bagi pembacanya yang berada di hinter land seperti Buton, Butur, Wakatobi, dan Muna.
Sebab, pembacanya tidak lagi menunggu sampai sore atau malam hari, namun pagi hari sudah bisa dibaca ditemani sarapan. Dan mesin cetak, insya Allah tahun ini, pasca-pencetakan surat suara Pemilu bakal dimobilisasi ke Kota Semerbak.
Kemudian, dari sisi belanja media yang bersumber dari APBD oleh Pemda juga meningkat pesat. Hal itu ditunjukkan dengan peningkatan total APBD di daerah yang menjadi sasaran pembaca Buton Pos, masing-masing Buton (Rp 1,1 triliun lebih), Baubau (Rp 600 miliar lebih), Butur (Rp 384 miliar), Wakatobi (Rp 532,6 miliar), dan Muna (Rp 500 miliar lebih). Bila ditotal APBD di lima daerah tersebut Rp 3 triliun lebih.
Jadi, bila semua rencana Buton Pos sesuai program, tidak tertutup kemungkinan dalam rapat kerja tahun mendatang, bakal naik kelas lagi ke divisi utama. Dengan demikian klop sudah, dari divisi III, lalu divisi II, terakhir ke divisi I.(follow twitter: @irwansyahamunu)
SATU kesyukuran dari hasil rapat kerja (Raker) akhir tahun di Batam, Buton Pos naik kelas. Sebelumnya, posisinya berada pada papan bawah, kini naik kasta berada di papan tengah. Mengalahkan beberapa media yang lahir satu leting dengan Koran Terbesar di Buton Raya ini.
Hal tersebut tentu bukan pekerjaan mudah, butuh kerja keras dan ketekunan. Apalagi umur Buton Pos masih relatif muda, baru menjalani usianya ke-6. Namun seiring dengan perubahan waktu, semakin memperkuat posisi kami sebagai koran pertama, terbesar, dan terpercaya di Buton Raya.
Kabar baik lainnya, mulai tahun ini Buton Pos bakal kembali mengaktifkan media on line melalui website: www.butonpos.com (sebelumnya www.radarbuton.com). Bila tidak ada aral melintang website akan mulai diaktifkan bulan depan.
Konvergensi melalui dunia maya tersebut dilakukan untuk menyentuh pembaca kami di dunia maya. Sehingga yang menikmati Buton Pos bukan hanya pembaca di Buton Raya atau Sultra, tapi termasuk di seantero Indonesia bahkan dunia.
Bukan hanya di website, tapi termasuk memperkuat jejaring sosial di facebook melalui grup Buton Pos News, dan twitter di akun @butonpos01. Terbukti atensi masyarakat yang bergabung melalui dunia maya tersebut cukup tinggi ditandai dengan banyaknya akun facebook ingin bergabung di grup tersebut.
Selain itu, melalui Raker Buton Pos diminta untuk membuat tv dan radio tersendiri. Dengan demikian, maka selain koran, kami juga diminta untuk merambah dunia audio (Buton Radio), dan audio visual (Buton Tv). Hanya saja semuanya secara bertahap akan disentuh. Sebab saat ini, fokus Buton Pos masih dipengadaan percetakan.
Nah, berbicara mengenai mesin cetak, inilah kunci perusaan media. Bila percetakan hadir di Baubau, kami yakin tiras pembaca Buton Pos bisa naik sampai dua bahkan tiga kali lipat dari oplah sekarang. Kehadiran mesin cetak di Baubau tentu memberikan efek domino bagi pembacanya yang berada di hinter land seperti Buton, Butur, Wakatobi, dan Muna.
Sebab, pembacanya tidak lagi menunggu sampai sore atau malam hari, namun pagi hari sudah bisa dibaca ditemani sarapan. Dan mesin cetak, insya Allah tahun ini, pasca-pencetakan surat suara Pemilu bakal dimobilisasi ke Kota Semerbak.
Kemudian, dari sisi belanja media yang bersumber dari APBD oleh Pemda juga meningkat pesat. Hal itu ditunjukkan dengan peningkatan total APBD di daerah yang menjadi sasaran pembaca Buton Pos, masing-masing Buton (Rp 1,1 triliun lebih), Baubau (Rp 600 miliar lebih), Butur (Rp 384 miliar), Wakatobi (Rp 532,6 miliar), dan Muna (Rp 500 miliar lebih). Bila ditotal APBD di lima daerah tersebut Rp 3 triliun lebih.
Jadi, bila semua rencana Buton Pos sesuai program, tidak tertutup kemungkinan dalam rapat kerja tahun mendatang, bakal naik kelas lagi ke divisi utama. Dengan demikian klop sudah, dari divisi III, lalu divisi II, terakhir ke divisi I.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Kamis, 02 Januari 2014
Optimisme 2014 dari Batam (2): KORAN TULANG PUNGGUNG
Catatan: Irwansyah Amunu
HARI pertama rapat kerja akhir tahun, Kamis (26/12) lalu, dibuka dengan petuah dari sesepuh Jawa Pos Grup, Alwi Hamu. Pendiri Harian Fajar ini mengaku akan melebarkan sayap usaha hingga ke bidang perminyakan.
Bukan itu saja, sejumlah usaha lain juga bakal disentuh. Namun demikian disadari dari semuanya, koran merupakan tulang punggung.
Dibuktikan, beberapa waktu lalu, Harian Rakyat Merdeka di Jakarta hendak menarik masuknya investor dari luar. Setelah dikalkulasi, sahamnya dia naikan hingga tiga kali lipat untuk dijual ke sang pengusaha. Betapa kagetnya, ketika penguasa tersebut membuka harga, yang disebutnya angka 20 kali lipat dari nilai yang telah naikkan tiga kali tadi.
Melihat kenyataan itu, alhasil Rakyat Merdeka sahamnya urung dijual. Disadari, mengapa pengusaha itu rela menggelontorkan uang hingga puluhan miliar rupiah karena koran memiliki nilai intangible (tak berwujud).
Kedua, ditengah derasnya konvergensi media cetak ke dalam bentuk lain, seperti on line, tapi tak menggerus perkembangan oplah koran. Bahkan sebaliknya, media on line mulai mengalami stagnasi pertumbuhan, parahnya ada pula yang mundur.
Maka tidak salah Alwi Hamu menegaskan: koran, 100 tahun ke depan masih bisa hidup lagi. Hanya saja yang perlu dilakukan, mendesain isinya agar lebih menarik dan bermutu.
Maka itu, sejalan dengan tema Rapat Kerja: Kerja Keras, Tumbuh Bersama dalam Kebersamaan, menjadikan tahun 2014 sebagai tantangan untuk beranjak naik. Apalagi 2014 tahun politik, tentu belanja iklan kampanye di media pesat peningkatannya.
Nah, berkaitan dengan itu, Harian Buton Pos juga terus mempertahankan komitmen untuk selalu memberikan yang terbaik kepada pembaca setianya. Terbukti, mulai tahun ini kami telah meredesain perwajahan, memperbaiki mutu pemberitaan, dan membuat rubrikasi halaman sesuai kebutuhan pembaca.
Hal itu kami lakukan agar Buton Pos selalu berada setia di hati pembacanya. Karenanya semangat kami, 2014 adalah tahun imaginasi. Mengutip komentar ilmuan ternama Albert Einstein: Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere. (Logika akan mengantarkan anda dari A ke B. Imaginasi akan menghantarkan anda kemana saja).
Semoga dengan motivasi itu Buton Pos semakin meneguhkan posisinya sebagai Koran Paling Berpengaruh di Buton Raya. Aamiin.(follow twitter: @irwansyahamunu)
HARI pertama rapat kerja akhir tahun, Kamis (26/12) lalu, dibuka dengan petuah dari sesepuh Jawa Pos Grup, Alwi Hamu. Pendiri Harian Fajar ini mengaku akan melebarkan sayap usaha hingga ke bidang perminyakan.
Bukan itu saja, sejumlah usaha lain juga bakal disentuh. Namun demikian disadari dari semuanya, koran merupakan tulang punggung.
Dibuktikan, beberapa waktu lalu, Harian Rakyat Merdeka di Jakarta hendak menarik masuknya investor dari luar. Setelah dikalkulasi, sahamnya dia naikan hingga tiga kali lipat untuk dijual ke sang pengusaha. Betapa kagetnya, ketika penguasa tersebut membuka harga, yang disebutnya angka 20 kali lipat dari nilai yang telah naikkan tiga kali tadi.
Melihat kenyataan itu, alhasil Rakyat Merdeka sahamnya urung dijual. Disadari, mengapa pengusaha itu rela menggelontorkan uang hingga puluhan miliar rupiah karena koran memiliki nilai intangible (tak berwujud).
Kedua, ditengah derasnya konvergensi media cetak ke dalam bentuk lain, seperti on line, tapi tak menggerus perkembangan oplah koran. Bahkan sebaliknya, media on line mulai mengalami stagnasi pertumbuhan, parahnya ada pula yang mundur.
Maka tidak salah Alwi Hamu menegaskan: koran, 100 tahun ke depan masih bisa hidup lagi. Hanya saja yang perlu dilakukan, mendesain isinya agar lebih menarik dan bermutu.
Maka itu, sejalan dengan tema Rapat Kerja: Kerja Keras, Tumbuh Bersama dalam Kebersamaan, menjadikan tahun 2014 sebagai tantangan untuk beranjak naik. Apalagi 2014 tahun politik, tentu belanja iklan kampanye di media pesat peningkatannya.
Nah, berkaitan dengan itu, Harian Buton Pos juga terus mempertahankan komitmen untuk selalu memberikan yang terbaik kepada pembaca setianya. Terbukti, mulai tahun ini kami telah meredesain perwajahan, memperbaiki mutu pemberitaan, dan membuat rubrikasi halaman sesuai kebutuhan pembaca.
Hal itu kami lakukan agar Buton Pos selalu berada setia di hati pembacanya. Karenanya semangat kami, 2014 adalah tahun imaginasi. Mengutip komentar ilmuan ternama Albert Einstein: Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere. (Logika akan mengantarkan anda dari A ke B. Imaginasi akan menghantarkan anda kemana saja).
Semoga dengan motivasi itu Buton Pos semakin meneguhkan posisinya sebagai Koran Paling Berpengaruh di Buton Raya. Aamiin.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Rabu, 01 Januari 2014
Optimisme 2014 dari Batam (1): TURBULANCE
Catatan: Irwansyah Amunu
BELUM lama ini, kami jaringan berita Jawa Pos Grup dibawah koordinasi Fajar Grup melakukan rapat akhir tahun di Batam, Kepri. Sedikitnya 24 perusahaan media dan non media kumpul di daerah pemekaran Provinsi Riau itu.
Dari Buton Pos, saya bersama Direktur Ramli Akhmad, Manajer Iklan Wahyu Yulianti, dan Manajer Keuangan Henny Anggraini beruntung bisa hadir pada acara yang berlangsung selama lima hari dari Kamis (26/12) lalu. Apalagi dalam acara tersebut Dr Rizal Ramli, mantan Menko Ekuin di era pemerintahan Gus Dur mengisi kepala kita dengan materi berjudul Prospek Ekonomi Nasional 2014.
Tentu untuk sampai disana kita menempuh perjalanan panjang. Dari Baubau transit ke Bandara Hasanuddin (Makassar), lalu ke Sepinggan (Balikpapan), berakhir di Hang Nadim (Batam). Baubau ke Makassar, penerbangan relatif normal karena cuaca bersahabat. Beda cerita ketika rute Makassar-Balikpapan. "Kapsul besi" yang kami tumpangi sempat mengalami turbulance sekitar lima menit.
Guncangan tersebut membuat nafas penumpang seolah terhenti. Suasana berubah hening. Bukan itu saja, saya mendengar suara istighfar, Astaghfirullahadzim berulang-ulang diucapkan sejumlah penumpang. Seolah dikomando, doa pamungkas itu serentak dilafalkan.
Waktu itu, sebenarnya saya masih tidur. Karena kuatnya guncangan, saya terbangun. Melihat suasana yang abnormal tersebut, mulut saya pun tak ketinggalan komat-kamit membacakan sejumlah doa selamat.
Alhamdulillah, setelah bertempur dengan suasana was-was, penerbangan kembali berjalan lancar. Pilot beberapa kali melakukan manuver sebelum akhirnya mendarat mulus di Bandara Sepinggan. Bagi kami, mungkin turbulance tersebut merupakan kondisi luar biasa, tapi baginya biasa.
Karena tidak ganti pesawat, selama 15 menit kami transit lantas melanjutkan penerbangan ke Hang Nadim. Menuju Batam, penerbangan relatif lancar hingga akhirnya kami tiba dengan selamat.
Menilik pengalaman terbang kami, bila diparalelkan dengan pemerintahan Bupati Umar Samiun dan Walikota Tamrin, maka kondisi yang menimpa mereka ini adalah suasana turbulance. Umar diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sedangkan Tamrin harus berhadapan dengan rekomendari Irsus Kemendagri.
Kendati dalam dua kasus berbeda, namun kedua kepala daerah itu menurut saya tersangkut persoalan sama, imbas dari perkara politik, Pilkada. Kalau Umar pra Pilkada, bersentuhan dengan kasus nasional yang menimpa mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Muhtar. Sementara Tamrin, pasca-Pilkada, terkait mutasi besar-besaran yang dilakukan kepada puluhan pejabat di era Amirul.
Turbulance adalah peristiwa natural dalam dunia penerbangan. Layaknya ujian merupakan bumbu penyedap yang bisa menaikan derajat manusia. Makin tinggi kelasnya, semakin sulit soalnya.
Begitupula dengan guncangan yang mendera Umar dan Tamrin. Alami bagi mereka, apalagi keduanya merupakan "01" di daerahnya masing-masing, Buton dan Baubau.
Bagaimana keduanya menghadapi guncangan? Hanya mereka yang bisa menjawabnya. Apakah bisa melewatinya atau tidak hanya waktu yang bisa menjawab.(follow twitter: @irwansyahamunu)
BELUM lama ini, kami jaringan berita Jawa Pos Grup dibawah koordinasi Fajar Grup melakukan rapat akhir tahun di Batam, Kepri. Sedikitnya 24 perusahaan media dan non media kumpul di daerah pemekaran Provinsi Riau itu.
Dari Buton Pos, saya bersama Direktur Ramli Akhmad, Manajer Iklan Wahyu Yulianti, dan Manajer Keuangan Henny Anggraini beruntung bisa hadir pada acara yang berlangsung selama lima hari dari Kamis (26/12) lalu. Apalagi dalam acara tersebut Dr Rizal Ramli, mantan Menko Ekuin di era pemerintahan Gus Dur mengisi kepala kita dengan materi berjudul Prospek Ekonomi Nasional 2014.
Tentu untuk sampai disana kita menempuh perjalanan panjang. Dari Baubau transit ke Bandara Hasanuddin (Makassar), lalu ke Sepinggan (Balikpapan), berakhir di Hang Nadim (Batam). Baubau ke Makassar, penerbangan relatif normal karena cuaca bersahabat. Beda cerita ketika rute Makassar-Balikpapan. "Kapsul besi" yang kami tumpangi sempat mengalami turbulance sekitar lima menit.
Guncangan tersebut membuat nafas penumpang seolah terhenti. Suasana berubah hening. Bukan itu saja, saya mendengar suara istighfar, Astaghfirullahadzim berulang-ulang diucapkan sejumlah penumpang. Seolah dikomando, doa pamungkas itu serentak dilafalkan.
Waktu itu, sebenarnya saya masih tidur. Karena kuatnya guncangan, saya terbangun. Melihat suasana yang abnormal tersebut, mulut saya pun tak ketinggalan komat-kamit membacakan sejumlah doa selamat.
Alhamdulillah, setelah bertempur dengan suasana was-was, penerbangan kembali berjalan lancar. Pilot beberapa kali melakukan manuver sebelum akhirnya mendarat mulus di Bandara Sepinggan. Bagi kami, mungkin turbulance tersebut merupakan kondisi luar biasa, tapi baginya biasa.
Karena tidak ganti pesawat, selama 15 menit kami transit lantas melanjutkan penerbangan ke Hang Nadim. Menuju Batam, penerbangan relatif lancar hingga akhirnya kami tiba dengan selamat.
Menilik pengalaman terbang kami, bila diparalelkan dengan pemerintahan Bupati Umar Samiun dan Walikota Tamrin, maka kondisi yang menimpa mereka ini adalah suasana turbulance. Umar diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sedangkan Tamrin harus berhadapan dengan rekomendari Irsus Kemendagri.
Kendati dalam dua kasus berbeda, namun kedua kepala daerah itu menurut saya tersangkut persoalan sama, imbas dari perkara politik, Pilkada. Kalau Umar pra Pilkada, bersentuhan dengan kasus nasional yang menimpa mantan hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Muhtar. Sementara Tamrin, pasca-Pilkada, terkait mutasi besar-besaran yang dilakukan kepada puluhan pejabat di era Amirul.
Turbulance adalah peristiwa natural dalam dunia penerbangan. Layaknya ujian merupakan bumbu penyedap yang bisa menaikan derajat manusia. Makin tinggi kelasnya, semakin sulit soalnya.
Begitupula dengan guncangan yang mendera Umar dan Tamrin. Alami bagi mereka, apalagi keduanya merupakan "01" di daerahnya masing-masing, Buton dan Baubau.
Bagaimana keduanya menghadapi guncangan? Hanya mereka yang bisa menjawabnya. Apakah bisa melewatinya atau tidak hanya waktu yang bisa menjawab.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Langganan:
Postingan (Atom)