JEMU juga akhirnya kita membincangkan pemekaran Buton Tengah (Buteng) dan Buton Selatan (Busel). Sebab hingga kini seolah nasib dua calon daerah otonom baru (DOB) di jazirah Buton Raya ini hingga kini masih menggantung.
Padahal, ibarat buah, Buteng dan Busel sudah lama ditanam, jadi sekaranglah saatnya dipanen. Buteng dan Busel bukan buah yang dikarbit, tapi sudah masak di pohon, siap dipetik.
Maka itu, jangan heran bila masyarakat di Buteng dan Busel mudah terpantik bila mendengar pemekaran di daerah kesayangannya kandas. Apalagi bila melihat realitas politik yang ada, maju mundurnya pemekaran penuh dengan trik dan intrik politik tingkat tinggi.
Kenapa dikatakan maju mundur? Sebab pada satu kondisi dikatakan pembahasan pemekaran di Senayan sudah menandakan kemajuan, tapi pada keadaan berikutnya, mundur lagi. Yang bikin kita geleng-geleng kepala, Busel awalnya mulus-mulus saja tanpa kendala, tiba-tiba muncul masalah ibukota. Batauga ditentang. Elemen yang mempersoalkannya pun bikin kita mengernyitkan dahi.
Sebaliknya, Buteng yang dari penggagasannya persoalan ibukota merupakan masalah krusial, pada akhirnya satu kata. Labungkari jadi solusi.
Nah, untuk menjadikan pemekaran tidak maju mundur, hendaknya semua stakeholder memperjuangkan dengan penuh keikhlasan. Buang jauh-jauh kepentingan pribadi dan kelompok, utamakan kepentingan rakyat.
Dengan demikian janin DOB, Buteng dan Busel, lahir secara alami. Sebab, kalau dipaksa lahir dengan cara "di-cesar" pasti harganya lebih mahal.
Tapi pada akhirnya semua pilihan itu kembali ke tangan pemerintah dan rakyat. Secara alami atau "cesar", tinggal pilih. (follow twitter: @irwansyahamunu)
Senin, 03 Maret 2014
Senin, 17 Februari 2014
Soal Irsus, Dewan Mau ke Mana?
KEMARIN merupakan hari penentuan bagi polemik mutasi. Sesuai agenda, DPRD bakal melakukan paripurna ihwal mutasi lingkup Pemkot Baubau yang menimpa ratusan PNS, mulai dari eselon II ke bawah.
Kendati pihak eksekutif bersikukuh telah melakukan rekomendasi Irsus Kemendagri terkait polemik, namun bagi institusi yang dipimpin Hasidin Sadif tersebut, semuanya belum cukup. Maka itu, ending-nya akan ditentukan hari ini apakah perkara tersebut dianggap selesai, atau bermuara ke Mahkamah Agung (MA) seperti ancaman sejumlah anggota dewan.
Bila memetakan kekuatan fraksi di dewan, hampir dipastikan keinginan untuk membawa persoalan ke MA bisa menjadi kenyataan. Sebab, selama ini wakil rakyat lebih dominan diliputi rasa kecewa dengan kebijakan pihak eksekutif. Indikatornya dengan mencermati kinerja Pemkot setahun terakhir dan kondisi ril masyarakat. Bisa dikatakan reputasi Baubau yang selama ini menjadi kiblat Sultra untuk daerah kepulauan mulai bergeser.
Hanya saja, kalkulasi tersebut tidak bisa diukur menggunakan matematika terapan: satu tambah satu sama dengan dua, tapi hitungannya memakai rumus matematika politik: satu tambah satu bisa sama dengan tiga atau satu. Tidak bisa dipastikan dengan angka-angka karena sama dengannya ditentukan dengan deal deal politik.
Semoga batalnya paripurna kemarin bukan merupakan gelagat adanya deal tersebut. Sebab, paripurna yang dijadwalkan besok akan menjadi pertaruhan terakhir bagi legislatif untuk membuktikan diri apakah mereka wakil rakyat yang menyuarakan kepentingan rakyat, atau sebaliknya. Apalagi, agenda paripurna kali ini sangat dekat dengan penentuan nasib kembali mereka untuk kembali duduk di DPRD yakni Pemilu Legislatif, 9 April nanti.
Jadi, bila mereka main-main dengan semua itu, maka rakyat dengan mudah memberikan hukuman. Pilihan sekarang berada di tangan para legislator.
Walaupun demikian, pada sisi lain ada yang menilai terlalu dini jika mengukur kinerja eksekutif hanya dalam satu tahun. Bukankah mandat yang diberikan kepada mereka selama lima tahun? Artinya masih ada empat tahun yang bisa digunakan kabinet TAMPIL MESRA untuk membuktikan kinerjanya.
Tapi semuanya kembali ke dewan, ukurannya adalah aturan yang mesti ditegakkan agar langit tidak runtuh. Bila idealisme yang ini dipegang, maka bisa ditebak, dewan mau ke mana.(***)
Kendati pihak eksekutif bersikukuh telah melakukan rekomendasi Irsus Kemendagri terkait polemik, namun bagi institusi yang dipimpin Hasidin Sadif tersebut, semuanya belum cukup. Maka itu, ending-nya akan ditentukan hari ini apakah perkara tersebut dianggap selesai, atau bermuara ke Mahkamah Agung (MA) seperti ancaman sejumlah anggota dewan.
Bila memetakan kekuatan fraksi di dewan, hampir dipastikan keinginan untuk membawa persoalan ke MA bisa menjadi kenyataan. Sebab, selama ini wakil rakyat lebih dominan diliputi rasa kecewa dengan kebijakan pihak eksekutif. Indikatornya dengan mencermati kinerja Pemkot setahun terakhir dan kondisi ril masyarakat. Bisa dikatakan reputasi Baubau yang selama ini menjadi kiblat Sultra untuk daerah kepulauan mulai bergeser.
Hanya saja, kalkulasi tersebut tidak bisa diukur menggunakan matematika terapan: satu tambah satu sama dengan dua, tapi hitungannya memakai rumus matematika politik: satu tambah satu bisa sama dengan tiga atau satu. Tidak bisa dipastikan dengan angka-angka karena sama dengannya ditentukan dengan deal deal politik.
Semoga batalnya paripurna kemarin bukan merupakan gelagat adanya deal tersebut. Sebab, paripurna yang dijadwalkan besok akan menjadi pertaruhan terakhir bagi legislatif untuk membuktikan diri apakah mereka wakil rakyat yang menyuarakan kepentingan rakyat, atau sebaliknya. Apalagi, agenda paripurna kali ini sangat dekat dengan penentuan nasib kembali mereka untuk kembali duduk di DPRD yakni Pemilu Legislatif, 9 April nanti.
Jadi, bila mereka main-main dengan semua itu, maka rakyat dengan mudah memberikan hukuman. Pilihan sekarang berada di tangan para legislator.
Walaupun demikian, pada sisi lain ada yang menilai terlalu dini jika mengukur kinerja eksekutif hanya dalam satu tahun. Bukankah mandat yang diberikan kepada mereka selama lima tahun? Artinya masih ada empat tahun yang bisa digunakan kabinet TAMPIL MESRA untuk membuktikan kinerjanya.
Tapi semuanya kembali ke dewan, ukurannya adalah aturan yang mesti ditegakkan agar langit tidak runtuh. Bila idealisme yang ini dipegang, maka bisa ditebak, dewan mau ke mana.(***)
Minggu, 09 Februari 2014
Lampu Kuning dari DPRD Baubau
SETELAH melalui proses yang panjang, akhirnya dewan "mengadili" pihak eksekutif, akhir pekan lalu. Meski tidak dihadiri langsung Walikota Baubau AS Tamrin, namun sidang yang dipimpin Ketua DPRD Hasidin Sadif tersebut tidak kehilangan taji.
Sejumlah anggota dewan tetap bertahan dengan sikapnya, pihak eksekutif dinilai tidak menjalankan secara serius rekomendasi Irsus Kemendagri. Tiga poin yang tercantum dalam rekomendasi, pertama, walikota diminta meninjau kembali secara bertahap surat keputusannya tentang pemberhentian pejabat struktural pada 6 dan 27 Fabuari 2013 sebanyak 66 SK perseorangan. Kedua, membatalkan surat keputusan walikota No. 821.2/51/2013 tanggal 27 Febuari 2013, nama dr Zamri Amin SpOG. Ketiga, pengangkatan jabatan fungsional dan sturktural disesuaikan dengan perundang-undangan yang berlaku.
Walaupun Sekot Muhammad Djudul menyatakan pihaknya telah menjalankan rekomendasi, namun keterangan tersebut dianggap belum sesuai kenyataan. Padahal, poin dua secara nyata dilakukan dengan mencopot dr Zamri dari kursinya sebagai Kepala RSUD.
Karena wakil rakyat tetap bertahan dengan pandangannya, maka muncul suara baru untuk membawa persoalan ke Mahkamah Agung (MA). Finalnya menunggu paripurna 17 Februari nanti.
Nah, kalau ini yang diambil, maka secara tersirat dewan telah memberi signal lampu kuning kepada eksekutif. Sebab bila hal itu dilakukan, maka akan berdampak terhadap jalannya pemerintahan, karena yang disodok langsung "01" Baubau.
Memang, kegerahan dewan paling kuat didasarkan pada sektor makro dan mikro ekonomi masyarakat. Sebut saja, dari sekitar Rp 600 miliar APBD Baubau, terserap untuk belanja pegawai sebanyak 78 persen. Apalagi Pemkot masih menerima pegawai pindahan dari kabupaten lain. Nah, kalau demikian lantas berapa dana yang sampai ke masyarakat? Berapa uang yang digunakan untuk membangun infrastruktur? Berapa rupiah bisa memutar sektor ril untuk merealisasikan kesejahteraan yang dijanjikan?
Tentu sulit dibayangkan apalagi dengan membandingkan prestasi Baubau dalam kurun waktu satu dekade lalu. Maka jangan heran kalau sejumlah anggota dewan gregetan.
Hanya saja, untuk melihat keseriusan dewan, kita akan lihat pada 17 Februari nanti. Apakah hasil paripurna wakil rakyat bernyali atau tidak, semuanya bakal terang benderang. Jadi, layak ditunggu apakah endingnya klimaks atau antiklimaks.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Sejumlah anggota dewan tetap bertahan dengan sikapnya, pihak eksekutif dinilai tidak menjalankan secara serius rekomendasi Irsus Kemendagri. Tiga poin yang tercantum dalam rekomendasi, pertama, walikota diminta meninjau kembali secara bertahap surat keputusannya tentang pemberhentian pejabat struktural pada 6 dan 27 Fabuari 2013 sebanyak 66 SK perseorangan. Kedua, membatalkan surat keputusan walikota No. 821.2/51/2013 tanggal 27 Febuari 2013, nama dr Zamri Amin SpOG. Ketiga, pengangkatan jabatan fungsional dan sturktural disesuaikan dengan perundang-undangan yang berlaku.
Walaupun Sekot Muhammad Djudul menyatakan pihaknya telah menjalankan rekomendasi, namun keterangan tersebut dianggap belum sesuai kenyataan. Padahal, poin dua secara nyata dilakukan dengan mencopot dr Zamri dari kursinya sebagai Kepala RSUD.
Karena wakil rakyat tetap bertahan dengan pandangannya, maka muncul suara baru untuk membawa persoalan ke Mahkamah Agung (MA). Finalnya menunggu paripurna 17 Februari nanti.
Nah, kalau ini yang diambil, maka secara tersirat dewan telah memberi signal lampu kuning kepada eksekutif. Sebab bila hal itu dilakukan, maka akan berdampak terhadap jalannya pemerintahan, karena yang disodok langsung "01" Baubau.
Memang, kegerahan dewan paling kuat didasarkan pada sektor makro dan mikro ekonomi masyarakat. Sebut saja, dari sekitar Rp 600 miliar APBD Baubau, terserap untuk belanja pegawai sebanyak 78 persen. Apalagi Pemkot masih menerima pegawai pindahan dari kabupaten lain. Nah, kalau demikian lantas berapa dana yang sampai ke masyarakat? Berapa uang yang digunakan untuk membangun infrastruktur? Berapa rupiah bisa memutar sektor ril untuk merealisasikan kesejahteraan yang dijanjikan?
Tentu sulit dibayangkan apalagi dengan membandingkan prestasi Baubau dalam kurun waktu satu dekade lalu. Maka jangan heran kalau sejumlah anggota dewan gregetan.
Hanya saja, untuk melihat keseriusan dewan, kita akan lihat pada 17 Februari nanti. Apakah hasil paripurna wakil rakyat bernyali atau tidak, semuanya bakal terang benderang. Jadi, layak ditunggu apakah endingnya klimaks atau antiklimaks.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Senin, 27 Januari 2014
Waspada Bencana!
SEPEKAN terakhir nampaknya bencana sedang akrab menimpa tanah air. Bukan hanya di Jakarta, Indramayu, Manado dengan banjirnya, Sinabung dengan gunung berapinya, tapi juga Baubau dengan puting beliungnya.
Tidak tanggung-tanggung, rumah yang porak-poranda diterjang angin sebanyak 20 lebih. Salah satunya atap rumah milik Sekretaris Dinas Capil Kota Baubau, Zarta, atap rumahnya ludes ditiup angin.
Kendati belum dikalkulasi secara pasti berapa nilai kerugian yang ditimbulkan, namun diperkirakan kerugian yang ditimbulkan ratusan juta rupiah. Sebuah angka yang tidak kecil.
Dari kondisi ini, hendaknya Dinas Sosial lebih pro aktif. Tidak hanya mengkalkulasi jumlah rumah yang tertimpa bencana, tapi juga menyalurkan bantuan kepada korban. Begitupula kepada Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) harus ringan tangan, dan lebih peduli dengan bencana yang menimpa korban.
Kemudian kepada Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mestinya lebih gencar menyampaikan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati. Satu kesyukuran, bencana yang terjadi selama ini belum makan korban nyawa, bagaimana kalau hal ini terjadi?
Nah, mumpung hal ini baru sebatas "lampu kuning", masyarakat harus lebih waspada. Bukan saja masyarakat yang berada di darat saja, tapi warga yang menggantungkan hidup di laut mesti mawas diri.
Nelayan atau pengguna moda transportasi laut, jangan memaksakan diri melaut jika lautan tidak tenang. Ingat keselamatan lebih utama di atas segalanya.
Jadi, wapadalah, waspadalah. (follow twitter: @irwansyahamunu)
Minggu, 19 Januari 2014
Baubau Butuh RSJ
MEREBAKNYA jumlah orang gila (Orgil) di Kota Baubau mulai menimbulkan kekhawatiran. Betapa tidak, bila sebelumnya jumlah Orgil bisa dihitung dengan jari, kini kian bertambah.
Bahkan, hampir disetiap sudut kota kita menemukan mereka berkeliaran. Tak ayal, pemandangan tersebut mulai meresahkan warga Kota Semerbak.
Apalagi tak sedikit diantaranya memperlihatkan alat kelaminnya. Mereka turut mewarnai pemandangan kota peserta lomba anugerah Adipura ini, karena kerap mangkal di trotoar dan umumnya mondar-mandir dibilangan Pasar Karya Nugraha, Laelangi, Wameo, dan sejumlah jalan protokol.
Pemandangan tersebut harusnya menjadi perhatian serius pihak Pemkot, khususnya Dinas Sosial. Jangan lagi lepas tangan seraya menyatakan hal tersebut merupakan gawean pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Nah, kalau Baubau tidak punya RSJ, dan angka Orgil terus bertumbuh, lantas mereka tanggung jawab siapa? Jika benar hal tersebut merupakan urusan pihak RSJ, pertanyaannya sudahkah mereka dilaporkan kepada RSJ Kendari?
Melihat fenomena depresi sosial yang kian meningkat ini, sudah saatnya Pemkot memikirkan pendirian RSJ di Baubau. Lagipula kota ini merupakan daerah inti dari hinterland disekitarnya seperti Buton, Butur, Muna, dan Wakatobi. Jadi, kalau ada penderita gangguan jiwa di lima daerah tersebut bisa dirujuk ke Baubau.
Dengan demikian, Orgil tidak lagi merusak pemandangan. Lebih penting lagi, karena mereka manusia, maka harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Hilangkan perasaan karena mereka hilang ingatan lantas kita masa bodoh terhadap mereka. Ingat, mereka juga manusia dan mesti mendapatkan atensi pula.
Langkah awal, mestinya Dinsos mendata berapa jumlah Orgil di Baubau. Apakah mereka warga setempat atau bukan, semuanya harus jelas. Dengan akurasi data tersebut maka pihak Dinsos sudah bisa memikirkan apa langkah selanjutnya? Apakah mendiamkan sehingga mereka menyandang status abadi sebagai Orgil atau berupaya mengobati penyakitnya hingga sembuh seperti sedia kala. Pilihan ada di tangan Pemkot?(follow twitter: @irwansyahamunu)
Bahkan, hampir disetiap sudut kota kita menemukan mereka berkeliaran. Tak ayal, pemandangan tersebut mulai meresahkan warga Kota Semerbak.
Apalagi tak sedikit diantaranya memperlihatkan alat kelaminnya. Mereka turut mewarnai pemandangan kota peserta lomba anugerah Adipura ini, karena kerap mangkal di trotoar dan umumnya mondar-mandir dibilangan Pasar Karya Nugraha, Laelangi, Wameo, dan sejumlah jalan protokol.
Pemandangan tersebut harusnya menjadi perhatian serius pihak Pemkot, khususnya Dinas Sosial. Jangan lagi lepas tangan seraya menyatakan hal tersebut merupakan gawean pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Nah, kalau Baubau tidak punya RSJ, dan angka Orgil terus bertumbuh, lantas mereka tanggung jawab siapa? Jika benar hal tersebut merupakan urusan pihak RSJ, pertanyaannya sudahkah mereka dilaporkan kepada RSJ Kendari?
Melihat fenomena depresi sosial yang kian meningkat ini, sudah saatnya Pemkot memikirkan pendirian RSJ di Baubau. Lagipula kota ini merupakan daerah inti dari hinterland disekitarnya seperti Buton, Butur, Muna, dan Wakatobi. Jadi, kalau ada penderita gangguan jiwa di lima daerah tersebut bisa dirujuk ke Baubau.
Dengan demikian, Orgil tidak lagi merusak pemandangan. Lebih penting lagi, karena mereka manusia, maka harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Hilangkan perasaan karena mereka hilang ingatan lantas kita masa bodoh terhadap mereka. Ingat, mereka juga manusia dan mesti mendapatkan atensi pula.
Langkah awal, mestinya Dinsos mendata berapa jumlah Orgil di Baubau. Apakah mereka warga setempat atau bukan, semuanya harus jelas. Dengan akurasi data tersebut maka pihak Dinsos sudah bisa memikirkan apa langkah selanjutnya? Apakah mendiamkan sehingga mereka menyandang status abadi sebagai Orgil atau berupaya mengobati penyakitnya hingga sembuh seperti sedia kala. Pilihan ada di tangan Pemkot?(follow twitter: @irwansyahamunu)
Selasa, 14 Januari 2014
Cara Singapura Merawat Devisa (2-Habis): 25 Menit, "Tarif" Wakatobi Rp 750 Juta
Catatan: Irwansyah Amunu
SELAIN mengunjungi sejumlah areal wisata, seperti tahun 2005 silam, kali ini kita pun diarahkan pemandu untuk menguras isi dompet. Caranya, dengan menghantarkan kita ke lokasi perbelanjaan untuk beli souvenir di China Town, coklat di Arab Street, dan di Shooping Mall, Mustafa Centre yang buka 24 jam.
Setelah itu, hampir satu jam rombongan diturunkan di Orchard Road untuk melihat kesibukan masyarakat Singapura dan pelancongnya dari seantero dunia yang melapas kepenatan disana. Disini juga merupakan pusat perbelanjaan yang menjual aneka produk bermerek, antara lain Emporio Armani, dan Louis Vuitton.
Berikutnya kita menuju Pulau Sentosa. Sebelum makan malam, disini rombongan menyempatkan diri mengambil gambar di Universal Studios Singapura. Wahana bermain Universal Studios ini dibuka pada bulan Januari 2010, pertama kali dibuka di wilayah Asia Tenggara, dan merupakan yang kedua di wilayah Asia setelah Universal Studios Japan. Kali pertama saya ke Singapura, wahana ini belum ada.
Disini juga terdapat taman bermain bertema film-film terkenal Hollywood produksi Universal Studios. Ada beberapa wahana yang telah dibuka, diantaranya The Lost World, Far and Away, New York, Sci-Fi City, Hollywood Boulevard, Madagascar, Ancient Egypt. Taman ini dilengkapi 30 restoran dan konter makanan, serta 20 kios cendera mata. Harga tiket mulai S$ 32 (untuk manula), S$ 48 (anak-anak) S$ 66 (tiket satu hari dewasa) hingga S$ 118 (dewasa, untuk dua hari kunjungan). Beberapa fasilitas hotel, termasuk Hard Rock Hotel tersedia di sekitar lokasi wisata berkelas dunia ini.
Petualangan di Singapura berakhir dengan pertunjukan spektakuler songs of the sea di dipinggiran pantai Pulau Sentosa. Menurut pemandu, dalam sehari pertunjukan tersebut dua kali pada malam hari, pukul 7.40 pm, dan 8.40 pm. Kalau Sabtu tambahan pukul 9.40 pm. Saat itu kami mendapatkan giliran nonton pukul 8.40 pm.
Durasi sekali pertunjukan hanya 25 menit, tapi penontonnya mencapai 5000 orang. Harga tiketnya S$ 15 (sekitar Rp 150 ribu). Jadi dalam semalam, sekali pertunjukan Rp 750 juta, bila dua kali, omzetnya bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Itu dalam semalam, bagaimana kalau sebulan, setahun, dua tahun, dan seterusnya, tentu menembus angka yang fantastis.
Padahal, pertunjukan ini modalnya 12 rumah gubuk, seperti rumah masyarakat bajo yang tinggal di pinggir laut. Suasananya mirip dengan pemandangan rumah masyarakat bajo di Wakatobi. Diramaikan tujuh penari anak-anak. Hanya saja pertunjukannya memadupadankan antara seni teatrikal, pertunjukan air dan kembang api serta lightning yang begitu memukau.
Walaupun hujan, pertunjukan tetap berjalan. Sayangnya tribun penonton tidak dilengkapi atap. Mungkin dimaksudkan agar pandangan kita leluasa melihat pertunjukan yang megah. Soalnya mengkombinasikan antara seni tradisional dan IT super moderen.
Pertunjukan dimulai dengan nyanyian empat bahasa yang didendangkan berturut-turut, masing-masing Bahasa Inggris, Melayu, India, dan China. Dalam bahasa Melayu syairnya mirip lagu berjudul Anak Kambing Saya. Tapi setelah itu kita dibuat kagum dengan tampilan permainan cahaya memukau, gambar kartun diudara yang seolah layarnya terbuat dari air yang dipancurkan, plus suara dentuman disertai nyala api berkali-kali.
Dalam hati saya berkata, pertunjukan ini "raw material-nya" ada di Indonesia, lebih spesifik lagi di Wakatobi. Sekali tayang durasi 25 menit di Singapura, harganya Rp 750 juta, luar biasa.
Mungkinkah Indonesia atau Wakatobi juga bisa membuat hal yang serupa dan lebih dahsyat? Suatu hari.(follow twitter: @irwansyahamunu)
SELAIN mengunjungi sejumlah areal wisata, seperti tahun 2005 silam, kali ini kita pun diarahkan pemandu untuk menguras isi dompet. Caranya, dengan menghantarkan kita ke lokasi perbelanjaan untuk beli souvenir di China Town, coklat di Arab Street, dan di Shooping Mall, Mustafa Centre yang buka 24 jam.
Setelah itu, hampir satu jam rombongan diturunkan di Orchard Road untuk melihat kesibukan masyarakat Singapura dan pelancongnya dari seantero dunia yang melapas kepenatan disana. Disini juga merupakan pusat perbelanjaan yang menjual aneka produk bermerek, antara lain Emporio Armani, dan Louis Vuitton.
Berikutnya kita menuju Pulau Sentosa. Sebelum makan malam, disini rombongan menyempatkan diri mengambil gambar di Universal Studios Singapura. Wahana bermain Universal Studios ini dibuka pada bulan Januari 2010, pertama kali dibuka di wilayah Asia Tenggara, dan merupakan yang kedua di wilayah Asia setelah Universal Studios Japan. Kali pertama saya ke Singapura, wahana ini belum ada.
Disini juga terdapat taman bermain bertema film-film terkenal Hollywood produksi Universal Studios. Ada beberapa wahana yang telah dibuka, diantaranya The Lost World, Far and Away, New York, Sci-Fi City, Hollywood Boulevard, Madagascar, Ancient Egypt. Taman ini dilengkapi 30 restoran dan konter makanan, serta 20 kios cendera mata. Harga tiket mulai S$ 32 (untuk manula), S$ 48 (anak-anak) S$ 66 (tiket satu hari dewasa) hingga S$ 118 (dewasa, untuk dua hari kunjungan). Beberapa fasilitas hotel, termasuk Hard Rock Hotel tersedia di sekitar lokasi wisata berkelas dunia ini.
Petualangan di Singapura berakhir dengan pertunjukan spektakuler songs of the sea di dipinggiran pantai Pulau Sentosa. Menurut pemandu, dalam sehari pertunjukan tersebut dua kali pada malam hari, pukul 7.40 pm, dan 8.40 pm. Kalau Sabtu tambahan pukul 9.40 pm. Saat itu kami mendapatkan giliran nonton pukul 8.40 pm.
Durasi sekali pertunjukan hanya 25 menit, tapi penontonnya mencapai 5000 orang. Harga tiketnya S$ 15 (sekitar Rp 150 ribu). Jadi dalam semalam, sekali pertunjukan Rp 750 juta, bila dua kali, omzetnya bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Itu dalam semalam, bagaimana kalau sebulan, setahun, dua tahun, dan seterusnya, tentu menembus angka yang fantastis.
Padahal, pertunjukan ini modalnya 12 rumah gubuk, seperti rumah masyarakat bajo yang tinggal di pinggir laut. Suasananya mirip dengan pemandangan rumah masyarakat bajo di Wakatobi. Diramaikan tujuh penari anak-anak. Hanya saja pertunjukannya memadupadankan antara seni teatrikal, pertunjukan air dan kembang api serta lightning yang begitu memukau.
Walaupun hujan, pertunjukan tetap berjalan. Sayangnya tribun penonton tidak dilengkapi atap. Mungkin dimaksudkan agar pandangan kita leluasa melihat pertunjukan yang megah. Soalnya mengkombinasikan antara seni tradisional dan IT super moderen.
Pertunjukan dimulai dengan nyanyian empat bahasa yang didendangkan berturut-turut, masing-masing Bahasa Inggris, Melayu, India, dan China. Dalam bahasa Melayu syairnya mirip lagu berjudul Anak Kambing Saya. Tapi setelah itu kita dibuat kagum dengan tampilan permainan cahaya memukau, gambar kartun diudara yang seolah layarnya terbuat dari air yang dipancurkan, plus suara dentuman disertai nyala api berkali-kali.
Dalam hati saya berkata, pertunjukan ini "raw material-nya" ada di Indonesia, lebih spesifik lagi di Wakatobi. Sekali tayang durasi 25 menit di Singapura, harganya Rp 750 juta, luar biasa.
Mungkinkah Indonesia atau Wakatobi juga bisa membuat hal yang serupa dan lebih dahsyat? Suatu hari.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Minggu, 12 Januari 2014
Cara Singapura Merawat Devisa (1): Selalu Ada yang Baru
Catatan: Irwansyah Amunu
AGENDA terakhir rapat kerja akhir tahun di Batam adalah City Tour ke Singapura. Sebetulnya secara pribadi, saya tidak terlalu berminat, karena pada 2005 lalu saya sudah pernah menginjakkan kaki disana bersama 30 lebih rombongan pejabat Pemkot Baubau di era Walikota Amirul Tamim.
Saat itu, para pejabat Pemkot tersebut melakukan Studi Lapangan di Singapura dan Malaysia (meliputi Kuala Lumpur, Selangor, Putra Jaya, dan Langkawi) karena kuliah di pasca Sarjana Unhas jurusan Manajemen Perkotaan. Skenarionya mereka disiapkan untuk menjadi birokrat Baubau mumpuni, sayangnya tidak banyak di antara mereka yang kini menduduki jabatan strategis. Bahkan beberapa diantaranya mengalami nasib tragis, nonjob kehilangan jabatan.
Beda dengan delapan tahun lalu, ke Singapura kita bertolak di pelabuhan Batam Center, dekat Kantor Batam Pos. Kali ini, menuju Singapura kita start dari Sekupang Ferry Terminal. Harga tiket PP S$ 30 atau setara Rp 300 ribu.
Sebelum meluncur menggunakan kapal cepat seperti yang digunakan di rute Baubau-Kendari, satu demi satu paspor kami diperiksa petugas Imigrasi di pelabuhan. Menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya rombongan tiba di Pelabuhan Hartbour Front Singapura sekitar pukul 07.46 Wita (waktu Singapura sama dengan waktu Baubau). Lolos dipetugas Imigrasi di Batam, rupanya bukan berarti aman di Singapura. Terbukti disana dua kawan kami harus dideportasi, pertama karena paspornya tidak bisa dibaca scan, rekan kedua, beda satu huruf namanya di KTP dan paspor.
Saya sempat deg-degan karena petugas Imigrasi yang memulangkan teman tadi juga memeriksa saya. Dia juga minta KTP, syukurnya karena tidak ada yang janggal, saya diizinkan masuk. Delapan tahun lalu, paspor saya saja yang dikeluarkan, tanpa harus memperlihatkan KTP. Kali ini lain, apalagi paspor dan KTP saya semuanya baru.
Dulu rombongan hanya satu bus, sekarang karena rombongan dalam jumlah besar, kita dibagi dalam dua bus. Di dalam bus, pemandu lantas menguraikan sejumlah larangan dan denda di Singapura, diantaranya dilarang makan permen karet di bus umum, buang sampah sembarang denda S$ 300 (Rp 3 juta), dan merokok sembarang denda S$ 200 (Rp 2 juta). Makanya semua kawan perokok, sejak menyeberang ke Singapura langsung puasa merokok. Tak heran kalau Singapura dijuluki juga dengan negara Seribu satu larangan.
Nah, di Singapura pemandu wisata pertama kali menurunkan kita di Gardens by the Bay. Taman ini diresmikan akhir Juni 2012, memiliki Super Trees atau pohon raksasa berjumlah 18 buah dibangun menggunakan beton cetak yang beratnya berton-ton.
Di areal ini, kita mengambil gambar berlatar super trees, Marina Bay Sands, dan taman bunga. Marina Bay Sands resmi dibuka medio 2010 silam. Berbentuk hotel tapi merupakan pusat hiburan terpadu, diatasnya terdapat kolam renang pada ketinggian 200 meter.
Marina Bay Sands adalah pusat hiburan terpadu, menghadap ke Teluk Marina di Singapura. Dikembangkan Las Vegas Sands, dan merupakan investasi tunggal paling mahal di dunia dengan biaya S$ 8 miliar (sekitar Rp 56 triliun), termasuk biaya untuk lahannya.
Tempat wisata ini memiliki 57 lantai, 2.561 kamar hotel, ruang pameran dan pertemuan seluas 120.000 meter persegi, mal The Shoppes dan ArtScience Museum, Sands Theatre dan Grand Theatre, tujuh restoran koki selebriti, dua pavilyun mengambang, kasino dengan lebih dari 600 meja judi dan 1.500 mesin jakpot. Kompleks ini dinaungi Sands SkyPark sepanjang 340 meter dengan kapasitas 3.900 orang dan kolam renang tanpa batas (infinity edge) sepanjang 150 meter, yang merupakan ruang menggantung terbesar di dunia dengan kantilever sejauh 67 meter di menara utara (Tower 3).
Untuk diketahui, sewa kamar paling murah dalam sehari, S$ 400 (sekitar Rp 4 juta), menengah S$ 980 (Rp 9,8 juta), dan paling mahal S$ 18.500 (Rp 185 juta). Begitu mengetahui harganya saya langsung geleng-geleng kepala.
Dalam hati saya bersyukur bisa menginjakkan kaki kedua kalinya di Singapura, karena pada 2005 silam, Gardens by the Bay, dan Marina Bay Sands belum ada. Jadi, tidak salah kalau wisatawan selalu berkunjung disana karena selalu ada yang baru walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam demi melepas kepenatan. Tanpa disadari, inilah yang menjadi magnet untuk meningkatkan pundi-pundi devisa Singapura.
Mencermati banyaknya tempat wisata dan ruang publik baru, saya menilai skenarionya nyaris sama dengan Baubau lalu. Sebelum masa Amirul, Baubau hanya tenar dengan Benteng Keraton-nya, namun di tangan Amirul memiliki aneka ruang publik dan setiap tahun ada yang baru. Mulai dari Pantai Kamali, Monumen Naga, wantiro di bukit kolema, Palagimata, ekor naga, hingga Kotamara. Makanya ketika menjabat, saya beberapa kali berkelakar ke Walikota Amirul untuk membuat dua moto Baubau, selain Kota Semerbak, satunya lagi Selalu ada yang Baru.
Kunjungan kali ini di Singapura yang sama dengan 2005 silam hanya beberapa, diantaranya, patung singa, dan kawasan perbelanjaan Mustafa Centre. Kawasan perbelanjaan ini buka 24 jam.(follow twitter: @irwansyahamunu)
AGENDA terakhir rapat kerja akhir tahun di Batam adalah City Tour ke Singapura. Sebetulnya secara pribadi, saya tidak terlalu berminat, karena pada 2005 lalu saya sudah pernah menginjakkan kaki disana bersama 30 lebih rombongan pejabat Pemkot Baubau di era Walikota Amirul Tamim.
Saat itu, para pejabat Pemkot tersebut melakukan Studi Lapangan di Singapura dan Malaysia (meliputi Kuala Lumpur, Selangor, Putra Jaya, dan Langkawi) karena kuliah di pasca Sarjana Unhas jurusan Manajemen Perkotaan. Skenarionya mereka disiapkan untuk menjadi birokrat Baubau mumpuni, sayangnya tidak banyak di antara mereka yang kini menduduki jabatan strategis. Bahkan beberapa diantaranya mengalami nasib tragis, nonjob kehilangan jabatan.
Beda dengan delapan tahun lalu, ke Singapura kita bertolak di pelabuhan Batam Center, dekat Kantor Batam Pos. Kali ini, menuju Singapura kita start dari Sekupang Ferry Terminal. Harga tiket PP S$ 30 atau setara Rp 300 ribu.
Sebelum meluncur menggunakan kapal cepat seperti yang digunakan di rute Baubau-Kendari, satu demi satu paspor kami diperiksa petugas Imigrasi di pelabuhan. Menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya rombongan tiba di Pelabuhan Hartbour Front Singapura sekitar pukul 07.46 Wita (waktu Singapura sama dengan waktu Baubau). Lolos dipetugas Imigrasi di Batam, rupanya bukan berarti aman di Singapura. Terbukti disana dua kawan kami harus dideportasi, pertama karena paspornya tidak bisa dibaca scan, rekan kedua, beda satu huruf namanya di KTP dan paspor.
Saya sempat deg-degan karena petugas Imigrasi yang memulangkan teman tadi juga memeriksa saya. Dia juga minta KTP, syukurnya karena tidak ada yang janggal, saya diizinkan masuk. Delapan tahun lalu, paspor saya saja yang dikeluarkan, tanpa harus memperlihatkan KTP. Kali ini lain, apalagi paspor dan KTP saya semuanya baru.
Dulu rombongan hanya satu bus, sekarang karena rombongan dalam jumlah besar, kita dibagi dalam dua bus. Di dalam bus, pemandu lantas menguraikan sejumlah larangan dan denda di Singapura, diantaranya dilarang makan permen karet di bus umum, buang sampah sembarang denda S$ 300 (Rp 3 juta), dan merokok sembarang denda S$ 200 (Rp 2 juta). Makanya semua kawan perokok, sejak menyeberang ke Singapura langsung puasa merokok. Tak heran kalau Singapura dijuluki juga dengan negara Seribu satu larangan.
Nah, di Singapura pemandu wisata pertama kali menurunkan kita di Gardens by the Bay. Taman ini diresmikan akhir Juni 2012, memiliki Super Trees atau pohon raksasa berjumlah 18 buah dibangun menggunakan beton cetak yang beratnya berton-ton.
Di areal ini, kita mengambil gambar berlatar super trees, Marina Bay Sands, dan taman bunga. Marina Bay Sands resmi dibuka medio 2010 silam. Berbentuk hotel tapi merupakan pusat hiburan terpadu, diatasnya terdapat kolam renang pada ketinggian 200 meter.
Marina Bay Sands adalah pusat hiburan terpadu, menghadap ke Teluk Marina di Singapura. Dikembangkan Las Vegas Sands, dan merupakan investasi tunggal paling mahal di dunia dengan biaya S$ 8 miliar (sekitar Rp 56 triliun), termasuk biaya untuk lahannya.
Tempat wisata ini memiliki 57 lantai, 2.561 kamar hotel, ruang pameran dan pertemuan seluas 120.000 meter persegi, mal The Shoppes dan ArtScience Museum, Sands Theatre dan Grand Theatre, tujuh restoran koki selebriti, dua pavilyun mengambang, kasino dengan lebih dari 600 meja judi dan 1.500 mesin jakpot. Kompleks ini dinaungi Sands SkyPark sepanjang 340 meter dengan kapasitas 3.900 orang dan kolam renang tanpa batas (infinity edge) sepanjang 150 meter, yang merupakan ruang menggantung terbesar di dunia dengan kantilever sejauh 67 meter di menara utara (Tower 3).
Untuk diketahui, sewa kamar paling murah dalam sehari, S$ 400 (sekitar Rp 4 juta), menengah S$ 980 (Rp 9,8 juta), dan paling mahal S$ 18.500 (Rp 185 juta). Begitu mengetahui harganya saya langsung geleng-geleng kepala.
Dalam hati saya bersyukur bisa menginjakkan kaki kedua kalinya di Singapura, karena pada 2005 silam, Gardens by the Bay, dan Marina Bay Sands belum ada. Jadi, tidak salah kalau wisatawan selalu berkunjung disana karena selalu ada yang baru walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam demi melepas kepenatan. Tanpa disadari, inilah yang menjadi magnet untuk meningkatkan pundi-pundi devisa Singapura.
Mencermati banyaknya tempat wisata dan ruang publik baru, saya menilai skenarionya nyaris sama dengan Baubau lalu. Sebelum masa Amirul, Baubau hanya tenar dengan Benteng Keraton-nya, namun di tangan Amirul memiliki aneka ruang publik dan setiap tahun ada yang baru. Mulai dari Pantai Kamali, Monumen Naga, wantiro di bukit kolema, Palagimata, ekor naga, hingga Kotamara. Makanya ketika menjabat, saya beberapa kali berkelakar ke Walikota Amirul untuk membuat dua moto Baubau, selain Kota Semerbak, satunya lagi Selalu ada yang Baru.
Kunjungan kali ini di Singapura yang sama dengan 2005 silam hanya beberapa, diantaranya, patung singa, dan kawasan perbelanjaan Mustafa Centre. Kawasan perbelanjaan ini buka 24 jam.(follow twitter: @irwansyahamunu)
Langganan:
Postingan (Atom)