Catatan: Irwansyah Amunu
ADA yang berbeda dengan peringatan HUT Kota Baubau ke-470 kali ini. Kendati nuansa klasik Kontemporer semakin terasa, namun citarasa nasional dan global pun tak bisa dielakkan.
Soalnya, dalam peringatan Dirgahayu kali ini tidak hanya dirayakan warga Metro, tapi juga disemarakkan dengan kehadiran Tim Kesenian Korea.
Nuansa tersebut sudah diperlihatkan beberapa hari terakhir. Puncaknya akan dipertontonkan dalam kolaborasi seni pada malam Ramah Tamah HUT yang akan dirangkaikan dengan penutupan Baubau Expo, di Kotamara, Senin malam (17/10) nanti.
Penampilan Tim Kesenian Korea, menjadi catatan tersendiri bagi kota yang memiliki benteng terluas di dunia ini.
Ya, inilah dampak dari kerjasama yang dijalin Pemkot dengan Negeri Gingseng tersebut. Apalagi sebelumnya sudah banyak bantuan yang diberikan Korea. Ya, derma Korea.
Paling mutakhir misalnya, kedatangan Deputi Pertanian Korea, Kang Sang Jo. Pejabat eselon I setingkat menteri tersebut bersama seorang guru besar Korea ke Baubau membawa buku panduan pertanian untuk petani di Sorawolio. Buku tiga bahasa --Ciacia, Indonesia, dan Korea-- tersebut mengambil sampel kondisi geografis lahan agraris Sorawolio.
Soal ini, saya bersyukur ketika diundang Walikota Amirul Tamim untuk menghadiri acara peluncuran buku tersebut. Saya bisa mengetahui apa sebenarnya gagasan besar di balik kerjasama tersebut yang bisa dipetik Pemkot dalam bidang pertanian.
Pemikiran pertama, Baubau berada di pulau, sehingga perlu dukungan logistik. Pengalaman buruk di Nias yang sempat mengalami krisis pangan. Maka itu, logistik lokal, pertanian harus kuat.
Kedua, mencermati potensi Baubau, masyarakatnya memiliki keterampilan menanam padi ladang. Realitanya, dalam setahun petani menanam padi, hasilnya sampai dua kali panen. Produksinya bisa ditingkatkan pada saatnya nanti menjadi 12 ton per tahun.
Rupanya peningkatan produktivitas pertanian bukan satu-satunya kata kunci dari kerjasama ini. Kata Amirul, perlu segera dilakukan upaya yang bisa memberikan niai tambah bagi daerah namun dengan mengoptimalkan potensi tertentu yang khas.
Lagipula Korea dalam setahun, tetap sekali panen. Tapi sukses melakukan diversifikasi pertanian, diselingi tanaman lain, sehingga produktifitas lahannya tinggi.
Hal lain, dengan teknologi, Korea mampu menciptakan varietas unggul. Misalnya beras untuk orang bertubuh gemuk, orang pendek supaya tinggi, wanita agar kandungannya bagus, dan beras bagi penderita penyakit gula.
Amirul menandaskan, Pemkot perlu menuju ke sana. Agar dengan lahan yang sempit, bisa memenuhi pasar Baubau, regional, nasional, bahkan internasional.
Memang, kalau sekadar kenyang, makanan tradisional jenis kaowi-owi (ubi rebus) atau kapusu (jagung rebus) sudah cukup. Tapi bukan itu tujuan.
Berkaitan dengan ini saya teringat tahun 2006 silam ketika bersama-sama dengan 34 mahasiswa pascasarjana Unhas Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah (PPW) dari pegawai Pemkot yang Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Singapura. Ketika berada di Nasional University of Singapore (NUS), salah seorang dosennya yang berkewarganegaraan Indonesia, Prof Johanes Widodo mengatakan untuk memiliki daya saing global, Singapura mengembangkan Informasi Teknologi (IT) jenis mikro chip. Singapura tidak mungkin mengembangkan IT jenis multimedia karena akan kalah bersaing dengan negara yang lebih awal dan lebih maju seperti Jepang atau negara di benua Eropa lainnya.
Langkah tersebut tepat. Terbukti, salah satu sekuel film animasi terlaris di dunia yang kerap kali memuncaki Box Office, Lord of The Ring dibuat di Singapura menggunakan teknologi itu. Kenapa pilihan jatuh ke Singapura? Karena negara ini termasuk memiliki kecanggihan dalam bidang mikro chip tadi.
Jadi, ada yang khas. Itulah yang dikembangkan dan diperkuat.
Terkait kerjasama Pemkot dengan Korea, bila dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan arah yang hendak dituju Amirul, relefan dengan langkah Singapura. Atau negara lainnya di dunia. Atau daerah lainnya di Indonesia. Seperti Gorontalo, walau tergolong provinsi muda di Indonesia, hanya dengan memaksimalkan produksi jagung, namun hasilnya sudah sampai di ekspor ke luar negeri.
Jadi, gagasan besar tadi kalau digarap secara maksimal dengan grand design (perencanaan) disertai dengan road map (peta jalan) yang tepat, bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan.
Secara imajiner, tangga untuk menuju ke sana sudah dibuat. Pertama, walikota, Kadis Pertanian, dan petani Sorawolio sudah pernah studi banding di Korea. Kedua, buku panduan pertanian hasil penelitian lahan Sorawolio sudah diterbitkan. Ketiga, SMK 5 Pertanian sudah mulai mendidik SDM. Tinggal membuat anak tangga selanjutnya untuk mencapai hasil yang ingin dipetik nanti.
Lagipula Korea sudah membuktikan dengan beberapa kali kunjungan ke Baubau untuk memberikan sejumlah bantuan. Sebaliknya pihak Pemkot pun sudah beberapa kali ke Korea untuk menimba ilmu.
Intinya, derma Korea ini, rugi kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kita tidak ingin kerjasama yang dijalin sejak di penghujung 2008 lalu ini hanya bergerak di ruang hampa atau cuma sebatas budaya dan bahasa. Tapi harus memberikan nilai tambah lebih bagi daerah.(one.radarbuton@gmail.com)
Jumat, 28 Oktober 2011
Teguhkan Jati Diri, O Siy Mo Baubau
Apa yang bisa dipetik dalam pelaksanaan HUT Kota Baubau ke-470 kali ini?
Tahun 2011, 17 Oktober momentum menjadikan Baubau sebagai kota yang dapat melihat jati dirinya. Dalam perjalanan sejarah kekotaan, kita sudah sepakat bersama Kota Baubau sejarahnya diawali dengan penetapan Sultan Murhum sebagai raja terakhir dan Sultan Pertama Kesultanan Buton, itulah awal berpijaknya sejarah Kota Baubau. Berarti pada 2011 ini usianya ke-470. Dan sebagai daerah otonom, berusia ke-10.
Dalam sistem perencanaan kota berada pada tahapan pembangunan jangka menengah kedua. Tahapan ke-3, ke-4, dari tahapan pembangunan jangka menengah kedua. Dalam sistem, masuk pada tahap pemantapan dari rencana pembangunan jangka menengah kedua. Berarti tahun ini Baubau bisa menyatakan diri sebagai kota yang bisa berbicara. Olehnya itu kita mengangkat suatu tema: Inilah Baubau, O Siy Mo Baubau. Tentu mengangkat O Siy Mo Baubau, harus jujur melihat. Sudah banyak yang dicapai, namun masih banyak yang perlu dibenahi, bakal dicapai pada masa mendatang. Dari kondisi O Siy Mo Baubau, kita sudah bisa mengatakan: Inilah Baubau, O Siy Mo Baubau. Mari datang ke Baubau dan Baubau sudah siap menampung berbagai aktivitas.
Perjalanan panjang Baubau, bapak yang meletakkan pondasinya. Satu dekade ini, hal strategis apa yang dicapai?
Memang kalau kita lihat, dalam usia panjangnya kota ini, dan juga belajar dari pengalaman kota-kota lain, perlu dicatat ada kota atau daerah yang dalam sejarahnya pernah eksis tapi kekiniannya, hilang. Juga ada kota tidak pernah dalam sejarahnya ada atau tumbuh dengan baik, tapi dalam kekinian kota itu sudah maju dan berkembang pesat.
Baubau mungkin ada diantara dua karakter seperti itu, kalau menengok sejarah Baubau dan coba merekam, sebenarnya Baubau di kawasan Timur Indonesia, paling maju selain Makassar. Jadi, selain Makassar, sebenarnya Baubau. Baubau tidak kalah dengan kota-kota lainnya termasuk yang kini jadi ibukota seperti Ambon. Itu kita bicara Baubau sekian puluh tahun lalu. Tapi bicara Baubau pasca-Indonesia merdeka, tahun 60-an masih ok. Tapi di era 80-an, mulai mengalami degradasi, sampai beberapa tahun didahului kota-kota lain, kota lain, tumbuh, maju pesat. Sehingga tahun 2001 menjadi daerah otonom, dalam perkembangan, saya melihat sampai tahun 2003 Baubau sudah dikalahkan beberapa kota-kota yang jauh sebelumnya di bawah Kota Baubau.
Tapi, kita coba mengangkat kembali. Baubau punya potensi, keunggulan, dan kesempatan untuk maju. Maka itu pada 2003 diletakkan sebagai pondasi. Baubau dipilih sebagi Pintu Gerbang Ekonomi dan Pariwisarta di Sultra. Sangat beralasan. Posisinya strategis, pelabuhan lautnya walaupun awalnya begitu, tapi punya potensi untuk dikembangkan.
Kita sudah punya Lapangan Terbang tapi tidak didarati pesawat. Ruang Baubau cukup luas, walaupun terbangun waktu itu hanya Wolio dan sekitarnya. Tapi dari potensi luas wilayahnya lebih besar dari Makassar dan beberapa kota lainnya di Nusantara.
Kita punya topografi yang menjanjikan sebagai hunian yang bagus, bibir pantai pesisirnya 42 KM yang bisa dibagi sebagai bibir pantai mempunyai fungsi bisa dikapling, baik untuk kawasan pelabuhan, budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Kita punya karakter kota bisa sebagai daerah terbangun dengan penyangga, pertanian dengan Bungi dan Sorawolio. Daerah belakang yang potensi sumber daya alam cukup memadai. Punya kekuatan tersendiri, Baubau kita angkat.
Kemudian, beberapa peninggalan sejarah menjadi ikon kota, memiliki benteng yang tercatat sebagai Benteng terluas di dunia, ikon kota dengan nilai jual tersendiri.
Dalam perkembangannya, dari sisi titik singgung layanan, di kawasan Timur, Baubau mengambil peran sebagai titik layanan, karena titik singgung terdekat dengan semua jaringan wilayah di kawasan Timur Indonesia. Sehingga Baubau harus dikemas. Maka itu, tahap pertama, dipilih sebagai pintu gerbang ekonomi.
Tahap kedua dipilih visi: Kota Budaya yang Produktif, karena kita telah melakukan revitalisasi potensi-potensi budaya dimulai tahun 2003. Kemudian dikembangkan potensi budaya ini sebagai kekuatan dan kebanggaan masyarakat dengan mendeklarasikan benteng kita terluas di dunia. Menjadi penyelenggara Simposium Pernaskahan Internasional, lalu bekerjasana dengan pihak luar, Korea.
Lalu menarik pakar-pakar ahli budaya untuk mengangkat sejarah budaya kita. Itu sudah sudah diwujudkan semua.
Nah, sekarang, keragaman potensi yang dimiliki, Baubau sudah memperlihatkan jati dirinya. Pertama, Baubau sudah menjadi pintu keluar masuk kawasan sekitarnya, karena sudah memperkuat inftarsruktur. Dari sisi darat, diperkuat aksesnya keluar, dari Baubau lewat ke Kapontori dan selanjutnya, dari Baubau langsung ke Pasarwajo dan selanjutnya, dari Baubau lewat Batauga dan selanjutnya.
Dari sisi lautnya, dari Baubau ke penjuru Nusantara dengan kapal laut angkutan barang dan orang. Laut menghubungkan wilayah garis depan yang ada disekitarnya dengan penguatan pelabuhan rakyat.
Dari sisi darat memperkuat frekwensi kapal fery yang memberikan layanan sampai ke daratan Sulawesi. Kemudian sementara mempersiapkan menyambung Pulau Muna-Buton langkah-langkah itu disiapkan. Sehingga Baubau dari sisi darat dan laut sudah diperkuat.
Sekarang diperkuat lagi sisi udara, sehingga orang dari Baubau, dengan hanya berganti pesawat sudah bisa sampai ke negara mana pun pada satu perjalanan sekaligus. Pagi ini berangkat dari Baubau, insya Allah besok pagi sudah sampai ke negara tujuan yang dikehendaki. Demikian pula sebaliknya, dari negara-negara di luar, mau ke Baubau dengan tidak berganti pakaian sudah sampai di Baubau.
Inilah artinya, kita sudah membawa Baubau seperti itu. Kondisi ini memberikan ruang dan peluang masyarakat Baubau mengambil momentum dan peluang. Dengan sendirinya aset-aset masyarakat berupa tanah yang tadinya tidak memiliki nilai ekonomis, dengan pengembangan infrastrktur kota, sehingga kawasan-kawasan kota terbangun bukan hanya disekitar Wolio. Tapi dari batas Baubau dekat Kapontori, batas Baubau dengan Batauga, batas Baubau dengan wilayah Kabupaten Buton, sekarang tumbuh sebagai kawasan terbangun atau termanfaatkan.
Apa tidak salah kita sebut Baubau beraada pada masa keemasan kedua?
Mungkin bisa juga disebut demikian. Yang jelas, kita sudah masuk pada tahapan Baubau menjadi bagian pada titik wilayah di Nusantara yang mempunyai keunggulan-keunggulan tersendiri. Sehingga dengan itu, bagi beberapa kalangan menjadi peluang emas, bagaimana memanfaatkan peluang-peluang ini.
Bagi masyarakat yang punya nilai tanah yang besar, akhirnya mempunyai nilai ekonomi yang besar. Yang belum disentuh jalan, sekarang dilintasi jalan. Mereka membuat aktivitas bernuasa ekonomi diaset-aset yang mereka kuasai. Bagaimana ruang-ruang publik yang dibuka, menyerap peluang kerja yang besar, menghidupkan bukan hanya puluhan orang, ratusan orang tapi ribuan orang karena ruang yang dibuka menyebar peluang aktivitas bernuansa ekonomi. Mulai dari pedagang-pedagang kecil, kacang goreng, permen, sampai dagang-dagang yang lebih besar, jual beli sepeda motor, mobil. Mungkin juga bangunan dimanfaatkan dunia perbankan, untuk menjalin komunikasi dengan para nasabah sehingga ada perputaran ekonomi yang begitu besar.
Kemudian adanya nuansa persaudaraan, rasa kebersamaan, sehingga nuansa konflik semakin minim, semakin kecil. Itu kan membuat energi positif bagi pembangunan Kota Baubau, ini semua tidak lepas bagaimana menyiasati Baubau yang tadinya hanya terbatas Wolio, sekarang sudah tersebar diseluruh wilayah.
Dalam perjalanan panjang pembangunan Baubau, mimpi apa yang belum bapak wujudkan?
Jadi, kota harus menjadi tempat hunian yang nyaman, damai, dan menjanjikan. Olehnya itu, dengan potensi Baubau sebagai suatu kota yang dikarunia Tuhan dengan posisinya strategis, topografinya, yang tadinya orang hanya melihat Baubau hanya terbatas di segelintir titik disekitar Wale. Tapi sebenarnya karunia Tuhan dengan topografi yang tadinya dipandang sebagai daerah gersang, bebatuan, tandus, padang rumput. Namun sebenarnya menyimpan potensi untuk menjadi kota hunian yang nyaman dan damai. Ini bisa kita wujudkan dan itulah impian kita semua.
Saya, bagaimana mewujudkan Baubau sebagai kota hunian yang nyaman, kita tata kota dengan topografi yang bertingkat. Dijadikan kota bertingkat karena dengan kota yang topografi bertingkat, Ini kota menjanjikan dimensi dengan begitu spektakuler.
Karena dengan hunian, ketika orang membuka jendela bisa melihat laut, melihat matahari terbenam. Dengan hanya buka jendela, bisa lihat pulau-pulau, hamparan gunung-gunung di kejauhan yang hijau. Menengok ke atas melihat bulan yang begitu menakjubkan pada malam hari. Menengok, melihat naik-turun pesawat, melihat lalulintas kapal laut dengan berbagai aktivitas. Kemudian bergeser turun ke pantai, melihat pantainya yang bersih dengan aneka aktivitas nelayan dan masyarakat yang mencintai laut dengan berbagai aktivitasnya. Melihat anak-anak bermain dengan riang gembira.
Bisa menyaksikan mutu pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia masa depan dengan sekolah bermutu dan beraneka ragam. Kemudian kampus-kampus, walaupun swasta, insya Allah pada saatnya nanti ada negeri yang bermutu. Sehingga kota ini akan menjadi pilihan yang tepat sebagai pilihan hunian. Sehingga dari Baubau bisa ke mana saja, dan datang kembali dengan waktu kapan saja. Pilih naik pesawat, laut atau lewat darat bisa dijangkau. Itulah kota yang kita impikan ke depan.
Soal kenyamanan berarti bukan hanya aspek spiritual dan rohani tapi juga ekonomi, untuk kepastian usaha. Bagaimana menumbuhkan keyakinan kepada investor untuk memanfaatkan kekayaan potensi Kota Baubau agar mereka mau berinvestasi dan tinggal disini?
Memang Bukan hanya tingal, karena orang tinggal ingin menyambung hidupnya, ada aktivitas, harus bernuansa ekonomi, menjanjikan kesejahteraan, itulah Baubau yang kita siapkan. Anda bisa mempunyai usaha di Jakarta, tapi memanejnya dari Baubau. Bisa transaksi, bikin rumah di Palagimata, atau ingin buat rumah yang bernunsa kehijauan, kehutanan di Sorawolio. Buat rumah di Lea-Lea, dengan empat dimensi, lihat sawah, laut, gunung, lihat Kota Baubau. Tapi dari tempat situ bisa nikmati semua, bisa memanej usaha anda yang diluar sana.
Kemudian daerah belakang kita kaya dengan potensi sumber daya alam. Orang bisa usaha tambang, tapi tinggalnya di Baubau, usaha rotan tapi tinggalnya di Baubau, usaha perikanan tapi tinggalnya di Baubau, ada pariwisata di Wakatobi tapi tinggal di Baubau.
Sepuluh tahun, satu dekade, sebenarnya umur yang pendek untuk mendesain kota, tapi bapak bisa menggunakan waktu yang relatif singkat ini dengan capaian, lompatan yang jauh seperti ini. Publik bertanya, rumus apa yang bapak pakai hingga begini kemajuan Baubau?
Saya berterimakasih kalau Baubau dilihat seperti itu dalam satu dekade yang pendek tapi bisa membuat lompatan yang jauh. Pertanyaan, apa yang mengilhami sehingga Baubau bisa seperti ini. Kita tahu Tuhan menurunkan Al Quran diperintahkan Nabi Muhammad itu, Iqra, bacalah. Bukan hanya kepada Muhammad saja peringatan itu, tapi kepada kita semua. Untuk membaca, melihatnya. Untuk mendesain suatu wilayah seperti Baubau, kita mau apa. Sebenarnya disekitar kita ada contoh, alasan-alasan yang bisa dijadikan landasan berpikir, berbuat. Karena Tuhan kaya dengan sombol-simbol.
Olehnya itu, kami menyadari, manusia mahluk yang diciptakan terakhir yang tentu kesempurnannya adalah kesempurnaan ciptaan Tuhan. Dari struktur anatomi manusia inilah bisa kita belajar, kalau kita analogkan sebagai wilayah. Jantung; sebagai analogi ekonomi. Paru-paru; lingkungan. Otak ; sumber daya manusia. Jari tangan, nadi, dan syaraf-syaraf; transportasi. Hati; agama dan budaya. Kalau lima komponen itu dikemas dengan baik, itulah bagian lompatan-lompatan yang bisa kita wujudkan dalam 10 tahun ini.
Sehingga kita menata ekonomi, mendahulukan pasar, lapangan kerja. Lalu memperbaiki jalan untuk menghubungan semua koneksitas antar ruang dalam wilayah Baubau. Dengan begitu tidak ada lagi wilayah Baubau yang tidak bisa dijangkau, contohnya dulu Palabusa, Sulaa, Kolagana, dan Waborobo, akhirnya semua bisa dijangkau dalam waktu satu sistem. Sehingga tidak ada lagi titik jauh.
Membenahi sekolah, untuk mempersiapkan sumber daya manusia, berbagai sekolah, jurusan dibuka. Menyiapkan ruang-ruang sehingga merangsang bagi orang-orang tertentu membangun perguruan tinggi. Sehingga anak usia perguruan tinggi tidak perlu keluar lagi, yang tidak mampu, ingin dekat dengan orang tua, sambil bekerja, di Baubau juga sudah bisa.
Kemudian kita memperhatikan lingkungan, Alhamdulillah dari hari ke hari kita tidak risau lagi dengan ancaman alam. Beberapa tahun lalu, kalau terjadi hujan sedikit, tenggelam beberapa kawasan kota, sekarang aman. Pesisir-pesisir pantai, ketika ada gelombang, berapa masyarakat kita yang harus jadi korban karena gelombang pantai, kini tidak, karena sudah diajak menjadikan laut sebagai halaman depan. Sungai membelah Kota Baubau, sekarang apik. Dulu, jorok bukan main, sekarang apik. Itu bagian lingkungan kawasan kita semakin baik.
Bagaimana mengangkat budaya. Berbagai agama tumbuh dengan toleransi yang tinggi. Agama menyatu dengan budaya, budaya juga tidak bertentangan dengan agama, sehingga semua bisa hidup damai.
Sehingga dalam satu dekade ini: Itulah Baubau, O Siy Mo Baubau.
Secara tidak langsung bapak menyentak alam bawah sadar warga Kota Baubau, bahwa kita sudah seperti ini. Karena banyak warga kita yang masih tidur, belum sadar kita sudah hebat. Apakah memang bapak ingin “membangunkan” masyarakat?
Itulah, kita ingin monetum 470, momentum 10 tahun ini kita menyentak seluruh komponen masyarakat kota. Yang tidur bangunlah, yang pingsan sadarlah, yang sementara berlari jangan berlari tidak menentu, tapi tentukan arah mau lari ke mana sehingga semua cita-cita itu bisa kita rebut. Karena sekarang Baubau, insya Allah mungkin dalam peringatan HUT ke-471, listrik kita, sekarang dalam tahapan pembangunan PLTU, sehingga nanti semua, baik listrik, air bersih sudah jadi kebutuhan yang bukan lagi kurang, tapi mendapatkan pelayanan maksimal.
Melihat peletakan pusat listrik untuk kawasan Buton Raya plus Muna di Baubau, bandara, pelabuhan, Terminal Suplai BBM kawasan Indonesia Timur, bila Baubau terganggu, bakal mempengaruhi kondisi regional atau nasional Indonesia. Artinya Baubau strategis. Bagaimana bapak mengkondisikan hal ini?
Itulah yang kita ingin kenalkan: O Siy Mo Baubau, dari situ, dari dulu saya mengajak: Bersama Lebih Baik, karena ketika nanti kita tidak kompak, bukan hanya yang kita ajak Kota Baubau, tapi seluruh dari sistem besar Baubau atau Sultra. Karena betul, kalau Baubau terganggu, akan terganggu semua ini. Itulah yang perlu kita ajak bicara, itulah yang kita bagun, inilah Baubau. Mari kita bersama, karena itu lebih baik.
Mengingat filosofi anatomi manusia yang bapak adopsi tadi tadi, ibarat tubuh, berarti Baubau ini jantung di Indonesia Timur?
Karena berhenti akan mempengaruhi. Dan secara alami ini sudah memperlihatkan, ketika rusuh Ambon, Wasior, Timor Timur, larinya ke sini.
Kemudian, yang tidak dapat perkejaan di luar, masuk ke Baubau. Ini mekanisme alam yang harus direkayasa, kita ajak semua. Coba kita cermati di Pasar Wameo, siapa yang beradagang? Saudara kita dari Kadatua, Lasalimu, Pasarwajo, Kapontori, semua bisa berusaha, karena tidak ada aturan yang melarang mereka. Kita cuma bikin aturan jagalah kebersihan.
Rumah Sakit kita secara bertahap kemampuan daya layanan ditingkatkan. Ada yang kurang, dibenahi.
Saya melihat pada akhirnya ketika menyatakan diri orang Buton dalam jazirah Buton Raya lalu menyebut Baubau, ada rasa memiliki. Bukankah ini bentuk kebesaran Buton yang pernah dimiliki?
Biar bagaimana pun, namanya Baubau, tapi disini pusat peradaban Buton. Berarti Baubau ini mencermintan Buton secara keseluruhan. Butonnya Wakatobi, Butonnya Buton Utara, Butonnya Buton sendiri, Butonnya Baubau, termasuk Butonnya Bombana. Karena biar bagaimana, Baubau ini Butonnya semua, kesatuan Buton.
Tapi, dalam konteks kekinian, bagian dari sistem Sultra, Sulawesi, Kawasan Timur, nasional. Dan harus disiapkan sebagai bagian dari sistem global. Sehingga instrumen ini tidak bertolak belakang, tidak bertentangan dengan sistem tadi. Karena kita secara administrasi bagian dari Sultra, maka kemasan kita tidak boleh lepas.
Jadi, apakah kata kuncinya pencapaian tadi menimbulkan satu seruan moral O Siy Mo Baubau? Kita bisa bicara pada semua level?
Ya. Semua level, semua dimensi, semua dinamika, dan O Siy Mo Baubau.
Apa harapan bapak bagi Baubau untuk masa mendatang?
Harapan, perkembangan Baubau ini jalur pengembangannya harus sesuai dengan konsep dasar yang kita bangun. Ruang Baubau 220 KM, memiliki tujuh bagian wilayah kota, dengan fungsi utama dan penunjang, harus terarah dan diarahkan sesuai karakter dan peran kewilayahan Baubau ke depan.
Olehnya itu, ini tanggung jawab semua, masyarakat, dan stakeholder Baubau. Sehingga jangan sampai pondasi dasar dan strategi yang sudah tersusun, dan arah yang sudah disepakati bersama, dengan melihat bagaimana peran kewilayahan Baubau, tidak sesuai dengan daya dukungnya sebentar, dan posisi yang dimainkan Baubau.
Artinya kalau pondasi untuk gedung berlantai lima dengan berbagai tahapannya, ya harus kita arahkan berlantai lima. Jangan pondasinya berlantai lima, tapi kita hanya mau bangun rumah panggung biasa. Ini kan mubazir. Karena ketika pondasi yang kuat, hanya rumah panggung biasa, akhirnya orang hanya berantam di atas rumah panggung biasa ini. Atau jangan sampai kita rancang, harusnya tahapan ini sudah sampai pada level bangunan tahap lantai tiga, tapi kita hanya main di lantai satu, sehingga mubazir, lantai tiganya kosong. Ketika kosong hanya diisi hantu saja.
Yang kita lakukan, pada saat mana lantai tiga dibenahi, lantai empat dibenahi. Bagaimana orang di lantai satu tidak merasa di lantai satu, orang di lantai empat tidak merasa dilantai empat, tapi dia di dalam bangunan yang sama, itulah perlunya rasa memiliki. Kemudian skenario menyiasati, jangan sampai lantai empat lebih bagus dari lantai satu.
Jadi itulah kewajiban pemerintah, kewajiban seorang pemimpin untuk membangkitkan. Seperti Baubau dalam 10 tahun terakhir, tidak ada yang merasa tak tersentuh. Kalau anda ke Kolagana, tadinya tidak pernah lihat sepeda motor, mobil, apalagi walikota atau pejabat yang lain, tapi mereka sekarang sudah biasa, karena semua bisa dijangkau, contoh Sorawolio sudah tersentuh, Sulaa, Waborobo, daerah pusat kota, semua sama.
Terakhir tadi, bapak menyebut tentang pemimpin, suasana kebatinan masyarakat mulai diusik soal kepemimpinan, apalagi momentumnya berdekatan antara Pilwali Baubau dan Pilgub Sultra, sebagai peletak dasar Kota Baubau, apa harapan, seruan bapak kepada masyarakat termasuk senjumlah figur yang muncul?
Mari kita bercermin diri, yang penting, kenapa Tuhan bikin cermin? Artinya dengan indra yang kita miliki, kita bisa lihat orang, tapi yang sulit dengan indra yang kita miliki, kita tidak bisa melihat diri sendiri. Maka kita gunakan cermin, mari kita lihat.
Saya ingin katakan, mayarakat Baubau mari kita bercermin untuk melihat Baubau sudah baguskah? Sudah cantikkah kita? Dan kita jujur mengatakan tentu masih ada mungkin sedikit yang belum kita bedaki di wajah. Atau mungkin wajah yang berkelebihan kita wajahi. Kalau kita lipstik, atau warnanya lipstik yang belum cocok. Mari kita jujur melihat cermin itu.
Terus kita melihat sudah ada perubahan. Memang tidak ada yang sempurna, tapi jangan sampai moto itu dipakai, sehingga kita tidak sempurna melihat, kita tanpa indra, tanpa cermin , hanya menggunakan hak-hak yang kita miliki. Sehingga perlunya kecerdasan masyarakat, bercermin diri, kemudian menentukan. Sehingga nanti bisa kita siapkan pemimpin yang membawa kota ini ke arah yang baik.
Saya kira termasuk untuk Sultra, selama ini figur-figur itu sudah pernah berkiprah, dilihat, mari menggunakan rasio yang diberi Tuhan. Menggabungkan antara rasio, mata, perasaan, dan hati kita, dan tentu yang diharapkan kejujuran untuk menilai.
Ya, saya kira kita bisa melihat siapa yang bisa membawa kita, semua baik, tapi pasti saya yakin ada yang terbaik di antara itu.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 20 Desember 2009
Wakatobi Melompat Tinggi
PERGANTIAN almanak, Jumat (18/12) lalu, menghantarkan usia Wakatobi genap enam tahun. Seremoni kali ini terbilang unik, karena peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) bertepatan dengan hari libur nasional, perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1431 H. Jika diibaratkan manusia, usia enam tahun memasuki fase anak-anak, setelah sebelumnya berada pada level Balita. Ya, Kepulauan Tukang Besi tersebut tergolong bocah, kalau sekolah masih pelajar Taman Kanak-kanak (TK), belum masuk Sekolah Dasar (SD).
Tapi, meski masih bocah, Wakatobi tidak boleh dipandang sebelah mata. Ini jika membandingkan dengan daerah otonom yang seusia dengannya, Wakatobi sudah melesat jauh meninggalkan letingnya, Bombana.
Memang, dua daerah otonom ini sama kelahirannya. Dibidani pemekaran daerah induk, Buton. Namun, melihat kemajuan daerah yang diliputi gugus Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko tersebut itu sudah terjadi lompatan tinggi dibandingkan sebelum ”merdeka” dari Buton.
Menilik kemajuannya sekarang, tidak salah kalau saya sebut Wakatobi sebagai bocah ajaib. Karena kemajuan sarana dan prasarana infrastruktur daerah yang berjuluk Surga Bawah Laut tersebut setara dengan umurnya, bahkan lebih.
Salah satu infrastruktur monumental ditandai keberadaan fasilitas Bandara Matahora yang dibangun menggunakan dana pemerintah. Menariknya lagi, setelah sukses menggelar tes penerbangan dihadiri Menhub, Jusman Syafii Djamal, pesawat milik Susi Air langsung membuka rute penerbangan Wakatobi secara reguler, dalam sepekan 10 kali. Kendati jumlah tempat duduk yang disiapkan hanya belasan.
Bulan ini, Expressair pun, telah melakukan tes penerbangan. Dan hampir dipastikan mereka pun akan membuka rute Wakatobi. ”Kapsul besi” berlogo Expressair ini jumlah tempat duduknya dua kali lebih banyak dari Susi Air, 30 seat.
Fasilitas jembatan udara inilah merupakan karya fenomenal Bupati Hugua untuk semakin mencitrakan daerahnya sebagai ikon pariwisata di dunia internasional. Kenapa saya katakan demikian, karena ”bakat alam” Wakatobi memang begitu. Potensinya, adalah kekayaan hayati, dan terumbu karang yang dimilikinya merupakan salah satu terkaya di dunia. Banyak spesies laut langka terdapat di Wakatobi, tidak dimiliki daerah lain di dunia.
Tak hanya itu, secara geografis dan administratif pemerintahan, Wakatobi terbilang unik. Karena tergolong daerah otonom yang diliputi Taman Nasional.
Nah, potensi dan karakter alam daerah tersebut bila tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadi bumerang. Maka itu, saya melihat sentuhan tangan dingin Bupati Hugua terhadap daerahnya sejauh ini tepat sasaran.
Bisa dilihat dengan sejumlah iven yang dihelat setahun terakhir. Antara lain, Sail Wakatobi yang dihadiri ratusan kapal jenis yatch dari seantero dunia. Hal tersebut tentu makin menjadikan Wakatobi terkenal di mancanegara.
Menariknya, ditengah suasana sejumlah daerah otonom di Indonesia menuju pencapaian MDG’s. Justru Wakatobi meraih anugerah tersebut bertepatan dengan HUT Metrotv ke-9, di Jakarta, belum lama ini.
Anugerah dari stasiun tv berita tersebut diberikan menjelang HUT Wakatobi. Dan summery peningkatkan Wakatobi ke arah yang lebih baik, bisa dilihat peristiwa sebulan terakhir.
Diawali dengan apresiasi positif Komisi II DPR RI terhadap kemajuan Wakatobi. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ganjar Pranowo ketika berada di sana. Lantas, iven Simposium Nasional Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, 14-16 Desember lalu, dihadiri sejumlah kepala daerah.
Bahkan Dubes AS, Cameron R Hume pun bertandang ke Wakatobi menjelang HUT. Tidak tanggung-tanggung, Dubes Negara Paman Sam tersebut berada di sana selama empat hari. Dia pula mengapresiasi kemajuan Wakatobi.
Tak berhenti sampai di situ. Akhir tahun ini pun, ditutup dengan iven akbar. Apalagi kalau bukan Air Modeling Tingkat Nasional yang dihelat 18-20 Desember.
Semua itu merupakan perwujudan keseimbangan, antara kemajuan infrastruktur, sosial, dan lingkungan.
Akhirnya, semoga HUT Wakatobi ke-6 ini diresapi seluruh pemangku kepentingan, utamanya masyarakat hingga ke akar rumput dengan perubahan ke arah yang lebih baik. Indikatornya, tingkat kesejahteran masyarakat kian baik setiap waktu.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 13 Desember 2009
Kotak Hitam Pemekaran
MENDAGRI, Gamawan Fauzi menyebutkan telah mengantongi daerah pemekaran yang tak sukses menjalankan pemerintahannya. Sudah tiga tahun lamanya dievaluasi, bila tidak sukses akan dihapus, digabungkan kembali ke daerah induk. Demikian "alarm" Mendagri ditengah proses pemekaran Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Buton Selatan (Busel), dan Provinsi Buton Raya yang kini memasuki babak baru. Memang, Selasa (8/12) lalu belasan anggota Komisi II DPR RI, dipimpin Ganjar Pranowo, legislator PDIP tiba di Buton.
Dalam tatap muka di Lombe, Kecamatan Gu (Buteng), dan Laompo, Kecamatan Batauga (Busel) Ganjar optimis Buteng, Busel, dan Buton Raya "merdeka" tahun depan. Komentar tersebut tentu langsung mengundang aplaus ribuan peserta. Maklum selama ini masyarakat menunggu kapan pemekaran terwujud.
Harapan sempat meredup ketika anggota DPR RI berganti. Apalagi santer diberitakan pemerintah akan melakukan moratorium pemekaran seraya merancang grand design. Namun asa kembali dihidupkan melalui lobi yang dilakukan pihak eksekutif dan legislatif kepada anggota DPR periode baru di Senayan, awal bulan lalu. Hasilnya berbuah kunjungan.
Tentu publik berharap komitmen Komisi II tersebut jangan hanya sebatas "angin surga" yang ditiupkan untuk menyenangkan hati masyarakat. Publik membutuhkan bukti, bukan janji.
Untuk diketahui, dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR, Mendagri Gamawan Fauzi mengaku dalam posisi dilematis terkait perlunya moratorium pemekaran daerah otonom. Pasalnya, sampai sejauh ini pemekaran tetap dimungkinkan undang-undang.
Namun Ganjar Pranowo menyatakan ketidaksetujuannya tentang moratorium. Alasannya, UU Nomor 32 Tahun 2004 masih berlaku sehingga pemekaran tetap dimungkinkan. Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, ketentuan UU tidak bisa dikalahkan statemen Mendagri.
Hal itu bisa menjadi kotak hitam untuk memuluskan pemekaran Buteng, Busel, dan Buton Raya.
Harus diingat, DPR punya hak inisiatif. Inilah senjata pamungkas yang bisa digunakan untuk menangkal batu sandungan moratorium pemekaran yang dipropagandakan pihak pemerintah. Lagipula, seluruh syarat teknis dan administratif telah dipenuhi Buteng, Busel, dan Buton Raya.
Melihat rekam jejak Ganjar, pernah menjadi anggota Baleg pada periode lalu, harapan tentu banyak digantungkan kepadanya untuk merealisir pemekaran. Ditambah "energi" dari Wakil Ketua DPD, La Ode Ida.
Pendek kata, melihat kedatangan Komisi II kali ini, gelagatnya berbeda dengan yang lalu. Kendati tidak dihadiri La Ode Ida, namun ada dua nama beken legislator PDIP di dalamnya, Ganjar Pranowo, dan Budiman Sujatmiko. Termasuk srikandi Buton Raya dari PAN, Wa Ode Nurhayati. Inilah hasil lobi positif yang dilakukan Bupati Sjafei Kahar di Senayan.
Alhasil, kunjungan Komisi II diharapkan berbuah manis pemekaran. Kemudian pihak eksekutif dan legislatif di Buton tidak lantas menepuk dada pascakedatangan legislator Senayan. Tapi, terus mengawal sampai pemekaran terealisir.
Satu hal yang menjadi penguat pihak Pemkab, sebelum mengakhiri Kunker di Sultra, Komisi II sempat ke Wakatobi. Di sana, Komisi II mengapresiasi kemajuan Kepulauan Tukang Besi itu. Ganjar mengatakan, hal tersebut menjadi tolok ukur keberhasilan kabupaten induk, Buton.
Untuk memuluskan jalan pemekaran, hendaknya interest personal dan grup dihilangkan. Semangat pemekaran harus berpijak di atas pondasi keikhlasan untuk kesejahteraan rakyat, dan membagi ”kue” pembangunan di pusat agar terdistribusi merata di daerah.
Terakhir soal pemekaran Buton Raya, semoga benar-benar terwujud tahun depan. Sebab saat diajukan ke Senayan, kondisinya masih kekurangan satu cakupan wilayah. Yang ada hanya empat daerah otonom, Baubau, Buton, Wakatobi, dan Butur. Makanya, ketika Ganjar Pranowo mengatakan Buteng, Busel, dan Buton Raya dimekarkan sekaligus, langsung mengusik nalar sehat saya. Kalau Buteng, dan Busel, mungkin masuk akal. Tapi Buton Raya, masih menjadi tanda tanya besar bagi saya.
Kendati demikian, bukan berarti saya memustahilkan komitmen Komisi II. Sebab sebelumnya pernah terjadi saat pemekaran Provinsi Gorontalo. Provinsi dimekarkan sekaligus dengan kekurangan cakupan wilayahnya.
Toh, pemekaran tersebut didominasi domain politik di parlemen. Dan dalam politik, 1+1 tidak sama dengan dua. Banyak variabel yang mempengaruhi hasil, bisa nol, satu, dua, dua setengah, atau tiga.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 06 Desember 2009
Menanti Baubau jadi Basis Emas Hitam
SEJAK tiga tahun lalu, saya sudah memperoleh informasi bahwa di Baubau akan dibangun Terminal Suplai BBM Wilayah Indonesia Timur (Intim) di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari. Sayangnya informasinya bersifat global, kurang rinci.Beruntung, sebelum lebaran Idul Adha, ketika menyambangi Kadis PU Baubau, Sunaryo Mulyo, saya bertemu Projek Manager (PM) PT Krakatau Engineering, Odi Rivaldi yang mengerjakan proyek tersebut. Bermodal dari pertemuan tak disengaja itu, saya diberi akses untuk melihat dari dekat pengerjaan proyek raksasa tersebut, Sabtu (28/11) pecan lalu.
Ketika menginjakkan kaki di sana, saya langsung berdecak melihat pengerjaan sejumlah infrastruktur. Maklum, latar belakang pendidikan saya teknik sipil. Apalagi rata-rata “piranti” bangunan berukuran jumbo. Itu gambaran awal. Yang ditangkap mata saya benar setelah mendengar penjelasan Odi. Kata dia, proyek dibangun selama dua tahun sejak Januari 2009, anggaran Rp 700 miliar di atas tanah seluas 20 hektar lebih. Dana proyek di luar biaya lahan. nformasi yang saya peroleh dari seorang warga, sekarang harga tanah di sana rata-rata sekitar Rp 50 ribu per meter persegi. Karena lahannya seluas 20 hektar, maka harga tanah Rp 10 miliar.
Dengan demikian total anggaran jika ditambah dengan biaya tanah senilai Rp 710 miliar. Suatu angka yang fantastis. Setara dengan total APBD Baubau dua tahun anggaran. Merupakan satu-satunya proyek raksasa di Buton Raya sejak Indonesia merdeka.
Terminal Suplai BBM terbangun di Baubau terbesar di Intim. Menguji itu, saya tanyakan apakah Pertamina memiliki terminal serupa di Intim. Odi mengatakan di Maluku, Ambon, namun kapasitasnya dibawah 100.000 Kilo Liter (KL). Di Baubau, akan dibangun Terminal Suplai berkapasitas 100.000 KL. Maka itu, tangki yang dibangun sebanyak delapan unit. Masing-masing, empat unit berkapasitas 10.000 KL, dan 15.000 KL. Kapasitas 10.000 KL, diameter tangkinya 35 meter, tinggi 12 meter. Untuk 15.000 KL, diameter 45 meter, tinggi 12 meter. Ilustrasinya satu tangki sama dengan bangunan tiga atau empat lantai.
Saat ini, tangki kapasitas 10.000 KL sedang dirakit tenaga pengelas bersertifikat minyak. Menurut Odi, awalnya tenaga pengelas bersertifikat berjumlah 25 orang, namun setelah dites ulang, yang lolos tinggal 20. Sekadar menggambarkan, tangki di Depot Pertamina Baubau sekarang jumlahnya tiga unit. Masing-masing berkapasitas 1.500 KL, jadi totalnya 4.500 KL. Bandingkan dengan tangki di Terminal Suplai BBM, yang terkecil berkapasitas 10.000 KL.
Artinya, satu tangki terkecil di Terminal Suplai BBM, lebih besar dari tiga tangki di Depot Pertamina Baubau di Kelurahan Katobengke, Kecamatan Murhum. Depot Pertamina yang kini digunakan pun siap-siap berhenti Desember tahun depan, bila Terminal Suplai BBM beroperasi. Soalnya Terminal Suplai BBM tidak hanya melayani kebutuhan regional Intim, tapi juga lokal Baubau.
Mengenai konsumen, Terminal Suplai BBM tidak hanya melayani pembeli di darat, tapi juga di laut. Maka itu, di sana juga dibangun dua pelabuhan untuk kapal berbobot 35.000 DWT, dan 6500 DWT. Pelabuhan berbobot 35.000 DWT berfungsi ganda untuk kapal pengangkut BBM dari Balikpapan, Kaltim, sekaligus kapal yang membeli BBM di laut. Kapal berbobot 35.000 DWT ini, estimasinya seukuran kapal PT Pelni yang beroperasi di Baubau. Sedangkan pelabuhan kapasitas 6500 DWT hanya untuk digunakan mendistribusikan BBM.
Infrastruktur lain yang berteknologi tinggi, adalah sarana pemadam menggunakan foam (busa). Jika terjadi kebakaran, pompa akan terbuka secara otomatis menyemprotkan busa ke tangki untuk menyelebungi. Setelah terselubungi busa, kebakaran di tangki dipadamkan. Pengamanan kebakaran ini tidak hanya berlaku di darat, tapi juga di laut bila terjadi kebakaran kapal. Tak hanya itu, Terminal Suplai BBM juga dilengkapi pemadaman yang bersifat prefentif. Sarananya melalui pembangunan kolam air berkapasitas 5000 kubik. Kata Odi kolam air ini seukuran kolam renang olimpiade.
Di Baubau, bak penampung air terbesar milik PDAM yang terbangun di dekat Taman BRI, di samping Pelabuhan Murhum hanya 1000 kubik. Artinya, yang terbangun di Terminal Suplai BBM lima kali lipat milik PDAM Baubau. Mengenai infrastruktur berteknologi tinggi, termasuk pompa. Perlu diketahui, pompa yang digunakan seluruhnya diimport dari luar negeri, misalnya AS dan sejumlah negara Eropa.
Karena berteknologi tinggi, kebutuhan daya listrik di Terminal Suplai BBM pun tinggi, sebesar 1,5 MW. Dipastikan, PLN Cabang Baubau tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Saat ini saja, untuk membangkitkan energi listrik di lokasi proyek menggunakan genset berdaya 2x450 KVA. Inilah "PR" yang mesti dituntaskan Pemkot. Hal ini bukan kendala bila PLTU Kolese beroperasi.
Dari seluruh penjelasan ringkas ini, publik kini menanti beroparasinya Terminal Suplai BBM akan menjadikan Baubau menjadi basis emas hitam (baca: BBM) di Intim. Apalagi, volume BBM yang ditampung di Kota Semerbak sekitar 100.000 KL. Jika dikalibrasi dengan harga BBM jenis solar untuk industri sekitar Rp 6000 per liter, maka perputaran uang dari emas hitam di Baubau senilai Rp 600 miliar. Bila diasumsikan angka tersebut untuk 22 hari, sesuai standar ketahanan BBM yang digunakan Pertamina, maka nilai transaksi dalam sehari rata-rata Rp 27 miliar.
Nominal yang fantastis untuk kota selevel Baubau. Akhirnya, kita berharap Terminal Suplai BBM tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, dan secara langsung menggerakkan sektor ril. Semoga.(one.radarbuton@gmail.com)
Langganan:
Postingan (Atom)