Minggu, 29 Januari 2012
(Walikota Amirul Tamim di Kilometer 9) Baubau Menembus Batas
TAK terasa hari ini, Senin (30/1) tepat Walikota Amirul Tamim menakhodai Baubau selama sembilan tahun. Meminjam istilahnya Amirul di Kilometer (KM) 9, banyak hal yang telah dilakukan, namun ada pula beberapa catatan yang ia pesankan bagi pemimpin selanjutnya. Berikutnya petikan wawancara wartawan Radar Buton, Irwansyah Amunu kepada Walikota Amirul di Rujabnya, belum lama ini.
--Bapak memimpin Kota Baubau sudah sembilan tahun, sejauh mana pembangunan yang terlihat selama ini?
Baubau ini dalam era kepemimpinan saya, kita mulai tahun 2003. Kita susun visi ingin jadikan Baubau sebagai pintu gerbang ekonomi dan pariwisata di Sultra. Capaian untuk menjadikan Baubau sebagai pintu gerbang ekonomi dan pariwisata Sultra dengan melakukan tahapan-tahapan dalam lima tahun. Memperkuat infrastruktur, memperkuat peran Baubau dengan beberapa langkah-langkah, antara lain merevitalisai apa yang kita miliki. Kemudian menggali potensi yang kita punya. Berikutnya di-connect-kan dengan kawasan-kawasan yang mempunyai kaitan-kaitan fungsional, historis dan kaitan-kaitan yang punya potensi pengembangan ekonomi.
Dari capaian tahun 2003-2008, kita berhasil menjadikan sebagai pintu gerbang ekonomi dan Pariwisata Sultra. Indikatornya, kita bisa lihat dari besarnya peran wilayah Baubau dalam memberikan layanan ekonomi, baik dari arus barang, orang, dan jasa. Dengan memperkuat infrastruktur yang kita miliki.
Juga ditandai dengan berkumpulnya perbankan di Baubau, tadinya 2003 hanya empat bank, secara bertahap muncul satu demi satu sampai tahun 2008. Ini artinya untuk menjadikan pintu gerbang ekonomi tercapai.
Kemudian untuk pintu gerbang pariwisata, kita membangun beberapa infrastruktur. Termasuk memfungsikan Bandara Betoambari, sehingga arus orang masuk cukup besar, dan kita sudah dikenal walaupun belum besar seperti yang kita harapkan. Tapi untuk ukuran Sultra, sebagai daerah tujuan wisata kita jauh lebih maju. Maupun kita kaitkan dengan daerah disekitar kita katakanlah Maluku, Maluku Utara, kita tidak kalah sebagai daerah tujuan wisata.
Periode selanjutnya, tahun 2008-2013, sampai hari ini, tahun ini kita memasuki tahun ke-9, kita ingin jadikan Baubau sebagai Kota Budaya yang produktif. Ini rangkaian tak terpisahkan dari visi kita yang pertama, menjadikan pintu gerbang ekonomi dan pariwisata Sultra.
Capaian lima tahun kita perkuat dengan menjadikan Baubau ini sebagai Kota Budaya yang produktif. Beberapa yang dilakukan, kita punya sejarah panjang, sehingga tahun 2009, ditetapkan usia Kota Baubau ke-469, kita jadikan Baubau sebagai Kota Sejarah. Tentu dengan langkah revitalisasi.
Kita ingin tunjukkan, setiap langkah yang dilakukan oleh siapa saja, khususnya masyarakat, dan pelaku usaha, termasuk pemerintah harus bernuansa nilai tambah. Itulah yang kita maknai produktif. Sehingga dari empat tahun jangka menengah kedua ini, kita melihat capaian dari instrumen yang ada. Daya dukung Pelabuhan Murhum semakin besar, bisa disandari dua kapal besar secara bersamaan.
Lantas lapangan terbang juga begitu, bisa didarati pesawat dengan frekwensi cukup signifikan. Hari ini sudah lima sampai enam kali pesawat dengan arus penumpang tergolong diatas 90 persen load faktor masing-masing maskapai.
Demikian pula dengan antar pulau, dermaga yang kita ikat melalui Dermaga Sulaa, Lakologou, Jembatan Batu, maupun Kalia-lia memperlihatkan indikasi, frekwensi yang makin meningkat.
Dari kondisi ini, kita memperkuat posisi kita. Yang ingin kita rebut, Baubau mengambil sebagian peran Makassar. Dan langkah itu kita sudah memulai dengan beberapa, pertama, suplier beberapa kebutuhan daerah belakang seperti Maluku, Papua, Sulteng, sudah sebagian besar komuditasnya kita layani.
Lalu penempatan Terminal Suplai BBM Pertamina, pada tahun ke-9 ini insya Allah akan diresmikan juga. Berarti peran Baubau ini makin nampak dalam layanannya.
Kemudian litrik, kini dalam tahap-tahap awal pembangunnya yang berarti tahun ke-9 ini sudah ada kepastian telah dibangun 2x10 MW.
semua ini tentu belum berakhir, langkah kita bagaimana menyiapkan lebih luas lagi dengan hitungan-hitungan
agar Baubau benar-benar mempunyai ambang batas dengan daya dukung yang ada sehingga bisa memberikan layanan yang memadai sesuai dengan kapasitas.
--Budaya yang produktif, berarti dengan skenario yang dimainkan selama ini sudah bisa melahirkan orang kaya baru (OKB) dengan stimulasi yang diberikan perbankan?
Kalau kita lihat dari angka-angka perkembangan, sekarang ini, simpanan tabungan masyarakat dana pihak ke-3 sudah menembus Rp 1,3 triliun. Daya serap masyarakat dalam bentuk kredit, catatan perbankan diatas Rp 900 miliar.
Belum termasuk dana masyarakat yang tersimpan di bawah bantal, menurut kita masih fifty-fifty dana masyarakat yang disimpan sendiri dengan melalui jasa perbankan.
--Artinya tidak salah kalau disebut Baubau ini menembus batas. Harapan masyarakat tercapai melebihi apa yang mereka bayangkan?
Karena memang sebagian dari kita masih menganggap apa yang kita mimpikan dalam obsesi-obsesi kita merancang Baubau, masih ada beberapa pihak yang belum bisa menangkap sepenuhnya. Tapi ternyata batas-batas dari jangkauan itu, seperti yang tidak terpikirkan, apa yang kita lakukan melampaui kapasitas-kapasitas yang harusnya dimainkan Baubau.
Sehingga dalam peta nasional kita masuk dalam koridor yang diperhitungkan dan dimasukan dalam jalur Master Plan Percepatan Pembangunan (MP3) Ekonomi Nasional Indonesia. Kita sudah secara tegas garis itu ada, dan menunjuk Baubau.
Itulah yang harus dimaklumi, dan kita perlu menjemput masa depan itu dengan langkah strategis yang harus dibangun bersama.
Indikator lain dikatakan menembus batas, Pemkot Baubau menjalin kerjasam dengan Korea. Hasilnya, sudah bisa dipetik dalam beberapa tahun belakangan ini, dirasakan langsung oleh masyarakat. Misalnya petani, tenaga pendidik, guru, dan pelajar.
Tidak bisa dilupakan, tahun ini kita menjadi Tuan Rumah Festival Keraton Nusantara (FKN). Nantinya di Baubau ini akan kedatangan kurang lebih seratus kesultanan dan kerajaan dari seantero tanah air.
--Terkait dengan MP3, ambang batas penduduk untuk menopang peran tersebut kata bapak idealnya 500 ribu jiwa, sekarang penduduk Baubau baru sekitar 100 ribuan. Apa yang dilakukan supaya bisa mencapai ambang batas penduduk tersebut?
Jadi memang kalu ingin mengambil peran Makassar atau sebagain peran Makassar maka dengan penduduk hanya 100 ribu atau 200 ribu lebih, kita akan berat, karena kita terbatas dimainkan oleh pelaku-pelaku.
Agar kita bisa mengambil peran itu, memberikan layanan, dan memenuhi harapan-harapan kita sesuai dengan posisi strategis yang dimiliki, maka ambang penduduk Baubau, daya dukung, ambang toleransi penduduk harus sekitar 500 ribu jiwa.
Untuk mengkondisikan penduduk sebanyak itu, maka Baubau harus dikemas sedemikian rupa sehingga ruang-ruangnya disiapkan. Dibangun Lea-lea sebagai Kota satelit, menyiapkan Waruruma dengan kota kawasan mandirinya, membangun Betoambari sampai di arah perbatasan Batauga dengan Kasiba dan Lisiba-nya.
Karena topografinya yang terbatas, oleh sebab itu kita jadikan Baubau dengan Konsep Bawapabari (Baubau, Wamengkoli, Pasarwajo, Batauga, Kapontori). Bahwa walaupun tinggal di Batauga, Wamengkoli, Kapontori, Pasarwajo adalah bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan Baubau dalam memberikan peran-peran layanannya di masa-masa akan datang.
Maka itu di tahun ke-9, kita perlu membangun koneksitas dan sinergitas antara semua komponen, termasuk antara pemerintah dalam kawasan ini. Baubau dengan Buton, Baubau dengan Butur, Baubau dengan Bombana, Baubau dengan Wakatobi. Dan dari kita semua Buton dengan Wakatobi, Buton dengan Butur, Buton dengan Bombana. Ini adalah suatu kolaborasi yang harus dipikirkan bersama, karena kita tidak mungkin memainkan peran itu sendiri.
Olehnya itu, kita harus menyatu dalam satu langkah yang sama, cara pandang yang sama dengan ikatan emosional yang mempunyai rasa tanggung jawab yang sama.
--Jadi, dengan hanya mengandalkan kelahiran, perlu waktu, tapi dengan Bawapabari menjadi kekuatan untuk mencapai target jumlah penduduk 500 ribu jiwa tersebut?
Itu kita bisa capai karena tidak sedikit orang Buton di perantauan sudah berhasil. Diharapkan mereka kembali dan menanamkan investasinya di sini. Sekaligus menjadi warga dalam arti yang luas, kemudian mereka bisa memilih domisili di Baubau.
Namun demikian, ada syarat-syarat lain yang harus disiapkan untuk memberikan jaminan-jaminan itu. Yang pertama, memperkuat fasilitas dan mutu pendidikan. Karena orang memilih tempat tinggal, harus menghitung bagaimana dengan sekolah anaknya, apakah berkualitas. Itulah tantangannya menjadikan guru-guru berkualitas, sekolah yang bermutu.
Demikian pula dengan layanan kesehatan, harus bisa memberikan jaminan bahwa orang tinggal di Baubau dengan layanan kesehatan dasar bisa dilayani.
Tapi lebih jauh dari itu mereka bisa mendapatkan informasi pada waktu yang sama, itulah yang kita bangunkan Baubau sebagai Kota IT. Jadi internet harus menjadi kekuatan pendukung Baubau tersendiri.
Tapi itu tidak cukup, bahwa orang dari dan mau datang ke Baubau, setiap saat harus bisa. Pagi dia mau berangkat ada pesawat, siang, sore, dan malam pun berangkat ada pesawat. Itulah diusahakan, Baubau sudah bisa pagi sampai sore. Tapi bagaimana Baubau dalam satu dua tahun ini, harus disiapkan malam pun pesawat bisa mendarat.
--Artinya dengan kata lain ada kepastian investasi?
Betul. Ada fasilitas penunjang. Semua harus ada.
---Bagaimana bapak melihat kondisi masyarakat dengan skenario selama ini? Sejauh mana peran mereka?
Memang, potensi masyarakat kita kuat, tapi sifat kepemimpinan harus bisa memberikan warna. Kawasan ini, daerah ini pernah terjadi stagnasi kreativitas karena ada catatan sejarah yang mencekam, membuat potensi SDM kita tidak bisa kreatif, karena ada situasi politik tahun 1969.
Mungkin juga ada sifat-sifat kepemimpinan diantara kita yang tidak memberikan ruang kreatifitas bagi generasi-generasi kita, sehingga terjadi kemandekan. Dan ini tidak sesuai dengan era yang kita miliki.
Kemudian kelompok-kelompok penekan yang tidak sinergi, artinya mereka bersuara, bergerak tapi tidak dalam konteks yang memberikan suasana membangun.
---Bapak melihat daya dukung masyarakat kita cukup memadai?
Potensial sekali kita. Sudah kuat kita. Salah satu indikator masyarakat kita kuat, ketika tidak bisa berkreasi disini karena sistem yang dibangun dia tidak bisa maju, ia keluar, di sana ia berhasil. Olehnya itu mari kita sadari sebagai pemimpinan, jangan kita melakukan seperti itu.
---Bagaimana dengan Baubau sekarang, apakah sudah siap? Apakah peluang investasi menjanjikan bagi mereka?
Ya, kita harus yakin, secara nasional semua daerah sementara membangun. Dan dengan pembangunan masing-masing daerah akan melahirkan orang kaya baru. Orang kaya baru berarti kebutuhannya meningkat, berarti disisi lain harus ada pihak yang bisa memberikan layanan terhadap kebutuhan itu.
Dari sisi kawasan, dan karakter, dukungan infrastruktur sebenarnya kita lebih siap untuk memberikan layanan.
Kondisi ini jangan sampai kita lalai, hanya berebut dalam satu piring kecil yang kita namakan piring politik, sementara ruang dan pelung ekonomi diabaikan. Itu yang harus kita waspadai. Jadi kesadaran itu harus dibangun.
Jangan sampai kita terjebak dalam ruang, piring, gelas politik sehingga peluang kita merebut sisi lain, permintaan kebutuhan dari warga berbagai belahan bumi ini tidak bisa ditangkap.
---Tahun ke-9 saatnya melakukan evaluasi dan pemantapan. Apa ada hal yang perlu dibenahi?
Bisa dikatakan evaluasi, tapi sebenarnya kita hendak memotret kinerja kita selama sembilan tahun, karena evaluasi selalu dilakukan setiap tahun. Apakah sudah setingkat dengan rancangan dengan peran yang lebih luas, peran kewilayahan yang harus dimainkan Baubau. Peran kewilayahan itu tidak boleh terjadi secara alami, harus terkonsep. Harus dirancang dengan langkah-langkah strategis, karena kalau tumbuh secara alami, itulah Baubau tempo dulu. Kalau dilakukan secara alami, akhirnya kita didahuli daerah lain dan inefisien, terjadi pemborosan kalau tumbuh sendiri, mengaup begitu saja.
Kita sudah alami, bagaimana kita di awal Sultra ini, kondisi kawasan, masyarakat dan kotanya, Baubau diatas. Tapi dalam perjalanan selanjutnya, Baubau ditinggalkan daerah yang berada di bawah jenjangnya pada waktu itu.
olehnya itu, harus kita sadar tidak boleh kita diamkan Baubau ini tumbuh secara alami, harus tumbuh secara terkonsep dan dibuat langkah-langkah strategis.
--Dari aspek pemantapan, hal apa yang bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan yang dimiliki Baubau?
Sembilan tahun tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan, sampai dengan 10 tahun. Tahun pemantapan 2012 tidak mungkin menyelesaikan dan menguatkan Baubau seperti yang kita harapkan. Tapi setidaknya dalam sembilan tahun ada kerangka dasar yang bisa diwujudkan, bisa dibaca untuk melihat kekurangan apa lagi, dan kebutuhan apa yang diperlukan untuk disusun secara terang dan terkonsep, dengan langkah strategis, tahapan yang benar-benar bisa mengalir, dan menciptakan wujud yang bisa diharapkan oleh semua.
---Kesannya masyarakat sudah bisa bergerak, tapi tidak tahu apa yang diperbuat. Makanya butuh regulator, butuh penguatan. Pemkot sudah memainkan itu dengan baik. Masyarakat siap, namun bergerak secara alami, skenario apa lagi di penghujung kepemimpinan bapak ini yang dimainkan agar masyarakat sadar bahwa mereka punya potensi?
Yang perlu sekarang perkuat, membangun koneksitas Baubau dengan daerah belakangnya, daerah Butun Raya. Kemudian daerah yang menjadi layanannya selama ini baik secara historikal, tradisi, maupun kita lihat dalam perspektif layanan. Yang kita maksudkan daerah Maluku, Maluku Utara, Papua dan sebagian di luar kawasan Buton Raya. Termasuk Kendari, Konawe, maupun Sulteng. Itu harus kita lihat sebagai daerah belakang kita.
Hitungannya jelas, selama ini kawasan itu dilayani Makassar. Sementara posisi Makassar secara geografis di belakang Pulau Sulawesi. Kita, Baubau di kakinya Sulawesi. Artinya kalau kita main sepakbola, mana yang bagus tendangannya orang yang oper bola dari belakangnya atau kakinya? Kalau kita analogkan itu, sebenarnya Baubau itu posisinya strategis untuk memberikan layanan terhadap daerah belakangnya.
--Memasuki tahap akhir kepemimpinan bapak, apa yang bapak pesankan kepada masyarakat?
Pembangunan ini tanpa partisipasi masyarakat, tidak mungkin. Jadi masyarakat, mari kita melihat secara bersama-sama, Baubau ini harus didukung infrastruktur, misalnya jalan bisa lebih memadai.
Untuk lebih memadai, semua komponen kota manfaatkan ruang yang ada disekitar jalan, jangan diabaikan peran-peran atau daerah milik jalan. Harus dihitung, jalan itu punya daerah milik, harus ada bahu jalan, drainase, dan ada toleransi antara jalanan dan bangunan, itu kita sebut dengan sempadan bangunan. Jangan abaikan itu.
Kalau diabaikan, akan menjadi pekerjan pada tahapan selanjutnya. Yang harusnya sudah lari, kita harus benahi lagi pelebaran jalan. Itulah sebabnya pembangunan jalan baru harus lebar sehingga masyarakat dalam sekian tahun tidak lagi berpikir jalan sempit. Tinggal membuka jalan baru untuk memberikan ruang-ruang baru.
Dan kepada masyarakat, pasar jangan lagi berfokus pada satu titik. Semua kawasan Baubau adalah pasar.
---Himbauan kepada calon pemimpin Baubau setelah bapak?
Bagi calon pemimpin, setiap pemimpin harus membuat sejarahnya. Jangan pemimpin selanjutnya, sejarahnya hanya membongkar apa yang pernah dilakukan pendahulunya. Itu sangat mubazir.
Dalam sembilan tahun Baubau ini, bisa disaksikan apa yang dibangun pendahulu-pendahulu kita tidak pernah dibongkar atau dihilangkan. Tapi yang kita lakukan kalau tidak perlu, direvitalisasi, penguatan, dan membangun fasilitas-fasilitas baru. Sehingga fasilitas Baubau lebih kuat, memadai, dan lebih banyak.
---Artinya kalau diakhir kepemimpinan bapak Baubau sudah di Kilometer 10, selanjutnya jangan mulai dari Kilometer nol lagi, tapi melanjutkan?
Itulah kenapa menggunakan istilah Kilometer, agar ketika kita mencapai tujuan jangan selalu start dari Kilometer nol. Kita harus start pada Kilometerpada posisi akhir dari ibarat estafet. Jadi kalau lari estafet, jangan penerima tongkat berikutnya start dari garis start. Tapi bagaimana mengambil tongkat, berlari menuju ke garis finish yang ditentukan, sehingga pada saatnya lagi diserahkan tongkat estafet itu dan berlari lagi ke depan.
Tapi kan selama ini banyak kita lihat pengalaman-pengalaman dalam proses kepemimpinan, pemimpin selanjutnya kembali ke garis start, jadi selalu nol.
Itulah kenapa kita gunakan istilah Kilometer 9, itulah yang kita inginkan.
---Karakter pemimpin pelanjut setelah bapak seperti apa?
Kita harapkan karakter yang bisa memahami perjalanan, kita start dari Kilometer berapa, dan berlari dari Kilometer berapa. Kita berharap kita semua bisa memberikan masukan-masukan sehingga ketika membawa lari tongkat estafet tidak keluar dari garis yang sudah ada.(***)
-Silaturrahim Membangun Sinergi dan Koneksitas: Baubau-Buton Cair (Persoalan Aset Tuntas)
BAUBAU, RADAR BUTON-Semalam hubungan antara pejabat Pemkot Baubau dan Pemkab Buton, begitu akrab. Mereka hadir di Rujab Walikota Baubau mengikuti acara Silaturrahim bertajuk: Membangun Sinergi dan Koneksitas Baubau-Buton.
Walikota Amirul Tamim, Bupati Nasruan, Sekot Ahmad Arfa, dan Sekab Kaharuddin Syukur duduk satu meja. Mereka dikelilingi pejabat eselon II, dan III masing-masing daerah.
Walikota Amirul mengawali pidatonya mengatakan ini sejarah baru bagi kita, diawal tahun. Biarlah perbedaan sebagai kekayaan. Perbedaaan, banyak hikmah yang dipetik.
"Alhamdulillah malam ini kita membangun sinergi dan koneksitas," ujarnya.
Sekretaris PPP Sultra ini mengatakan, ada beberapa alasan perlu dibangun koneksitas. Pertama, Buton dalam arti utuh dan kita mimpikan sebag Buton Raya, kini terjadi beberapa kabupaten/kota adalah andil kita semua. Sekecil apa pun. Kalau tidak secara fisik, minimal doanya. Sekarang ada Buton, Baubau, Bombana, dan Wakatobi.
Kedua, Baubau secara admnistratif pemerintahannya hanya berbatasan dengan Buton. Utara, timur, selatan, dan Barat dikelilingi Buton. "Kalau tidak konek, mau jadi apa kita. Oleh karena itu, dulu walaupun kita diapa-apa, kita tidak pernah bereaksi. Dan itu kita tidak salahkan siapa-siapa," ujarnya.
Ketiga, kader-kader daerah ini harus dilihat secara utuh, tidak bisa dilihat ini kader Baubau, ini Buton karena kita satu kesatuan. Karena kita lahir dan berdiri dari sini. Ketika ada pegawai dari Buton ke Baubau, tidak pernah dipersoalkan rekomendasinya siapa, begitupun sebaliknya.
"Baubau tidak bisa dalam kesendiriannya, Buton tidak bisa dalam kesendiriannya. Kemudian kita sudah punya komitmen kawasan ini akan jadi provinsi, dan ibukotanya Baubau. Sekarang memang Baubau ada batas-batas, tapi kalau sudah jadi gubernur tidak akan ada batas-batas," bebernya.
Walikota dua periode ini juga menyinggung Konsep Bawapabari (Baubau, Wamengkoli, Pasarwajo, Batauga, Kapontori) sebagai salah satu bentuk koneksitas wilayah. Banyak keuntungan yang bisa diraih kedua daerah bila konsep tersebut terwujud, misalnya ekonomi dan dampak ikutan lainnya.
Diakhir pidatonya, Amirul mengatakan setelah mengikuti acara tersebut tidak usah risau. "Santai-santai saja, pulang dari sini tidak ada mutasi. Santai saja," ujarnya disambut geer ratusan hadirin.
Setelah itu, giliran Bupati Nasruan berpidato. Kata dia, pertemuan tersebut penting dalam membangun Buton secara keseluruhan bukan hanya Buton secara arti administratif. Tapi dalam kebersamaan atau dalam sinergi dan koneksitas.
"Menurut saya tidak ada alasan untuk bersengketa, gontok-gontokan. Aset, pegawai, menurut saya itu persoalan kecil. Kita ini Indonesia. Kita hanya sebagai daerah administratif. Tidak ada batas-batas wilayah. Menurut saya ini tidak hanya konek antara Buton-Baubau. Tapi harus dengan semuanya, Muna, Wakatobi, Butur," paparnya.
Dalam konteks ini dia mendukung apa yang dikatakan walikota. Maka itu, harus ditindaklanjuti di meja untuk membangun kerjasama.
Tak lupa dia mencerikan pengalamannya ketika menjabat Asisten I Setprov Sultra. Pernah ada MoU antara Kepala Bappeda dalam jazirah Buton Raya minus Buton. "Karena saat itu Baubau-Buton seperti Palestina dengan Israel," ucapnya lantas membuat undangan tertawa.
"Kita sesama Buton jangan saling mendahului," ujarnya dengan nada humor. Kontan hal tersebut mengundang aplaus dan gelak tawa hadirin.
"Buktinya pejabat di Buton sebagian besar warganya walikota. Oleh sebab itu mereka tokoh masyarakat Baubau. Harusnya mereka sering silaturahmi ke atasannya, Walikota Baubau," cetusnya. Ini kembali mengundang tawa para undangan.
Sebelum kembali duduk, Nasruan membawakan sebuah lagu. Selanjutnya, Nasruan mengundang kembali walikota untuk membawakan lagu.(p13/p14/p15/din/iwn)
Penerbangan Bersejarah
Catatan: Irwansyah Amunu
JUMAT (20/1) lalu, saya diutus Radar Buton untuk mengikuti Workshop dan Uji Kompetensi untuk pemimpin redaksi (Pemred), redaktur pelaksana (Redpel) dan Redaktur dalam lingkungan Fajar Group di Graha Pena, Makassar. Karena acaranya digelar pagi, maka saya putuskan menggunakan penerbangan perdana.
Kamis sore, saat tiket saya kantongi, saya nyaris tidak percaya dengan keterangan yang tertera di tiket. Soalnya di situ tertulis, jadwal pesawat boarding pukul 06.10 Wita. Bahkan ketika kolega di kantor mengingatkan, setelah Salat Subuh harus ke Bandara Betoambari, Kota Baubau, Sultra, untuk cek in, saya agak mengacuhkan. Di benak saya sudah menari-nari asumsi: ini kan penerbangan di Indonesia. Pasti telat lagi. Pasti lelet lagi.
Asumsi tersebut bukan tanpa dasar. Sebab selama ini, pengalaman saya bepergian menggunakan pesawat, tidak pernah tepat waktu. Selalu di-delay alias terlambat dari jadwal.
Apalagi pulang kantor Kamis itu, jam menunjukkan nyaris pukul 24.00. Sebelum menuju "Pulau Kapuk" saya sempat membereskan sejumlah perlengkapan yang hendak dibawa. Meski seadanya, namun cukup membutuhkan waktu juga. Kontan, mata saya terpejam Jumat dini hari. Kendati demikian, pukul 04.30 saya sudah bangun, selanjutnya Salat Subuh.
Karena asumsi awal tadi, saya tidak tergesa-gesa ke bandara. Beberapa persiapan lain masih saya lakukan. Melihat itu, isteri saya mengingatkan supaya segera ke bandara seraya menanyakan jam berapa pesawatnya terbang. Saya berujar,"Pukul 06.20."
Makanya, saya pun bergegas ke bandara. Jam nyaris menunjukkan pukul 06.00. Tiba di bandara, saya langsung cek in. Lantas menuju loket boarding pass, sebab sudah diumumkan penumpang diminta naik ke pesawat. Praktis tiba di bandara, sampai naik ke pesawat tidak sampai lima menit. Saat duduk di kursi, saya melirik jam tangan saya menunjukkan pukul 06.10. Luar biasa, penerbangan bersejarah. Sesuai antara data yang ada di tiket dengan fakta.
Dalam hati saya bergumam, tampaknya tadi saya adalah penumpang terakhir yang cek in. Alhamdulillah, tidak ketinggalan pesawat.
Di "kapsul besi" milik Wings Air tersebut saya duduk di kursi nomor 4. Saya melempar pandangan ke depan, ada beberapa kursi yang tak terisi. Sejurus kemudian, pramugari memperagakan prosedur keselamatn penumpang. Setelah itu diumumkan, penerbangan akan dilakukan selama satu jam pada ketinggian 15 ribu kaki, bersama Kapten Arif Hendro.
Tiba di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar sekitar pukul 07.10. Hitungannya tepat sejam, sesuai yang tercantum di tiket. Di dalam pesawat, saya mendengar dari seorang ibu yang duduk tidak jauh dari saya, dia bertutur dengan penumpang lain, sebetulnya ia bersama rombongan. Namun tertinggal, tidak ikut penerbangan. Karena itu, dia akan menunggu rekannya tersebut di Bandara Hasanuddin pada penerbangan selanjutnya. Bisa jadi rekannya telat karena anggapannya sama dengan asumsi saya tadi.
***
Setelah mengikuti agenda di Makassar selama dua hari, saya balik ke Baubau, Minggu (22/1). Mengacu pada pengalaman keberangkatan tadi, saya tiba di Bandara Hasanuddin pukul 09.00 lebih. Soalnya di tiket jadwal pesawat boarding pukul 10.20.
Ketika menunggu di bandara, saya bertemu dengan Kepala Badan Perizinan dan Penanaman Modal Kota Baubau, Amril Tamim. Darinya saya mendapat informasi rupanya pesawat milik Maskapai Wings Air tersebut parkir di Bandara Betoambari. Pesawat jenis ATR-500 itu tergolong baru, belum lama buka dus. Kini rute Baubau-Makassar lima kali, dilayani Merpati, Wings Air, dan Express Air. Bukti Baubau kini telah menjelma menjadi daerah yang nyaman untuk investasi.
Rute tadi, belum terhitung trayek baru yang dibuka Express Air, mulai Sabtu (21/1). Maskapai tersebut mengoperasikan pesawat buatan Jerman, 328-300 Door Near tipe jet yang diproduksi tahun 2000. Mampu mengangkut 32 penumpang belum termasuk enam kru pesawat.
Singkat cerita, penerbangan pulang kali ini pun sama antara data di tiket dengan kenyataan. Alhasil, saya simpulkan penerbangan saya kali ini terbilang bersejarah. Tepat waktu.
Saya berharap hal ini tidak berlaku kali ini saja, tapi seterusnya. Bukan hanya oleh Wings Air, tapi semua maskapai. Dengan demikian, ketika menyebut boarding pukul 06.10 Wita, memang betul demikian. Pukul 06.10 Wita sesuai dengan akronimnya, Waktu Indonesia Tengah (Wita). Bukan berarti minor, pukul 06.10 WITA artinya Waktu itu Terserah Anda (WITA). Semoga!(one.radarbuton@gmail.com)
Jumat, 09 Desember 2011
(PSU Pemilukada Buton: 15 Desember atau 25 Januari) Harga Mati, atau Mati Harga
Catatan: Irwansyah Amunu
SETELAH melalui proses yang panjang, kabarnya disepakati Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilukada Buton digelar 25 Januari 2012. Jadwal ini molor sebulan dari yang dibuat KPU Buton sebelumnya, yakni 15 Desember tahun ini.
Hal ini menegaskan hari H PSU yang dipekikkan Ketua KPU Buton, La Biru, 15 Desember, bukan harga mati, tapi mati harga. Artinya, jadwal tersebut bukan sesuatu yang tetap, tapi masih bisa dinegosiasikan dengan pertimbangan rasional, diantaranya tahapan, dan anggaran.
Memang, membahas pelaksanaan PSU Pemilukada Buton tergolong pelik. Apalagi sudah ada pengalaman, hasil Pemilukada yang digelar 4 Agustus lalu, dianulir MK. Vonis tersebut tentu melahirkan trauma bagi penyelenggara pemerintahan di BUton yang saat ini dijabat Nasruan agar hasil PSU jangan lagi dibatalkan. Soalnya dana yang terbuang percuma saat Pemilukada lalu, tidak kecil, total jenderal Rp 12 miliar.
Dana itu diambil dari kas daerah, bukan kantung pribadi. Karena hasilnya dibatalkan, sama dengan uang tersebut hilang, atau sama saja dibuang ke laut, tanpa menghasilkan apa-apa. Coba bayangkan kalau dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, bisa membangun satu atau dua gedung perguruan tinggi yang super mewah di Pasarwajo. Atau dialokasikan membangun perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), kalau satu rumah seharga Rp 45 juta, bisa didirikan sebanyak 266 rumah. Dampaknya tentu lebih dirasakan masyarakat luas.
Nah, kembali ke soal dana. Faktor ini memang harus diperhatikan secara cermat. Jangan sampai pengalaman yang lalu kembali terulang. Ingat, dana yang digunakan besar, sekitar Rp 8 miliar. Bila kembali terulang pengalaman pertama lalu, maka itu sama dengan melukai hati rakyat. Perlu dicatat, dana tersebut adalah uang rakyat yang diamanahkan kepada pengelola negara. Dengan demikian harus digunakan secara benar. Apalagi penggunaan dana saat Pemilukada 4 Agustus lalu belum dipertanggungjawabkan.
Terkait penyelenggaraan PSU, kalau dipetakan, ada dua kubu yang bertarung. Kutub yang pertama, menghendaki agar secepatnya dilaksanakan. Yang kedua, sebaliknya.
Yang pertama, kukuh dengan keyakinannya. Bahkan menyebut jadwal PSU, harga mati. Yang kedua, sebaliknya. Mati harga.
Terlepas dari semua itu, marilah kita berpikir jernih agar polemik di Buton tidak berkepanjangan. Dasarnya, harus mengacu pada aturan. Kalau tidak, uang yang dialokasikan pasti mubazir lagi. Persoalannya, akan kembali terbuka celah hukum yang bisa digunakan calon yang kalah untuk kembali menggugat di MK. Kalau sudah begitu yang terjadi, energi yang dimiliki Buton hanya terkuras pada penyelenggaraan pesta demokrasi. Sementara, sektor pembangunan hampir bisa dipastikan bakal terlantar. Dengan demikian, rakyat lagi yang rugi.
Teranyar, tentang PSU tanggal 25 Januari. Logika sehat kita kembali terusik. Mungkinkah ini bisa dilaksanakan? Bila nota kesepahaman dibuat antara KPUD dengan Pemkab Buton diteken tanggal 7 Desember, maka proses Pemilukada menuju hari H PSU hanya 49 hari. Mungkinkah semua tahapan dilaksanakan selama 49 hari?
Sebagai pembanding, tahapan Pemilukada lalu berlangsung selama tujuh bulan. Diantaranya, verifikasi Balon independen, dari unsur Parpol, penetapan calon, penentuan nomor urut, kampanye, masa tenang, sampai hari H. Jadi, kalau dilaksanakan selama 49 hari, tentu ada tahapan yang hilang.
Pertanyaannya, secara aturan, bolehkan hal tersebut dilakukan? Tentu kita sudah bisa menjawabnya.
Hal lain, ditengah polemik pelaksanaan PSU, publik masih menyimpan tanya, mengapa Komisioner KPU Buton, La Biru, La Ode Endang, Sumarno, Abdul Salam, dan Sahiruddin masih dipercaya menyelenggarakan pesta demokrasi. Bukankah sudah ada cacat yang mereka tinggalkan dalam Pemilukada lalu, berujung pembatalan hasil Pemilukada oleh MK. Kesan yang kita tangkap, terkesan mereka begitu sakti, hukum seolah tidak bisa menyentuh mereka.
Akhirnya, PSU pada 15 Desember 2011, atau 25 Januari 2012, apakah harga mati atau mati harga? Kita lihat saja nanti?(one.radarbuton@gmail.com)
Jumat, 28 Oktober 2011
Derma Korea
Catatan: Irwansyah Amunu
ADA yang berbeda dengan peringatan HUT Kota Baubau ke-470 kali ini. Kendati nuansa klasik Kontemporer semakin terasa, namun citarasa nasional dan global pun tak bisa dielakkan.
Soalnya, dalam peringatan Dirgahayu kali ini tidak hanya dirayakan warga Metro, tapi juga disemarakkan dengan kehadiran Tim Kesenian Korea.
Nuansa tersebut sudah diperlihatkan beberapa hari terakhir. Puncaknya akan dipertontonkan dalam kolaborasi seni pada malam Ramah Tamah HUT yang akan dirangkaikan dengan penutupan Baubau Expo, di Kotamara, Senin malam (17/10) nanti.
Penampilan Tim Kesenian Korea, menjadi catatan tersendiri bagi kota yang memiliki benteng terluas di dunia ini.
Ya, inilah dampak dari kerjasama yang dijalin Pemkot dengan Negeri Gingseng tersebut. Apalagi sebelumnya sudah banyak bantuan yang diberikan Korea. Ya, derma Korea.
Paling mutakhir misalnya, kedatangan Deputi Pertanian Korea, Kang Sang Jo. Pejabat eselon I setingkat menteri tersebut bersama seorang guru besar Korea ke Baubau membawa buku panduan pertanian untuk petani di Sorawolio. Buku tiga bahasa --Ciacia, Indonesia, dan Korea-- tersebut mengambil sampel kondisi geografis lahan agraris Sorawolio.
Soal ini, saya bersyukur ketika diundang Walikota Amirul Tamim untuk menghadiri acara peluncuran buku tersebut. Saya bisa mengetahui apa sebenarnya gagasan besar di balik kerjasama tersebut yang bisa dipetik Pemkot dalam bidang pertanian.
Pemikiran pertama, Baubau berada di pulau, sehingga perlu dukungan logistik. Pengalaman buruk di Nias yang sempat mengalami krisis pangan. Maka itu, logistik lokal, pertanian harus kuat.
Kedua, mencermati potensi Baubau, masyarakatnya memiliki keterampilan menanam padi ladang. Realitanya, dalam setahun petani menanam padi, hasilnya sampai dua kali panen. Produksinya bisa ditingkatkan pada saatnya nanti menjadi 12 ton per tahun.
Rupanya peningkatan produktivitas pertanian bukan satu-satunya kata kunci dari kerjasama ini. Kata Amirul, perlu segera dilakukan upaya yang bisa memberikan niai tambah bagi daerah namun dengan mengoptimalkan potensi tertentu yang khas.
Lagipula Korea dalam setahun, tetap sekali panen. Tapi sukses melakukan diversifikasi pertanian, diselingi tanaman lain, sehingga produktifitas lahannya tinggi.
Hal lain, dengan teknologi, Korea mampu menciptakan varietas unggul. Misalnya beras untuk orang bertubuh gemuk, orang pendek supaya tinggi, wanita agar kandungannya bagus, dan beras bagi penderita penyakit gula.
Amirul menandaskan, Pemkot perlu menuju ke sana. Agar dengan lahan yang sempit, bisa memenuhi pasar Baubau, regional, nasional, bahkan internasional.
Memang, kalau sekadar kenyang, makanan tradisional jenis kaowi-owi (ubi rebus) atau kapusu (jagung rebus) sudah cukup. Tapi bukan itu tujuan.
Berkaitan dengan ini saya teringat tahun 2006 silam ketika bersama-sama dengan 34 mahasiswa pascasarjana Unhas Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah (PPW) dari pegawai Pemkot yang Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Singapura. Ketika berada di Nasional University of Singapore (NUS), salah seorang dosennya yang berkewarganegaraan Indonesia, Prof Johanes Widodo mengatakan untuk memiliki daya saing global, Singapura mengembangkan Informasi Teknologi (IT) jenis mikro chip. Singapura tidak mungkin mengembangkan IT jenis multimedia karena akan kalah bersaing dengan negara yang lebih awal dan lebih maju seperti Jepang atau negara di benua Eropa lainnya.
Langkah tersebut tepat. Terbukti, salah satu sekuel film animasi terlaris di dunia yang kerap kali memuncaki Box Office, Lord of The Ring dibuat di Singapura menggunakan teknologi itu. Kenapa pilihan jatuh ke Singapura? Karena negara ini termasuk memiliki kecanggihan dalam bidang mikro chip tadi.
Jadi, ada yang khas. Itulah yang dikembangkan dan diperkuat.
Terkait kerjasama Pemkot dengan Korea, bila dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan arah yang hendak dituju Amirul, relefan dengan langkah Singapura. Atau negara lainnya di dunia. Atau daerah lainnya di Indonesia. Seperti Gorontalo, walau tergolong provinsi muda di Indonesia, hanya dengan memaksimalkan produksi jagung, namun hasilnya sudah sampai di ekspor ke luar negeri.
Jadi, gagasan besar tadi kalau digarap secara maksimal dengan grand design (perencanaan) disertai dengan road map (peta jalan) yang tepat, bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan.
Secara imajiner, tangga untuk menuju ke sana sudah dibuat. Pertama, walikota, Kadis Pertanian, dan petani Sorawolio sudah pernah studi banding di Korea. Kedua, buku panduan pertanian hasil penelitian lahan Sorawolio sudah diterbitkan. Ketiga, SMK 5 Pertanian sudah mulai mendidik SDM. Tinggal membuat anak tangga selanjutnya untuk mencapai hasil yang ingin dipetik nanti.
Lagipula Korea sudah membuktikan dengan beberapa kali kunjungan ke Baubau untuk memberikan sejumlah bantuan. Sebaliknya pihak Pemkot pun sudah beberapa kali ke Korea untuk menimba ilmu.
Intinya, derma Korea ini, rugi kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kita tidak ingin kerjasama yang dijalin sejak di penghujung 2008 lalu ini hanya bergerak di ruang hampa atau cuma sebatas budaya dan bahasa. Tapi harus memberikan nilai tambah lebih bagi daerah.(one.radarbuton@gmail.com)
ADA yang berbeda dengan peringatan HUT Kota Baubau ke-470 kali ini. Kendati nuansa klasik Kontemporer semakin terasa, namun citarasa nasional dan global pun tak bisa dielakkan.
Soalnya, dalam peringatan Dirgahayu kali ini tidak hanya dirayakan warga Metro, tapi juga disemarakkan dengan kehadiran Tim Kesenian Korea.
Nuansa tersebut sudah diperlihatkan beberapa hari terakhir. Puncaknya akan dipertontonkan dalam kolaborasi seni pada malam Ramah Tamah HUT yang akan dirangkaikan dengan penutupan Baubau Expo, di Kotamara, Senin malam (17/10) nanti.
Penampilan Tim Kesenian Korea, menjadi catatan tersendiri bagi kota yang memiliki benteng terluas di dunia ini.
Ya, inilah dampak dari kerjasama yang dijalin Pemkot dengan Negeri Gingseng tersebut. Apalagi sebelumnya sudah banyak bantuan yang diberikan Korea. Ya, derma Korea.
Paling mutakhir misalnya, kedatangan Deputi Pertanian Korea, Kang Sang Jo. Pejabat eselon I setingkat menteri tersebut bersama seorang guru besar Korea ke Baubau membawa buku panduan pertanian untuk petani di Sorawolio. Buku tiga bahasa --Ciacia, Indonesia, dan Korea-- tersebut mengambil sampel kondisi geografis lahan agraris Sorawolio.
Soal ini, saya bersyukur ketika diundang Walikota Amirul Tamim untuk menghadiri acara peluncuran buku tersebut. Saya bisa mengetahui apa sebenarnya gagasan besar di balik kerjasama tersebut yang bisa dipetik Pemkot dalam bidang pertanian.
Pemikiran pertama, Baubau berada di pulau, sehingga perlu dukungan logistik. Pengalaman buruk di Nias yang sempat mengalami krisis pangan. Maka itu, logistik lokal, pertanian harus kuat.
Kedua, mencermati potensi Baubau, masyarakatnya memiliki keterampilan menanam padi ladang. Realitanya, dalam setahun petani menanam padi, hasilnya sampai dua kali panen. Produksinya bisa ditingkatkan pada saatnya nanti menjadi 12 ton per tahun.
Rupanya peningkatan produktivitas pertanian bukan satu-satunya kata kunci dari kerjasama ini. Kata Amirul, perlu segera dilakukan upaya yang bisa memberikan niai tambah bagi daerah namun dengan mengoptimalkan potensi tertentu yang khas.
Lagipula Korea dalam setahun, tetap sekali panen. Tapi sukses melakukan diversifikasi pertanian, diselingi tanaman lain, sehingga produktifitas lahannya tinggi.
Hal lain, dengan teknologi, Korea mampu menciptakan varietas unggul. Misalnya beras untuk orang bertubuh gemuk, orang pendek supaya tinggi, wanita agar kandungannya bagus, dan beras bagi penderita penyakit gula.
Amirul menandaskan, Pemkot perlu menuju ke sana. Agar dengan lahan yang sempit, bisa memenuhi pasar Baubau, regional, nasional, bahkan internasional.
Memang, kalau sekadar kenyang, makanan tradisional jenis kaowi-owi (ubi rebus) atau kapusu (jagung rebus) sudah cukup. Tapi bukan itu tujuan.
Berkaitan dengan ini saya teringat tahun 2006 silam ketika bersama-sama dengan 34 mahasiswa pascasarjana Unhas Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah (PPW) dari pegawai Pemkot yang Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Singapura. Ketika berada di Nasional University of Singapore (NUS), salah seorang dosennya yang berkewarganegaraan Indonesia, Prof Johanes Widodo mengatakan untuk memiliki daya saing global, Singapura mengembangkan Informasi Teknologi (IT) jenis mikro chip. Singapura tidak mungkin mengembangkan IT jenis multimedia karena akan kalah bersaing dengan negara yang lebih awal dan lebih maju seperti Jepang atau negara di benua Eropa lainnya.
Langkah tersebut tepat. Terbukti, salah satu sekuel film animasi terlaris di dunia yang kerap kali memuncaki Box Office, Lord of The Ring dibuat di Singapura menggunakan teknologi itu. Kenapa pilihan jatuh ke Singapura? Karena negara ini termasuk memiliki kecanggihan dalam bidang mikro chip tadi.
Jadi, ada yang khas. Itulah yang dikembangkan dan diperkuat.
Terkait kerjasama Pemkot dengan Korea, bila dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan arah yang hendak dituju Amirul, relefan dengan langkah Singapura. Atau negara lainnya di dunia. Atau daerah lainnya di Indonesia. Seperti Gorontalo, walau tergolong provinsi muda di Indonesia, hanya dengan memaksimalkan produksi jagung, namun hasilnya sudah sampai di ekspor ke luar negeri.
Jadi, gagasan besar tadi kalau digarap secara maksimal dengan grand design (perencanaan) disertai dengan road map (peta jalan) yang tepat, bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan.
Secara imajiner, tangga untuk menuju ke sana sudah dibuat. Pertama, walikota, Kadis Pertanian, dan petani Sorawolio sudah pernah studi banding di Korea. Kedua, buku panduan pertanian hasil penelitian lahan Sorawolio sudah diterbitkan. Ketiga, SMK 5 Pertanian sudah mulai mendidik SDM. Tinggal membuat anak tangga selanjutnya untuk mencapai hasil yang ingin dipetik nanti.
Lagipula Korea sudah membuktikan dengan beberapa kali kunjungan ke Baubau untuk memberikan sejumlah bantuan. Sebaliknya pihak Pemkot pun sudah beberapa kali ke Korea untuk menimba ilmu.
Intinya, derma Korea ini, rugi kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kita tidak ingin kerjasama yang dijalin sejak di penghujung 2008 lalu ini hanya bergerak di ruang hampa atau cuma sebatas budaya dan bahasa. Tapi harus memberikan nilai tambah lebih bagi daerah.(one.radarbuton@gmail.com)
Teguhkan Jati Diri, O Siy Mo Baubau
Apa yang bisa dipetik dalam pelaksanaan HUT Kota Baubau ke-470 kali ini?
Tahun 2011, 17 Oktober momentum menjadikan Baubau sebagai kota yang dapat melihat jati dirinya. Dalam perjalanan sejarah kekotaan, kita sudah sepakat bersama Kota Baubau sejarahnya diawali dengan penetapan Sultan Murhum sebagai raja terakhir dan Sultan Pertama Kesultanan Buton, itulah awal berpijaknya sejarah Kota Baubau. Berarti pada 2011 ini usianya ke-470. Dan sebagai daerah otonom, berusia ke-10.
Dalam sistem perencanaan kota berada pada tahapan pembangunan jangka menengah kedua. Tahapan ke-3, ke-4, dari tahapan pembangunan jangka menengah kedua. Dalam sistem, masuk pada tahap pemantapan dari rencana pembangunan jangka menengah kedua. Berarti tahun ini Baubau bisa menyatakan diri sebagai kota yang bisa berbicara. Olehnya itu kita mengangkat suatu tema: Inilah Baubau, O Siy Mo Baubau. Tentu mengangkat O Siy Mo Baubau, harus jujur melihat. Sudah banyak yang dicapai, namun masih banyak yang perlu dibenahi, bakal dicapai pada masa mendatang. Dari kondisi O Siy Mo Baubau, kita sudah bisa mengatakan: Inilah Baubau, O Siy Mo Baubau. Mari datang ke Baubau dan Baubau sudah siap menampung berbagai aktivitas.
Perjalanan panjang Baubau, bapak yang meletakkan pondasinya. Satu dekade ini, hal strategis apa yang dicapai?
Memang kalau kita lihat, dalam usia panjangnya kota ini, dan juga belajar dari pengalaman kota-kota lain, perlu dicatat ada kota atau daerah yang dalam sejarahnya pernah eksis tapi kekiniannya, hilang. Juga ada kota tidak pernah dalam sejarahnya ada atau tumbuh dengan baik, tapi dalam kekinian kota itu sudah maju dan berkembang pesat.
Baubau mungkin ada diantara dua karakter seperti itu, kalau menengok sejarah Baubau dan coba merekam, sebenarnya Baubau di kawasan Timur Indonesia, paling maju selain Makassar. Jadi, selain Makassar, sebenarnya Baubau. Baubau tidak kalah dengan kota-kota lainnya termasuk yang kini jadi ibukota seperti Ambon. Itu kita bicara Baubau sekian puluh tahun lalu. Tapi bicara Baubau pasca-Indonesia merdeka, tahun 60-an masih ok. Tapi di era 80-an, mulai mengalami degradasi, sampai beberapa tahun didahului kota-kota lain, kota lain, tumbuh, maju pesat. Sehingga tahun 2001 menjadi daerah otonom, dalam perkembangan, saya melihat sampai tahun 2003 Baubau sudah dikalahkan beberapa kota-kota yang jauh sebelumnya di bawah Kota Baubau.
Tapi, kita coba mengangkat kembali. Baubau punya potensi, keunggulan, dan kesempatan untuk maju. Maka itu pada 2003 diletakkan sebagai pondasi. Baubau dipilih sebagi Pintu Gerbang Ekonomi dan Pariwisarta di Sultra. Sangat beralasan. Posisinya strategis, pelabuhan lautnya walaupun awalnya begitu, tapi punya potensi untuk dikembangkan.
Kita sudah punya Lapangan Terbang tapi tidak didarati pesawat. Ruang Baubau cukup luas, walaupun terbangun waktu itu hanya Wolio dan sekitarnya. Tapi dari potensi luas wilayahnya lebih besar dari Makassar dan beberapa kota lainnya di Nusantara.
Kita punya topografi yang menjanjikan sebagai hunian yang bagus, bibir pantai pesisirnya 42 KM yang bisa dibagi sebagai bibir pantai mempunyai fungsi bisa dikapling, baik untuk kawasan pelabuhan, budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Kita punya karakter kota bisa sebagai daerah terbangun dengan penyangga, pertanian dengan Bungi dan Sorawolio. Daerah belakang yang potensi sumber daya alam cukup memadai. Punya kekuatan tersendiri, Baubau kita angkat.
Kemudian, beberapa peninggalan sejarah menjadi ikon kota, memiliki benteng yang tercatat sebagai Benteng terluas di dunia, ikon kota dengan nilai jual tersendiri.
Dalam perkembangannya, dari sisi titik singgung layanan, di kawasan Timur, Baubau mengambil peran sebagai titik layanan, karena titik singgung terdekat dengan semua jaringan wilayah di kawasan Timur Indonesia. Sehingga Baubau harus dikemas. Maka itu, tahap pertama, dipilih sebagai pintu gerbang ekonomi.
Tahap kedua dipilih visi: Kota Budaya yang Produktif, karena kita telah melakukan revitalisasi potensi-potensi budaya dimulai tahun 2003. Kemudian dikembangkan potensi budaya ini sebagai kekuatan dan kebanggaan masyarakat dengan mendeklarasikan benteng kita terluas di dunia. Menjadi penyelenggara Simposium Pernaskahan Internasional, lalu bekerjasana dengan pihak luar, Korea.
Lalu menarik pakar-pakar ahli budaya untuk mengangkat sejarah budaya kita. Itu sudah sudah diwujudkan semua.
Nah, sekarang, keragaman potensi yang dimiliki, Baubau sudah memperlihatkan jati dirinya. Pertama, Baubau sudah menjadi pintu keluar masuk kawasan sekitarnya, karena sudah memperkuat inftarsruktur. Dari sisi darat, diperkuat aksesnya keluar, dari Baubau lewat ke Kapontori dan selanjutnya, dari Baubau langsung ke Pasarwajo dan selanjutnya, dari Baubau lewat Batauga dan selanjutnya.
Dari sisi lautnya, dari Baubau ke penjuru Nusantara dengan kapal laut angkutan barang dan orang. Laut menghubungkan wilayah garis depan yang ada disekitarnya dengan penguatan pelabuhan rakyat.
Dari sisi darat memperkuat frekwensi kapal fery yang memberikan layanan sampai ke daratan Sulawesi. Kemudian sementara mempersiapkan menyambung Pulau Muna-Buton langkah-langkah itu disiapkan. Sehingga Baubau dari sisi darat dan laut sudah diperkuat.
Sekarang diperkuat lagi sisi udara, sehingga orang dari Baubau, dengan hanya berganti pesawat sudah bisa sampai ke negara mana pun pada satu perjalanan sekaligus. Pagi ini berangkat dari Baubau, insya Allah besok pagi sudah sampai ke negara tujuan yang dikehendaki. Demikian pula sebaliknya, dari negara-negara di luar, mau ke Baubau dengan tidak berganti pakaian sudah sampai di Baubau.
Inilah artinya, kita sudah membawa Baubau seperti itu. Kondisi ini memberikan ruang dan peluang masyarakat Baubau mengambil momentum dan peluang. Dengan sendirinya aset-aset masyarakat berupa tanah yang tadinya tidak memiliki nilai ekonomis, dengan pengembangan infrastrktur kota, sehingga kawasan-kawasan kota terbangun bukan hanya disekitar Wolio. Tapi dari batas Baubau dekat Kapontori, batas Baubau dengan Batauga, batas Baubau dengan wilayah Kabupaten Buton, sekarang tumbuh sebagai kawasan terbangun atau termanfaatkan.
Apa tidak salah kita sebut Baubau beraada pada masa keemasan kedua?
Mungkin bisa juga disebut demikian. Yang jelas, kita sudah masuk pada tahapan Baubau menjadi bagian pada titik wilayah di Nusantara yang mempunyai keunggulan-keunggulan tersendiri. Sehingga dengan itu, bagi beberapa kalangan menjadi peluang emas, bagaimana memanfaatkan peluang-peluang ini.
Bagi masyarakat yang punya nilai tanah yang besar, akhirnya mempunyai nilai ekonomi yang besar. Yang belum disentuh jalan, sekarang dilintasi jalan. Mereka membuat aktivitas bernuasa ekonomi diaset-aset yang mereka kuasai. Bagaimana ruang-ruang publik yang dibuka, menyerap peluang kerja yang besar, menghidupkan bukan hanya puluhan orang, ratusan orang tapi ribuan orang karena ruang yang dibuka menyebar peluang aktivitas bernuansa ekonomi. Mulai dari pedagang-pedagang kecil, kacang goreng, permen, sampai dagang-dagang yang lebih besar, jual beli sepeda motor, mobil. Mungkin juga bangunan dimanfaatkan dunia perbankan, untuk menjalin komunikasi dengan para nasabah sehingga ada perputaran ekonomi yang begitu besar.
Kemudian adanya nuansa persaudaraan, rasa kebersamaan, sehingga nuansa konflik semakin minim, semakin kecil. Itu kan membuat energi positif bagi pembangunan Kota Baubau, ini semua tidak lepas bagaimana menyiasati Baubau yang tadinya hanya terbatas Wolio, sekarang sudah tersebar diseluruh wilayah.
Dalam perjalanan panjang pembangunan Baubau, mimpi apa yang belum bapak wujudkan?
Jadi, kota harus menjadi tempat hunian yang nyaman, damai, dan menjanjikan. Olehnya itu, dengan potensi Baubau sebagai suatu kota yang dikarunia Tuhan dengan posisinya strategis, topografinya, yang tadinya orang hanya melihat Baubau hanya terbatas di segelintir titik disekitar Wale. Tapi sebenarnya karunia Tuhan dengan topografi yang tadinya dipandang sebagai daerah gersang, bebatuan, tandus, padang rumput. Namun sebenarnya menyimpan potensi untuk menjadi kota hunian yang nyaman dan damai. Ini bisa kita wujudkan dan itulah impian kita semua.
Saya, bagaimana mewujudkan Baubau sebagai kota hunian yang nyaman, kita tata kota dengan topografi yang bertingkat. Dijadikan kota bertingkat karena dengan kota yang topografi bertingkat, Ini kota menjanjikan dimensi dengan begitu spektakuler.
Karena dengan hunian, ketika orang membuka jendela bisa melihat laut, melihat matahari terbenam. Dengan hanya buka jendela, bisa lihat pulau-pulau, hamparan gunung-gunung di kejauhan yang hijau. Menengok ke atas melihat bulan yang begitu menakjubkan pada malam hari. Menengok, melihat naik-turun pesawat, melihat lalulintas kapal laut dengan berbagai aktivitas. Kemudian bergeser turun ke pantai, melihat pantainya yang bersih dengan aneka aktivitas nelayan dan masyarakat yang mencintai laut dengan berbagai aktivitasnya. Melihat anak-anak bermain dengan riang gembira.
Bisa menyaksikan mutu pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia masa depan dengan sekolah bermutu dan beraneka ragam. Kemudian kampus-kampus, walaupun swasta, insya Allah pada saatnya nanti ada negeri yang bermutu. Sehingga kota ini akan menjadi pilihan yang tepat sebagai pilihan hunian. Sehingga dari Baubau bisa ke mana saja, dan datang kembali dengan waktu kapan saja. Pilih naik pesawat, laut atau lewat darat bisa dijangkau. Itulah kota yang kita impikan ke depan.
Soal kenyamanan berarti bukan hanya aspek spiritual dan rohani tapi juga ekonomi, untuk kepastian usaha. Bagaimana menumbuhkan keyakinan kepada investor untuk memanfaatkan kekayaan potensi Kota Baubau agar mereka mau berinvestasi dan tinggal disini?
Memang Bukan hanya tingal, karena orang tinggal ingin menyambung hidupnya, ada aktivitas, harus bernuansa ekonomi, menjanjikan kesejahteraan, itulah Baubau yang kita siapkan. Anda bisa mempunyai usaha di Jakarta, tapi memanejnya dari Baubau. Bisa transaksi, bikin rumah di Palagimata, atau ingin buat rumah yang bernunsa kehijauan, kehutanan di Sorawolio. Buat rumah di Lea-Lea, dengan empat dimensi, lihat sawah, laut, gunung, lihat Kota Baubau. Tapi dari tempat situ bisa nikmati semua, bisa memanej usaha anda yang diluar sana.
Kemudian daerah belakang kita kaya dengan potensi sumber daya alam. Orang bisa usaha tambang, tapi tinggalnya di Baubau, usaha rotan tapi tinggalnya di Baubau, usaha perikanan tapi tinggalnya di Baubau, ada pariwisata di Wakatobi tapi tinggal di Baubau.
Sepuluh tahun, satu dekade, sebenarnya umur yang pendek untuk mendesain kota, tapi bapak bisa menggunakan waktu yang relatif singkat ini dengan capaian, lompatan yang jauh seperti ini. Publik bertanya, rumus apa yang bapak pakai hingga begini kemajuan Baubau?
Saya berterimakasih kalau Baubau dilihat seperti itu dalam satu dekade yang pendek tapi bisa membuat lompatan yang jauh. Pertanyaan, apa yang mengilhami sehingga Baubau bisa seperti ini. Kita tahu Tuhan menurunkan Al Quran diperintahkan Nabi Muhammad itu, Iqra, bacalah. Bukan hanya kepada Muhammad saja peringatan itu, tapi kepada kita semua. Untuk membaca, melihatnya. Untuk mendesain suatu wilayah seperti Baubau, kita mau apa. Sebenarnya disekitar kita ada contoh, alasan-alasan yang bisa dijadikan landasan berpikir, berbuat. Karena Tuhan kaya dengan sombol-simbol.
Olehnya itu, kami menyadari, manusia mahluk yang diciptakan terakhir yang tentu kesempurnannya adalah kesempurnaan ciptaan Tuhan. Dari struktur anatomi manusia inilah bisa kita belajar, kalau kita analogkan sebagai wilayah. Jantung; sebagai analogi ekonomi. Paru-paru; lingkungan. Otak ; sumber daya manusia. Jari tangan, nadi, dan syaraf-syaraf; transportasi. Hati; agama dan budaya. Kalau lima komponen itu dikemas dengan baik, itulah bagian lompatan-lompatan yang bisa kita wujudkan dalam 10 tahun ini.
Sehingga kita menata ekonomi, mendahulukan pasar, lapangan kerja. Lalu memperbaiki jalan untuk menghubungan semua koneksitas antar ruang dalam wilayah Baubau. Dengan begitu tidak ada lagi wilayah Baubau yang tidak bisa dijangkau, contohnya dulu Palabusa, Sulaa, Kolagana, dan Waborobo, akhirnya semua bisa dijangkau dalam waktu satu sistem. Sehingga tidak ada lagi titik jauh.
Membenahi sekolah, untuk mempersiapkan sumber daya manusia, berbagai sekolah, jurusan dibuka. Menyiapkan ruang-ruang sehingga merangsang bagi orang-orang tertentu membangun perguruan tinggi. Sehingga anak usia perguruan tinggi tidak perlu keluar lagi, yang tidak mampu, ingin dekat dengan orang tua, sambil bekerja, di Baubau juga sudah bisa.
Kemudian kita memperhatikan lingkungan, Alhamdulillah dari hari ke hari kita tidak risau lagi dengan ancaman alam. Beberapa tahun lalu, kalau terjadi hujan sedikit, tenggelam beberapa kawasan kota, sekarang aman. Pesisir-pesisir pantai, ketika ada gelombang, berapa masyarakat kita yang harus jadi korban karena gelombang pantai, kini tidak, karena sudah diajak menjadikan laut sebagai halaman depan. Sungai membelah Kota Baubau, sekarang apik. Dulu, jorok bukan main, sekarang apik. Itu bagian lingkungan kawasan kita semakin baik.
Bagaimana mengangkat budaya. Berbagai agama tumbuh dengan toleransi yang tinggi. Agama menyatu dengan budaya, budaya juga tidak bertentangan dengan agama, sehingga semua bisa hidup damai.
Sehingga dalam satu dekade ini: Itulah Baubau, O Siy Mo Baubau.
Secara tidak langsung bapak menyentak alam bawah sadar warga Kota Baubau, bahwa kita sudah seperti ini. Karena banyak warga kita yang masih tidur, belum sadar kita sudah hebat. Apakah memang bapak ingin “membangunkan” masyarakat?
Itulah, kita ingin monetum 470, momentum 10 tahun ini kita menyentak seluruh komponen masyarakat kota. Yang tidur bangunlah, yang pingsan sadarlah, yang sementara berlari jangan berlari tidak menentu, tapi tentukan arah mau lari ke mana sehingga semua cita-cita itu bisa kita rebut. Karena sekarang Baubau, insya Allah mungkin dalam peringatan HUT ke-471, listrik kita, sekarang dalam tahapan pembangunan PLTU, sehingga nanti semua, baik listrik, air bersih sudah jadi kebutuhan yang bukan lagi kurang, tapi mendapatkan pelayanan maksimal.
Melihat peletakan pusat listrik untuk kawasan Buton Raya plus Muna di Baubau, bandara, pelabuhan, Terminal Suplai BBM kawasan Indonesia Timur, bila Baubau terganggu, bakal mempengaruhi kondisi regional atau nasional Indonesia. Artinya Baubau strategis. Bagaimana bapak mengkondisikan hal ini?
Itulah yang kita ingin kenalkan: O Siy Mo Baubau, dari situ, dari dulu saya mengajak: Bersama Lebih Baik, karena ketika nanti kita tidak kompak, bukan hanya yang kita ajak Kota Baubau, tapi seluruh dari sistem besar Baubau atau Sultra. Karena betul, kalau Baubau terganggu, akan terganggu semua ini. Itulah yang perlu kita ajak bicara, itulah yang kita bagun, inilah Baubau. Mari kita bersama, karena itu lebih baik.
Mengingat filosofi anatomi manusia yang bapak adopsi tadi tadi, ibarat tubuh, berarti Baubau ini jantung di Indonesia Timur?
Karena berhenti akan mempengaruhi. Dan secara alami ini sudah memperlihatkan, ketika rusuh Ambon, Wasior, Timor Timur, larinya ke sini.
Kemudian, yang tidak dapat perkejaan di luar, masuk ke Baubau. Ini mekanisme alam yang harus direkayasa, kita ajak semua. Coba kita cermati di Pasar Wameo, siapa yang beradagang? Saudara kita dari Kadatua, Lasalimu, Pasarwajo, Kapontori, semua bisa berusaha, karena tidak ada aturan yang melarang mereka. Kita cuma bikin aturan jagalah kebersihan.
Rumah Sakit kita secara bertahap kemampuan daya layanan ditingkatkan. Ada yang kurang, dibenahi.
Saya melihat pada akhirnya ketika menyatakan diri orang Buton dalam jazirah Buton Raya lalu menyebut Baubau, ada rasa memiliki. Bukankah ini bentuk kebesaran Buton yang pernah dimiliki?
Biar bagaimana pun, namanya Baubau, tapi disini pusat peradaban Buton. Berarti Baubau ini mencermintan Buton secara keseluruhan. Butonnya Wakatobi, Butonnya Buton Utara, Butonnya Buton sendiri, Butonnya Baubau, termasuk Butonnya Bombana. Karena biar bagaimana, Baubau ini Butonnya semua, kesatuan Buton.
Tapi, dalam konteks kekinian, bagian dari sistem Sultra, Sulawesi, Kawasan Timur, nasional. Dan harus disiapkan sebagai bagian dari sistem global. Sehingga instrumen ini tidak bertolak belakang, tidak bertentangan dengan sistem tadi. Karena kita secara administrasi bagian dari Sultra, maka kemasan kita tidak boleh lepas.
Jadi, apakah kata kuncinya pencapaian tadi menimbulkan satu seruan moral O Siy Mo Baubau? Kita bisa bicara pada semua level?
Ya. Semua level, semua dimensi, semua dinamika, dan O Siy Mo Baubau.
Apa harapan bapak bagi Baubau untuk masa mendatang?
Harapan, perkembangan Baubau ini jalur pengembangannya harus sesuai dengan konsep dasar yang kita bangun. Ruang Baubau 220 KM, memiliki tujuh bagian wilayah kota, dengan fungsi utama dan penunjang, harus terarah dan diarahkan sesuai karakter dan peran kewilayahan Baubau ke depan.
Olehnya itu, ini tanggung jawab semua, masyarakat, dan stakeholder Baubau. Sehingga jangan sampai pondasi dasar dan strategi yang sudah tersusun, dan arah yang sudah disepakati bersama, dengan melihat bagaimana peran kewilayahan Baubau, tidak sesuai dengan daya dukungnya sebentar, dan posisi yang dimainkan Baubau.
Artinya kalau pondasi untuk gedung berlantai lima dengan berbagai tahapannya, ya harus kita arahkan berlantai lima. Jangan pondasinya berlantai lima, tapi kita hanya mau bangun rumah panggung biasa. Ini kan mubazir. Karena ketika pondasi yang kuat, hanya rumah panggung biasa, akhirnya orang hanya berantam di atas rumah panggung biasa ini. Atau jangan sampai kita rancang, harusnya tahapan ini sudah sampai pada level bangunan tahap lantai tiga, tapi kita hanya main di lantai satu, sehingga mubazir, lantai tiganya kosong. Ketika kosong hanya diisi hantu saja.
Yang kita lakukan, pada saat mana lantai tiga dibenahi, lantai empat dibenahi. Bagaimana orang di lantai satu tidak merasa di lantai satu, orang di lantai empat tidak merasa dilantai empat, tapi dia di dalam bangunan yang sama, itulah perlunya rasa memiliki. Kemudian skenario menyiasati, jangan sampai lantai empat lebih bagus dari lantai satu.
Jadi itulah kewajiban pemerintah, kewajiban seorang pemimpin untuk membangkitkan. Seperti Baubau dalam 10 tahun terakhir, tidak ada yang merasa tak tersentuh. Kalau anda ke Kolagana, tadinya tidak pernah lihat sepeda motor, mobil, apalagi walikota atau pejabat yang lain, tapi mereka sekarang sudah biasa, karena semua bisa dijangkau, contoh Sorawolio sudah tersentuh, Sulaa, Waborobo, daerah pusat kota, semua sama.
Terakhir tadi, bapak menyebut tentang pemimpin, suasana kebatinan masyarakat mulai diusik soal kepemimpinan, apalagi momentumnya berdekatan antara Pilwali Baubau dan Pilgub Sultra, sebagai peletak dasar Kota Baubau, apa harapan, seruan bapak kepada masyarakat termasuk senjumlah figur yang muncul?
Mari kita bercermin diri, yang penting, kenapa Tuhan bikin cermin? Artinya dengan indra yang kita miliki, kita bisa lihat orang, tapi yang sulit dengan indra yang kita miliki, kita tidak bisa melihat diri sendiri. Maka kita gunakan cermin, mari kita lihat.
Saya ingin katakan, mayarakat Baubau mari kita bercermin untuk melihat Baubau sudah baguskah? Sudah cantikkah kita? Dan kita jujur mengatakan tentu masih ada mungkin sedikit yang belum kita bedaki di wajah. Atau mungkin wajah yang berkelebihan kita wajahi. Kalau kita lipstik, atau warnanya lipstik yang belum cocok. Mari kita jujur melihat cermin itu.
Terus kita melihat sudah ada perubahan. Memang tidak ada yang sempurna, tapi jangan sampai moto itu dipakai, sehingga kita tidak sempurna melihat, kita tanpa indra, tanpa cermin , hanya menggunakan hak-hak yang kita miliki. Sehingga perlunya kecerdasan masyarakat, bercermin diri, kemudian menentukan. Sehingga nanti bisa kita siapkan pemimpin yang membawa kota ini ke arah yang baik.
Saya kira termasuk untuk Sultra, selama ini figur-figur itu sudah pernah berkiprah, dilihat, mari menggunakan rasio yang diberi Tuhan. Menggabungkan antara rasio, mata, perasaan, dan hati kita, dan tentu yang diharapkan kejujuran untuk menilai.
Ya, saya kira kita bisa melihat siapa yang bisa membawa kita, semua baik, tapi pasti saya yakin ada yang terbaik di antara itu.(one.radarbuton@gmail.com)
Minggu, 20 Desember 2009
Wakatobi Melompat Tinggi
PERGANTIAN almanak, Jumat (18/12) lalu, menghantarkan usia Wakatobi genap enam tahun. Seremoni kali ini terbilang unik, karena peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) bertepatan dengan hari libur nasional, perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1431 H. Jika diibaratkan manusia, usia enam tahun memasuki fase anak-anak, setelah sebelumnya berada pada level Balita. Ya, Kepulauan Tukang Besi tersebut tergolong bocah, kalau sekolah masih pelajar Taman Kanak-kanak (TK), belum masuk Sekolah Dasar (SD).
Tapi, meski masih bocah, Wakatobi tidak boleh dipandang sebelah mata. Ini jika membandingkan dengan daerah otonom yang seusia dengannya, Wakatobi sudah melesat jauh meninggalkan letingnya, Bombana.
Memang, dua daerah otonom ini sama kelahirannya. Dibidani pemekaran daerah induk, Buton. Namun, melihat kemajuan daerah yang diliputi gugus Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko tersebut itu sudah terjadi lompatan tinggi dibandingkan sebelum ”merdeka” dari Buton.
Menilik kemajuannya sekarang, tidak salah kalau saya sebut Wakatobi sebagai bocah ajaib. Karena kemajuan sarana dan prasarana infrastruktur daerah yang berjuluk Surga Bawah Laut tersebut setara dengan umurnya, bahkan lebih.
Salah satu infrastruktur monumental ditandai keberadaan fasilitas Bandara Matahora yang dibangun menggunakan dana pemerintah. Menariknya lagi, setelah sukses menggelar tes penerbangan dihadiri Menhub, Jusman Syafii Djamal, pesawat milik Susi Air langsung membuka rute penerbangan Wakatobi secara reguler, dalam sepekan 10 kali. Kendati jumlah tempat duduk yang disiapkan hanya belasan.
Bulan ini, Expressair pun, telah melakukan tes penerbangan. Dan hampir dipastikan mereka pun akan membuka rute Wakatobi. ”Kapsul besi” berlogo Expressair ini jumlah tempat duduknya dua kali lebih banyak dari Susi Air, 30 seat.
Fasilitas jembatan udara inilah merupakan karya fenomenal Bupati Hugua untuk semakin mencitrakan daerahnya sebagai ikon pariwisata di dunia internasional. Kenapa saya katakan demikian, karena ”bakat alam” Wakatobi memang begitu. Potensinya, adalah kekayaan hayati, dan terumbu karang yang dimilikinya merupakan salah satu terkaya di dunia. Banyak spesies laut langka terdapat di Wakatobi, tidak dimiliki daerah lain di dunia.
Tak hanya itu, secara geografis dan administratif pemerintahan, Wakatobi terbilang unik. Karena tergolong daerah otonom yang diliputi Taman Nasional.
Nah, potensi dan karakter alam daerah tersebut bila tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadi bumerang. Maka itu, saya melihat sentuhan tangan dingin Bupati Hugua terhadap daerahnya sejauh ini tepat sasaran.
Bisa dilihat dengan sejumlah iven yang dihelat setahun terakhir. Antara lain, Sail Wakatobi yang dihadiri ratusan kapal jenis yatch dari seantero dunia. Hal tersebut tentu makin menjadikan Wakatobi terkenal di mancanegara.
Menariknya, ditengah suasana sejumlah daerah otonom di Indonesia menuju pencapaian MDG’s. Justru Wakatobi meraih anugerah tersebut bertepatan dengan HUT Metrotv ke-9, di Jakarta, belum lama ini.
Anugerah dari stasiun tv berita tersebut diberikan menjelang HUT Wakatobi. Dan summery peningkatkan Wakatobi ke arah yang lebih baik, bisa dilihat peristiwa sebulan terakhir.
Diawali dengan apresiasi positif Komisi II DPR RI terhadap kemajuan Wakatobi. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ganjar Pranowo ketika berada di sana. Lantas, iven Simposium Nasional Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, 14-16 Desember lalu, dihadiri sejumlah kepala daerah.
Bahkan Dubes AS, Cameron R Hume pun bertandang ke Wakatobi menjelang HUT. Tidak tanggung-tanggung, Dubes Negara Paman Sam tersebut berada di sana selama empat hari. Dia pula mengapresiasi kemajuan Wakatobi.
Tak berhenti sampai di situ. Akhir tahun ini pun, ditutup dengan iven akbar. Apalagi kalau bukan Air Modeling Tingkat Nasional yang dihelat 18-20 Desember.
Semua itu merupakan perwujudan keseimbangan, antara kemajuan infrastruktur, sosial, dan lingkungan.
Akhirnya, semoga HUT Wakatobi ke-6 ini diresapi seluruh pemangku kepentingan, utamanya masyarakat hingga ke akar rumput dengan perubahan ke arah yang lebih baik. Indikatornya, tingkat kesejahteran masyarakat kian baik setiap waktu.(one.radarbuton@gmail.com)
Langganan:
Postingan (Atom)