Kamis, 30 Agustus 2012
SEJARAH BICARA
(FKN VIII, Baubau Menuju Masa Depan)
KESULTANAN Buton pada masa lalu pernah menorehkan tinta emas sejarah peradaban di Nusantara. Kini di era yang berbeda, Kota Baubau, sebagai bekas pusat Kesultanan Buton, di bawah kendali Walikota Amirul Tamim memoles diri menjadi kota masa depan. Bagaimana kiat walikota dua periode ini menata kota pemilik benteng terluas di dunia ini? Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Radar Buton, Irwansyah Amunu.
--Festival Keraton Nusantara (FKN) yang dihelat tanggal 1-4 September nanti, sejauh mana persiapannya?
Pada prinsipnya sudah siap, sesuai dengan posisi kota kita, secara optimal kita sudah siapkan. Prinsipnya sudah siap.
--Monetum apa yang bisa dipetik dari FKN ini?
Pertama, untuk memperlihatkan kita ini bagian dari sejarah masa lalu, dimana negeri kita adalah bagian dari peradaban yang sudah jauh berkembang di negeri kita. Kedua, daerah kita dalam konteks yang ada dalam sejarah perkembangan bangsa kita, harus kita akui juga punya peran-peran tersendiri dalam perjalanan kesejarahan.
Ketiga, untuk kita melihat negeri kita ini juga adalah negeri yang punya sejarah ekonomi yang punya potensi. Karena tidak ada satu kerajaan yang tumbuh tanpa ada potensi dan andalan ekonomi yang diandalkan. Itu hikmahnya. Kempat, momentum ini menjadi bahan evaluasi bagaimana kita mendesain kedepan masalah-masalah yang banyak, agar kita bisa sejajar dengan daerah-daerah lain.
Terakhir, bisa kita petik, suatu ikatan persaudaraan sebagai satu kesatuan bangsa yang multi etnis, mudah-mudahan pilar keragaman itu masih kokoh setelah FKN ini, itu yang ingin kita tanamkan.
--Adalagi poin yang lain?
Poin-poin yang lain dalam kegiatan ini ada beberapa kegiatan diskusi-diskusi seminar yang mengkaji bagaimana pendekatan budaya dalam mengelola kehidupan berbangsa bernegara khususnya dalam membangun daerah. Kemudian kita ingin melihat juga bagaimana konteks ketahanan nasional dilihat dari sisi potensi-potensi kebudayaan.
Dan mungkin satu hal yang perlu dikaji, ditemukan, negeri Buton dalam sejarahnya dia dalah suatu negeri yang keragaman cukup heterogen, tapi catatan-catatan yang ada, jarang, tidak pernah ada konflik-konflik horisontal yang melibatkan kelompok antar etnis dan lain sebagainya. Sehingga kita bisa menguak kembali kerusuhan dimana-mana , ketika lari ke negeri Buton dia bisa aman. Ini yang bisa kita lihat sebagai momentum dari Festival Keraton Nusantara ini.
--FKN, iven nasional, diselenggarakan di Baubau, bukan ibukota provisni, poin strategis apa yang bisa dipetik?
Itu untuk membuktikan sejarah tidak bisa kita dihilangkan begitu saja, bahwa sejarah negeri Buton, Baubau pusat Kesultanan Buton, pernah menjadi ibukota Kabupaten Sulawesi Tenggara. Ini menjadi motivasi tersendiri, Baubau harus dipersiapkan untuk menjadi ibukota Buton Raya di masa yang akan datang. Momentum yang memperkuat kita dalam posisi seperti ini.
--Selama Buton ini lahir sebagai daerah otonom, dan sekarang sudah mekar menjadi beberapa daerah otonom, nanti sekarang ketika bapak jadi walikota Baubau baru bisa jadi tuan rumah FKN. Apa hikmah dari semua ini?
Ini tidak jadi begitu saja, tapi bagian dari konsep kita dalam mengembangkan daerah. Seperti yang saya katakan tadi negeri ini punya sejarah panjang, dalam sejarah panjangnya dia mempunya peran-peran strategis, oleh sebab itu ketika kita jadi daerah otonom tahun 2003 kita mulai mengangkat potensi ini dengan mulai melakukan revitalisasi semua peninggalan-peninggalan sejarah kita.
Kemudian seperti yang sering saya katakana, jangan menunggu orang lain yang mengungkap kita, tapi kita yang harus mengungkapnya. Dari cerita-cerita masyarakat dan itu sudah kita laukukan, dan endingnya kita harus harus bisa menjadi pusat kegitan nasional dalam konteks kebudayaan.
--Artinya posisioning Baubau sudah di level nasional?
Kita sudah pernah menyelenggarakan iven nasional maupun internasional. (Sebelumnya Kota Baubau menjadi tuan rumah Simposium Internasional Pernaskahan yang dihadiri sejumlah Negara di dunia)
--Bagaiman hajatan ini dikaitkan dengan visi bapak di periode kedua, yang ingin menjadikan budaya produktif?
Itulah yang saya katakan, ini tidak terjadi begitu saja tapi bagian dari konsep untuk menjadikan daerah ini sesuai dengan sejarahnya dengan kekuatannya, disana ada budaya dan itulah yang kita wujudkan dalam visi kita. Menjadikan Baubau Budaya yang produktif, tentu pagelaran Festival Keraton ini memberikan nuansa ekonomi masyarakat, tidak sedikit nantinya uang yang berputar, miliaran.
--Infrastruktur kita sudah memadai untuk menggelar iven ini?
Memadai. Memadai.
--Dengan festival ini, sejarah bicara. Posisi negeri Buton masa lalu dikembalikan?
Memperkokoh keberadaannya dalam konteks yang berbeda. Dulu pusat peradaban, sekarang dalam konteks sebagai pusat perdagangan, pusat pemerintahan bagi Buton Raya, atau pusat percontohan Kawasan Timur Indonesia yang pernah kita dengungkan.
--Bukankah ini bisa dilihat dari sejumlah infrastrukltur yang dibangun di Baubau seperti Terminal Suplai BBM bagi Kawasan Timur Indonesia, dan pembangunan PLTU. Apakah ada hal lain?
Pelabuhan. Kalau kita lihat sebagain pedagang Maluku membeli barang di Baubau. Maluku, Papua, barang-barangnya diangkut kapal Pelni, dan aneka kapal lainnya.
--Sejarah bicara tidak hanya masa lalu, tapi di tangan bapak dua periode sejarah dikembalikan, kejayaan bukan hanya pada masa lalu tapi juga masa kini?
Ya, ya. Sudah berapa buku yang coba kita fasilitasi untuk terbit, termasuk terakhir kliping Giant Buton Raya.
--Kira-kira rumus apa yang bapak gunakan membuat episode-episode pembangunan yang berkesinambungan selama dua periode?
Yang pertama, pembangunan itu harus satu kesatuan sistem, jadi kita sebenarnya tidak boleh keluar dari pembangunan yang dirumuskan, semua sektor harus dapat tersentuh. Seperti dalam visi misi saya yang lalu, tiga pilar: pemerintah, masyarakat, dan anugerah ilahi. Anugerah ilahi itu, sumber daya alam, termasuk geografis. Kemudian yang punya peran, pemerintah, masyarakat, dan anugerah ilahi, ketiganya akan jadi kekuatan besar kalau diikat dengan budaya dan agama.
Oleh sebab itu pembangunan daerah harus sebagai satu kesatuan sistem, masyarakat, pemerintah, dan anugerah ilahi, perekatnya, pengikatnya utuhnya adalah budaya dan agama. Maka itu, setiap langkah pembangunan, kita harus bisa memberikan perekatnya budaya dan agama.
Itulah kita bangun islamic centre, memelihara ritual-ritual yang sesuai, seperti Gorana Oputa, Qunua. Bagaimana pembangunan majelis taklim, Ponpes, rumah-rumah ibadah. Rumah-rumah ibadah di Baubau, semua rumah ibadah, apakah masjid, gereja, pura, dan lain sebagaianya.
--Apa yang bapak lakukan sehingga sejarah tidak hanya bicara pada masa lampau, tapi juga masa kini?
Kita melangkah menuju ke masa depan, masa depan itu tidak bisa dipisahkan dengan masa kini. Masa kini adalah sasaran antara dalam menyongsong masa depan, tapi sasaran antara ini kan harus melewati masa lalu. Masa lalu, masa kini, dan masa depan, satu kesatuan tidak boleh punya gap (jarak) yang jauh, harus bagian dari rantai jalur yang harus berjalan. Jalannya itu ada yang berjalan sebagai Sunatullah, dan ada yang berjalan sesuai dengan rekayasa-rekayasa dari kajian-kajian akademis dan lain-lain.
--Bicara masa depan, bagaimana posisi Baubau untuk masa depan?
Harus dalam konsep. Tidak bisa tiba masa tiba akal. Konsep, perencanaan yang matang.(one.radarbuton@gmail.com)
HTI BAUBAU GELAR LIQO SYAWAL
- Puluhan Tokoh Dukung Perjuangan Hizbut Tahrir
BAUBAU - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Baubau menggelar Liqo Syawal (halal bilhalal), di Aula Panti Asuhan Muslimi, Rabu malam (29/8). Kegiatan yang bertajuk "Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah dan Khilafah" itu diisi oleh pemateri dari DPP HTI, KH Muhammad Sidiq Al-Jawi.
Liqo Syawal yang dikemas dalam bentuk diskusi tersebut diahadiri oleh puluhan tokoh intelektual, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.
Dalam materinya Muhammad Shiddik Al Jawi menjelaskan, tiga alasan wajibanya menegakan syariat, yakni konsekuensi keimanan kepada Allah SWT. Kemudian syariat Islam sebagai solusi terhadap berbagai persoalan manusia yang terjadi saat ini. Alasan ketiga, syariat Islam ketika diterapkan dapat mendatangkan maslahat/kebaikan yang bukan hanya untuk Kaum Muslim, tapi juga buat seluruh umat manusia.
"Sebaliknya, jika syariat Islam tidak diterapkan, maka keimanan kita sebagai umat Islam perlu dipertanyakan, kemudian, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran pada surat Almaidah ayat 44,45, dan 47. Kemudian persoalan manusia tidak akan terselesaikan dengan benar, misalanya masalah ekonomi, riba saat ini dijadikan sebagai alat ekonomi yang digunakan masyarakat, dimana riba tersebut tidak membawa kemaslahatan, namun akan membawa kerusakan atau malapetaka kepada manusia," jelas Sidiq Al-Jawi di hadapan puluhan peserta.
Ia juga menyampaikan hasil survei yang telah dilakukan dan dilansir di salah satu media nasional, terkait pekerja seks komersial (PSK). Jumlah PSK di Indonesia saat ini mencapai 214 ribu orang, dimana dalam satu hari satu orang PSK bisa melayani 15 orang lelaki hidung belang. "Jika dikalikan, maka satu hari sebanyak tiga juta lelaki hidung belang yang melakukan hubungan seks di luar nikah," ungkapnya.
Kemudian akibat tidak diterapkannya syariat islam setiap tahun problematika umat terus meningkat, antaralian, kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, korupsi, serta yang lainnya. Namun begitu, kata dia, syariat Islam secara menyeluruh tidak bisa diterapkan melaui kelompok atau individu, tapi bisa ditegakan melalui institusi negara, yakni Daulah Khilafah Islamiyah.
Memang, lanjutnya, syariat Islam bisa dilaksanakan secara indifidu, namun tidak semua syariah bisa dilakukan secara indifidu, namun harus dilakukan oleh masyarakat, dan negara. Pasalnya, syariat Islam itu memiliki cakupan hubungan manusia dengan Allah SWT, kemudian hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusian dengan manusia yang lain.
Hubungan manuisa dengan dirinya sendiri antara lain, shalat, puasa, zakat. Sementara hubungan manusia dengan dirinya sendiri, terkiat dengan manakanan, minuman, pakaian, dan ahlak. Sedangkan hubungana manusia dengna manusia yang lain yakni, terkait dengan muamalah, sanksi pidana, dan yang lainnya. "Untuk hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri bisa dilakukan secara indifidu, tapi mengenai hubungan manusia dengan sesamanya itu harus dilakukan oleh negara," jelasnya.
Penjalasan dari KH Muhammad Sidiq Al-Jawi ini mendapat respon dari tokoh masyarakat. Diantaranya LM Marzuki dan Drs Ancong La Wusu. Kedua tokoh tersebut memberikan dukungannya pada HTI dalam melakukan perubahan.
Para tokoh menilai, ada yang ganjil di negeri ini. Menurut Ancong La Wusu, negeri ini memiliki kekayaan yang melimpah, namun tidak memberikan kesejahteraan pada masyarakat, tetapi hanya dirasakan segelintir orang. (m1)
1000 Pulau, 9 Nyawa
Catatan: Irwansyah Amunu
MINGGU (12/8) lalu, saya bersama keluarga menjadi bagian dari sekian juta rakyat Indonesia yang melakukan tradisi mudik. Ini saya lakukan karena kebetulan istri saya dari Tanah Pasundan, jadi lebaran kali ini di kampungnya di Sukabumi, Jabar.
Mudik kali ini saya menggunakan moda transportasi laut, KM Ciremai, karena anak saya yang bungsu baru berusia empat bulan lebih. Sebelumnya saya pernah berkonsultasi dengan tiga orang dokter, mereka melarang saya menggunakan pesawat. Soalnya berbahaya bagi alat pendengaran untuk anak berusia di bawah satu tahun. Gendang telinganya bisa pecah, karena tuba eustachia-nya, saluran penghubung dari telinga ke organ dalamnya masih sangat rawan.
Berbekal dari itulah, maka saya harus menempuh perjalanan tiga hari, tiga malam dari Baubau ke Tanjung Priok, Jakarta. Suasana arus mudik memang mulai terasa di kapal milik PT Pelni ini. Penumpang yang naik di Pelabuhan Baubau cukup banyak, sehingga membludak sampai ke anjungan kapal hingga ke dek tujuh.
Paling parah, penumpang yang naik dari Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Membludak hingga sekitar 2000 orang. Akibatnya ABK kapal tak kuasa melarang penumpang untuk menempati ruangan kapal, hingga ke lorong-lorong kamar kelas I dan II pun disesaki penumpang. Bukan hanya manusia, barang yang dibawa pun jumlahnya banyak.
Jadi, lalu lalang kita di atas kapal harus hati-hati, bila tidak salah satu anggota badan mereka yang terinjak. Ditambah lagi dengan hantaman ombak perjalanan dari Makassar ke Surabaya cukup besar, maka lengkaplah sudah penderitaan.
Sedikit menggambarkan, besarnya ombak yang menghantam kapal pelat merah ini, sehingga saat salat kita harus duduk. Bila berdiri, dan tak kuasa menahan ombak, pasti kita akan terjungkal.
Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, KM Ciremai seperti disulap. Tadinya penumpang berjubel, menjadi lengang. Memang penumpang yang turun di Surabaya sangat banyak. Ini tergambar saat perjalanan dari Makassar-Surabaya, percakapan penumpang didominasi bahasa Jawa.
Tadinya penumpang memenuhi setiap areal kapal yang lowong, kini menjadi kosong. Penumpang ekonomi diarahkan kembali ke ruangan kelas ekonomi, tidak lagi berhamburan di lorong kelas I dan II.
Bertolak ke Jakarta, pikiran saya kita akan tempuh lebih tenang. Rupanya tidak, ombak lebih kencang. Hebatnya guncangan kapal membuat kepala saya pening. Karena tetap menjaga puasa agar tidak batal, saya memutuskan cepat-cepat tidur untuk mengalahkan rasa mabuk.
Alhamdulillah jurus ini ampuh, untuk mengusir mabuk laut. Benak saya membantin, kapal Pelni yang lumayan besar saja rasanya begini, bagaimana dengan perasaan saudara kita yang menggunakan kapal kayu berukuran kecil?
Soalnya sebelum tiba di Jakarta, saya sempat menghubungi rekan yang mudik ke Tomia dan Kaledupa. Mereka mengatakan, ombaknya besar. Hingga membuat kapal nyaris tenggelam. Itu terjadi ketika ombak menghantam kapal, penumpangnya panik dan serentak bergeser ke satu arah. Air laut pun sudah masuk ke lambung kapal. Membuat kapal nyaris kehilangan keseimbangan.
Syukurnya, mereka masih dalam lindungan Allah. Kendati tiba di Tomia dan Kaledupa telat, namun tiba dengan selamat.
Bedanya dengan saya yang bisa tetap puasa, rekan yang ke Kepulauan Tukang Besi itu karena kuatnya hantaman ombak, tak bisa menahan mabuk laut, hingga harus muntah-muntah. Terpaksa, dua hari tidak shaum.
Dengan nada bergurau, saya mengirim pesan pendek (SMS) ke rekan di Kaledupa: Inilah Nasib Anak 1000 Pulau, Harus Miliki 9 Nyawa. Hehehe.
Ya, untuk mudik lebaran. Apa pun harus kita lakukan, kendati harus mengorbankan nyawa. Modalnya: keberanian bahkan cenderung nekat, bercampur perhitungan plus peruntungan. Seolah-olah kita punya lebih dari satu nyawa, alias nyawa cadangan.
Singkat cerita, saya tiba di Jakarta, sekitar pukul 14.00 WIB, Rabu (15/8). Disini kita sudah disambut anggota Komisi VI DPR RI dan Direksi PT Pelni. Mereka hendak memantau arus mudik lebaran. Saya tidak lagi mengamati kunjungan wakil rakyat dari Senayan ini karena menurut saya ini hanyalah kosmetik politik. Berkunjung atau tidak berkunjung, tidak ada pengaruhnya. Toh pemandangan seperti ini sudah merupakan tradisi tahunan. Tidak bisa berubah dengan hanya melakukan kunjungan yang bersifat seremoni.
Apalagi setelah tiba di Jakarta bukan berarti perjuangan selesai. Karena selanjutnya harus menempuh perjalanan darat sekitar lima jam ke Sukabumi.
Tiba di Sukabumi, penderitaan masih bersambung. Entah karena pengaruh ombak, yang jelas selama tiga hari, kepala masih terasa oleng. Saya kembali teringat kiriman SMS saya: Inilah Nasib Anak 1000 Pulau, Harus Miliki 9 Nyawa. Hhhhh. (one.radarbuton@gmail.com)
MINGGU (12/8) lalu, saya bersama keluarga menjadi bagian dari sekian juta rakyat Indonesia yang melakukan tradisi mudik. Ini saya lakukan karena kebetulan istri saya dari Tanah Pasundan, jadi lebaran kali ini di kampungnya di Sukabumi, Jabar.
Mudik kali ini saya menggunakan moda transportasi laut, KM Ciremai, karena anak saya yang bungsu baru berusia empat bulan lebih. Sebelumnya saya pernah berkonsultasi dengan tiga orang dokter, mereka melarang saya menggunakan pesawat. Soalnya berbahaya bagi alat pendengaran untuk anak berusia di bawah satu tahun. Gendang telinganya bisa pecah, karena tuba eustachia-nya, saluran penghubung dari telinga ke organ dalamnya masih sangat rawan.
Berbekal dari itulah, maka saya harus menempuh perjalanan tiga hari, tiga malam dari Baubau ke Tanjung Priok, Jakarta. Suasana arus mudik memang mulai terasa di kapal milik PT Pelni ini. Penumpang yang naik di Pelabuhan Baubau cukup banyak, sehingga membludak sampai ke anjungan kapal hingga ke dek tujuh.
Paling parah, penumpang yang naik dari Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar. Membludak hingga sekitar 2000 orang. Akibatnya ABK kapal tak kuasa melarang penumpang untuk menempati ruangan kapal, hingga ke lorong-lorong kamar kelas I dan II pun disesaki penumpang. Bukan hanya manusia, barang yang dibawa pun jumlahnya banyak.
Jadi, lalu lalang kita di atas kapal harus hati-hati, bila tidak salah satu anggota badan mereka yang terinjak. Ditambah lagi dengan hantaman ombak perjalanan dari Makassar ke Surabaya cukup besar, maka lengkaplah sudah penderitaan.
Sedikit menggambarkan, besarnya ombak yang menghantam kapal pelat merah ini, sehingga saat salat kita harus duduk. Bila berdiri, dan tak kuasa menahan ombak, pasti kita akan terjungkal.
Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, KM Ciremai seperti disulap. Tadinya penumpang berjubel, menjadi lengang. Memang penumpang yang turun di Surabaya sangat banyak. Ini tergambar saat perjalanan dari Makassar-Surabaya, percakapan penumpang didominasi bahasa Jawa.
Tadinya penumpang memenuhi setiap areal kapal yang lowong, kini menjadi kosong. Penumpang ekonomi diarahkan kembali ke ruangan kelas ekonomi, tidak lagi berhamburan di lorong kelas I dan II.
Bertolak ke Jakarta, pikiran saya kita akan tempuh lebih tenang. Rupanya tidak, ombak lebih kencang. Hebatnya guncangan kapal membuat kepala saya pening. Karena tetap menjaga puasa agar tidak batal, saya memutuskan cepat-cepat tidur untuk mengalahkan rasa mabuk.
Alhamdulillah jurus ini ampuh, untuk mengusir mabuk laut. Benak saya membantin, kapal Pelni yang lumayan besar saja rasanya begini, bagaimana dengan perasaan saudara kita yang menggunakan kapal kayu berukuran kecil?
Soalnya sebelum tiba di Jakarta, saya sempat menghubungi rekan yang mudik ke Tomia dan Kaledupa. Mereka mengatakan, ombaknya besar. Hingga membuat kapal nyaris tenggelam. Itu terjadi ketika ombak menghantam kapal, penumpangnya panik dan serentak bergeser ke satu arah. Air laut pun sudah masuk ke lambung kapal. Membuat kapal nyaris kehilangan keseimbangan.
Syukurnya, mereka masih dalam lindungan Allah. Kendati tiba di Tomia dan Kaledupa telat, namun tiba dengan selamat.
Bedanya dengan saya yang bisa tetap puasa, rekan yang ke Kepulauan Tukang Besi itu karena kuatnya hantaman ombak, tak bisa menahan mabuk laut, hingga harus muntah-muntah. Terpaksa, dua hari tidak shaum.
Dengan nada bergurau, saya mengirim pesan pendek (SMS) ke rekan di Kaledupa: Inilah Nasib Anak 1000 Pulau, Harus Miliki 9 Nyawa. Hehehe.
Ya, untuk mudik lebaran. Apa pun harus kita lakukan, kendati harus mengorbankan nyawa. Modalnya: keberanian bahkan cenderung nekat, bercampur perhitungan plus peruntungan. Seolah-olah kita punya lebih dari satu nyawa, alias nyawa cadangan.
Singkat cerita, saya tiba di Jakarta, sekitar pukul 14.00 WIB, Rabu (15/8). Disini kita sudah disambut anggota Komisi VI DPR RI dan Direksi PT Pelni. Mereka hendak memantau arus mudik lebaran. Saya tidak lagi mengamati kunjungan wakil rakyat dari Senayan ini karena menurut saya ini hanyalah kosmetik politik. Berkunjung atau tidak berkunjung, tidak ada pengaruhnya. Toh pemandangan seperti ini sudah merupakan tradisi tahunan. Tidak bisa berubah dengan hanya melakukan kunjungan yang bersifat seremoni.
Apalagi setelah tiba di Jakarta bukan berarti perjuangan selesai. Karena selanjutnya harus menempuh perjalanan darat sekitar lima jam ke Sukabumi.
Tiba di Sukabumi, penderitaan masih bersambung. Entah karena pengaruh ombak, yang jelas selama tiga hari, kepala masih terasa oleng. Saya kembali teringat kiriman SMS saya: Inilah Nasib Anak 1000 Pulau, Harus Miliki 9 Nyawa. Hhhhh. (one.radarbuton@gmail.com)
Pengelolaan Negara Buruk, Tokoh Sepakat Khilafah
HIZBUT Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kota Baubau Sultra, menggelar Temu Tokoh Umat se-jazirah Buton Raya 1433 H. Tema yang diulas, Khilafah, Model Terbaik Negara Yang Menyejahterakan.
Laporan: Nusma Nagara Muli dan Izan Ihwan, BAUBAU
MINGGU (5/8), sekitar pukul 08.00, dua bendera kebesaran umat Muslim berwarna hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid dan ucapan selamat datang terpasang di depan Aula Panti Asuhan Muslimin berlambai-lambai mengiringi langkah kaki peserta temu tokoh yang diikuti ratusan peserta. Mereka adalah ulama, mubaligh, pengusaha, intelektual, tokoh pendidik, dan mahasiswa.
Menyusuri satu persatu anak tangga menuju lantai dua Aula Panti Asuhan Muslimin, temu tokoh umat antara perempuan dan laki-laki harus berpisah. Kaum Adam melalui anak tangga sebelah kanan gedung dan menempati tempat duduk paling depan sedangkan Hawa melalui anak tangga sebelah kiri dibagian belakang.
Agenda tersebut merupakan serangkaian acara Konferensi Tokoh Umat yang telah diselenggarakan di berbagai kota besar di Indonesia beberapa bulan lalu. Namun ini untuk mendekatkan hal tersebut kepada masyarakat jazirah Buton Raya.
Acara yang diawali dengan lantunan ayat suci Alquran. Para tokoh juga dipertontonkan berbagai vidio diantaranya sejarah metode perjuangan Nabi Muhammad SAW saat berjuang mendirikan Negara Islamiah di Madinah, realitas kehidupan umat muslim saat ini serta perjuangan HT di Indonesia.
"Padahal Indonesia kaya, namun berbagai multidimensi persoalan terus mendera Indonesia karena negara ini masih menerapkan sistem kapitalisme yang diusung Amerika, sudah selayaknya Indonesia menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi masalah yang bercokol yakni menerapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Islamiah," jelas DPD HTI Baubau, Jamil Ade.
Acara dikemas dengan diskusi selain itu juga didukung dengan multimedia modern. Ada dua materi yang disampaikan pembicara. Pertama, Irwansyah Amunu tentang Pengelolaan Kekayaan Alam dan Energi, Sumbangan Islam untuk Indonesia. Kedua, diuraikan Syahril Sidik, Humas HTI Baubau, tentang Politik Ekonomi Islam untuk Pertumbuhan yang Stabil dan Menyejahterakan.
Diuraikan Irwansyah Amunu, Indonesia merupakan negara yang sangat luas dari Uni Eropa, namun faktanya sangat disayangkan Indonesia yang begitu banyak sumber daya yang bisa dioptimalkan, namun masih dalam kondisi terpuruk. Terbukti potensi sumber daya alam (hutan, laut, esdm, keindahan alam), SDM (pakar, organisasi), infrastruktur (jalan, listrik, irigasi) informasi (peta, cetak biru,) kapital (Keuangan,)
produksi (pertaniaan, industri) kurang dirasakan masyarakat.
Sebagai contoh, produksi minyak Indonesia 950.000 barrel per hari,
nilai nett profitnya di atas Rp 280 triliun per tahun. Saat ini, kebutuhan minyak 1,2 juta barrel per hari. Namun akibat politik energi selama ini tertumpu pada minyak, seperti PLTGU yang "salah makan", tata kota yang tak efisien, hingga tak terbangunnya transportasi massal.
Akibatnya, kata Irwansyah Amunu, minyak lebih banyak diminum sendiri, tidak banyak yang untuk mensejahterakan rakyat.
Produksi gas (LNG) setara 5,6 juta barrel minyak per hari, nilai nett profitnya sekitar Rp 268 triliun per tahun. Produksi batubara setara 2 juta barrel minyak per hari, nilai nett profitnya sekitar Rp 191 triliun per tahun. "Sayangnya, kedua sumber energi besar ini lebih banyak diekspor murah ke Cina. Indonesia mensubsidi energi Cina lebih besar daripada mensubsidi rakyatnya sendiri," jelasnya.
Disebutkan juga, 60 cekungan besar dengan minyak dan gas dilebas pantai indonesia baru 11 cekungan yang dikelolah, dengan cadangan minyak 1,93 miliar barrel, cadangan gas bumi 107,5 triliun kaki kubik. Sedangkan Balitbang ESDM, memperkirakan total SD minyak bumi 40,1 miliar barrel, gas bumi 217,7 triliun kaki kubik. Belum lagi baru diatas kertas, produksi pertambangan terutama emas seperti Freeport dapat ditaksir dari setoran pajak yang jumlahnya sekitar Rp 6 triliun per tahun
"Bila nilai pajak Rp 6 triliun per tahun, dan ini 20 persen nettprofit sama dengan Rp 30 triliun per tahun. Padahal dari sumber lain: produksi emas di Freeport adalah sekitar 200 kg emas murni per hari. Bersama perusahan lainnya, seperti Newmont (emas), timah, bauxit, besi juga kapur, pasir, dll nett profit pertambangan mineral minimal Rp 50 triliun per tahun," urainya.
Potensi laut, Menurut KKP, nilai potensi lestari laut Indonesia hayati, non hayati, wisata sekitar Rp 738 triliun. Bila ada BUMN kelautan memiliki ceruk 10 persen sama dengan Rp 73 triliun.
Ditambahkan, luas hutan Indonesia 100 juta hektar, 60 juta ha hutan produksi, agar lestari, siklus 20 tahun, maka setiap tahun hanya 5 persen tanamannya yang diambil. Bila dalam 1 hektar hutan, minimalisnya 400 pohon, maka hanya 20 pohon per hektar yang ditebang.
"Kalau kayu pohon berusia 20 tahun itu nilai pasarnya Rp 2 juta nett profitnya Rp 1 juta, nilai ekonomis dari hutan kita adalah
60 juta hektar dikali 20 pohon atau hektar dikalikan Rp 1 juta sama dengan Rp 1.200 triliun per tahun," ungkapnya.
Ini lanjutnya, belum menghitung potensi penerimaan dari
SDM, sumber daya infrastruktur, informasi, kapital, dan sumber daya produksi.
Maka itu, bila dijumlahkan secara keseluruhan maka total potensi penerimaan dari SDA pertambangan Rp 789 triliun, kelautan Rp 73 triliun, kehutanan Rp 1200 triliun, maka totalnya adalah Rp 2.062 triliun per tahun. Bila dibandingkan dengan APBN-P Indonesia tahun 2012 hanya Rp 1.500 triliun. "Kalau ini terjadi, negara kita tidak perlu memungut pajak dan tidak perlu melakukan utang luar negeri," ujarnya.
"Namun, sayangnya sumber daya alam realitas penerimaan sangat kecil, disebabkan pencurian, konsesi, transfer-pricing, korupsi, SDManusia mayoritas berkemampuan rendah, infrastruktur tidak dibangun atau dirawat serius, sumber daya informasi didominasi paten atau copyright asing, kapital didominasi utang luar negeri dengan sistem ribawi, sumber daya produksi didominasi investor asing, ini akibat dari salah kelola negara," katanya.
Olehnya itu, lanjutnya, harus ada cara baru dalam mendidik orang, cara baru dalam membentuk budaya, cara baru dalam merancang peraturan, cara baru dalam memandang kehidupan, cara baru dalam mewujudkan kesejahteraan
"Memisahkan agama dari kehidupan publik atau sekulerisme, menjadikan kebebasan sebagai doktrin kehidupan atau liberalisme,
menjadikan materi sebagai alat ukur kemajuan atau materialisme, menganggap distribusi barang & jasa akan optimal cukup dengan mekanisme pasar atau kapitalisme, merupakan salah satu masalahnya, olehnya itu harus ditawarkan sistem islam yakni syariah yang diterapkan dalam khilafah," tutupnya.
Bagaimana Solusi Islam?
Syahril Sidik dalam materinya politik ekonmi islam untuk pertumbuhan yang stabil dan menyejahterakan mengungkapkan, agar politik ekonomi negara Khilafah ini bisa terwujud, maka ada beberapa pandangan mendasar yang menjadi asas dari kebijakan yaitu individu harus dipandang sebagai orang per orang, yang masing-masing mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi.
Terpenuhinya kebutuhan dasar individu, orang per orang, secara menyeluruh. Izin mendapatkan rizki dan persamaan hak untuk mendapatkan izin memperoleh rezeki. Mengutamakan nilai-nilai luhur yang bisa mengokohkan hubungan di antara sesama individu.
Olehnya itu kata dia, harus memiliki strategi umum yang terkait dengan sumber-sumber perekonomian negara, yang meliputi pertanian, perindustrian, perdagangan dan jasa.
Solusi yang diberikan Islam terhadap empat sumber perekonomian negara dengan pemecahan yang benar adalah bila keempat sumber perekonomian diatas berjalan dengan baik maka ekonomi daulah Khilafah akan tumbuh.
Ditambah lagi, dengan sistem moneter berbasis emas dan perak dan larangan riba dan judi atau sektor non riil maka ekonomi daulah Khilafah juga akan stabil.
Memiliki tanah pun lanjut Humas HTI Baubau ini, telah diatur oleh Islam, dengan cara menghidupkan tanah mati, waris, pemberian negara, hibah, hadiah dan pembelian. Sedangkan cara mengelola tanah adalah dengan cara ditanami sehingga menghasilkan produk pertanian, bukan dengan cara disewakan atau dibagihasilkan atau muzarazah.
Di bidang industri, industri yang dimaksud adalah untuk memproduksi barang manufaktur. Kepemilikan industri berdasar pada barang yang dihasilkan. Sebagaimana kaidah fikih. Di Bidang perdagangan, perdagangan dalam negeri, dilakukan bebas tanpa usyur atau cukai. Perdagangan luar negeri ekspor dan impor dilakukan berdasarkan status manusia (pedagang) bukan barang.
Untuk di bidang jasa, baik yang menyangkut karya fisik maupun intelektual, diatur dengan hukum ijarah terkait jasa yang halal. Jasa meliputi manfaat amal, manfaat orang dan manfaat benda. Pengupahan berdasarkan nilai manfaat yang ditentukan kesepakatan antara ajir (pekerja) dan mustajir (yang mempekerjakan).
"Tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, yaitu pendidikan, kesehatan dan keamanan, maka beban tersebut dibebankan ke pundak negara, memberikan rasa aman itu merupakan tanggung jawab negara tapi sekarang faktanya, pergi ke mesjid saja alas kaki sering hilang," imbuhnya.
Sedangkan, pemasukan bagi baitul mal adalah harta yang dibolehkan oleh Allah SWT bagi kaum muslimin untuk menjadi sumber pendapatan negara yakni anfal, ghanimah, fai dan khumus, kharaj, jizyah, harta kepemilikan umum, harta milik negara yang berupa tanah, bangunan, sarana umum dan pendapatannya harta usyur, harta tidak sah dari penguasa dan pegawai negara. Harta hasil kerja yang tidak dizinkan syara, serta harta yang diperoleh dari hasil tindakan curang lainnya, khumus barang temuan dan barang tambang, harta yang tidak ada ahli warisnya, harta orang-orang murtad, dan Zakat.
"Pajak ini ditarik bila kondisi keuangan dalam keadaan kritis tapi hanya dilakukan pada orang yang kaya saja," jelasnya.
Dalam sesi dialog, Kepala Bappeda Kota Baubau, Drs Sudjiton MM mengaku gerah dengan fakta yang menimpa negeri ini. "Kekayaannya dahsyat, tapi kenapa kita seperti ini," ujarnya.
Maka itu, lanjutnya, dia memiliki tawaran pemikiran, problematika tersebut harus dilihat dari tiga pilar, negara, rakyat, dan pasar. "Negara kita salah kelola karena implementasi kebijakan yang tidak konsisten," akunya.
Sementara itu, LM Fakhruddin, salah seorang tokoh masyarakat menyatakan negara ini butuh pemimpin yang baru.
Lain lagi dengan Ir H Sahirsan. Dia mempertanyakan kenapa negara kita tidak dikelola dengan baik.
Joni Karno, peserta lainnya mengajak,"Mari kita menuju Khilafah Islamiyah."
Perlu diketahui, acara tersebut juga dihadiri sejumlah akademisi, diantaranya DR Andi Tenri.(***)
Senin, 30 Juli 2012
Galau PLTU
Catatan: Irwansyah Amunu
JELANG Ramadan, sejumlah warga ribut soal pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan aktivitas penambangan yang dilakukan PT Bumi Inti Sulawesi (BIS). Tak ayal, aksi tersebut berbuntut pengrusakan Kantor Kelurahan Lowu-Lowu, Kecamatan Lea-Lea. Akhirnya Polisi mengamankan delapan orang yang diduga menjadi motor penggerak massa.
Kemarahan massa diduga karena PLTU dan PT BIS tidak mengindahkan rekomendasi dewan ihwal penghentian sementara aktivitas keduanya. Massa beralasan kegiatan dilakukan tanpa dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Walaupun belakangan pihak PT BIS mengklaim telah menghentikan aktivitasnya. Bahkan hal itu dilakukan sebelum rekomendasi diterbitkan.
Memang kita semua mengharapkan aktivitas keduanya dilakukan tanpa membahayakan masyarakat. Apalagi mengancam kelangsungan dan kehidupan warga setempat. Maka itu, Amdal dibutuhkan. Namun, bukankah Amdal kawasan sudah ada?
Di tengah polemik ini, saya ingin mempersempit fokus soal PLTU. Terkait hal ini, banyak yang galau. Galau PLTU.
Mengapa? Rupanya kelebihan daya listrik yang dimiliki Baubau tidak bersifat permanen. Memang saat ini daya listrik yang dimiliki PLN Cabang Baubau lebih, total daya sekarang sekitar 18 MW. Namun, setahu saya yang dimiliki pembangkit PLN Baubau hanya sekitar 3 MW. Selebihnya, sekitar 15 MW bersumber dari mesin yang disewa PLN dari daerah lain untuk menutupi defisit daya listrik Baubau. Jadi, kalau mesin yang disewa tersebut ditarik dari Baubau, habislah kita. Baubau bisa jadi akan kembali gelap gulita. Hal ini pernah terjadi pada 2006.
Pengalaman waktu itu, listrik byar pet (sering padam), akibatnya menyala secara bergilir. Bila pembangkit yang dimiliki PLN drop, maka jadwal giliran kacau balau. Inilah pula yang membuat masyarakat Baubau sering panas. Akibatnya PLN kerap kali jadi bulan-bulanan demonstran. Nyaris tiap hari terjadi unjukrasa, sarannya satu, PLN. Padahal, hal tersebut diluar kuasa mereka.
Saking parahnya Kantor PLN Cabang Baubau pun lampunya harus padam. Mereka juga berempati dengan kondisi daya listrik yang minus. Bahkan pernah terjadi, satu Kota Baubau padam total.
Kebetulan saat itu, saya masih menjadi koresponden. Karena buruknya kondisi listrik, kerap kali berita tidak naik cetak karena jadwal deadline pengiriman berita lewat. Akibatnya berita yang dikirim ke Kendari berita basi.
Tak hanya itu. Untuk mengisi baterai handphone, saya harus mencari rumah rekan yang listriknya tidak terkena giliran pemadaman. Itu jurus pertama. Jurus kedua, saya harus beli baterai HP baru agar ketika satu yang satu low-bath, maka sudah siap baterai cadangan. Dua jurus itu bukan hanya saya yang gunakan, beberapa rekan juga mengamalkannya.
Perlu diingat, saat itu kebutuhan daya listrik bagi warga Baubau belum sebesar sekarang. Ruko belum seberapa tumbuh subur. Perumahan belum seberapa menjamur. Belum ada Terminal Suplai BBM. Belum ada Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa).
Maka itu, PLN mengambil langkah penyelamatan dengan menyewa mesin dari luar Kota Semerbak. Setahu saya, jika disewa, sifatnya hanya sementara, bukan permanen.
Nah, jika mesin sewa ini ditarik, kira-kira bagaimana listrik Baubau? Apalagi saya mendengar dari sumber yang bisa dipercaya, bila di Baubau terus ribut, PLTU akan dipindahkan lokasi pembangunannya. Dan ratusan kabupaten/kota sudah siap menampung.
Padahal, pembangunan PLTU di Kolese penuh dengan
perjuangan. Bahkan harus mengundang tokoh sekaliber Dahlan Iskan (saat masih menjabat Dirut PLN) pada 2011, ke Baubau untuk melihat dari dekat kondisi kelistrikan kita. Keputusannya pun diambil di tengah laut, karena perjalanan melihat lokasi pembangunan PLTU menyusuri laut menuju Kolese.
Hasilnya berbuah manis. PLTU kini sementara dibangun dan ditargetkan tahun depan beroperasi. Daya yang dihasilkan kurang lebih 10 MW. Daya tersebut bukan hanya melayani kebutuhan warga Baubau, tapi juga daerah belakang antara lain Muna, Buton, dan Buton Utara. Karena PLN Cabang Baubau memiliki interkoneksitas dengan daerah tersebut.
Termasuk daya listrik tersebut juga sebagai suplai energi bagi bidang industri. Sebab sudah ada payung hukum yang diterbitkan pemerintah agar hasil tambang tidak lagi dipasarkan dalam kondisi mentah, tapi harus sudah diolah menjadi bahan jadi. Dengan demikian energi listrik tersebut akan menjadi pemasok energi bidang industri.
Tumbuhnya industri, secara otomatis akan membuka lapangan pekerjaan. Dengan demikian, warga setempat tidak harus merantau ke luar daerah untuk mencari nafkah. Tapi bisa mengais rezeki di kampung sendiri.
Efek lainnya, kita juga bisa menghasilkan generasi unggul, karena anak-anak dibesarkan dengan orang tua yang lengkap. Tidak hanya dibesarkan oleh seorang ibu, sementara ayahnya meninggalkan rumah karena mencari nafkah di negeri orang.
Terlepas dari itu semua, kita berharap persoalan PLTU secepatnya selesai. Gesekan, pro-kontra dalam pembangunan, lumrah. Dengan catatan, diselesaikan secara elegan. Hati boleh panas asal kepala tetap dingin.(one.radarbuton@gmail.com)
Rabu, 25 Juli 2012
Puasa Pol....
Catatan: Irwansyah Amunu
TIDAK terasa, hari ini kita telah memasuki 6 Ramadan 1433 H. Seperti biasa, awal puasa kali ini masih menjadi pro kontra, apakah puasanya dimulai Jumat (20/7) atau Sabtu (21/7). Seperti biasanya pula, untuk menantikan kepastian tentang keabsahan kapan dimulainya puasa, sama dengan tahun-tahun sebelumnya saya harus menunggu sampai subuh hari.
Karena informasi harus di-update tiap jam, maka Jumat lalu saya tidur seperti tidur ayam. Setiap jam, bahkan setiap setengah jam harus bangun mengecek Handphone (HP) menanti info rukyat hilal global dari rekan. Nanti pk 03.00 lewat baru saya dapatkan kepastian, Jumat lalu sudah terhitung 1 Ramadan.
Kepastian itu semakin menebal setelah membaca running text disalah satu Tv swasta yang menginformasikan hilal sudah terlihat di Arab Saudi. Bukan hanya itu, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Mesir, Turki, dan sejumlah negara di Afrika sudah memulai puasanya, Jumat. Alhasil Jumat subuh saya bersama keluarga sudah sahur.
Pagi harinya ada rekan yang menginfokan via Blackberry Massenger (BBM) ada kicauan twitter Ustaz Yusuf Mansur menyebutkan, Mekah dan Madinah sudah salat tarwih sejak malam Jumat.
Dan betul, malam Minggu (21/7) bulan sudah tinggi. Dengan mata telanjang, kita bisa pastikan malam Minggu sudah 3 Ramadan. Bulan memang tidak punya mulut, tidak bisa ngomong, tapi bulan tidak bisa bohong. Bulan juga tidak bisa disuap dan dikorupsi sesuai kehendak manusia. Bulan bergerak sesuai hukum alam sejalan dengan kehendak Allah SWT. Perlu dicatat pula, bulan bukan terbit di Indonesia sehingga disebut bulan milik rakyat Indonesia. Tapi bulan untuk alam semesta, bagi seluruh umat manusia di jagat raya.
Inilah relefansi rukyat harus dilakukan secara global, bukan nasional, apalagi lokal. Sebab secara astronomi antara satu titik dengan titik lainnya di bumi ini tidak terjadi perbedaan hari. Yang ada hanyalah perbedaan waktu. Antara satu titik dengan titik lainnya yang terjauh maksimal 12 jam. Bukan 24 jam.
Terlepas dari polemik tersebut, sekarang umat Islam khusyu menjalankan puasa. Semua berharap menjadi pemenang. Semua berharap puasanya penuh, puasa pol.
Bukan Puasa Pol....(tambah empat titik) Maksudnya? Puasa politik.
Ini terkait masyarakat Baubau yang bakal menghadapi hajatan Pilwali. Plus Pilgub Sultra yang juga dialami seluruh kabupaten/kota di Bumi Anoa.
Kenapa saya katakan demikian? Pasalnya momentum Ramadan kali ini berdekatan dengan hajatan Pilwali dan Pilgub yang bakal digelar 4 November nanti. Sehingga bisa saja digunakan para kandidat secara terselubung mendekati rakyat memanfaatkan Ramadan untuk memuluskan maksud politiknya.
Sehingga bisa jadi, safari Ramadan, puasa, salat, zakat, santunan, bantuan, buka puasa, sahur, kartu lebaran, zakat fitrah, dan hadiah lebarannya bukan murni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tapi dipenuhi dengan motif politik kepentingan Pilwali atau Pilgub. Kalau ini terjadi maka amalannya sia-sia, pahalanya tidak ada. Sebab bukan mengharapkan ridho Allah, tapi ridho manusia.
Pastilah mereka hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga belaka, tanpa pahala. Karena di kepalanya hanya ada satu pikiran: Menambah pundi-pundi suara, bukan pundi-pundi pahala.
Sehingga Puasanya Pol.... Atau dengan kata lain, puasa politik, safari Ramadan politik, salat politik, zakat politik, santunan politik, bantuan politik, buka puasa politik, sahur politik, kartu lebaran politik, zakat fitrah politik, dan hadiah lebaran politik.
Semoga saja ini tidak terjadi. Kalaupun terjadi, saya kira rakyat sudah cerdas. Bisa membedakan amal ibadah murni dan ibadah palsu. Mana Puasa Pol, mana Puasa Pol.... (one.radarbuton@gmail.com)
Rabu, 18 Juli 2012
Baubau Autopilot
"Revolusi Senyum kita angkat dalam jargong Bersama Lebih Baik, tentu kita ingin menanamkan bahwa inti bersama lebih baik itu, kalau kita punya satu kesatuan hati," Amirul Tamim, Walikota Baubau
TIDAK terasa, Festival Perairan Pulau Makasar (FPPM) ke-5, besok, berada pada penghujung masa pemerintahan Walikota Amirul Tamim. Apa saja pengaruhnya selama ini? Bagaimana pula harapan walikota? Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Radar Buton, Irwansyah Amunu di Rujabnya, belum lama ini.
--Festival Perairan Pulau Makasar, diakhir periode bapak kira-kira muatannya apa?
Jadi ini Festival Perairan Pulau Makasar sudah jadi agenda nasional, tentu dengan berbagai kekurangan, kelemahan, masih tetap kita jumpai. Tapi terus kita mengangkat iven yang bisa menjual daerah kita dalam arti positif.
Baubau ini punya potensi besar di bidang pariwisata, bukan karena sejarah dengan berbagai peninggalan yang bisa bercerita di berbagai tempat, tapi dengan alamnya juga dengan potensi yang dimilikinya, daerah ini sebanarnya kaya. Ingin saya katakan dan berani saya katakan, daerah ini punya potensi paripurna kalau kita ingin kemas sebagai daerah tujuan wisata dan berinvestaasi. Cuma daerah ini harus kita jual terus dalam berbagai momen, termasuk membuat iven seperti Festival Perairan Puma.
Diakhir jabatan saya di tahun ke-10, bertepatan dengan tahun 2012 beberapa iven yang akan diselenggarakan di Baubau. Iven budaya, 1 September tuan rumah Festival Keraton Nusantara. November iven politik, pemilihan walikota maupun gubernur, tapi kita yakin masyarakat kita sudah cukup dewasa menyikapi berbagai iven ini, sehingga saya yakin Kota Baubau bisa memerankan itu semua.
Terkait Festival Perairan Pulau Makasar, terus kita gelorakan iven ini, dan saya kira nama festival ini akan jadi catatan-catatan, dan mungkin jadi inspirasi bagi pihak-pihak dan generasi mendatang untuk tetap menggali kenapa namanya Pulau Makasar? Apa peran Pulau Makasar? Bagimana peran Baubau? Bagaimana peran kawasan ini? Bagaimana cerita masa lalu tentang kesultanan? Bagaimana daerah ini dan kemasan yang bagaimana pada masa-masa akan datang dengan berbagai potensi yang dimilikinya?
Olehnya itu, dengan konsep ini akan kembali pada masyarakat sebagai pemilik sah semua yang terjadi di Baubau. Tapi saya punya optimisme, jualan ini akan punya nilai besar di masa akan datang kalau terus kita gelorakan.
Karena satu, dunia ini semakin terbuka artinya dalam globalisasi, orang dalam usia-usia ke atas dengan kemapanan ekonomi, mereka akan berkeliling dunia, menikmati semua kawasan-kawasan dunia.
kedua, ada fenomena baru, tren masyarakat Indonesia domestik untuk selalu pada momen tertentu berlibur menikmati daerah-daerah lain, pesona-pesona Nusantara yang lain. Itu bisa kita lihat setiap liburan orang bergerak untuk mengunjungi tempat-tempat objek wisata, besar sekali.
Ketiga, ekonomi masyarakat semakin membaik, sehingga kebutuhannya bertambah. tadinya kebutuhan papan, pangan, sandang, ada kebutuhan tambahan yaitu rekreasi, sudah jadi kebutuhan pokok.
Kebutuan pokok itulah, kita harus menyiasati kota kita sehingga bisa menjadi salah satu pilihan ketika masyarakat domestik ingin memenuhi kebutuhan rekreasinya. Kalau tahun lalu dia ke Bali, ke Jogja, kemungkinan tahun berikutnya ke Baubau, dan itu akan terjadi. Orang Bali kemungkinan mengatakan saya pengen lihat Baubau, orang Jakarta demikian juga.
Dan ini sudah bukan hal yang susah karena fasilitas lapangan terbang kita dengan angkutan pesawat sudah bisa memberikan peluang untuk ini. Jadi orang yang karena irit waktu bisa naik pesawat, irit uang bisa naik kapal. Berarti ada peluang-peluang menjadikan daerah kita akan jadi pilihan. Tapi kalau ini tidak kita kelola dengan berbagai iven seperti Festival Perairan Pulau Makasar, mungkin daerah kita tidak jadi pilihan.
Dan ingat, salah satu sektor yang bisa mmemberikan kontribusi nilai tambah masyarakat, sektor pariwisata, bukan pemandangan alam, budaya, ini hanya magnitnya. Tapi sebenarnya yang bisa memanfaatkan, sisi ekonomi, industrinya, katakanlah industri kulinernya, kerajinanya, perhotelannya, angkutannya, kemudian berbagai instrumen-instrumen seperti disisi lain kreativiitas budaya akan menjadi bagian-bagaian yang akan timbul, muncul tapi nanti akan bernuansa ekonomi semua, itulah jadi peluang.
Karena tidak mungkin semua warga kita jadi PNS semua, tidak mungkin jadi kontraktor semua, tentu ada yang bisa terlibat dalam usaha apa saja, tapi bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kemasan-kemasan begitulah
kenapa Festival Perairan Pulau Makasar kita patenkan.
-Sudah berapa jauh iven yang kita selenggarakan menggerakan nilai tembah berbagai sektor tadi?
Kalau kita lihat dari sisi PDRB kita, beberapa sektor itu, disektor hotel, jasa perdagangan naik, memberikan kontribusi dari posisi yang tadinya didominasi pertanian. Pertanian semakin menurun, kemudian sektor-sektor ini perdadagangan naik, ini artinya kontribusi dari hal-hal ini memberikan peluang-peluang besar. Dari tahun ke tahun memberikan nilai ekonomi yang semakin membaik.
Mungkin kalau ilustrasinya, semakin banyaknya pedagang kuliner di hampir setiap pojok Baubau dibandingkan beberapa tahun lalu. Kemudian restoran mulai tumbuh, tadinya boleh dikata tidak ada. Hotel, lihat itu hotel orang mulai berpikir rumahnya jadi penginapan, bagaimana Ruko direkayasa mejadi penginapan, mejadi hotek dan sebagainya. Kemudian sewa-sewa angkutan mobil semakin meningkat, mobil-mobil rental meningkat semua, kemudian angkutan-angkutan lain, dan berbagai ruang lain semakin meningkat, itu indikasi bahwa ini semua punya manfaat.
--Soal nama, kenapa dipilih nama Festival Perairan Pulau Makasar? Bagi beberapa kalangan terkesan mengangkat citra daerah lain?
Kita memilih Festival Perairan Pulau Makasar, itu tidak bisa dipungkiri laut yang ada di depan Kota Baubau ada namanya pulau yakni Pulau Makasar. Pulau Makasar ini ada sama dengan salah satu kota di Sulawesi yaitu Kota Makassar. Tentu kita ingin memanfaatkan nama trennya Makassar yang memang nama itu juga ada di Baubau, Pulau Makasar. Tapi dibalik itu ingin kita menanamkan memori kolektif bagi masyarakat kita, sekaligus ingin memberikan peluang, dan mungkin pertanyaan yang akan timbul generasi akan datang kenapa namanya Pulau Makasar.
Nama Pulau Makasar di Baubau, tidak akan terlepas sejarah peran Baubau di masa lalu, di dalam konteks bagimana melahirkan Indonesia yang sebenarnya seperti hari ini. Andil kesejarahan negeri Buton yang ada di Baubau pasti punya kaitan-kaitan dalam perkembangan sejarah masa lalu menuju Indonesia hari ini.
Tapi untuk menggali itu, itulah ruangnya bagi para peneliti, pemerhati generasi mendatang untuk menggali terus. Tapi dari sejarah itu yang ingin kami tangkap bahwa Baubau ini punya posisi stategis di kawasan ini.
Oleh karena itu, posisi strategis ini harus dimanfatkn sebagai posisi daya saing tinggi, bukan daya saing dalam konflik, tapi daya saing untuk mengangkat daerah ini, bukan berdaya saing yang negatif.
Karena ketika daya saingnya yang besar akan memberikan ruang ekonomi. Kita tidak bisa pungkiri kita di kaki depan Pulau Sulawesi untuk memberikan layanan-layanan yang lebih luas terhadap daerah-daerah Timur Indonesia yang begitu kaya. Dan itu akan didukung nantinya oleh sebaran masyarakat Buton yang ada di Indonesia Timur ini. Jadi sisa kecerdasan kita memafaatkan jejaring ini
apakah kita mampu memanfaatkan jejaring ini atau tidak. Kkembali pada generasi kita ke depan. Tapi skenario ke arah sana itulah yang kita pondasikan dalam kerangka membangun Baubau ini.
--Bagimana dengan masyarakat Baubau apakah mereka sudah cerdas menangkap potensi dan posisi stargis ini?
Jujur kita katakan masih sebagian kecil yang bisa menangkap, tapi kita yakin
efek-efek dominonya sudah mulai terasa untuk ini akan merangsang yang lain dalam memanfaatkan ini.
--Dulu bapak mencangkan Revolusi Senyum, terkesan sepele tapi mulai bila dilihat muatan lokal kita memang mulai luntur dengan hantaman globalisasi. Padahal kita punya muatan lokal, roh kebutonan, apakah lewat acara ini bisa dikaitkan?
Sebenarnya tidak juga, tapi mungkin karena ketagangan-ketegangan dalam bersaing semakin kuat, sehingga mungkin fenomenanya seperti itu.
Saya terimakasih dingatkan terhadap Revolusi Senyum ini, memang kembali saya ingin ingatkan kepada kita semua mari dalam hal menjalin selaturahim interaksi yang betul-betul kominikatif dengan keramahan kita. Sebagai salah satu jargon kita dalam anatomi Semerbak. Karena disitu ada Ramah, dalam aplikasinya bagaimana kita bisa senyum, bagaimana kita bisa tunjukkan keramahan dengan senyuman dan itu kita sudah tunjukkan. Mudah-mudahan keramahan ini tercermin lagi dalam Festival Perairan Pulaua Makasar yang akan datang, oleh karena itu mari ramah, senyum.
Kemudian, karena Revolusi Senyum kita angkat dalam jargong Bersama Lebih Baik, tentu kita ingin menanamkan bahwa inti bersama lebih baik itu, kalau kita punya satu kesatuan hati. Jadi yang harus kita kembangkan, kita teruskan agar daerah ini mempunyai roh yang berkembang sesuai dengan roh sebenarnya.
--Dengan visi bapak pada periode kedua ingin menjadikan budaya yang produktif kalau dikaitkan dengan Festival Perairan Pulau Makasar, bagimana pengaruhnya?
Visi kita jangka panjang menjadikan Kota Baubau sebagai kota jasa dan dagang yang nyaman, melalui tahapan-tahapan visi, menjadikan pintu gerbang ekonomi dan pariwisata, kemudian ingin menjadikan budaya yang produktif. Ending kota budaya yang produktif ini tercermin bagaimana kita memanfaatkan Festival Keraton Nusantara sebagai salah satu momentum yang nantinya akan memperkuat posisi budaya. Tapi posisi budaya ini sesuatu yang punya nilai ekonomi yang bisa mengangkat hak dan martabat warga kawasan ini dengan produktifitas yang lebih tinggi lagi.
Itulah dalam endingnya sebagai kota budaya yang produktif kita lihat, dinamika Kota Baubau dalam tahun terakhir sebagai tahun pemantapan ini, dinamika tumbuh begitu cepatnya mengalahkan
dinamika kesiapan semua komponen dalam menata kota ini. Oleh sebab itu, penataan kota ini tidak hanya diserahkan pada pemerintah tapi semua komponen masyarakat untuk ikut bertsama-sama menatanya. Karena kalau tidak, pada masa akan datang dia akan mematikan dirinya sendiri dalam arti tidak akan punya kekuatan daya saing, lemah dalam berbagai aspek.
---Bagaimana menyiasati dinamika yang tinggi, dengan kesiapan yang
tidak sejalan dengan dinamika?
Oleh sebab itu kita berharap keserdasan masyarakar menentukan, dalam era demokrasi ini dikembalikan kepada rakyat yang akan menentukan. Ketika dia bisa mengeksekusi keputusan dengan tepat, maka daerah ini punya kesinambungan dalam perjalanan. Tapi Ketika dia mengeksekusi haknya kepada hal yang salah, berbahaya bagi kota kita ini
.
Olehnya itu, saran saya kepada semua komponen, cerdaslah menyiasati hak itu dalam pengambilan keputusan untuk menentukan jalur dari program pembangunan kota ini untuk bisa berkelanjutan.
--Artinya harus ideologis, tidak pragmatis?
Harus punya idealis yang kokoh, dan saya yakin masyarakat KOta Baubau bisa menentukan.
--Bapak yakin?
Yakin.
--Yakin mereka rasional?
Kalau yang belum rasioanl saya ajak untuk rasional menyikapi ini. Karena daerah ini sudah terkonsep, kalau konsep ini menurut keyakinan saya berubah ini bisa menimbulkan persoalan. Kerena perjalanan selama 10 tahun mencerminkan kekuatan baru di Sultra dan di kawasan ini. Tapi konsep ini belum selesai, 10 tahun tidak mungkin bisa menyelesaikan, dia butuhkan lima tahun ke depan, lima tahun ke depan. Tapi lima tahun ke depan, lima tahun ke depan bukan saya yang menentukan, tapi rakyat Baubau-lah yang menentukan dan eksekusinya dalam demokrasi
.
---Harapan bapak di akhir jabatan dalam Festival Perairan Pulaua Makasar?
Harapan saya janganlah jadikan kebiasaan, ganti pemimpin ganti program. Karena ada biasa, penggati itu, dan ini mungkin sudah jadi budaya melekat malu meneruskan apa yang baik.
Oleh sebab itu untuk mengantisipasi yang malu merubah atau meneruskan yang sudah ada, itulah bagaimana agar yang meneruskan ini bisa tetap satu hati dalam menyikapi dinamika ini. Karena kalau tidak, beban dan resiko akan
dialami. Sehingga kelanjutan berbagai iven bisa berjalan.
---Artinya tidak salah kalau dikatakan Baubau Autopilot? Siapapun orangnya sudah ada sistem yang bisa berjalan otomatis?
Justru itu, kita kehendaki, ketika ada nakhoda yang sudah dapat dipercaya, dan nakhoda itu ketiaka mempercayakan melepas ini, sudah bisa berjalan sendirinya dalam bahasa orang bisa berjalan sendirinya, atau autopilot. Tapi kita harapkan masih ada yang harus bisa mempunyai jejaring yang bisa meneruskan ini.
Saya yakin Baubau kalau diteruskan
konsepnya, karena konsep ini sudah ada tinggal bagimana meletakkan sesuai dengan potensi dan karakternya.(one.radarbuton@gmail.com)
Langganan:
Postingan (Atom)