Senin, 27 Oktober 2014

Ma'rifat Politik Pembangunan Amirul Tamim di Senayan (2-selesai)

Lengkapi Kajian Akademis, Provinsi Buton Raya Tancap Gas

UNTUK mewujudkan mimpi pemekaran wilayah Provinsi Buton Raya, DR H MZ Amirul Tamim banyak memberikan tips. Berikut sambungan petikan wawancaranya kepada wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu.  


Menurut Amirul, sebagai masyarakat Buton Raya, perlu disadari Sulawesi Tenggara ini sangat luas, dengan rentang kendali yang begitu luas sehingga perlu kita persempit dengan untuk dalam lima tahun terakhir, Sulawesi Tenggara harus dibagi dua. Perjuangan yang sekian tahun tentang Buton Raya inilah yang mungkin kita berkomitmen. Saya kira dukungan Pak Nur Alam sudah jelas bahwa beliau ingin membuat sejarah juga menyadari Sulawesi Tenggara cukup luas, dan perlu semangat Buton Raya didukung. Oleh sebab itu, dalam lima tahun ini harus selesai.

Tentu saran masukan saya, kita harus siapkan kajian akademis yang cukup representatif untuk kita pertanggungjawabkan dan jawabannya harus berbetuk ide. Karena mengingat kabinet yang akan datang ini dengan isu yang ada kabinet ini yang profesional sehingga tentu membaca dari proposal harus diperkuat dengan kajian akdemis sehingga bisa meyakinkan. Jangan terlalu politis, karena kabinet yang akan menilai wajar tidaknya adalah kabinet yang konon kaum profesional. Oleh sebab itu libatkan intelektual kita, akademisi-akademisi kita seperti Prof Sumbangan Baja dan lain-lain untuk bisa terlibat dalam kajian-kajian akademis.

Yang kedua, jangan lagi kita persoalkan nama, karena nama Buton Raya itu telah kita sepakati melalui Temu Akbar yang lalu, jangan forum-forum kecil merubah lagi hasil Temu Akbar kita, kecuali ada Temu Akbar Luar Biasa. Tapi saya pikir kalau kita bikin Temu Akbar Luar Biasa kita buang energi karena lima, enam tahun lalu kita buat Temu Akbar sampai sekarang juga belum terbentuk. Kalau kita buat lagi Temu Akbar, ya tunggu lagi 10 tahun. Oleh sebab itu, saran saya dengan tidak mengurangi gagasan-gagasan yang lain, tapi sebaiknya soal nama final, demikian juga ibukota sudah final.

Yang memang kita belum bisa usul Buton Raya cakupan wilayah, karena waktu itu hanya empat (Kota Baubau, Kabupaten Buton, Wakatobi, dan Buton Utara), sekarang kan sudah enam (plus Buton Tengah dan Buton Selatan). Oleh sebab itu, selesai. Bahwa kita lengkap sisa kajian akademiknya yang diperkuat sehingga kalau betul-betul mekar sudah akan ada gambarannya akan menjadi begini ini daerah, kalau tidak mekar, tetap akan menjadi begini. Sehingga memang, jalan keluarnya harus dimekarkan. Oleh sebab itu ini harus kita mempunyai komitmen yang sama.

Yang ketiga, kaitan dengan Buton Raya ini saya harapkan jangan hanya masyarakat Buton Raya yang ada dilokal, sekarang gerakan ini harus melibatkan masyarakat Buton Raya yang ada di nusantara dititik-titik yang lain. Yang ada di Papua segera mendengungkan pentingnya provinsi baru ini, karena kalau tidak, katakan nanti habis masyarakat Buton Raya merantau nanti balik kalau terjadi kerusuhan seperti terbukti pada tahun 1998, 1999 terjadi kerusuhan ternyata orang Buton Raya yang ada didaerah itu pulang menjadi beban, tapi bukan saya kata dalam arti negatif tapi itu mungkin kita ambil hikmahnya dan itu salah satu poin yang bisa kita masukan sebagai salah satu ilustrasi bahwa untuk mengembalikan orang-orang Buton yang ada diperantauan caranya bikin propinsi, saya kira itulah.


---Buton Raya jangan mulai dari nol karena sudah ada start awal yang dibuat?

Ya, betul.

---Penuturan bapak tadi secara filosofis merupakan ma'rifat politik pembangunan, kira-kira apakah bisa ditangkap oleh para kepala daerah kita karena kalau dijalankan merupakan sesuatu yang luar biasa bisa meluncurkan kemajuan Sultra lebih pesat, apalagi sekarang sudah ada 17 kepala daerah?

Ya, itulah saya kira saya tidak meragukan dari kepala-kepala daerah yang teman-teman sementara menjabat sekarang ini, saya kira mereka orang-orang pilihan sisa bagaimana sekarang itu komitmen, cara berpikir dan niat bisa menjadi kekuatan yang dahsyat yang bisa menggali, memaknai semangat kita semua dan yakinlah bahwa daerah kita ini seperti yang saya katakan tadi berpikir untuk yang lima tahun ini yang bisa kita berbuat nyata saya kira langkah ini akan lebih besar daya ungkitnya dari pada pada berapa dekade yang kita lakukan karena anergi kita tidak menyatu. Sehingga saya kira mudah-mudahan dengan kepemimpinan semua kepala daerah yang ada ini bisa.


---Soal sinergitas kepala daerah apakah meraka punya modal, jangan sampai saling merebut peran sehingga melakukan pembangunan tidak sesuai dengan karakter dan potensi daerahnya, kan ini jadi masalah juga ke depan?


Ya, itulah seharusnya tentu masukan saya jangan kita berpikir lokal, katakanlah contoh Baubau tidak bisa berdiri sendiri, dia merupakan bagian dari wilayah-wilayah sekitarnya, begitu juga Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, harus berpikir bahwa membangun Buton Tengah, Buton Selatan, dan Buton adalah merupakan satu kesatuan kawasan dengan kawasan sekitarnya. Contoh sederhananya Jakarta dengan konsep Jabodetabek-nya. Surabaya dengan konsep yang melibatkan kawasan-kawasan sekitarnya. Baubau dulu, Bawapabari itu satu contoh konsep-konsep kewilayahan bahwa satu daerah tidak bisa berdiri sendiri bahwa dia satu kesatuan dengan yang lainnya. Sehingga Indonesia juga membangun daerahnya dia tidak bisa sehingga dia membangun satu kawasan Asean, Eropa dengan masyarakat ekonomi Eropanya, iya kan.

Jadi itulah konsep kewilayahan yang kita sadar ibarat kita dalam rumah tangga dalam masyarakat, tetangga itu adalah saudara terdekat. Sehingga dalam konsep Islam tidak boleh ada tetangga kita lapar, kita memberikan, karena kalau dia lapar, miskin, dia yang rampok kita. Itulah konsep sinergitas tadi. Saya kira ini contoh-contoh kecilnya, contoh besarnya dalam perencanaan wilayah kita harus menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan daerah sekitarnya.


---Soal Buton Raya, apa kata kuncinya sehingga makin cepat diwujudkan. Apalagi masa jabatan bapak di Senayan hanya lima tahun?

Jadi tugas kita jangan terlalu banyak diskusi dan dialog, lengkapi administrasi, siapkan dana penunjang operasional untuk mendukung semangat ini.


---Kira-kira butuh berapa lama?

Kan kalau administrasi bisa dalam berapa bulan terakhir ini, kemudian kalau perlu terkait pemekaran wilayah jadikan agenda pertama kabinet yang baru, kalau kita tugas kita hanya fokus kelengkapan admintrasi karena kelengkapan admintrasi dengan konsep yang lalu sudah lengkap semua, tapi tidak mungkin adminitrasi yang lalu yang kita sodorkan, tentu administrasi yang baru. Oleh sebab itu saran saya jangan buang energi dengan seminar, dengan kumpul-kumpul dialog. Jangan buang energi bicara soal nama, ibukota, karena itu akan menjadi penghambat utama dan penundaan yang berkelanjutan terhadap konsep ini.


---Terakhir, dengan dua daerah baru yang dimekarkan di Buton raya, Buteng dan Busel, apa pesan bapak?


Saran saya kepada pemerintahan yang baru, yang pertama tentu kita terimakasih kepada Pak Bupati Buton Umar Samiun yang gagah berani melepas dan mendukung dua ini, itu harus salut kita.  Yang kedua, kita berharap dukungan daerah-daerah sekitarnya terhadap dua daerah ini, induk dan Kota Baubau harus bisa memberikan suport terhadap dua ini, karena ini yang akan berperan masyarakat kita semua. Yang ketiga, pejabat-pejabat yang baru ini harus fokus mempersiapkan dengan syarat-syarat apa peran pejabat yang baru ini tentu kelembagaan, kemudian pada saat yang sama siapkan langkah-langkah kongkrit karena tugas pejabat yang baru itu sama saja dengan pejabat definitif karena tidak dikurangi kewenangannya, sama kewenangannya, oleh sebab itu lakukan apa yang bisa dilakukan untuk percepatan pembangunan wilayah ini.(****)

Minggu, 26 Oktober 2014

Ma'rifat Politik Pembangunan Amirul Tamim di Senayan (1)

Perbaiki Koneksitas Wilayah, Sultra Butuh Rekayasa


KIPRAH DR H MZ Amirul Tamim sebagai anggota DPR RI sangat dinanti publik di Sulawesi Tenggara. Apa saja yang dilakukan mantan Walikota Baubau dua periode ini, berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu.    


---Sebagai anggota DPR RI di Senayan wakil dari Sultra, masyarakat banyak menggantungkan harapan ke bapak. Apa yang akan bapak lakukan selama disana nanti?

Ya, tentu saya pertama menyampaikan rasa terimakasih saya kepada warga Sulawesi Tenggara yang telah mempercayakan saya sebagai salah satu wakil dari lima wakil di tingkat pusat dalam hal ini di DPR RI. Termasuk tentu kepada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memlih saya sebagai salah satu kader yang bisa mewakili Sulawesi Tenggara. Tentu dengan keberadaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua dan bagi saya secara pribadi, harapan masyarakat Sulawesi Tenggara dari sekian dekade dan untuk masa-masa akan datang bagaimana seluruh komponen yang mencerminkan mewakili daerah baik di lokal maupun di luar saya kira dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah Sulawesi Tenggara secara umum. Ini hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja, dan menjadi beban yang tidak kecil bagi saya secara pribadi.

Selanjutnya disisi lain bagaimana kita melihat persoalan Sulawesi Tenggara ini harus jujur kita katakan Sulawesi Tenggara ini potensi sumber dayanya cukup besar, kemudian luas wilayahnya saya kira harus kita akui cukup besar. Juga harus kita tetap jujur katakan Sulawesi Tenggara ini tingkat kemajuannya juga sudah cukup besar dari tahun ke tahun khususnya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kita tidak bisa menutup mata juga masih banyak yang harus diselesaikan, harus dapat didukung sehingga kita sejajar dengan daerah-daerah lain.

Dalam kurun waktu lima tahun ke depan ini saya kira harus kita fokus dibeberapa persoalan-persoalan yang memang kita yakin bisa diselesaikan dalam kurun lima tahun ini. Kita bisa menanamkan dan menentukan visi kita untuk 30 tahun, 50 tahun sampai 100 tahun, tetapi tentu ini memerlukan suatu rangkaian yang harus kita persiapkan sebagai satu kesatuan mata rantai yang bisa berkesinambungan.

Olehnya itu, mungkin kita harus berpikir bersama bahwa harapan dan keinginan kita tidak mungkin kita bisa wujudkan dalam kurun lima tahun ini. Oleh sebab itu kita harus bersepakat, lima tahun ini apa yang harus bisa kita selesaikan, disinergikan, bagaimana pemerintah-pemerintah lokal dalam hal ini kabupaten yang sudah 17 kabupaten ini. Kemudian dengan Undang-Undang pemerintahan yang baru memberikan peran yang tidak kecil bagi gubernur untuk bagaimana mensinergikan semua ini dalam konteks nasional, dan regionalnya Sulawesi Tenggara sebagai satu kesatuan utuh yang memberikan nuansa dengan keunggulan dan karakter masing-masing dengan peran-peran sesauai dengan kapasitas-kapasitas yang dimiliki. Oleh sebab itu menurut hemat saya kita fokus pada beberapa, fokus pada bagaimana konsep melakukan rekayasa untuk pengelolaan sumber daya alam kita khususnya yang bersifat mining, tambang-tambang, kita punya tambang emas, nikel, aspal, mungkin biji besi, kemudian yang lainnya. Bagaimana konsep awal untuk mempersiapkan dalam sekian tahun itu, sehingga lima tahun ini harus dipersiapkan sehingga tidak tiba masa tiba akal dalam pengelolaan ini sehingga mengorbankan dukungan dan masyarakat-masyarakat lokal itu sendiri.

Oleh sebab itu tentu kita persiapkan dalam persiapan ini, yang pertama, bagaimana dalam lima tahun ini sumber daya-sumber daya manusia Sulawesi Tenggara khususnya anak-anak kita yang berada di SMP, SMA kita arahkan mereka sebentar ke perguruan tinggi masuk pada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang muatan ilmunya untuk bisa mengelola tambang. Jadi mereka harus diarahkan ke geologi, harus ada anak Kabaena yang sekolah pertambangan, harus ada anak Kolaka yang pertambangan, harus ada anak Buton yang pertambangan, harus ada anak Konawe yang ke pertambangan. Terus bagaimana penunjang-penunjangnya tentu energi listrik, berbagai pembangkit yang bisa kita kerjakan dalam lima tahun.

Yang kedua, pertanian dalam arti luas, bagaimana hasil-hasil pertanian kita khususnya pangan. Ketergantungan kita terhadap pangan luar harus kita hindari karena kita harus mempunyai kekuatan dan ketahanan pangan lokal. Itulah yang kita nyatakan setiap kantung-kantung wilayah dari 17 kabupaten harus dapat menjadikannya untuk bisa memiliki ketahanan pangan. Jadi, kantung-kantung logistik pangan harus ada. Kita kaya dengan keragaman, kita bisa makan sagu, dan tidak hina kita makan sagu. Kita makan ubi, tidak hina kita makan ubi. Kita makan jagung, dan itu ada semua. Kabuto, kasoami, dan lain sebagainya bukan makanan hina, itu makanan yang bisa kita makan selain dari beras. Oleh sebab itu, ini semua sektor yang terkait dengan itu dalam lima tahun diperkuat. Kemudian produksi-produksi pertanian yang terkait dengan lain, katakanlah coklat, jambu mente, bagaimana dilakukan konsolidasi kembali dari sisi pemupukannya, siapa yang berperan dalam pemupukan atau diintensifikasi, mungkin ada sistem penjarangan supaya produknya lebih besar atau diekstensifikasi, mungkin ada lahan yang masih bisa diperluas lagi.

Kemudian peternakan, semua titik wilayah kita ini punya potensi peternakan karena masih banyak lahan-lahan luas yang tumbuh rumput begitu saja bisa menjadi pangannya ternak-ternak, apakah kambing, sapi, kerbau, dan semua itu bisa dilakukan oleh lokal tinggal bagaimana pemerintah propinsi memberdayakan instansi terkait. Bagaimana kita di pusat bisa memberikan dukungan konsep-konsep itu sehingga kita juga memberikan andil untuk penyediaan daging-daging secara nasional, minimal kebutuhan lokal konsumsi daging, minimal juga mungkin wilayah kawasan timur bisa disuplai, lahan-lahan kita cukup.

Kemudian laut, kita ini dekat Laut Banda dengan satu sentuhan gerakan kita sudah bisa menyentuh beberapa titik wilayah kita, daerah pesisir Wakatobi, posisi Buton, Bombana, Kolaka Utara, semua adalah wilayah-wilayah pesisir yang mempunyai potensi titik singgung dengan laut-laut yang mempunyai potensi sumber daya laut yang tidak kecil, sehingga dalam lima tahun ini infrastruktur mana yang menunjang kawasan-kawasan perikanan yang mana kita persiapkan sehingga nanti basic itu kita berbicara 10 tahun akan datang, 15 tahun akan datang, sehingga kesiapan dari persiapan 15 atau 20 tahun yang akan datang berbasis dari apa yang kita lakukan dalam lima tahun ini. Untuk bisa menggali potensi sumber daya laut kita yang begitu besar, sehingga fokus. Daerah ini bagaimana bisa berperan, mungkin Baubau, Buton, Buton Utara, Wakatobi, fokusnya apa? Dan itu harus kita bicarakan. Saya kira ini bisa kita dudukan dalam lima tahun. Jangan terlalu buang energi yang terlalu mimpi besar, ternyata juga mubazir pada masa yang akan datang untuk dihasil laut.

Dalam jangka pendek ini juga harus satu kesatuan wilayah ini harus diikat dengan infrastruktur kita bisa memainkan tiga moda, moda darat kita harus perkuat infrastruktur karena jaringan jalannya sudah ada, tinggal kualitas jalannya yang diperkuat. Jadi bagaimana kita membuat konstruksi jalan dijaringan jalan yang sudah ada dulu, mungkin bukan jalur baru sebagai pendekat. Tapi bagaimana kita memperkuat jaringan yang sudah ada, kita tingkatkan kualitasnya, karena itu akan menjadi titik-titik tumbuh yang baru kalau kualitas infrastruktur jalannya sudah bagus. Sehingga moda transportasi darat bisa menjadi satu kesatuan wilayah mengikat gerak ekonomi sisi darat.

Sisi laut, hampir semua kabupaten kita pesisir, sehingga perlu diperkuat semua pelabuhan-pelabuhan lokal penunjang dan lain sebagainya diikat. Jadi, semua kecamatan-kecamatan pesisir perkuat infrastrukturnya pelabuhan-pelabuhannya yang penting layak sandar, layak untuk muat sehingga bisa menekan ekonomi biaya tinggi dalam kita membuat daya saing wilayah sehingga lebih murah dingkut dari laut dari titik kecamatan ke ibukota kabupaten, disana ada peran-peran pengumpul kemudian disitu titik ini lagi kita bawa ke Kendari misalnya, Kolaka, ke Baubau, menjadi titik kumpul besar untuk dibawa keluar dengan menghitung tingkat efisiensinya sehingga mempunyai daya saing yang tinggi.

Sisi moda udara, semua wilayah kita punya lapangan udara, mari kita bicara mulai dari Kolaka, kemungkinan Kolaka Utara juga harus dalam lima tahun ini menyelesaikan bandaranya, kemudian Bombana harus juga ada bandaranya, bisa saya kira Bombana membuat bandara karena ada kawasan yang memang sudah siap untuk itu, kemudian Baubau ada, Muna ada, Wakatobi ada. Sehingga ada dua titik besar yang kita arahkan menjadi bandara internasional yaitu Bandara Kendari, dan Bandara Wakatobi. Itu harus kita punya komitmen yang sama, mau bandara-bandara kecil itu penunjang dan dua bandara ini yang kita dorong mengarah pada bandara internasional. Karena potensi lokal kita memungkinkan untuk pasar-pasar global, apakah pariwisata, apakah sumber daya alam kita, adalah komuditas-komuditas yang dibutuhkan oleh dunia global sehingga sarana untuk pengikatnya, transportasi udaranya saya kira dua titik ini yang kita perkuat.

Disisi itu masyarakat swasta akan membaca dengan sendirinya, tidak perlu kita undang, dia datang sendiri kalau hal-hal yang saya bicarakan tadi ini sudah bisa kita wujudkan dalam waktu lima tahun. Sehingga peran-peran kita stakeholder dari Sulawesi Tenggara ini, termasuk kami yang lima orang ini di Pusat bisa mengambil peran dengan cara kita, komitmen kita bersama bisa kita wujudkan. Itu satu sisi.(***)

Minggu, 04 Mei 2014

Margin Error 80 Persen

Margin Error 80 Persen

Catatan: Irwansyah Amunu

Margin Error 80 Persen



PEMILU legislatif (Pileg) telah selesai, namun masih banyak menyisakan cerita menarik. Diantaranya terkait perolehan suara para Caleg yang erat kaitannya dengan dugaan politik uang.

Meski Kesbang dan Panwaslu menyatakan tidak menemukan politik uang, namun banyak pemilih, Caleg, dan Parpol yang mengungkapkan dana besar untuk meraih suara.

Kisah menariknya, ketika saya bertemu dengan seorang rekan di Pelabuhan Murhum Baubau, berujar Pileg lalu ada temannya yang bagi-bagi uang kepada pemilih disekitar rumah sang Caleg sebesar Rp 8 juta. Lalu teman ini bertanya ke saya, berapa suara sang Caleg?

Mendengar itu saya lantas mengibaskan tangan kepadanya, seraya berkata: biarkan saya menebak perolehan suaranya. Sebelum menjawab saya bertanya, apakah satu suara Rp 100 ribu? "Ya," katanya.

Setelah itu saya mengolah di otak, tidak sampai semenit saya menjawab, suaranya 16. Teman ini mengatakan, suaranya 14, bukan 16. Karena sebelumnya saya belum berkomunikasi dengannya, rekan saya ini heran mengapa tebakan saya nyaris tepat, hanya beda dua suara dengan faktanya.

Saya mengatakan untuk mengetahui perolehan suara Caleg bila berbasis kepada dana yang digelontor, maka suaranya berkisar pada 10 sampai 20 persen dari uang yang dibagi. Nah, tadi saya mengatakan suaranya 16 karena menggunakan batas atas 20 persen. Sehingga rumusnya: Rp 8 juta dibagi Rp 100 ribu dikali 20 persen sama dengan 16 suara.

Dia lantas tersenyum seraya geleng-geleng kepala mengetahui analisis saya ini. Namun demikian Ia belum kehilangan pertanyaan, dari mana rumus itu saya peroleh.
Saya jelaskan, rumus itu saya dapatkan dari sejumlah cerita sejumlah Caleg, keluarga Caleg, orang dekat Caleg, atau warga yang cerita terkait perkiraan dana mengalir saat Pileg. Misalnya, Caleg yang mengeksekusi data plasma 6000 sampai 8000, suaranya plus minus 2000. Atau yang cerita serangan fajar sampai Rp 1 miliar, namun suaranya hanya sekitar 1000-an. Ada juga yang bilang data plasmanya 4000 lebih (suaranya sekitar 700), juga plasmanya 1000-an, tapi suaranya lebih kurang 300.

Makanya saya berani menyebut margin error-nya 80 persen. Pendek kata, dana yang digelontor dengan suaranya antara 10-20 persen.

Berkaca dari analisis ini, untuk mengamankan satu kursi DPRD Baubau ditengarai butuh dana sampai Rp 1 miliar. Pertanyaannya, apakah dana ini bisa kembali dalam waktu lima tahun? Bila diasumsikan gaji anggota dewan sebulan Rp 9 juta, maka dalam waktu satu periode uang yang dikumpulkan hanya sekitar Rp 540 juta. Lantas bagaimana modal tadi bisa kembali? Bukankah besar pasak dari pada tiang? Jadi kekurangannya ditutup dari mana?

Hal ini, saya sempat ungkap dalam Diskusi Politik yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Baubau di Aula SKB Buton, akhir pekan lalu. Salah seorang pembicaranya DR H Andi Tenri, akademisi dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) mendengar penuturan saya soal margin error 80 persen sempat tanya, apakah hal tersebut merupakan hasil riset? Saya katakan, rumus tersebut berdasarkan analisis dari sejumlah cerita kontestan Pemilu, dan masyarakat yang berseliweran.

Maka itu, dalam forum tersebut Andi Tenri mengatakan apa yang kita mau banggakan dalam sistem demokrasi? Terkait Pemilu legislatif, demokrasi menjustisfikasi kapitalisme. Apa yang bisa kita harapkan dari dewan? Karena setelah itu cerita korupsi yang terdengar. Kapan mereka mau jadi anggota dewan?

Dia mengkritisi, kebanyakan Caleg sekadar mencari pekerjaan, bukan karena ekspektasi pada dirinya, dan mewakili rakyat. Indonesia mayoritas Islam, seharusnya ekspektasi ini menjadi kekuatan.

Andi Tenri menyebut, Khilafah harapan. Menurutnya, demokrasi, liberalisme, kapitalisme tidak pernah menyinggung akhirat, selesai di dunia. Tidak ada yang dipentingkan akhirat, padahal disana kita akan bertemu kehidupan yang sesungguhnya. Itu bagi kita yang tidak bisa diabaikan.

Dia berharap sisitem khilafah, dapat berdiri negara, pemerintahan berdasarkan syariat Islam.(Follow twitter: @irwansyahamunu)


Read more: http://www.butonpos.com/metro-baubau/metro-baubau/margin-error-80-persen#ixzz30nhUWNPx

Kursi Panas Ketua DPRD

Kursi Panas Ketua DPRD

Kursi Panas Ketua DPRD



Setelah KPU kabupaten/kota di Sultra menggelar pleno di tingkatannya masing-masing, kita sudah bisa memprediksi siapa yang bakal duduk di kursi ketua dewan. Sebab indikator yang bakal duduk diposisi "01" masing-masing DPRD adalah partai yang memiliku perolehan suara terbanyak.

Nah, bila hal itu dijadikan ukuran maka kita dapat mengetahui partai apa yang berhak menduduki kursi ketua. Untuk di jazirah Buton Raya pemenang Pemilu dilevel kabupaten/kota rata-rata dimenangkan PAN. Mulai dari Baubau, Buton, dan Buton Utara. Satu-satunya daerah di Buton Raya yang tidak dimenangkan Partai Matahari Biru tersebut adalah Wakatobi. Di Kepulauan Tukang Besi tersebut, PDIP yang berjaya.

Maka itu pembahasan ditingkatan partai masing-masing adalah siapakah yang bakal duduk di kursi ketua? Untuk Baubau, dua nama sudah mencuat, Roslina Rahim dan Kamil Adi Karim. Di Buton, dari 10 Caleg yang lolos mengkerucut tiga, Rafiun, Adam, dan La Goapu. Sedangkan di Wakatobi, Muh Ali dan H Sairudin La Aba.

Melihat nama-nama yang muncul, setidaknya terjadi pertempuran dua kutub besar, kader partai murni dan non kader. Walaupun pada akhirnya semuanya akan dikembalikan ke partai, dan secara realitas biasanya penentuan yang akan menjadi ketua dewan semuanya ada di tangan ketua partai. Dalam hal ini, keputusan siapa yang bakal menjadi ketua  keputusan kepala derahnya masing-masing sebab merekalah sang ketua partai.

Walaupun khusus Kota Baubau, kendati ketua partai adalah walikota, namun penentuan siapa yang bakal menjadi ketua dewan akan sangat dipengaruhi Ketua PAN Buton. Sebab, saat Pileg lalu Samsu Umar Abdul Samiun berpengaruh besar dalam kemenangan PAN di Baubau.

Apakah ada kejutan dalam penentuan ketua dewan? Apakah ada nama lain yang muncul diluar nama-nama tersebut? Publik akan menanti. Yang jelas, rakyat berharap agar kualitas dewan tetap terjaga dan lembaga legislatif bisa menjalankan fungsinya secara ideal. Apakah ini bisa dijalankan sang ketua baru? Kita lihat saja nanti.(***)


Read more: http://www.butonpos.com/metro-baubau/kursi-panas-ketua-dprd#ixzz30nhFepHv

Selasa, 29 April 2014

Kiat Wakatobi Menata Diri (4)



Kompetisi Birokrat Lebih Cerdas, Wacanakan Lelang Jabatan

---Kiat Wakatobi Menata Diri (4)

Kompetisi Birokrat Lebih Cerdas, Wacanakan Lelang Jabatan
BIROKRAT dan masyarakat merupakan dua unsur penting dalam pembangunan. Wakatobi memanfaatkan keduanya sehingga daerah yang dipimpin duet Hugua-Arhawi ini maju.


Laporan: Irwansyah Amunu dan Rusdin, Wangiwangi     

Inovasi dalam menata daerah terus dilakukan Wakatobi. Bukan hanya menyentuh aspek fisik, tapi juga non fisik yakni prilaku masyarakat dan birokrasi. Berikut lanjutan wawancara koran ini kepada Sekab Wakatobi, Sudjiton. 


--Terus bagaimana masyarakat? Bagaimana tangapan mereka?

Itulah, jadi memang konsep kita membangun, kita pemerintah harusnya jangan merancang di atas meja, kemudian jangan juga mendengar dari satu pihak, dari satu dua orang, kita lihat bahwa susah merubah karakter masyarakat. Saya ini sudah tiga empat kali coba kita diskusi dengan teman-teman, kenapa pasar selalu semrawut. Informasinya, Oh itu pak susah kita atur masyarakatnya pak, ah masa susah? Ya saya coba masuk, eh ternyata kami siap Pak Sekda diatur, tapi jangan pilih kasih. Apa itu? Itu muncul dari nuraninya masing-masing, berarti kan selama ini ada praktek-praktek ketika ada penggusuran, penertiban, ketidaktrasparan, dan ketidakadilan disana.

--Mal praktek pak? 

Mal paktek. Hahaha. Mal administrasi. Jadi, kita diaparatur ini harusnya jangan di atas meja, atau jangan mendengar dari satu, dua orang, atau dari kelompok tertentu. Jadi coba kita masuk, istilahnya ini mungkin blusukan. Kita bisa menangkap, apa sebenarnya aspirasi mayoritas dari komunitas yang ada dititik-titik itu. Mereka mau. Kita misalnya contoh kenapa ini tidak bisa kita jalan? Kenapa ini? Bukankah ini masih kosong? Sebenarnya kami mau, tapi tolong disana juga mau. Ah berarti kan kita yang ditunggu untuk mengatur mereka. Dan contoh-contoh itu kita coba uji petik satu kali, saya bilang apalagi kalau kita masuk melalui bahasa daerah, kan lebih mengena mereka. 

Na umpa la? Eh padahal te Pak Sekda ini orang Wakatobi la. Oh iya lah. Hahaha. Jadi ternyata komunikasi juga itu penting.

--Dan mudah diterima?

Mudah diterima, dan saya kira konsep-konsep itulah selalu setiap hari Senin apel kita memberitahukan kepada teman-teman bahwa kita dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat, ada kegiatan kita disana, jangan cepat-cepat hanya satu kali, dua kali setelah itu langsung eksekusi. Masuk dulu, komunikasi dulu. Kalau sudah dua, tiga, empat kali kita lakukan komunikasi, pasti mereka dengan swadayanya sendiri. Eh, kira-kira seperti apakah kita maunya kami ini diatur. Dia akan memberi peran sendiri.

---Intinya masyarakat mau juga?

Mau juga, mau.


---Intinya bukan diatas meja, tapi langsung dilapangan?

Ya, kemudian yang terpenting, dan ini terus terang saja praktek-praktek kita di Baubau dulu kita pakai disini. Saya bilang ke teman-teman kalau suatu pasar itu bagaimana supaya bisa nyaman, aman, bersih, harus dulu ada desain indahnya, perspektifnya. Pasar seperti itu kita foto dengan kesemrawutannya, setelah itu disampingnya ada semacam desain, tinggal kita bilang bagaimana mau seperti ini atau seperti itu? Pasti dia bilang mau seperti itu. Aa, itu yang kita praktekan dulu di Baubau kan. Jadi ada animasinya rancangan suatu kawasan itu perspektifnya seperti apa, tentu hitungannya dari sisi keindahan, keamanan, kenyamanan tadi. Nah siapa yang tidak mau nyaman, indah?


--Sekarang bapak sudah bicara program, dan menyinggung masyarakat, bagaimana birokrasi?


Birokrat saya kira kita sekarang agak lebih ke depan untuk mencoba memaknai ke mana nantinya UU ASN (Aparatur Sipil Negara), apa perbedannya dengan konsep PNS dulu. Nah saya mulai kita memperaktekan ini, kami sekarang lagi menyusun analisa jabatan dan analisa beban kerja. Jadi setiap unit organisasi ada pembagian tugas, ada kepala dinas, eselon III, IV, ada stafnya. Di tingkat staf pun ini kita analisa beban kerjanya sehingga nanti kita dapatkan yaitu kalau pergi satu hari misalnya dia kerja apa sih. 

Nanti terutama tenaga-tenaga magang kita yang honorer K2 yang belum terserap, kita disatu sisi butuh tenaga tapi disisi lain tidak dibolehkan lagi ada tenaga magang, atau tenaga-tenaga penunjang. Tapi nomenklatur atau bahasanya P3K, pegawai pemerintah dengan kontrak kerja. Kalau dikonfersi berarti orang nanti kalau bekerja harus jelas apa yang dikerja, bebannya seperti apa, tinggal nanti kita kasih reward berapa, bisa dihitung satu hari. Kalau sudah ada uraian beban kerjanya, kalau dia satu hari tidak datang ya tentu jangan ambil loh gajinya satu juta misalnya, kurangi satu hari. Dalam satu bulan berapa hari kerjanya, dan itu akan lebih mendidik aparatur.        

--Ini sampai ke eselon II?

Ya, itulah. Nah kemudian bagaimana kita mengandaikan dalam praktek berbirokrasi aparatur mulai dari bupati sampai dengan staf di bawah kemudian berjenjang mulai dari bupati sampai di level pemerintahan kecamatan, desa, dulu kita ibaratkan seperti suatu orkestra besar. Ada cunductor-nya, dirigen yang mengatur irama, bagaimana seorang Sekda sebagai pembina aparatur, pembina pegawai negeri memainkan itu. Ya tentu komando utamanya, kebijakan utamanya di bupati dan wakil bupati. Tapi di dalam tataran operasionalnya Sekda sebagai pembina pegawai negeri.     

Nah pertama saya datang disini, saya kira ada kurang connect atau istilahnya komunikasi roda pemerintahan antara beberapa instutusi kok kayak kaku, berarti belum tersistim. Nah rapat satu kali kita dengan pak bupati saya bilang ini kan sama dengan orkestra selalu kita bayangkan kalau seorang dirijennya dengan tubuhnya dimainkan dengan perasaan, kira-kira bupatinya, Wabupnya, Sekdanya harus seperti itu memahami, bisa memaknai, mendalami tentang apa tugas, beban, dari satu institusi. Kenapa institusi bisa lahir berarti ada sesuatu ingin dijawab oleh institusi itu. Di dalamnya kan ada aparat, person, birokrat-birokrat disitu. Maka itu didetailkan analisa jabatan, analisa beban kerja tadi, sudah terbagi habis. 

--Reward and punishmant, bukan like and dislike?

Reward and punishmant, bukan like and dislike kita hindari itu. Bahkan Pak Bupati sudah menantang saya, coba sekali waktu kita lelang jabatan. Ya, artinya bukan hanya itu, tapi kita sudah ingin agar dalam melihat, membuat profesional PNS ada kompetisi yang lebih cerdas, objektif dan transparan. Satu kali kita uji coba itu pasti akan menjadi rule model kita, padahal kalau kita ingin maju itu harus kita cerdas. 

Ini loh buktinya. Saya ini pak, sudah melakukan fit and proper test untuk eselon IV, dan juara-juaranya sudah ada. 


--Di level apa? Seluruh dinas?

Seluruh dinas kita mintai supaya mengirimkan jagoannya untuk eselon IV-nya karena kalau seluruhnya mungkin waktu ya. Dan ini akan menjadi role model terus menurus.


---Sudah mulai berlaku?

Mulai berlaku, saya sudah selesai Februari kemarin.


---Sudah dilantik atau akan dilantik?

Baru kita memotret bagaimana kemampuan, kompetensi dari masing-masing orang itu tapi kita minta agar dari unit kerjanya mengirimkan unggulannya untuk dilevel eselon IV. 


--Artinya ukurannya jelas?

Ya, ukurannya jelas.


--Ada angka-angka yang bisa dipertanggujawabkan?

Ada angka-angka, dan itu sudah muncul orangnya.

--Bukan like and dislike?

Bukan like and dislike. Ya kemudian itu tadi yang relasi-relasi antar unit organisasi ini, sebenarnya setelah saya rasakan, kan saya baru jadi Sekda dan memang dicita-cita saya, setelah saya masih di Bappeda dulu, kok kayaknya kalau disana supaya roda pemerintahan sebenarnya disistimkan kemudian bagimana relasi-relasi antar unit kerja. Jadi di Sekda ada asisten.(***)  


Read more: http://www.butonpos.com/metro-baubau/kompetisi-birokrat-lebih-cerdas-wacanakan-lelang-jabatan#ixzz30HfFHuc2

Rabu, 23 April 2014

Kiat Wakatobi Menata Diri (3)

Hindari Gesekan, Sara Difungsikan

---Kiat Wakatobi Menata Diri (3)

Hindari Gesekan, Sara Difungsikan




SEBAGAI daerah yang 97 persen diliputi laut, Wakatobi termasuk daerah yang unik. Kendati tergolong anomali, namun hal ini menjadi kekuatan daerah yang dipimpin duet Hugua-Arhawi bersama kabinetnya.

Laporan: Irwansyah Amunu dan Rusdin, Wangiwangi     

SEKAB Wakatobi Sudjiton menguraikan banyak hal terobosan daerah Kepulauan Tukang Besi tersebut. Berikut petikan lanjutan wawancaranya.   


--Civilisasi, penonjolannya bidang maritim, sudah sejauh mana yang dilakukan pemerintah daerah untuk bidang ini?


Ya, jadi saya kira itu tadi karena wilayah Wakatobi ini 97 persen laut, hanya tiga persen daratannya, oleh karena itu budaya maritim dalam artian luas bagaimana warga masyarakat ini pertama, cinta dengan pesisir dan lautnya. Makna mencintai itu adalah bagaimana mengambil manfaat dari posisi dan laut itu baik manfaat ekonomi maupun sosial secara seimbang, artinya jangan mengeksploitasi sampai dikeruk sedemikian atau diambil manfaatnya diluar ambang batasnya. 

Pasir ini kan kalau tidak ada regulasi, tidak ada kebijakan untuk sedikit mengerem penggunaan pasir, tempo lima tahun ke depan sudah habis pasir-pasir di antar pulau ini. Kalau habis bisa memutus mata rantai kehidupan, memutus keanekaragaman tadi. Karena itu salah satu contoh kecil bagaimana melakukan regulasi agar masyarakat yang menambang pasir mengambil di alur-alur pelayaran. Sehingga juga ada dua fungsi disitu, fungsi untuk mengambil manfaat ekonomi dan fungsi memperdalam arus pelayaran kita di empat pulau ini.

Kemudian kami diakhir tahun kemarin menghasilkan peraturan bupati tentang perusahaan-perusahaan kontraktor yang nanti akan membangun disini menggunakan pasir kali kalau istilah kita. Sehingga regulasinya diharga satuan pasir sudah dinaikan tiga kali, dari 180 kalau saya tidak salah, sekarang kami tetapkan hampir 500.

--Karena dari luar Wakatobi?

Karena dari luar, supaya nanti tidak menjadikan high cost (biaya mahal) buat pengusaha yang nanti melakukan pembangunan disini. Kalau daerah pastilah kalau namanya mensubsidi, supaya ekosistem pesisir dan laut kita tetap terjaga sehingga mata rantai kehidupan pesisir dan laut terjaga. 

Masyarakat juga sudah harus dididik agar bagaimana mereka mulai tidak lagi terlalu mengambil manfaat yang merusak daya dukung pesisir dan lingkungan laut kita. Termasuk juga pemboman ya. Cara-cara tradisional untuk mengambil ikan di laut kan dulu-dulu membom, potas dan sebagainya. Nah ini sudah kita konversi. Kan yang mekukan itu hanya berapa, mungkin hanya 20, 30-an orang. Nah itu dipanggil, kita konversi untuk bagaimana mereka melakukan cara penangkapan ikan dan sebagainya bisa berpindah, ada yang dive master, bahkan dia lebih banyak dapat pendapatan ya dari dulu sebagai pengebom, merusak, berubah menjadi penuntun selam. 


--Benturan kerasnya masuknya perdaban dari luar merupakan salah satu yang tidak bisa dielakkan. Bagaimana dengan kesiapan masyarakat?

Saya kira pastilah yang namanya dampak-dampak ini kan namanya peradaban ini tarik-menarik atau akan terjadi kalau di Huntington akan terjadi gesekan perdaban. Dan biasanya pemenangnya adalah peradaban yang mengandalkan kearifan lokal. Banyak contoh daerah-daerah bahkan negara-negara yang tetap eksis kemoderenannya tapi diletakkan pada kearifan lokal negara itu. Jepang, Korea, kan siapa yang menyangsikan bahwa negara itu negara-negara yang memang menduduki dari kemajuannya adalah negara terkemuka di dunia. Bali misalnya bagaimana perbenturan budaya Barat dan budaya lokal mereka tidak terlalu ditarik untuk mengikuti ke Barat. 

Nah kita nanti, kita selalu diskusikan bahwa tidak mungkin juga kita menutup diri, namanya di daerah apalagi kabupaten/kota, propinsi tidak bisa lagi menutup diri, tetapi tentu saja didalam perbenturan peradaban tadi terus terang saja kita juga bagaimana memperkuat nilai-nilai adat-istiadat, kearifan-kearifan lokal tadi agar menjadi budaya, dan peradaban lokal kita. Sehingga ketika ada orang datang nanti, bukan dia membawa peradabannya sendiri, tapi datang kemudian menyesuaikan dengan peradaban lokal yang ada.            

Apa yang kita lakukan hari ini, pertama, dari Pak Bupati sejak saya datang ke sini sebenarnya sementara berjalan kita memfasilitasi lembaga-lembaga institusi-institusi budaya lokal yang dulu pernah eksis. Maka disini dalam proses-proses pengambilan keputusan yang strategis peranan-peranan lembaga adat sudah mulai difungsikan. Disini kan sudah mulai eksis Sara Mandati, Wance, Kapota, dan Liya. Kemudian di Kaledupa, saya kan putra asli Kaledupa, kita sudah diskusikan dengan orang-orang tua kita disana dengan komunitas-komunitas, elemen-elemen masyarakat di sana sebentar lagi ada pengukuhan Sara Barata.

Sara Barata ini bukan bernostalgia bahwa kita pernah ada, tetapi apa yang masih relefan penguatan Sara Barata ini untuk menjadi wadah-wadah pengambilan keputusan masyarakat. Terutama yang terkait langsung dengan masa depan masyarakat kita. Jadi bisa kita bayangkan kalau hari ini kita melarang pengambilan pasir, mereka mengatakan sejak nenek moyang kita dulu kalau melaut kita ambil. Bayangkan kita bilang tidak boleh lagi, kan antara pemerintah dan masyarakat pasti akan gesekan. Tetapi kalau itu sudah diwadahi institusi lokal yang namanya Sara, maka dengan institusi itulah kita coba bangun komunikasi, diskusi, dan kita cari jalan keluarnya yang paling arif. Dan ternyata memang ampuh sekali.

Disini diawal-awal menurut Pak Bupati, meletakkan PLTU Sombu setahun dua tahun susah sekali. Tetapi setelah didudukkan di Sara, tidak ada lagi. Ayo pak untuk kepentingan umum kita bisa. Memang berproses lah, pasti ada kendala disana sini, tetapi keinginan sebagian besar orang-orang tua kita menginginkan bahwa itu tetap eksis lagi. Nah tentu eksisnya institusi-institusi sosial masyarakat ini tidak kita perhadapkan dengan istitusi pemerintah formal. Mereka juga kan sebenarnya diakui dalam undang-undang bahwa kearifan-kearifan lokal diposisikan sebagai institusi yang diakui negara. Nah disni kan namanya tanah-tanah adat masih banyak dikuasai Sara. Tanah adat kan tanah negara, ketika pemanfaatannya untuk kepentingan yang lebih besar maka pemerintah bisa masuk ke sana, bisa berdiskusi kita membangun relasi dengan adat. Jadi, masih banyak kepentingan-kepentingan umum ke depan dimana kalau institusi-institusi sosial ini bisa  utuh di masyatrakat maka inilah nanti yang menjadi wadah, relasi-relasi pemerintah untuk bagaimana membangun terutama diwilayah-wilayah terkait dengan alam, misalnya tanah, pesisir, laut.           


--Di Bali, selain aspek budaya, aspek fisik juga disentuh dengan banguna bercorak budaya Bali, apakah hal itu akan disentuh juga di Wakatobi?


Ya, saya kira pastilah karena wujud fisik itu sebenarnya pengungkapan dari nilai, memang kita disini belum terlalu kelihatan secara fisik bagaimana nilai-nilai kearifan itu berwujud, tetapi gagasan-gagasan untuk memfisikkan membentuk fisik dari nilai-nilai kearifan itu, kemarin kita ingin merancang masjid raya, ketika sudah reklamasi, dan saya sampaikan kepada teman-teman yang merancang ini agar bagaimana bangunan itu penuh dengan nilai, makna, karena muatan keindahan bukanlah pada bangunan yang megah secara fisik tanpa ada makna, tetapi akan lebih kuat kalau bangunan itu mencerminkan makna-makna. Makna-makna itu tentu digali dari kekayaan adat istiadat budaya dimiliki daerah kita ini. Misalnya bagaimana simbol kemaritiman, bagaimana simbol masyarakat Wakatobi yang satu kata dengan perbuatan.  
             

---Bentuk fisiknya seperti apa?

Ya, tentu, tapi nuansa-nuansa agamis tetaplah yang namanya masjid. Tapi bentuk fisik yang mau kita internalisasi ke bentuk-bentuk itu pastilah harus. 


---Untuk tahun ini dimensi apa yang lebih dijadikan sebagai penguatan untuk pembangunan karena dana terbatas, kemudian pembangunan jangka panjang, tentu setiap tahun ada penonjolan2. Kalau tahun ini penonjolannya dimana?


Ya jadi dievaluasi akhir 10 tahun Pak Bupati, sudah mengindikasikan sebenarnya kemana ini, pada tahun ke-11, ke-12 nanti, beliau ini kan lagi dua tahun ini, nah tentu dari cara pandang beliau, sekarang ini ibaratnya manusia itu sudah sempurna, ada kepalanya, tangan, kaki, tapi suoaya cantik harus kita bedaki, harus ada gincunya. Jadi kita sudah pada area itu. Karena apa? Karena promosi daerah sudahlah, sudah tersebar kemana-mana, kemudian infrastruktur, saya kira kalau uuntuk orang datang ke sini sudah tidak terlalu susah, sudah ada bandara. Kemudian jalan-jalan lingkar untuk empat pulau ini sudah hampir rampung semua. Nah sekarang ini arahannya Pak Bupati bagaimana ibukota ini sudah mencirikan sedikit kekotaan. kemudian bagaimana warga masyarakat sudah mencirikan perkotaan, nah inilah. Karena nanti akan menyambut tadi masyarakat yang datang dengan peradaban luarnya kalau kelas menengah keatas pasti peradaban kekotaan. Nanti berinteraksi dengan masyarakat sini tentu kita tidak mungkin bertahan terus dengan karakter pedesaan, tapi juga harus dengan karakter kekotaan.     
   
Kita bukan dalam artian ketarik dalam budaya kekotaan, tapi kalau budaya itu misalnya budaya keindahan itu kan sangat universal, nyaman, bersih, budaya kota yang juga sangat universal dan tetap dinginkan siapa saja.



---Artinya cita rasa budayanya ada disana?
  
Ya, jadi asesoris ya melengkapi asesoris kota, ruang-ruang terbuka hijau, bagaiamana persampahannya, drainasenya, kemudian bagaimana pesisir ditata, sehingga istilah kita dulu water front city karena juga bersentuhan dengan pesisir kita. 

---Rumah menghadap ke laut?

Ya, rumah menghadap ke laut kita juga ditahun 2003 di Baubau kan berfikir begitu kita menggagas, orang banyak menyaksikan tapi setelah dari tahun ke tahun, kita juga desainnya sudah ada. Tetapi penzonasian untuk fungsi-fungsi zonasi itu lebih berat nanti untuk fungsi apa, kita sementara diskusikan. Tetapi mulai dari panjang kurang lebih 40 kiloan pesisir ini untuk ibukota ini mulai dari Liyamawi sampai Patuno, jadi zonasi-zonasinya tentu kita lihat sesuai dengan karakter masing-masing karena ini kan eksistingnya tidak dari bleng, tidak dari nol, tetapi eksisting sudah ada aktivitas disana, sudah ada pemukiman, kan tidak mungkin kita gusur. Jadi diposisi ini kita juga membangun, memperbaiki, kemudian menggusur masyarakat tetap kita sesuaikan dari eksisting dari zonasi-zonasi sementara kita kerjakan.(***)


Read more: http://www.butonpos.com/metro-baubau/hindari-gesekan-sara-difungsikan#ixzz2zlijRHV0

Kiat Wakatobi Menata Diri (2)

Modal Pelaut Ulung, Jadikan Titik Triger Pertumbuhan

Kiat Wakatobi Menata Diri (2)

Modal Pelaut Ulung, Jadikan Titik Triger Pertumbuhan
PELAUT ulung di jazirah Buton Raya banyak berasal dari Wakatobi, potensi inilah yang dijadikan salah satu modal membangun daerah. Mereka menjadi SDM penting menopang pembangunan.     

Laporan: Irwansyah Amunu dan Rusdin, Wangiwangi 

SEKAB Wakatobi Sudjiton menjelaskan kita ketahui bersama, siapa sebenarnya pelaut-pelaut ulung di bangsa ini, salah satu etnis atau sukunya, ya Suku Buton sebenarnya yang memerankan kan hanya empat suku di Nusantara ini yang disebut sebagai suku maritim kan. Nah kalau Buton ini sebenarnya kalau fenomenanya siapa kalau ambil entitas yang lebih kecil lagi, lebih banyak orang Wakatobi. Dan sampai hari ini mereka masih eksis, kekuatan inilah yang nanti kami akan dorong, kita akan rumuskan dalam kebijakan ke depan, bagaimana sumber daya manusia Wakatobi sebagai masyarakat maritim ini bisa nanti menjadi unggul. Karena, tiga empat generasi dari masyarakat Wakatobi ini sudah menunjukan bahwa mereka-mereka bangsa pelaut dulu kan, di dalam kesultanan dulu. 

Nah tentu saja kalau seperti itu kita jadikan Wakatobi sebagai titik triger pertumbuhan dikawasan Timur, sumber dayanya mendukung seperti itu, maka tentu bagaimana fisik atau geografis dari Wakatobi yang bisa menjadi tempat akumulasi barang dari pabrikan atau dari Barat sana, kemudian ini disebar ke wilayah-wilayah yang masih membutuhkan itu. Demikian pula sebaliknya, dari pusat-pusat produksi kemudian dikumpul disini, lalu dibawa ke daerah-daerah pusat pabrikan, ini yang kita mau perankan ke depan.

Karena itu, infrastruktur harus diperkuat terutama infrastruktur yang mendukung transportasi, maka itu bandara saya kira Pak Hugua sangat cerdas sekali pada saat tiga empat tahun lalu, pokoknya dengan APBD-pun berani membuka bandara, dan hari ini sudah mau hampir di 2400 Meter. Dan itu sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar, kemudian pelabuhan kami nanti secara bertahap kita akan buat seperti itu sebagai moda transportasi laut dengan udara.                

Kita tempatkan sebagai titik strategis untuk meleser ke daerah-daerah konsumen, kemudian yang unggul dari segi produksi, baik produksi hasil-hasil laut maupun perkebunan, kehutanan tapi mereka juga melalui peran transportasi armada laut kita, bisa dibawa lagi ke sini, setelah itu dibawa lagi ke pabrikan untuk menjadi bahan baku. Nah itu saya kira yang akan kita perankan.

Kemudian satu yang tidak kita lupakan, ekonomi yang kita dorong, tapi keunggulan-keunggulan lokal tadi kita lebih titik berat lagi kepada dua landasan kuat yaitu dikeunggulan kelautan dan perikanan dan bio diversity bawah laut tadi dengan budayanya, nah saya kira kami sudah gencar sekali untuk mengkampanyekan bagaimana kekayaan bawah laut dan budaya ini menjadi daya tarik tersendiri oleh masyarakat luar daerah dan kalau data-data yang kita lihat di empat tahun yang lalu, kunjungan-kunjungan wisata ke sini, baik wisata lokal maupun mancanegara main di 5000, 6000 diangka terakhir 2012 pertengahan 2013 sudah mencapai 11 ribu kunjungan.

--Berarti ada kenaikan dua kali lipat?

Ya, hampir dua kali lipat kan. Nah, mereka itu mau datang kesini untuk apa? Dari sisi perdagangan untuk orang-orang lokal kami memang pewarisan dari orang-orang tua kita dulu, tapi dari sisi yang lain kita ingin juga bahwa ke sini bukan saja menstimulasi warga ini di sisi dagangannya, tapi juga objek wisata karena juga kaya akan tadi itu. 

Oleh karena itu kebijakannya bagaimana promosi saya kira sudah cukup nah sekarang bagaimana daerah ini dikemas supaya ketika orang disini transportasi udaranya sudah tidak terlalu susah lagi. Transportasi lautnya sudah bagus, kemudian hotel-hotel juga sudah bisa untuk hotel untuk kelas orang yang datang kesini kelas menangah sudah bisa.

Nah sekarang ada Al-Jimairah, Arab sana yang mulai membangun, bintang lima, ada investasi untuk membangun hotel bintang lima. dan beberapa kawasan-kawasan yang kita peruntukan untuk kawasan wisata sudah mulai dibeli oleh investor-investor itu. Nah kemudian tentu saja masyarakatnya ya saya pikir masyarakat ini kalau istilah saya dari masyarakat yang berorientasi pedesaan tiba-tiba ada satu pergeseran kepada cara berpikir kekotaan, kan ini kan. Nah inikan memang harus ada pergeseran prilaku warga masyarakat kita dari hidup pedesaan, kehidup kekotaan. Ya, inilah yang tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tidak hanya menjual terus-menerus, tapi warga masyarakat kita ini, dari hidup orientasi pedesaan dulu-dulu menjadi hidup kekotaan.

Kekotaan ini kan identik dengan kebersihan, keamanan, kenyamanan, nah kemudian tempat ruang-ruang publik interaksi sosial. Dinamika masyarakat itu sudah lebih tercermin pada keamanan, kenyamanannya, keindahan kotanya. Indah kota itu kan tidak harus banyak gedung-gedungnya bertingkat, tidak harus gedung beton-beton dan sebagainya tetapi berkeseimbangan antara pemukiman, rumah-rumah masyarakat dengan ruang-ruang terbukanya jadi konsepnya itu adalah indah, nyaman, aman, dan bersih.        
Nah inilah yang kita coba rubah secara pelan-pelan bertahap dilakukan masyarakat kita untuk menyongsong bagaimana relasi antara masyarakat pendatang tapi selera perkotaan dan masyarakat kami yang tradisional, dia bertemu dengan peradaban kekotaan. Tetapi tetap kita landaskan pada nilai-nilai kearifan lokal yang ada, karena yang datang ini kan setelah dia mau menyelam dengan keunggulan yang kita unggulkan sebagai surga bawah laut, setelah dia naik pasti mana lagi ini pasti mau ikut lagi acara-acara sosial, acara budaya, habis itu menikmati kuliner-kuliner lokal. Inilah efek rentetan ke masyarakat yang kita harapkan bisa ditangkap untuk memutar dinamika dan roda ekonomi masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.(***)


Read more: http://www.butonpos.com/metro-baubau/modal-pelaut-ulung-jadikan-titik-triger-pertumbuhan--#ixzz2ziZZAm4I