Minggu, 26 Oktober 2014

Ma'rifat Politik Pembangunan Amirul Tamim di Senayan (1)

Perbaiki Koneksitas Wilayah, Sultra Butuh Rekayasa


KIPRAH DR H MZ Amirul Tamim sebagai anggota DPR RI sangat dinanti publik di Sulawesi Tenggara. Apa saja yang dilakukan mantan Walikota Baubau dua periode ini, berikut petikan wawancaranya dengan wartawan Buton Pos, Irwansyah Amunu.    


---Sebagai anggota DPR RI di Senayan wakil dari Sultra, masyarakat banyak menggantungkan harapan ke bapak. Apa yang akan bapak lakukan selama disana nanti?

Ya, tentu saya pertama menyampaikan rasa terimakasih saya kepada warga Sulawesi Tenggara yang telah mempercayakan saya sebagai salah satu wakil dari lima wakil di tingkat pusat dalam hal ini di DPR RI. Termasuk tentu kepada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memlih saya sebagai salah satu kader yang bisa mewakili Sulawesi Tenggara. Tentu dengan keberadaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua dan bagi saya secara pribadi, harapan masyarakat Sulawesi Tenggara dari sekian dekade dan untuk masa-masa akan datang bagaimana seluruh komponen yang mencerminkan mewakili daerah baik di lokal maupun di luar saya kira dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah Sulawesi Tenggara secara umum. Ini hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja, dan menjadi beban yang tidak kecil bagi saya secara pribadi.

Selanjutnya disisi lain bagaimana kita melihat persoalan Sulawesi Tenggara ini harus jujur kita katakan Sulawesi Tenggara ini potensi sumber dayanya cukup besar, kemudian luas wilayahnya saya kira harus kita akui cukup besar. Juga harus kita tetap jujur katakan Sulawesi Tenggara ini tingkat kemajuannya juga sudah cukup besar dari tahun ke tahun khususnya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kita tidak bisa menutup mata juga masih banyak yang harus diselesaikan, harus dapat didukung sehingga kita sejajar dengan daerah-daerah lain.

Dalam kurun waktu lima tahun ke depan ini saya kira harus kita fokus dibeberapa persoalan-persoalan yang memang kita yakin bisa diselesaikan dalam kurun lima tahun ini. Kita bisa menanamkan dan menentukan visi kita untuk 30 tahun, 50 tahun sampai 100 tahun, tetapi tentu ini memerlukan suatu rangkaian yang harus kita persiapkan sebagai satu kesatuan mata rantai yang bisa berkesinambungan.

Olehnya itu, mungkin kita harus berpikir bersama bahwa harapan dan keinginan kita tidak mungkin kita bisa wujudkan dalam kurun lima tahun ini. Oleh sebab itu kita harus bersepakat, lima tahun ini apa yang harus bisa kita selesaikan, disinergikan, bagaimana pemerintah-pemerintah lokal dalam hal ini kabupaten yang sudah 17 kabupaten ini. Kemudian dengan Undang-Undang pemerintahan yang baru memberikan peran yang tidak kecil bagi gubernur untuk bagaimana mensinergikan semua ini dalam konteks nasional, dan regionalnya Sulawesi Tenggara sebagai satu kesatuan utuh yang memberikan nuansa dengan keunggulan dan karakter masing-masing dengan peran-peran sesauai dengan kapasitas-kapasitas yang dimiliki. Oleh sebab itu menurut hemat saya kita fokus pada beberapa, fokus pada bagaimana konsep melakukan rekayasa untuk pengelolaan sumber daya alam kita khususnya yang bersifat mining, tambang-tambang, kita punya tambang emas, nikel, aspal, mungkin biji besi, kemudian yang lainnya. Bagaimana konsep awal untuk mempersiapkan dalam sekian tahun itu, sehingga lima tahun ini harus dipersiapkan sehingga tidak tiba masa tiba akal dalam pengelolaan ini sehingga mengorbankan dukungan dan masyarakat-masyarakat lokal itu sendiri.

Oleh sebab itu tentu kita persiapkan dalam persiapan ini, yang pertama, bagaimana dalam lima tahun ini sumber daya-sumber daya manusia Sulawesi Tenggara khususnya anak-anak kita yang berada di SMP, SMA kita arahkan mereka sebentar ke perguruan tinggi masuk pada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang muatan ilmunya untuk bisa mengelola tambang. Jadi mereka harus diarahkan ke geologi, harus ada anak Kabaena yang sekolah pertambangan, harus ada anak Kolaka yang pertambangan, harus ada anak Buton yang pertambangan, harus ada anak Konawe yang ke pertambangan. Terus bagaimana penunjang-penunjangnya tentu energi listrik, berbagai pembangkit yang bisa kita kerjakan dalam lima tahun.

Yang kedua, pertanian dalam arti luas, bagaimana hasil-hasil pertanian kita khususnya pangan. Ketergantungan kita terhadap pangan luar harus kita hindari karena kita harus mempunyai kekuatan dan ketahanan pangan lokal. Itulah yang kita nyatakan setiap kantung-kantung wilayah dari 17 kabupaten harus dapat menjadikannya untuk bisa memiliki ketahanan pangan. Jadi, kantung-kantung logistik pangan harus ada. Kita kaya dengan keragaman, kita bisa makan sagu, dan tidak hina kita makan sagu. Kita makan ubi, tidak hina kita makan ubi. Kita makan jagung, dan itu ada semua. Kabuto, kasoami, dan lain sebagainya bukan makanan hina, itu makanan yang bisa kita makan selain dari beras. Oleh sebab itu, ini semua sektor yang terkait dengan itu dalam lima tahun diperkuat. Kemudian produksi-produksi pertanian yang terkait dengan lain, katakanlah coklat, jambu mente, bagaimana dilakukan konsolidasi kembali dari sisi pemupukannya, siapa yang berperan dalam pemupukan atau diintensifikasi, mungkin ada sistem penjarangan supaya produknya lebih besar atau diekstensifikasi, mungkin ada lahan yang masih bisa diperluas lagi.

Kemudian peternakan, semua titik wilayah kita ini punya potensi peternakan karena masih banyak lahan-lahan luas yang tumbuh rumput begitu saja bisa menjadi pangannya ternak-ternak, apakah kambing, sapi, kerbau, dan semua itu bisa dilakukan oleh lokal tinggal bagaimana pemerintah propinsi memberdayakan instansi terkait. Bagaimana kita di pusat bisa memberikan dukungan konsep-konsep itu sehingga kita juga memberikan andil untuk penyediaan daging-daging secara nasional, minimal kebutuhan lokal konsumsi daging, minimal juga mungkin wilayah kawasan timur bisa disuplai, lahan-lahan kita cukup.

Kemudian laut, kita ini dekat Laut Banda dengan satu sentuhan gerakan kita sudah bisa menyentuh beberapa titik wilayah kita, daerah pesisir Wakatobi, posisi Buton, Bombana, Kolaka Utara, semua adalah wilayah-wilayah pesisir yang mempunyai potensi titik singgung dengan laut-laut yang mempunyai potensi sumber daya laut yang tidak kecil, sehingga dalam lima tahun ini infrastruktur mana yang menunjang kawasan-kawasan perikanan yang mana kita persiapkan sehingga nanti basic itu kita berbicara 10 tahun akan datang, 15 tahun akan datang, sehingga kesiapan dari persiapan 15 atau 20 tahun yang akan datang berbasis dari apa yang kita lakukan dalam lima tahun ini. Untuk bisa menggali potensi sumber daya laut kita yang begitu besar, sehingga fokus. Daerah ini bagaimana bisa berperan, mungkin Baubau, Buton, Buton Utara, Wakatobi, fokusnya apa? Dan itu harus kita bicarakan. Saya kira ini bisa kita dudukan dalam lima tahun. Jangan terlalu buang energi yang terlalu mimpi besar, ternyata juga mubazir pada masa yang akan datang untuk dihasil laut.

Dalam jangka pendek ini juga harus satu kesatuan wilayah ini harus diikat dengan infrastruktur kita bisa memainkan tiga moda, moda darat kita harus perkuat infrastruktur karena jaringan jalannya sudah ada, tinggal kualitas jalannya yang diperkuat. Jadi bagaimana kita membuat konstruksi jalan dijaringan jalan yang sudah ada dulu, mungkin bukan jalur baru sebagai pendekat. Tapi bagaimana kita memperkuat jaringan yang sudah ada, kita tingkatkan kualitasnya, karena itu akan menjadi titik-titik tumbuh yang baru kalau kualitas infrastruktur jalannya sudah bagus. Sehingga moda transportasi darat bisa menjadi satu kesatuan wilayah mengikat gerak ekonomi sisi darat.

Sisi laut, hampir semua kabupaten kita pesisir, sehingga perlu diperkuat semua pelabuhan-pelabuhan lokal penunjang dan lain sebagainya diikat. Jadi, semua kecamatan-kecamatan pesisir perkuat infrastrukturnya pelabuhan-pelabuhannya yang penting layak sandar, layak untuk muat sehingga bisa menekan ekonomi biaya tinggi dalam kita membuat daya saing wilayah sehingga lebih murah dingkut dari laut dari titik kecamatan ke ibukota kabupaten, disana ada peran-peran pengumpul kemudian disitu titik ini lagi kita bawa ke Kendari misalnya, Kolaka, ke Baubau, menjadi titik kumpul besar untuk dibawa keluar dengan menghitung tingkat efisiensinya sehingga mempunyai daya saing yang tinggi.

Sisi moda udara, semua wilayah kita punya lapangan udara, mari kita bicara mulai dari Kolaka, kemungkinan Kolaka Utara juga harus dalam lima tahun ini menyelesaikan bandaranya, kemudian Bombana harus juga ada bandaranya, bisa saya kira Bombana membuat bandara karena ada kawasan yang memang sudah siap untuk itu, kemudian Baubau ada, Muna ada, Wakatobi ada. Sehingga ada dua titik besar yang kita arahkan menjadi bandara internasional yaitu Bandara Kendari, dan Bandara Wakatobi. Itu harus kita punya komitmen yang sama, mau bandara-bandara kecil itu penunjang dan dua bandara ini yang kita dorong mengarah pada bandara internasional. Karena potensi lokal kita memungkinkan untuk pasar-pasar global, apakah pariwisata, apakah sumber daya alam kita, adalah komuditas-komuditas yang dibutuhkan oleh dunia global sehingga sarana untuk pengikatnya, transportasi udaranya saya kira dua titik ini yang kita perkuat.

Disisi itu masyarakat swasta akan membaca dengan sendirinya, tidak perlu kita undang, dia datang sendiri kalau hal-hal yang saya bicarakan tadi ini sudah bisa kita wujudkan dalam waktu lima tahun. Sehingga peran-peran kita stakeholder dari Sulawesi Tenggara ini, termasuk kami yang lima orang ini di Pusat bisa mengambil peran dengan cara kita, komitmen kita bersama bisa kita wujudkan. Itu satu sisi.(***)